Passionate Night

Passionate Night
*PAPA!


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Felix duduk di kursi meja makan, semua orang telah menunggu kehadirannya. Kedatangannya disambut oleh teriakan Leon yang memanggilnya dengan sebutan 'Papa', semua orang yang berada di meja makan terkejut, termasuk para pelayan.


“Kenapa Leon memanggil paman Felix dengan sebutan papa?” tanya John, sang kakek.


“Kakak meminta Leon untuk memanggilnya papa,” jawab Renee tersenyum seraya mengusak puncuk kepala bocah kecilnya.


“Benarkah Felix?” tanya Alice Norin, ibu tiri Felix. Setelah pertanyaan itu Felix tidak menjawab apapun, dia bahkan tidak menoleh sedikitpun untuk melihat wajah Alice.


Sementara itu di kursi paling ujung duduk Josh Alexander, ayah kandung Felix. Ayah dan anak itu memiliki perdebatan yang sengit semenjak Josh memutuskan untuk menikah dengan Alice yang dulu merupakan pelayan di rumah itu. Felix tahu mereka berselingkuh bahkan ketika Amanda ibu kandung Felix masih hidup.


Josh tidak ingin bertanya ataupun berpendapat mengenai tindakan putranya. Dia percaya jika semua yang dilakukan Felix adalah tindakan yang tidak akan merugikan dirinya sendiri. Kalaupun dia berpendapat, maka putranya itu akan semakin membencinya.


Sementara John langsung menatap Renee dengan senyuman penuh arti. Dia sangat mendukung putrinya untuk dekat dengan Felix, berharap Renee menjadi nyonya besar di dalam keluarga Alexander. Masa depan putri dan cucunya akan terjamin, dan tidak akan ada yang berani mengusik dirinya. Dirinya akan berkuasa di dalam mansion besar itu.


Sementara anggota keluarga lainnya saling menatap dengan bingung, ada perasaan tidak suka yang terselip pada tatapan mereka. Keputusan Felix tidak bisa ditentang, tapi keputusannya untuk membuat Leon memanggilnya 'papa' benar-benar tidak bisa diterima.


Kemudian Zayn datang dengan gayanya yang pecicilan. Pria itu terlambat sepuluh menit dan membuat semua orang menunggunya untuk makan malam, dia bahkan membuat Felix menunggu. Sementara selama ini tidak ada yang berani membuat Felix menunggu, dan merusak suasana hatinya, hanya Zayn saja yang berani.


“Hallo bro, selamat malam,” seru Zayn dengan senyuman lebarnya, namun semua orang tidak ada yang menanggapi. Hening tanpa suara.


“Hallo, Papa Zayn.” Leon menunjuknya dengan girang dan tawa.


Sekali lagi semua orang yang berada di ruang makan merasa terkejut saat Leon memanggil Zayn dengan besebutan 'Papa'. Bukan hanya yang lain, bahkan Renee dan John juga terkejut. Tidak ada yang mengajari bocah kecil itu untuk memanggil Zayn dengan sebutan yang sama seperti dia menyebut Felix.

__ADS_1


Felix tahu Renee kecewa, begitu pula dengan John yang langsung memasang raut wajah marah. Dia tidak bermaksud memberi harapan apapun kepada Renee, hanya saja Felix memiliki tujuan tersendiri untuk hal itu. Dia juga yang meminta Leon memanggil dirinya dan Zayn dengan sebutan 'papa.”


Sementara Zayn tidak tahu apapun, dia juga cukup terkejut dengan hal itu. Namun dia hanya tersenyum tanpa menanggapi serius. Dia tahu semua hal yang terjadi di rumah itu adalah atas kehendak kakaknya.


“Hallo Leon.” Zayn mengangkat telapak tangannya untuk tos dengan Leon. Bocah kecil itu menanggapinya dengan senang hati.


“Leon, kenapa kau memanggil paman Zayn dengan sebutan papa? Panggil dia paman,” kata Renee dengan nada menekan. Leon tampak bingung menatap maminya.


“Tidak ada yang mengajarimu nakal seperti itu,” imbuh Renee memelotoi putranya, dan hampir membuat bocah kecil itu menangis. Wajah Leon sudah memerah dan air matanya mengenang di pelupuk mata.


“Aku yang memintanya untuk memanggil Zayn dengan sebutan 'papa'. Jika kau tidak setuju, maka tidak masalah,” kata Felix menatap Renee tanpa ekspresi.


Renee tersenyum dengan paksa. Tentu saja dia tidak setuju saat Leon memanggil Zayn dengan sebutan 'papa'. Dia ingin putranya memanggil papa hanya kepada Felix. Renee bahkan begitu mengharapkan hal itu benar-benar terjadi, tidak hanya nama panggilan.


Tatapan mata Renee tertuju pada Felix yang terlihat yang acuh tak acuh. Renee tidak bisa menolak perkataan pria itu atau Felix akan semakin menjauh darinya. Dia akan menerimanya saja. Lagipula jika di luar bersama Felix saja, orang-orang akan menganggap mereka suami istri, dan Felix akan dianggap sebagai papa Zayn.


“Aku tidak masalah kak, aku menyetujuinya,” ucap Renee dengan senyuman.


Setelah drama itu selesai, akhirnya semua orang memulai acara makan mereka. Felix adalah orang pertama yang pergi beberapa menit setelah acara makan berlangsung, dia bahkan tidak menghabiskan makanan di dalam piringnya. Setelah itu, Zayn menyusulnya pergi.


Felix berada di ruang bacanya. Duduk bersandar di kursi belakang meja kerja, dan mengetuk-ngetukam jari di atasnya. Seketika pintu ruangannya diketuk dan disusul oleh suara Zayn yang memanggil. Tidak lama kemudian Zayn masuk ke dalam ruangan setelah Felix memberinya ijin.


“Kejutan?” seru Zayn dengan ceria. “Sejak kapan kau merencanakannya? Kau ingin menikahkanku dengan Renee? Kau gila?” Senyum ceria Zayn berubah menjadi senyuman putus asa.


“Meskipun aku selalu disakiti oleh wanita, tapi menikahi adikku sendiri itu adalah hal yang tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi,” lugas Zayn.


Felix menatapnya malas. “Aku tidak akan menikahkanmu dengan Renee.”


“Lalu, kenapa kau membuat Leon memanggilku papa?” tanya Zayn dengan serius.


“Aku membuatnya memanggil semua pria di keluarga ini dengan sebutan papa,” jelas Felix, namun Zayn masih tidak mengerti dengan maksud dan tujuan dari kakaknya itu.

__ADS_1


“Renee selalu membuat masalah,” imbuh Felix.


Zayn merenung memikirkannya, dan akhirnya dia dapat mengerti dengan tujuan Felix. Selama ini Renee terus menganggu dan selalu memanfaatkan Leon agar Felix bisa dekat dengannya, bahkan Renee juga pernah meminta Leon untuk memanggil Felix dengan sebutan papa hari itu. Jadi, itulah tujuan Felix sebenarnya. Membuat Renee kehabisan cara untuk terus mengejarnya.


“Kau yakin ini berhasil membuatnya menyerah?” tanya Zayn.


“Setidaknya Leon tidak akan dimanfaatkan olehnya lagi.”


Zayn mengangguk mengerti.


******


Pagi hari Selena membujuk Kenzo untuk pergi ke rumah sakit. Pasalnya suhu tubuh Kenzo masih naik, dia masih demam namun ingin pergi sekolah. Selena jelas melarangnya. Jika tidak mau pergi ke dokter, maka beristirahat saja di rumah. Tapi bocah kecil itu mengeyel. Tidak ada cara lain selain mengantarkannya ke sekolah.


Saat ini Selena sedang berada di dalam ruang kerjanya. Lingkaran hitam pada matanya terlihat jelas meskipun dia sudah memoleskan sedikit make up. Ini terjadi karena satu malam dia tidak tidur untuk terus menjaga Kenzo yang terus saja mengigau.


Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk, sekretarisnya masuk dan memberikan pesan kepada Selena.


“Bu, ada yang sedang menunggu Anda di lobby.”


“Siapa? Apa dia memiliki janji.”


“Dia tidak memiliki janji, dia berkata jika namanya adalah Felix alexander.”


Damn it! Pria itu sedang berada di dalam perusahaannya sekarang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2