
Happy Reading ....
.
.
.
Di sebuah restoran mewah yang terletak tidak jauh dari perusahaannya. Selena memesan satu porsi salad untuk mengisi perutnya yang lapar. Wanita cantik itu makan sendirian karena dia datang setengah jam lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan.
Selena meminta para pelayan untuk segera membereskan meja miliknya setelah dia menyelesaikan makan siangnya. Membawa semua piring kotor ke belakang. Meja itu kembali kosong, hanya menyisakan satu gelas jus orange yang menemaninya.
Setelah itu, Selena memainkan ponsel miliknya. Melihat sebuah artikel dengan beberapa gambar yang diambil dari sepasang sejoli yang sedang duduk bersama di sebuah Caffee.
Wanita cantik itu berdecih sama saat melihat foto mereka berdua yang sedang saling memegang tangan satu sama lain.
Benar-benar drama romanti! Batinya.
Dia sibuk melihat foto-foto itu hingga tidak sadar jika orang yang sedang dia tunggu telah datang dan melewati pintu masuk. Pria tersebut melangkah menuju Selena, dan duduk di kursi depan Selena.
Selena mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Felix yang tengah menatapnya dengan intens ke arahnya. Dia segera mematikan layar ponsel dan menyimpan benda pipih itu ke atas meja.
Wanita cantik itu tersenyum simpul menatap ke arah Felix. Dia tidak menyapanya. Malas. Begitu pula Felix yang terlihat sangat dingin. Selena menebak jika pria itu akan segera mengatakan hal mengenai hubungan mereka yang akan berakhir itu.
Felix berharap jika Selena tidak mempercayai apa yang sedang ramai diberitakan. Artikel-artikel omong kosong yang dibuat media adalah sampah. Mereka membuat berita yang melebih-lebihkan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa kau ingin meminta putus denganku?” tanya Selena tiba-tiba.
Felix cukup tercengang mendengar kalimat wanita cantik itu. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Selena sehingga mengatakan hal-hal tidak masuk akal seperti itu. Apakah ini karena artikel yang dia bacan sehingga berpikiran jika Felix akan memutuskan hubungan dengannya.
Harapan Felix padanya untuk tidak perlu mempercayai beberapa artikel itu hilang seketika.
Selena tidak mau terombang-ambing di dal masalah pria itu. Apa yang dilakukan oleh Felix, akan selalu menyeret namanya jika dia masih terus berhubungan bersama pria itu. Selena malas. Lagipula bukannya pria itu datang untuk meminta putus. Lebih baik dikatakan dengan cepat.
“Hubungan kita tidak akan pernah berakhir, Selena,” kata Felix menegaskan.
Cih, bukanya kau datang ke sini untuk mengatakan itu. Batin Selena.
“Tapi aku tidak mau meneruskan hubungan ini lagi. Kita sampai di sini.”
Selena melepaskan benda kecil melingkar pada jari manisnya. Dia meletakannya ke atas meja, lalu menggesernya tepat ke hadapan pria itu.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menerimanya. Lebih baik kau pergi bersama seseorang yang menginginkanmu juga. Jangan datang kembali kepadaku,” ok ugas Selena menegaskan.
Setelah mengatakan hal itu, Selena beranjak dari kursinya dan melangkah pergi ke luar restoran. Felix mengambil cincin yang baru saja Selena letakan di atas meja. Dia terdiam untuk sejenak, lalu tidak lama beranjak pergi untuk menyusul wamita cantik itu.
Selena hendak membuka pintu mobilnya, namun seketika Felix mencekal pergelangan tangannya dan menarik wanita cantik itu.
“Kau tidak bisa pergi begitu saja, Selena.”
“Kenapa? Bukankah sudah hakku untuk memutuskan. Dan aku memutuskan untuk tidak bersamamu, Felix!”
“Tidak bisa. Kau harus terus bersamaku.”
“Cih, kau pikir siapa dirimu? Kau membuat namaku buruk di depan semua orang dengan membuat artikel-artikel sampah yang selalu menyebutkan namaku. Aku sudah muak!” ungkap Selena
Dia menghempaskan genggaman tangan Felix lalu segera masuk ke dalam mobil. Tidak ingin memperdulikan pria itu lagi. Selena menyalakan mobilnya dan melaju dengan kencang.
“Damn!” umpat Felix kesal.
*********
Setelah pertengkaran bersama Selena, Felix kembali ke perusahaan dengan raut wajah yang suram. Beberapa karyawan memperhatikannya, namun mereka tidak berani untuk menyapa Bigbos mereka.
Dia meminta sekretarisnya untuk masuk ke dalam ruangan, meletakan beberapa lembar kertas mengamati artikel dirinya yang selalu marak beredar.
Sekretaris Felix mengangguk mendengar perintah dari bigbosnya. Meskipun dia tahu mustahil untuk menuntut media. Tapi sekretaris itu akan berusaha, dan juga akan menggunakan kuasa Felix untuk melakukannya. Ya, apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Felix Alexander.
Dia mengambil beberapa berkas di atas meja itu lalu pamit keluar dari ruangan bigbosnya. Meninggalkan Felix dengan sejuta emosi yang masih melekat pada dirinya.
Felix mengambil satu berkas yang dia simpan di dalam lacinya yang terkunci. Sebuah hasil tes yang memiliki kecocokan sembilan puluh sembilan persen dengannya. Hanya inilah satu-satunya hal yang bisa membuat wanita cantik itu tidak bisa lari darinya lagi.
Kau sudah menjadi milikku, dan akan selalu menjadi milikku, Selena.
**********
Selena berada di ruangannya dan sedang sibuk membaca beberapa dokument pekerjaan. Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk, dan dia mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.
Setelah itu, Zoya membawa beberapa jadwal penting milik Selena. Beberapa rapat di luar negeri yang Selena pinta untuk segera memajukan tanggalnya.
“Terimakasih Zoya, kau boleh pergi.”
“Baik, Mrs.”
__ADS_1
Selena melihat jadwal yang diberikan oleh Zoya. Dia akan sibuk selama dua bulan ke depan. Waktu itu cukup untuk menghilangkan Felix dari dalam pikirannya..
Setelah selesai membaca beberapa dokument, Selena memutuskan untuk pulang. Lagipula jam sudah menunjukan pukul tujuh, dan semua karyawan akan segera berhamouran meninggalkan meja kerja mereka.
Dia membereskan barang-barangnya lalu memasukan beberapa barang penting ke dalam tas. Sebelum Selena sempat memasukan ponselnya ke dalam tas, benda pipih itu lebih cepat berdering.
'Mami, pulang untuk makan malam bersama. Aku merindukanmu!'
Selena tersenyum simpul melihat pesan yang dikirimkan putranya itu. Dia segera menjawabnya agar Kenzo tidak menunggu terlalu lama di depan ponsel.
'Mami akan segera pulang.'
Dia mematikan layar ponselnya lalu memasukan ke dalam tas. Mengambil mantel hangat miliknya lalu mulai berjalan ke luar ruangan.
*********
Renee sedang bermain bersama Leon di dalam kamar bocah kecil itu. Tetapi ibu muda itu malah sibuk membaca artikel di internet. Dia mencari beberapa artikel mengenai Felix dan Luciane yang tiba-tiba menghilang. Dia menebak jika ini adalah ulah kakaknya.
“Nona muda, sudah waktunya makan malam,” kata seorang pengasuh Leon mengingatkan.
“Baiklah, kau bawa pergi Leon terlebih dahulu dan aku akan menyusul.”
“Baik, Nona muda.”
Renee masih sibuk dengan urusannya. Di dalam internet benar-benar tidak bisa menemukan satupun artikel tersebut. Lalu dia beralih melihat kontak, menghubungi wanita itu untuk menanyakan apa yang telah terjadi di antara mereka kemarin.
“Hallo Luci, bagaimana kabarmu?”
'Renee, aku sedang bersiap-siap. Penerbanganku besok.'
“Kau akan pergi?”
'Ya.'
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Haiii jangan lupa like dan juga koment yaaa. Byebye.