
Happy Reading ....
.
.
.
Felix menarik dirinya, melepaskan tautan bibir mereka. Keduanya saling menatap dengan nafas yang terengah-engah.
“Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini, Selena,” ucap Felix dengan parau.
Felix menurunkan gaun yang sedang di pakai Selena, menariknya sekaligus hingga terlepas, dan menyisakan dua kain yang hanya menutup squishy dan bagian inti wanita cantik itu. Kemudian, Felix membuka jas dan kemeja putih yang dia pakai, membiarkan perut sispaxnya terpampang dengan nyata.
Ketika Selena meronta dengan mendorong dada Felix menggunakan kedua tangannya yang berada di dada pria itu, Felix langsung mengenggam pergelangan tangan Selena dan membawanya ke atas pria itu.
Wanta cantik itu menyorotinya tajam saat Felix menarik tubuhnya sedikit menjauh.
“Felix,” tegas Selena.
“Kali ini jangan menolak, Selena.”
Felix mendorong tubuhnya kembali pada wanita cantik itu, menghujani tubuh sintal itu dengan banyak sentuhan seductive. Membuat tubuh Selena menggelinjang hebat.
“Uhm ... Felix, bukan kah ini pemaksaan?”
“Apa kau tidak menginginkannya?” tanya Felix disela-sela aktivitasnya.
“Tidak.”
“Aku tidak peduli,” kata Felix.
Gairah keduanya semakin menggebu-gebu. Dia semakin liar memainkan setiap inci tubuh Selena, dan membuat tubuh wanita cantik itu menggelinjang hebat. Cengkraman kuku Selena pada pundak dan lengannya tidak Felix hiraukan, dia hanya merasakan kenikmatannya mencumbu setiap inci bagian tubuh Selena.
Dengan lihai dia membuka kain pengait wanita cantik itu, membiarkan dua squishy terpampang di depannya. Felix memainkannya dengan seductive.
“Uh ....”
“Felix hentikan i-itu ....”
__ADS_1
Mendengar itu, tentu saja Felix tidak ingin berhenti melakukannya, dia malah semakin liar untuk mempermainkan tubuh Selena.
Pria tampan itu membuka kemeja yang dia kenakan, membuangnya ke sembarang arah. Kini, Selena dapat dengan leluasa meraba dada bidang dan perut sispax pria itu. Tidak ada perlawanan lagi dari Selena, dia sudah hanyut dengan permainan pria itu.
Felix membuka seluruh pakaian Selena hingga tubuh sintal itu tidak tertutup sehelai benang pun, begitupula dirinya. Hasrat keduanya yang sudah menggebu-gebu tidak bisa tertahan lagi. Felix mulai mengarahkan miliknya pada lorong pertahanan Selena.
“Ugh!”
Suara wanita cantik itu mengiringi gerakan Felix yang semakin menerobosnya dengan dalam. Pria itu mulai menggerakan pinggulnya dengan gerakan pelan.
Setelah bertahun-tahun tidak melakukannya, kini Selena dapat merasakan lagi sensasi dari hangatnya sentuhan pria. Malam ini dan detik ini, dia telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada pria itu.
Dia membuka matanya untuk melihat pria di atas tubuhnya yang ternyata sedang menatap Selena dengan wajah sendu dan memerah, bibirnya sedikit terbuka, dan rambutnya tidak karuan, peluh menetes dari dahi pria tampan itu. Dia begitu ****.
Felix tersenyum. Ya! Sempat-sempatnya dia tersenyum ketika mereka sedang dalam kondisi yang canggung. Terlebih lagi senyumannya terlihat begitu manis, membuat Selena meleleh. Wajah Selena semakin merona merah.
Selena menutup matanya kembali, dia tidak tahan melihat pesona pria itu. Mengeratkan pelukan dua tangannya pada tubuh tampan pria itu, sesekali mencengkram dengan hebat punggung rata kekasihnya. Dia merasakan setiap sentuhan yang pria itu berikan.
Waktu semakin berjalan sesuai dengan hentakan yang semakin lama semakin cepat. Cengkraman kuku yang dalam, rambut yang dijambak dengan kuat, peluh menetes, serta ciiuman hingga membuat kissmark tidak dihiraukan. Keduanya sedang menikmati kenikmatan yang mereka buat.
“ARRGHHH!”
Tubuh mereka berdua lunglai, Felix ambruk tepat di atas tubuh Selena. Otot-otot tubuh yang menegang kini mulai melemah, dan keduanya saling mengatur nafas satu sama lain.
Selena menggigit bibir bagian bawahnya saat pria itu melepaskan penyatuan tubuh mereka, dan beranjak dari menindih tubuh Selena. Felix meraih tissue untuk membersihkan tubuhnya, lalu dia memberikan beberapa lembar kepada Selena.
Perlahan Selena beranjak bangun, mengambil beberapa lembar tissue yang Felix berikan untuk menyeka cairan yang mengotori tubuhnya. Sialnya, beberapa lembar tissue tidak akan cukup membersihkan tubuhnya. Dia perlu mandi.
Saat Selena sedang sibuk membersihkan diri, tiba-tiba Felix meraih dagunya dan mengarahkannya mendekat pada pria itu. Dia menciium bibir Selena sekilas lalu melepaskan tautannya lagi.
“Aku akan memesan hotel,” katanya yang kemudian memakai bajunya dengan lengkap dan mulai sibuk dengan ponselnya.
**********
Guyuran air hangat yang mengalir dari shower membasahi tubuh Selena dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Dia merasakan otot-otot tubuhnya yang melemas, dan semua tulangnya terasa patah.
Felix sialan!
Setengah jam yang lalu ketika mereka baru sampai di hotel, Felix menarik Selena ke atas ranjang kembali. Beruntung Selena bisa berlari untuk menghindari pria itu. Felix tidak mendapatkannya kali ini.
__ADS_1
Pria itu tidak membiarkan Selena merasakan istirahat sebentar saja. Pria gila itu. Kini Selena telah menyelesaikan acara mandinya, namun dia lebih memilih duduk di dalam toilet untuk beristirahat.
Kakiku gemetar. Batin Selena seraya melihat kakinya yang terus bergerak.
Udara mulai sejuk, dan Selena tidak tahan lagi berada di dalam kamar mandi. Dia beranjak dari tempatnya dan perlahan membuka kenop pintu. Pandangannya melihat Felix yang sedang membuat coffee di sana. Selena terpaksa melangkahkan kakinya keluar karena pria itu telah melihatnya.
“Kau tidur di dalam sana?” tanya Felix seraya membawa dua cangkir coffee, dia memberikannya satu cangkir kepada Selena.
Selena memutar bola matanya malas, dan tidak menjawab pertanyaan dari pria itu. Dia melangkahkan kakinya naik ke atas ranjang untuk menyelimuti tubuhnya yang hanya terbalut bathrobe berwarna putih.
Wanita cantik itu mengambil ponsel miliknya di atas nakas, dan mulai memainkannya. Selena membuka internet, dia menyadari jika semua artikel tentangnya telah hilang. Felix benar-benar menghapusnya.
“Apa yang ingin kau makan pagi ini?” tanya Felix, duduk di atas ranjang samping Selena.
Selena mengalihkan pandangannya sesaat pada Felix, lalu kembali melihat ponsel. “Aku tidak tahu, aku tidak pernah merencanakan sarapanku.”
“Kau memiliki janji pagi ini?” tanya Felix lagi.
“Tidak.” Selena menggeleng, arah pandangnya masih tertuju pada ponsel.
“Baiklah.” Felix menutup percakapan.
Tiba-tiba saja pria itu mengambil alih ponsel Selena, dan meletakannya sejauh mungkin agar wanita cantik itu tidak bisa mengambilnya. Selena menatapnya dengan penuh protes.
“Kembalikan ponselku, Felix.”
Felix mendorong tubuhnya mendekat pada wajah cantik itu lalu berkata, “No, Baby.”
Pria tampan mengecup pipi Selena sekilas sebelum dia berbaring di atas ranjang, menyimpan kepalanya pada perut Selena, dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
Selena menatap Felix dengan posisinya yang seperti anak kecil. Pria itu mulai memejamkan matanya. Selena menghela nafas dalam-dalam.
.
.
.
Bersambung .....
__ADS_1
Next part yaaaaa besok.