Passionate Night

Passionate Night
*WEDDING DAY


__ADS_3

Selena menuangkan redwine ke dalam gelas panjangnya. Dengan santai dia memutar gelas tersebut lalu menyesapnya perlahan. Sikapnya itu mendapat perhatian dari Jennie dan juga Jonathan.


“Aku tidak menyangka akhirnya kau menyetujui pernikahanmu, Selena!” ucap Jonathan masih dengan ekspresi heran.


Selena menyesap redwinenya beberapa kali tanpa menjawab ucapan dari sahabatnya itu.


“Sejak kapan kau mempersiapkan semua persiapan ini? Kau bahkan tidak menghubungi kami sama sekali,” protes Jennie padanya.


Selena hampir saja tersedak. Dia menyimpan gelas panjangnya ke atas meja lalu mengedarkan pandangan pada seluruh isi gedung. Seandainya dia sahabatnya itu tahu, jika Selena sendiri tidak ikut andil sedikitpun dengan semua persiapan itu.


“Surprise! Ini adalah surprise untuk kalian,” ucap Selena dengan senyumannya, mencoba menyembunyikan raut wajahnya yang sama-sama bingung.


Jennie dan Jonathan hanya terdiam bingung. Mereka sama sekali tidak berpikir jika hal seperti itu akan menjadi kejutan. Selena sangat aneh.


Jonathan mengambil satu potong keju lalu memasukan ke dalam mulutnya. Dia menatap Selena dengan heran. “Benar-benar surprise?” tanyanya dengan nada datar.


Senyuman pada wajah Selena memudar, berganti dengan raut wajah malas. “Ya tentu saja,” jawabnya seraya menyesap kembali redwine miliknya.


“Lupakan itu,” kata Jennie. “Kau tidak gugup untuk pernikahanmu? Kau bahkan memiliki ketakutan untuk melakukan hal itu,” ungkapnya.


Selena menghela nafasnya dalam, akhirnya seseorang menanyakan hal tersebut padanya. Dia menatap dua sahabatnya dengan nanar.


“Aku sangat gugup!” ucap Selena.


Jonathan menghela nafasnya lalu melemparkan sesuatu kepada Selena. Wanita cantik itu menerima benda kecil itu dengan bingung.


“Apa ini?”


“Obat penenang,” jawab Jonathan dengan santai.


“Apa aku membutuhkannya?”


“Jelas saja kau membutuhkannya,” selah Jennie.


Selena mengangkat kedua bahunya lalu menyimpan obat yang diberikan oleh Jonathan kepadanya. Kemudian, dia kembali menuangkan whisky ke dalam gelas dan hendak meminumnya. Namun aksinya itu dicekal oleh Felix yang tiba-tiba datang dan mengambil gelasnya.


Pria itu menegak whisky milik Selena hingga tandas, menyimpan gelasnya ke atas meja lalu duduk di samping wanitanya dengan wajah tidak bersalah.


“Cukup alkhohol malam ini,” ucap Felix dengan nada rendah.


Selena menatap Felix dengan raut wajah memprotes.

__ADS_1


“Besok adalah hari pernikahanmu, kau tidak akan bangun jika minum banyak,” sambar Jennie yang malah mendukung Felix.


Padahal sahabatnya itu tahu jika berapa banyak apapun Selena meminum alkhohol, jika dia diharuskan bangun pagi maka wanita cantik itu akan bangun. Kejadian ini telah terjadi berulang kali ketika dirinya disibukan dengan banyaknya pekerjaan.


Tetapi karena tidak mau berdebat dengan Felix malam ini. Selena lebih baik mengalah dan tidak melawan perkataan Felix.


“Kau bisa beristirahat, aku sudah menyiapkan kamarmu dan kalian,” ucap Felix pada Selena dan dua sahabatnya.


Mereka bertiga hanya mengangguk, menatap Felix yang beranjak pergi dari sana.


“Uh pria itu sangat perhatian,” ungkap Jonathan namun dengan nada mengejek yang mengartikan jika mulai sekarang Selena tidak akan memiliki kebebasan lagi.


“Ya, perhatian yang mematikan.” Selena memutar bola matanya malas.


Setelah selesai dengan pesta masa lajangnya. Selena dan semua orang kembali ke kamar hotel yang telah Felix sediakan. Hotel tersebut memiliki jarak yang tidak jauh dari gedung pernikahan.


Malam semakin larut, namun Selena tidak bisa menutup matanya untuk mulai terlelap. Pikirannya kalut dipenuhi oleh rasa gelisah. Jantung dan perasaannya berkecamuk tidak karuan.


Pernikahan. Aku tidak menyangka akan menikah besok.


Dia berbaring di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar sampai akhirnya terdengar suara ketukan di pintu kamar hotelnya.


“Selena ini kami, buka pintunya.” Suara Jonathan berbisik diiringi dengan beberapa kaleng beer yang pria itu perlihatkan melalui lubang pintu.


Damn!


Selena dengan segera membuka pintu dan mempersilahkan kedua orang sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat kanan dan kiri lorong sebelum menutup pintu, memastikan tidak ada orang yang melihat Jonathan dan Jennie masuk ke dalam kamarnya.


“Kita akan minum,” seru Jonathan seraya melenggang menuju sofa, lalu menyimpan beberapa kaleng beer yang dibawanya.


Jennie merangkul bahu Selena, membawanya menuju sofa. Keduanya duduk dan sama-sama menunggu Jonathan membukakan kaleng beer untuk mereka.


Selena meneguk beer tersebut. “Ah~ Akhirnya minuman segar ini membasahi tenggorokanku,” ucapnya.


Jonathan memberikan sayap ayam kepada Selena. “Ketika kami tahu kau berada sendirian di dalam kamar, kami langsung berencana membawakanmu semua ini.”


Selena terkekeh samar. “Kalian memang sangat pengertian.”


“Tentu saja,” timpal Jonathan.


“Oh di mana Felix? Kenapa dia tidak tidur denganmu?”

__ADS_1


“Dia berada di kamarnya,” jawab Selena seraya mengunyah ayam gorengnya.


“Dia memesan kamar sendiri,” bisik Jonathan pada Jennie.


Jennie membuka satu kaleng beer lalu menyodorkannya ke depan. “Bersulang untuk pernikahan sahabat kita.”


“Bersulang!”


Tiga kaleng beer itu beradu, kemudian para pemiliknya langsung menegak minuman rendah alkhohol itu membasahi tenggorokan mereka. Ketiganya melemparkan kaleng kosong tersebut ke atas meja.


“Beer dengan ayam goreng memang terbaik!” seru Jonathan.


Selena dan Jennie mengangguk untuk menyetujuinya.


“Ke mana kau memilih tempat berbulan madu?” tanya Jonathan dengan wajah antusias dan rasa ingin tahu yang tinggi.


“Bulan madu?” Selena mengeryitkan dahinya. “Aku belum memikirkannya.”


“O Lord Selena! Bulan madu adalah hal terpenting setelah pernikahan, tapi kau bahkan belum memikirkannya.” Jonathan menggelengkan kepalanya samar menatap Selena.


Jangankan bulan madu. Pernikahannya saja diadakan secara mendadak seperti itu. Lagipula, bulan madu memerlukan banyak waktu dan Selena belum menyiapkan itu.


“Apa pentingnya berbulan madu? Bukankah itu hanya untuk bermain di atas ranjang? Tidak perlu pergi ke tempat yang jauh dan menghabiskan banyak waktu. Aku dan Felix bisa melakukannya setiap malam di atas ranjang di dalam kamar kami nanti,” lugas Selena enteng dan sangat vulgar.


Jonathan hampir tersedak oleh minumannya, sementara Jennie dan Selena hanya terkekeh ringan bersama.


Melihat Jennie dan Selena yang tertawa mengolok-oloknya pria gemulai itu lantas memutar bola matanya malas.


“Kalian sama saja. Wanita-wanita gila.”


“Bukankah kau juga gila?” seru Jennie masih dengan kekehan yang sama.


“Ya aku gila! Aku juga gila!” ucap Jonathan sedikit berteriak.


Tingkah lucu Jonathan tidak akan pernah habis, dan membuat mereka bertiga tertawa sepanjang malam. Sampai akhirnya lelah merenggut pikiran mereka untuk pergi tidur dan terlelap.


Tiga orang sahabat itu tidur bersama di dalam satu kamar. Selena tidur di atas sofa, sementara Jennie tidur dengan posisi duduk di atas sofa tunggal, dan Jonathan berbaring di lantai bersama beberapa kaleng beer yang terserak. Posisi mereka sangat tidak beraturan.


...****************...


Haiii maaf baru up hihihihi.

__ADS_1


__ADS_2