Passionate Night

Passionate Night
*CANCELLED


__ADS_3

******Happy Reading****** ....


.


.


.


Felix berada di dalam ruang bacanya, menatap layar ponsep dengan kerutan halus di dahi. Wanita cantik yang dia hubungi tiba-tiba memutuskan sambungan.


Tok tok tok.


Pintu ruangannya diketuk, dan terdengar suara bocah kecil dari balik pintu. Felix memintanya untuk masuk, lalu tidak lama kemudian pintu itu terbuka.


Leon berlari memeluk pamannya, sementara wanita cantik di belakangnya melenggang dengan teratur menuju Felix. Dia tersenyum melihat pria yang sedang memeluk hangat putranya.


“Leon, ayo katakan apa yang kau katakan kepada papa,” kata Renee memprovokasi bocah kecil itu.


Jemari lentik Leon memainkan kancing kemeja milik Felix, dia mendongakan wajahnya, dan mata bulatnya menatap Felix dengan nanar. “Pesta ulang tahunku, aku ingin merayakannya bersama papa lebih awal.”


Setelah mengatakan kalimatnya, Leon menatap Renee kembali, raut wajahnya mengekspresikan tanda tanya kepada maminya. Apakah dia sudah menyelesaikan tuganya dengan benar atau tidak.


Renee menatapnya dan mengedipkan mata, kemudian mengalihkan pandangannya pada Felix, lalu dia tersenyum dan mengatakan, “Kak, ini keinginan Leon untuk ulang tahunnya yang ke lima. Selama ini dia tidak pernah meminta apapun, dia sudah dewasa dan pandai membuat permintaan sekarang,” ujar Renee.


Felix bukanlah orang bodoh yang mudah dibohongi. Dia bisa menebak ekspresi Leon, dan gerak-gerik Renee. Sudah pasti semuanya telah dipersiapkan oleh adiknya itu. Lagi-lagi Renee memanfaatkan Leon untuk kepentingan pribadinya.


Renee membawa Leon keluar dari ruangan Felix. Dia langsung memberikan bocah kecil itu ke pengasuh, sementara dirinya akan pergi keluar mansion. Sebelum pergi, John terlebih dahulu memanggilnya.


“Renee.” Suara berat itu seketika menghentikan langkah Renee.


“Ya, Papa?” Renee berbalik, dan berjalan menuju papanya.


“Kau sudah menyiapkan semuanya dengan baik?” tanya John sedikit berbisik, pandangannya melihat sisi kanan dan kiri, memastikan tidak ada satu pun orang yang mendengarkan percakapannya dengan putrinya.


“Tentu saja. Sekarang aku akan pergi untuk melihat tempat itu.”


“Baguslah, waktu kita tidak banyak,” kata John memperingati.

__ADS_1


“Ya, aku tahu.”


Entah apa yang sedang kedua orang itu bicarakan dengan berbisik dan terlihat mencurigakan. Felix yang sedang berdiri di lantai dua dan melihat mereka tidak lama berbalik dan pergi, masuk kembali ke dalam ruangannya.


Renee masuk ke dalam mobilnya, mengemudikan mobil mewah itu keluar dari area perumahan mewah milik Alexander tersebut. Dirinya akan pergi menuju tempat yang sudah dia reservasi untuk malam ini.


Selama ini Renee tahu jika Felix tidak akan pernah menolak permintaan putranya, oleh sebab itu Renee sangat suka meminta Leon untuk membuat Felix luluh.


Malam ini, mereka akan makan malam bersama, namun dengan sebuah pengaturan yang sudah Renee rencanakan. Dia mengingat perkataan papanya jika waktu mereka sudah tidak banyak, Renee tidak bisa membiarkan Felix jatuh ke pelukan wanita lain. Dia tidak akan menerimanya.


Sementara itu, Renee melihat seisi restoran yang sudah di dekorasi dengan nuansa yang begitu romantis. Taburan kelopak mawar merah, lilin aromaterapi, dan juga lampu yang sedikit redup. Di setiap sisi ruangan terpasang kamera CCTV yang siap merekam aktivitas mereka nanti.


Dunia akan segera mengetahuinya jika Felix Alexander adalah milikku.


Dia tersenyum senang, membayangkan angan-angan yang selama ini dia impikan akhirnya tercapai. Felix akan menjadi miliknya untuk selamanya. Renee menjadi tidak sabaran menunggu sampai malam hari tiba.


*********


Selena sedang berada di dalam kamarnya, duduk di depan cermin seraya memoleskan make up halus pada wajahnya. Dia terlihat anggun dan cantik malam ini.



(Foto by Pinteres)


Selena melihat ponselnya beberapa kali, Jenni mengiriminya pesan, bertanya apakah Selena sudah dalam perjalanan atau belum, mereka akan bertemu di pesta nanti. Sementara Selena hanya menjawab jika tidak lama lagi dia akan sampai, agar tidak membuatnya khawatir.


Sementara itu, Edzar sudah terlambat sepuluh menit dari waktu yang mereka janjikan. Padahal sebelumnya pria itu begitu semangat dan Selena tahu jika dia akan berangkat lebih dulu tanpa harus membuatnya menunggu sedetikpun. Anehnya, kali ini dia bahkan tidak mengiriminya pesan apapun.


Dua puluh menit, bahkan tiga puluh menit berlalu. Tidak ada kabar dari Edzar, dan kehadiran pria itu. Selena mencoba menghubunginya, namun dia tidak menjawab telepon. Semua itu membuat Selena khawatir.


Tok tok tok.


Pintu kamar Selena diketuk, diiringi suara seorang pelayan yang memanggilnya. Pelayan itu juga menyampaikan pesan jika sedang ada yang datang dan menunggu Selena di bawah. Selena berpikir jika itu Edzar, lantas dia langsung mengambil beberapa barang penting dan memasukannya ke dalam tas.


Selena keluar dari dalam lift kediamannya di lantai satu. Dia sengaja turun menggunakan lift karena tidak ingin suara higheelsnya membuat keributan saat dia menuruni anak tangga.


Langkahnya pergi menuju ruang utama, namun sesampainya di sana seketika langkahnya terhenti dan air di wajahnya berubah menjadi bingung.

__ADS_1


“Kau?” Selena terkesiap tidak percaya. “Kenapa kau yang datang?”


Felix berdiri saat wanita cantik itu hadir di hadapannya, dia tersenyum ramah dan menjawab, “Aku yang akan pergi denganmu ke acara pesta reuni malam ini,” katanya dengan percaya diri.


Selena berdecih samar. “Tidak, aku memiliki pria lain yang akan menjadi pasanganku,” ujar Selena, menatap Felix dengan tatapan merendahkan. Dia tidak akan pernah mau pergi dengan pria sialaan itu, kan?


Terdengar kekehan samar dari pria itu sebelum akhirnya dia berjalan untuk mendekati Selena. Lalu, dia mendekatkan wajahnya tepat di sisi wajah Selena.


“Come on Baby, priamu tidak bisa hadir malam ini,” bisik Felix kemudian menarik kembali tubuhnya dan berdiri tegap.


Selena berkerut kening mendengarkan ucapan Felix, kemudian tidak lama ponselnya berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Edzar. Pria itu mengatakan jika dia tidak bisa datang karena memiliki urusn penting malam ini.


Selena terkejut dan bingung setelah membaca pesan darinya, dia langsung menatap Felix kembali. Apakah semua ini berhubungan?


Felix menyeringai, dia meraih telapak tangan Selena dan menautkan jemarinya pada selah jemari wanita cantik itu.


“Ayo pergi, kita sudah terlambat,” kata Felix.


Ponsel Selena kembali berdering, kali ini adalah panggilan dari Jenni. Sahabatnya itu terus mencecar Selena dengan pertanyaan-pertanyaannya. Sementara Selena tidak memiliki pilihan lain selain pergi dengan pria itu sekarang.


“Kau mengaturnya?” tanya Selena.


Felix tersenyum simbul lalu menjawab, “Tentu saja, Nona.”


Selena menatapnya dengan intens, pria itu menggandeng lengannya menuju mobil sport yang sudah terparkir tepat di depan mansion. Felix membukakan pintu untuk Selena, dan menutupnya kembali saat dia sudah duduk di sana. Perlakuannya sangat manis seperti seorang pangeran yang sedang memperlakukan putri raja.


Sementara itu di balkoni sebuah apartement, Edzar sedang menegak segelas wine miliknya, menggenggam erat ponsel yang layarnya masih menampilkan pesan chat dari Selena.


'Tidak masalah, selesaikan urusanmu, Edzar!'


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2