Passionate Night

Passionate Night
*DUPLIKAT


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Selena, Felix, Johan, dan Marie pergi ke kantin rumah sakit setelah memastikan Kenzo sudah tertidur lelap. Mereka memberikan ruang istirahat pada bocah kecil itu. Sementara mereka berempat pergi untuk meminum coffee.


Marie menyiku lengan Selena, meminta putrinya untuk menjelaskan siapa pria yang telah dia bawa itu. Sementara Selena tidak mungkin mengatakan jika Felix adalah suami orang yang saat ini sedang mengejar-ngejarnya.


Damn!


Felix duduk dengan tegak, memperlihatkan wibawanya. Pria itu menyesap coffeenya dengan santai meskipun dia mendapat sorot mata tajam dan intens dari Johan dan juga Marie. Sementara Selena saat ini sedang mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia bisa sampai membawa Felix bertemu dengan kedua orang tuanya.


“Jadi, siapa namamu?” tanya Marie menatap Felix dengan penuh rasa penasaran.


“Felix Alexander,” seru Johan, membuat mata istri dan putrinya tertuju ke arahnya.


“Papa mengenalnya?” Selena bertanya dengan bingung.


“Siapa yang tidak mengenal dia?” Johan melirik Selena dengan mata runcing. “Semua orang dikalangan bisnis mengenalnya.”


Selena mengerutkan keningnya. Jika semua orang mengenalnya, lalu kenapa dulu Selena tidak pernah mengenal pria itu. Jika pria itu memang terkenal, maka Selena tidak akan menidurinya, lebih tepatnya tidur dengannya.


Felix terkekeh samar, dia sama sekali tidak terlihat canggung. “Aku baru dalam dunia bisnis, Anda tidak perlu berlebihan.”


“Kau pria yang hebat, pandai, dan kompeten, kau pantas mendapatkan ketenaran seperti itu,” kata Johan membuat Selena muak mendengarnya. Jika saja papanya itu tahu sikap Felix yang sebenarnya, pasti dia sudah melemparkan pria itu ke lautan.


Felix melihat kekesalan dan raut wajah tidak setuju dari wanita cantik itu, dia menarik ujung bibirnya ke atas. Selena terlihat sangat menggemaskan.


“Dari mana kau mengenal putriku?” tanya Marie. “Apakah kalian mitra bisnis?”


“Tentu saja bukan,” sambar Selena menunjukan raut wajah tidak suka yang seolah mencemooh Felix. Siapa yang mau berhubungan bisnis dengan pria itu?


Johan melihat tingkah laku putrinya yang selalu seperti itu jika menyangkut masalah pria. Dia tidak menyukainya. Sikap itulah yang menyebabkan Selena tidak kunjung menikah.

__ADS_1


“Aku memiliki hubungan khusus dengan Selena.” Felix mengenggam tangan Selena yang berada di atas meja, tersenyum pada wanita cantik yang sedang memandangnya dengan tajam.


“Hubungan seperti apa?” tanya Marie yang tidak ada habisnya..


Percayalah jika saat ini dia sangat ingin menggeret Felix pergi agar pria itu tidak usah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan oleh kedua orangtuanya. Dan untuk Marie dan Johan, Selena harap mereka berhenti melayangkan pertanyaan.


“Pertemanan,” jawab Selena dengan cepat. Dia tidak memperbolehkan Felix menjawab pertanyaan dari orangtuanya. Dia akan berkata macam-macam.


Felix menahan kekehannya melihat Selena yang begitu waspada. Sementara Selena melirik jam tangan dan kini waktu sudah menunjukan sore hari, dia akan membuat alasan untuk membuat pria itu segera pergi.


“Ah~ Bukankah kau bilang memiliki janji temu makan malam bersama klien hari ini? Sebaiknya kau cepat pergi atau kau akan terlambat.”


Makan malam dengan klien? Felix bahkan baru mengetahui itu. Wanita ini.


Selena segera menarik lengan Felix, lalu menggeret pria itu pergi dari sana setelah dia mengucapkan salam kepada Marie dan Johan. Felix hanya menurut ketika tangannya terus ditarik oleh wanita cantik itu sampai ke depan lift.


“Pergilah,” kata Selena lalu menghempaskan lengan Felix dengan kasar. Pria itu tersenyum simpul mendapatkan perlakuan dari wanita itu.


Selena berbalik dan langsung pergi. Namun Felix tidak menerima perlakuan seperti itu, lantas dia mengikuti langkah Selena kembali. Selena menyadari itu, mendesah kesal, lalu berbalik secara tiba-tiba membuatnya tidak sengaja menabrak dada bidang Felix.


“Ouuhh!” desahnya seraya mengelus-elus keningnya yang lumayan sakit.


Selena mendongakan wajahnya saat mendengar suara bariton itu, melihat wajah Felix yang berada tepat di hadapannya. Pria itu mengangkat sebelah halisnya sembari menatap Selena. Selena segera berjalan mundur untuk menghindari Felix.


Dia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengatakan, “Kenapa kau tidak pergi?” Dia mengatakannya dengan nada yang lembut dengan senyuman.


Felix membalas senyuman Selena dan menjawab, “Kau tidak cukup mahir membuatku pergi, aku tidak ingin pergi setelah mendapatkan perlakuan kasar.”


Selena menampilkan senyuman paksa. Percayalah jika saat ini dia sangat ingin menendang pria itu masuk ke dalam lift kemudian membuat lift itu mati agar dirinya terjebak. Selena benar-benar sudah kehilangan akal untuk membuat pria itu menjauh.


“Jadi, apa yang harus aku lakukan?” Selena berbicara dengan nada yang menggoda, jemari lentiknya sengaja menyusuri dada bidang Felix yang masih terbalut jas dan kemeja. “Apa kau ingin perlakuan manis dariku?”


“Tentu saja.”


Felix menarik pergelangan tangan Selena dan membuatnya mendekat. Kali ini Selena tidak menolak ataupun meronta, dia menerima perlakuan itu tanpa perlawanan. Saat ini yang dia harapkan adalah pria itu segera pergi.


“Baiklah, apa yang kau inginkan?” tanya Selena.

__ADS_1


“Cium aku.”


“Ah~” Selena mengangguk mengerti.


Kemudian, dia menarik kerah leher kemeja Felix, menjitjitkan kedua kakinya agar memiliki tinggi yang sepadan dengan pria itu. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Felix, mengecup dengan lembut pipi dengan sedikit jambang itu. Setelah itu, dia langsung melepaskan genggamannya pada kerah baju Felix.


“Sudah, sekarang pergilah.” Selena melenggang pergi sembari menggerutu dengan kesal. Felix memegang pipinya bekas kecupan wanita itu, kemudian tersenyum simpul.


******


Selena terjaga sepanjang malam dua hari berturut-turut, dia tidak bisa memejamkan matanya untuk mulai tertidur jika Kenzo sakit. Marie dan Johan memintanya pulang untuk beristirahat, namun dia tidak mau dan tetap memaksa untuk menjaga Kenzo.


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Pengasuh Kenzo datang untuk berganti shift. Selena melihat jika bocah kecil itu masih tertidur pulas, dia tidak tega untuk membangunkannya.


“Beri dia waktu tidur satu jam lagi,” perintah Selena.


“Baik, Nona.”


Selena pergi membasuh wajahnya. Dia melihat cermin, dan menyadari jika lingkaran hitam di bawah matanya semakin kentara. Dia mendesah pelan, lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.


Dia melihat ponselnya dan banyak email pekerjaan yang masuk. Selena berencana mengosongkan jadwalnya hari ini, dia ingin menemani Kenzo di rumah sakit.


Setelah selesai membasuh wajah, Selena keluar dari toilet. Dia melihat Kenzo yang sudah bangun dan duduk di atas ranjang menghadapi sarapannya di meja kecil. Bocah kecil itu tersenyum saat melihat maminya.


“Mami, aku sudah sembuh, aku ingin pulang dan pergi ke sekolah.”


Selena duduk di kursi kecil samping ranjang Kenzo. “Dokter akan memeriksamu, baru kau bisa pulang.”


“Baiklah, Mami.”


Ponsel Selena berdering, dia mendapatkan satu notifikasi pesan dari Felix. Pria itu mengirimkan sebuah gambar yang cukup membuat Selena terkejut ketika melihatnya.


Ini ....


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2