
Happy Reading ....
.
.
.
Selena berada di ruang kerjanya di perusahaan. Dia membaca beberapa dokument yang akan dibawa rapat siang ini. Waktu masih menunjukan pukul sebelas siang, dan dia masih memiliki waktu satu jam untuk bersiap.
Zoya masuk ke dalam ruangannya setelah mengetuk pintu, dan ijin dari Selena. Sekretaris muda dan cantik itu memberitahu jika ada seseorang yang menunggunya di ruang tunggu.
“Siapa?” tanya Selena tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa dokument.
“Renee Alexander.”
Detik itu juga gerakan tangan Selena langsung terhenti, dia mengangkat wajahnya dan menatap Zoya.
“Apa kau yakin?”
“Ya, Mrs.”
Selena mengangguk mengerti, dan membiarkan Zoya keluar untuk melanjutkan pekerjaanya lagi. Wanita cantik itu terdiam sejenak untuk menghela nafasnya dalam-dalam, berpikir kepana rivalnya itu tiba-tiba datang ke perusahaannya. Apakah dia ingin membuat keributan?
Dia beranjak dari kursinya, mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Jika Renee membuat kegaduhan di dalam perusahaannya, dia akan melaporkan itu kepada polisi, tidak akan memikirkan reputasi wanita itu sedikitpun.
Cih, meskipun Felix bersamaku, tapi mereka tetap keluarga. Aku ingin tahu siapa yang akan pria itu bela.
Selena membuka kenop pintu ruang tunggu. Renee sedang duduk di atas sofa sembari memainkan ponselnya, wanita itu beranjak berdiri setelah Selena masuk ke dalam ruangan.
“Hallo Selena? Bagaimana kabarmu?” Renee menyapa, lalu memeluknya ringan. Selena cukup tercengang melihat tingkah wanita itu.
Renee melepaskan pelukannya, lalu menggiring Selena untuk duduk bersama di atas sofa. Dia memberikan sebuah papperbag yang dibawanya untuk Selena.
“Aku membelikan ini khusus untukmu, Sele. Kakak mengatakan jika kau menyukainya,” ucapnya.
“Kakak?”
“Ah~ Maafkan aku, maksudku Felix. Aku terbiasa memanggilnya dengan sebutan 'kakak'.”
Selena mengangguk mengerti, lalu menerima papperbag yang entah apa isinya itu. Dia sedikit heran dengan tingkah Renee yang mendadak menjadi baik. Padahal beberapa hari sebelumnya wanita itu masih memandangnya dengan tatapan buruk.
“Kau bisa membukanya, Selena.”
Kemudian, Selena membuka paperbag itu dan mengambil benda di dalamnya. Itu ada jepit rambut dari sebuah brand ternama. Selena memang mengoleksi semua aksesoris dari brand itu. Tetapi kenapa Renee bisa mengetahuinya.
“Kau menyukainya?” tanya Renee dengan antusiasme yang tinggi.
“Ya, ini cantik.”
Selena menyimpan benda itu ke dalam papperbag semula, lalu menyimpannya ke atas meja. Dia menatap Renee dengan tatapan serius.
__ADS_1
“Sebenarnya apa maksud dari kedatanganmu ke sini?” tanya Selena to the point. “Sorry, aku hanya tidak terbiasa karena sebelumnya kita sempta bertengkar.”
Renee menurunkan kedua bahunya, dan memghela nafas. “Sebenarnya ... aku datang untuk meminta maaf padamu, Selena. Aku membuat kesalahan di masalalu. Apa kau bisa memaafkanku?”
Renee terdiam sejenak, membuat Selena berpikir dengan bingung. Aneh. Hanya itu yang bisa Selena ungkapkan untuk sikap wanita itu. Selena tahu jika Renee bukan tipe orang yang akan mengalah dan meminta maaf. Entah apa maksud dan tujuannya kali ini.
“Kau bersama kakaku sekarang, kita akan menjadi keluarga. Aku memikirkan itu semua, dan berpikir juga untuk memperbaiki hubungan kita,” lugasnya.
Oh ... kita akan menjadi keluarga.
Selena mengerti. “Baiklah, lupakan saja masalalu.”
Renee tersenyum dengan girang. “Terimakasih Selena, aku harap kita bisa berteman dengan baik.”
“Kau dan aku memiliki kesukaan pada brand yang sama, bagaimana jika kita pergi berbelanja nanti?”
“Ya, ide bagus.”
................
Renee melenggang di area basement. Wanita cantik itu masuk ke dalam mobilnya. Dia tersenyum simpul, kini hubungannya dengan Selena telah membaik sesuai dengan yang diharapkan. Ternyata semudah itu untuk memperdaya Selena. Kini, rencananya akan berjakan dengan mulus.
Tunggu saja kabar baik dariku, Selena.
******
Selena baru saja menyelesaikan rapat pentingnya. Waktu makan siang terambil lima belas menit karena rapat itu cukup rumit, dan tidak bisa ditunda.
Pandangan Selena teralih pada papperbag yang dibawa oleh Renee. Dia mengambil isinya kembali untuk melihat barang itu. Brand ternama asli. Kenapa wanita itu mau menghabiskan uangnya demi membeli barang ini untuknya. Sangat aneh.
Dia mengambil gambar penjepit rambut itu, lalu mengirimkannya kepada Jennie. Sahabat cantiknya itu sedang online, dan langsung menjawab.
'Hadiah dari adik ipar?'
“Ya.” Selena menjawab dengan singkat.
'Kau akan memberitahunya kepada Felix.'
“Tidak, aku akan mengikuti alurnya saja. Lihat apakah dia ingin bermain-main denganku, atau tidak.”
'Baiklah, kabari aku ataupun Jonathan. Jangan melakukan apapun sendiri. Wanita yang cemburu lebih berbahaya dari seekor ular yang berbisa.'
Selena terkekeh samar. Sejak kapan sahabatnya ini sangat bijak.
“Ya, tentu.”
'Pesta ulang tahunku, jangan lupa membelikan hadiah.'
Jenni memberitahunya, jika satu Minggu lagi adalah ulang tahunnya. Sebenarnya Selena tidak pernah melupakan tanggal lahir sahabatnya itu, karena setiap tahun wanita cantik itu selalu membuat pesta yang sanga meriah dan besar.
“Kau menginginkan apa?”
__ADS_1
'Gigolo tampan!'
“Damn! Carilah sendiri.”
Selena menutup layar ponselnya, dan menyimpan itu ke atas meja.
Tidak lama kemudian, Zoya masuk membawakan makan siang untuk Selena. Satu mangkuk salad pasta sesuai dengan keinginannya. Zoya pergi setelah mengantarkan makanan itu.
Selena memakan makan siangnya sembari membaca beberapa dokument pekerjaan. Dia sangat sibuk hari ini sehingga tidak keluar untuk makan siang meskipun seseorang mengajaknya.
'Hei Baby, aku akan menjemputmu untuk makan siang.'
“Tidak perlu, aku memiliki banyak pekerjaan, dan akan makan di dalam kantorku saja.”
Tidak ada jawaban lagi dari Felix. Selena berharap jika pria itu tidak menyusulnya seperti kemarin.
********
Felix berada di dalam ruangannya, dengan Zayn yang sedang menjelaskan masalah perusahaan. Namun pria itu tidak mendengar, yang ada di dalam otaknya hanya penolakan yang dilakukan oleh Selena.
Dia sangat ingin bertemu dan menghabiskan waktu bersama wanitanya. Namun mengingat jika Selena adalah wanita karier yang juga memiliki kesibukan yang banyak, Felix jadi tidak ingin menganggunya lebih sering. Wanita itu akan marah kepadanya.
Zayn menghentikan penjelasannya saat dia melihat Felix yang sama sekali tidak memperhatikannya sedikitpun. Dia mendengkus gusar. Menyebalkan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Zayn.
“Selena.”
“Oh ya, wanita itu tentu saja. Dia memenuhi pikiranmu saat ini.”
“Dia begitu sibuk, dan tidak memiliki waktu untuk pergi bersamaku.”
“Tentu saja, dia seorang CEO di sebuah perusahaan besar,” lugas Zayn.
Felix menatap Zayn dengan intens. “Tapi dia memiliki waktu untuk pergi makan malam bersama pria lain.” Dia menunjukan kecemburuannya.
“Bukankah sudah dikatakan jika pria itu adalah saudaranya.”
“Ya. Jika dia memiliki waktu untuk makan malam itu, setidaknya dia bisa menyempatkan waktunya untukku,” kata Felix, membuat Zayn menghela nafasnya.
“ Tidak bisa. Atur perjanjian kerja dengan perusahaannya, aku akan menemuinya dalam bentuk pekerjaan.”
Yang benar saja! Zayn merasa frustasi sekarang.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1