Passionate Night

Passionate Night
*FEELING


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul dua belas tengah malah. Keluarga kecil itu berada di atas ranjang. Dengan posisi Kenzo yang sedang tertidur pulas di tengah-tengah Felix dan Selena.


Wanita cantik itu sedang memainkan ponselnya, melihat akun sosial media yang beberapa hari ini tidak sempat dia buka. Tidak lama setelah itu Selena mematikan ponselnya dan mulai berbaring untuk tertidur.


Felix yang masih terjaga untuk menjaga putra dan wanita yang dicintainya. Dia beranjak untuk mengecup kening Kenzo secara perlahan, kemudian turun dari ranjang untuk menghampiri Selena. Mencium kening wanita cantik itu sebelum dirinya pergi ke luar kamar.


Terdengar suara pintu kamar yang ditutup secara perlahan. Selena membuka matanya kembali. Menyentuh keningnya yang baru saja dicium oleh pria itu.


Dia kembali melihat ponselnya, membuka sebuah aplikasi chat online miliknya dan membaca satu pesan masuk di sana.


'Bisakah kita pergi untuk minum coffee besok?'


Selena menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah membalas pesan tersebut, dia kembali meletakan ponselnya ke atas meja lalu mengubah posisi berbaringnya untuk menghadap Kenzo. Lengannya terulur untuk memeluk tubuh kecil itu, mencium pucuk kepalanya.


...****************...


Pagi ini, Selena bangun lebih awal satu jam dari biasanya. Di luar hari masih gelap. Dia melihat isi ranjang yang hanya ditiduri olehnya dan Kenzo. Tidak tahu ke mana perginya pria itu. Mungkinkan Felix tidak kembali setelah pergi tadi malam. Selena tidak tahu.


Dia beringsut turun dari ranjang, dan melangkah keluar dari kamar. Di luar semua lampu dinyalakan, padahal sebelum masuk ke dalam kamar tadi malam Selena ingat jika dia telah mematikan lampu.


Kaki jenjangnya turun ke lantai satu dan menuju dapur. Seketika langkahnya terhenti saat melihat beberapa pelayan yang sedang bersih-bersih di sana.


Mereka menyadari kehadiran Selena, dan langsung menghentikan aktivitas mereka. Berbalik untuk menyapa nyonya rumah itu.


“Selamat pagi, Nyonya,” sapa mereka seraya menundukan setengah badan.


Selena terdiam sejenak sebelum membalas sapaan dari para pelayan itu. “Ah~ selamat pagi.” Dia tampak kebingungan.


“Apakah Felix yang meminta kalian untuk datang?” tanya Selena.


“Ya, Nyonya. Tuan Felix yang meminta kami untuk datang tadi malam,” lugas salah satu pelayan.


Selena mengangguk mengerti. Tentu saja pria itu, lantas siapa lagi.


“Lalu di mana Felix?”


“Tuan pergi untuk berenang.”


“Pagi-pagi buta?” kening Selena berkerut heran.

__ADS_1


Pelayan tersebutpun mengiyakan.


Selena pergi ke dapur mengambil air mineral lalu meminumnya. Dia mengambil mantel hangatnya dan pergi ke lantai bawah apartement untuk menemui pria itu di kolam renang. Benar saja, pria itu ada di sana dan sedang menenggelamkan tubuhnya di dalam air.


Setelah satu malam menghilang Selena tidak menyangka jika pria itu akan berenang di pagi-pagi buta yang sangat dingin itu. Apakah dia tidak akan membeku.


Felix mengayuhkan lengan dan juga kakinya sampai di ujung kolam renang. Dia naik ke permukaan. Ketika membuka mata dia langsung disuguhkan oleh kaki jenjang dan mulus milik wanita cantiknya.


“Kau di sini?” tanya Felix seraya mendongakan wajahnya menatap Selena.


“Tidakkah tubuhmu membeku?” tanya Selena balik.


Felix tersenyum simpul. “Berenang di pagi hari bagus untuk kesehatanmu. Kau ingin mencobanya?”


“Tidak.” Wanita cantik itu mundur satu langkah untuk menolak, dan Felix terkekeh melihatnya.


Felix mengangkat tubuhnya untuk duduk di tepi kolam. Dia menepuk sebelahnya, dan meminta Selena untuk duduk di sana.


“Duduklah, rendam kakimu di dalam kolam, tubuhmu akan merasa segar,” katanya.


Selena tidak mempercayainya. Tapi kakinya justru melangkah untuk mendekat, lalu dia terduduk di sana dan melakukan hal yang diperintahkan oleh Felix.


“Kau meminta pelayan untuk datang?” tanya Selena.


“Ya, sesuai yang kau inginkan.”


“Tapi mereka terlalu banyak, Felix,” ungka Selena.


Pasalnya dia melihat dua orang dalam satu tempat. Dua di dapur, di ruang tamu, kamar, dan juga ruangan lainnya. Bukankah itu terlalu banyak.


“Tidak masalah,” jawab Felix dengan enteng.


Selena menghela nafasnya. Lalu menolehkan wajahnya menatap pria tampan yang basah kuyup di sampingnya.


“Ya di sini sangat dingin,” ujarnya. “Tapi aku tidak akan kedinginan jika kau membantuku.”


“Membantu apa?” Selena menurunkan pandangannya pada dada bidang milik Felix, tatapannya mulai sayu.


“Menghangatkan tubuhku.”

__ADS_1


Seketika Felix menarik lengan Selena untuk ikut tercebur ke dalam kolam. Wanita cantik itu terkesiap dengan gerakan tiba-tiba yang dibuat oleh Felix. Dia tidak sempat menolak, dan kini dirinya berada di dalam kolam renang dengan seluruh tubuh yang basah, bahkan rambut.


“Felix kenapa kau menarikku juga?” protesnya seraya menyeka air pada wajahnya.


Felix memegang bahu Selena, dan menatapnya dengan lekat. Saat wanita cantik itu membuka mata Felix langsung mendekatkan wajahnya untuk meraih bibir sintal milik wanitanya. Sekilas, dia melepaskannya kembali.


“Tidak, ini tempat umum,” tolak Selena.


“Siapa yang berani menganggu kita? Tidak ada.”


Felix mendekap tubuh Selena lalu mulai meraih kembali bibir sintal wanitanya. Jemarinya bermain untuk membuka mantel hangat yang masih Selena kenakan. Setelah itu dia membuka kancing baju tidur wanita cantik itu.


Selena membalas permainan bibir pria itu. Membiarkannya melepaskan semua pakaian miliknya. Dia menerima tanpa paksaan sekalipun.


Di pagi hari yang dingin itu, mereka berdua saling menyatukan tubuh untuk mencari kehangatan.


......................


Setengah jam berlalu, keduanya kembali ke dalam apartement mereka. Rumah sudah siap dan rapih. Beberapa pelayan sedang sibuk menyiapkan sarapan.


Selena melangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke dalam kamar. Dia melihat ranjang yang sudah kosong. Bocah kecil itu mungkin sudah berada di dalam kamarnya sendiri dan akan bersiap ke sekolah. Dengan segera Selena masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


“O Lord!” pekik Selena terkejut saat dia melihat kissmark di lehernya. “Ini tidak akan hilang,” ungkapnya dengan resah.


Tiba-tiba saja pintu kamar mandi yang tidak dikunci terbuka. Felix masuk ketika Selena sudah bertelanjang bulat. Pria itu memandangnya dalam sesaat.


“Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?” protes Selena seraya memakaikan handuk untuk menutupi tubuhnya.


“Apa yang kau khawatirkan? Aku bahkan telah melihatmu lebih dari ini,” kata Felix.


Selena melunak. “Ya, tetap saja kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu.”


“Baiklah, Baby.”


Felix menyentuh kedua bahu Selena untuk membuatnya tenang. Dia menjumput rambut Selena yang menutupi leher untuk melihat tanda merah yang dibuatnya di sana.


Selena menyorotnya dengan tajam. “Kau sengaja?”


“Tidak, ini refleks Baby.”

__ADS_1


“Cih.” Dia berdecih seraya melepaskan kedua lengan Felix pada bahunya. “Aku tahu kau sengaja.”


__ADS_2