
Happy Reading ....
.
.
.
“Menikah?”
“Ya. Aku ingin kau menjadi miliku, Selena.”
“Apa sekarang aku bukan milikmu?”
“Lebih dari sekarang.”
**********
Sebuah privateroom pada restoran keluarga ternama. Tiga orang sahabat itu berkumpul bersama, meluangkan waktu di sela-sela kesibukan mereka untuk saling bertemu dan melepaskan keluh kesah pada satu sama lain.
Selena sedang menceritakan kegelisahannya mengenai Felix yang tiba-tiba saja mengajaknya menikah. Dia tidak menerima ataupun menolak ajakan pria itu, Selena hanya meminta sedikit waktu untuk memikirkan semuanya.
Pernikahan adalah hal yang paling Selena hindari dari dulu. Dia bahkan rela membuat nama baiknya tercoreng karena memiliki anak tanpa ayah hanya untuk menghindari hubungan yang satu ini. Kali ini takdir berkehendak lain, Selena sepertinya tidak diijinkan untuk menghindar lagi dan dia terpaksa harus menghadapinya.
Ketakutannya akan pernikahan tidak bisa dihilangkan. Hal-hal rumit yang akan terjadi di dalam rumah tangga membuat kepala Selena merasa pusing meskipun hanya memikirkannya. Apalagi sampai benar-benar terjadi di dalam kehidupannya. Akan seperti apa nantinya. Mungkin Selena akan terus berada di rumah sakit setelah pertengkaran.
Dia merasa sangat bingung dan tidak bisa memikirkan itu seorang diri. Jadi dia meminta dua sahabatnya untuk berkumpul dan ikut memikirkan mengenai masalahnya.
“Kau harus memeriksakan dirimu ke psikolog,” saran Jennie.
“Oh Jennie, dia tidak gila.” Jonathan langsung menentangnya. “Dia hanya takut menjalani pernikahan padahal belum pernah mencobanya.”
“Ya, kau harus menghilangkan pikiran-pikiran negatifmu tentang pernikahan. Mungkin pernikahan tidak seburuk itu.”
Selena mendesah. Siapa yang akan tahu jika pernikahan tidak akan memiliki keadaan yang buruk. Permasalahan selalu muncul secara tiba-tiba, dan Selena bukan orang yang siap secara mental untuk menghadapinya.
“Jika kau tidak ingin menikah, putuskan saja dia,” ucap Jonathan dengen enteng.
“Tapi akan lebih baik jika kalian menikah, pria itu juga merupakan ayah Kenzo.”
“Ya, tapi dia tidak mengetahui itu.”
“Beritahu saja dia.”
“Tidak semudah itu,” kata Selena.
__ADS_1
“Setidaknha anakmu memiliki papi yang sebenarnya. Bukankah Kenzo juga sedang menunggu jawaban?” tanya Jennie.
“Jawaban apa?” Jonathan melirik wanita **** itu.
“Ya, apakah dia bisa memanggil paman Felix dengan sebutan papi, karena paman Felix memiliki rumah yang lebih besar dari rumahnya,” ungkap Jennie dengan gelak tawa begitupula Jonathan yang langsung ikut tergelak.
“Benarkah? Itu yang sedang dia pikirkan?”
“Ya, Maminya yang cantik ini memberitahu bocah kecil itu untuk menanyakan hal tersebut kepada setiap pria yang datang ke rumahnya,” ungkap Jennie.
“O **** Selena, pantas saja pria yang datang ke rumahmu semuanya lari,” kata Jonathan masih dengan tawa yang sama.
“Tapi kali ini dia memiliki Felix, yang tentunya memiliki kekayaan yang setara dengannya. Pria itu tidak lari terbirit-birit seperti pria lainnya. Karena itulah Selena merasa pening,” sindir Jenni terbahak.
Ekspresi wajah Selena datar. Menyebalkan karena dua orang sahabatnya itu sedang menertawakannya.
“Damn! Berhentilah berbicara!”
Jennie dan Jonathan saling menatap dan kembali tertawa. Mereka membutuhkan beberapa menit untuk meredam tawa dan rasa geli di dalam hati mereka sebelum akhirnya suasana menjadi kondusif kembali.
“Bagaimana jika membuat perjanjian?” saran Jenni.
Selena berkerut kening. “Perjanjian?”
“Ya, buatlah perjanjian sebelum menikah. Kalian harus membuat perjanjian apa saja yang tidak boleh terjadi di dalam pernikahan kalian. Seperti misalnya, pertengkaran yang paling kau takutkan itu.”
“Lebih baik kau mencobanya dulu. Jika tetap tidak bisa, bercerai saja. Bukan hal yang sulit,” saran Jennie.
Selena tersenyum simpul dengan raut wajah frustasinya. Dia menyesap wine di dalam gelasnya. Bercerita pada dua sahabatnya tidak membantu apapun. Mereka hanya semakin membuat Selena gelisah. Ya, lagipula siapa yang akan meminta pendapat mengenai pernikahan kepada orang yang memutuskan untuk lajang seumur hidup.
“Jika merubah pikiranmu dan kau memutuskan ingin menikah, lebih baik tanyakan beberapa hal kepadanya,” saran Jonathan dengan tenang seraya memakan kentang goreng miliknya.
“Apa itu?”
“Semua tentang calon suamimu, dan tentang masalalunya. Ingat untuk tidak menikah dengan orang yang masih terlibat dengan masalalunya.”
Masalalu? Selena tiba-tiba teringat dengan wanita yang tiba-tiba datang dari kehidupan lama pria itu.
“Kau harus mulai menanyakan tentang hubungan Felix bersama wanita itu,” jelas Jennie.
“Jangan sampai patah hati dan menangis, aku tidak akan tahan melihatnya,” saran Jonathan.
Selena tidak tahu, dia malas. Terlalu menjunjung tinggi harga dirinya membuat Selena tidak ingin merendah untuk menanyakan hal-hal seperti itu. Felix akan merasa besar kepala dan menganggap dirinya cemburu.
************
__ADS_1
Setelah makan malam bersama keluarga selesai. Felix kembali ke dalam ruangannya. Renee melirik pria itu dan memutuskan untuk mengikutinya.
“Kak, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu,” kata Renee.
“Katakan itu di ruanganku.”
Kemudian, mereka berdua berjalan menaiki tangga menuju lantai dua mansion. Masuk ke dalam ruang baca Felix dan duduk di atas sofa yang berada di dalam ruangan tersebut.
“Katakan," perintah Felix dengan dingin.
Renee menarik nafasnya dalam-dalam. Membuat ekspresi sedih sedemikian rumah. Memperlihatkan penyesalannya kepada Felix. Lalu dia menundukan wajahnya sangat dalam.
“Maafkan aku, Kak.”
Felix menatapnya, memperhatikan raut wajah wanita di hadapannya.
“Maaf karena aku berbohong kepadamu selama ini.”
Kerutan halus muncul pada kening pria itu. Felix tidak mengatakan apapun. Dia membiarkan Renee menjelaskan semuanya sampai selesai.
“Sebenarnya ... selama ini aku tahu di mana Luciane berada. Tapi aku tidak memberitahumu. Kami juga masih saling berhubungan selama beberapa tahun ini.”
Felix menatap adiknya dengan ekspresi dingin. Tidak menyangka jika Renee akan mengatakan hal seperti itu kepadanya malam ini.
“Ini semua karena Luciane memintaku untuk merahasiakannya darimu, dia tidak ingin kau mengetahuinya.” Renee semakin menunjukan rasa bersalah dan penyesalannya.
“Selama beberapa tahun ini, sebenarnya aku selalu memberinya kabar semua tentangmu. Apapun kegiatanmu kepadanya. Semua itu untuk mengobati rasa rindunya kepadamu.”
“Dia tidak berniat pergi meninggalkanmu, Kak. Dia hanya menghilang untuk beberapa tahun, dia ingin meniti kariernya sampai sukses agar dia bisa pantas bersanding denganmu.”
Renee mulai menjelaskan semua hal yang sebenarnya terjadi. Alasan Luciane menghilang dari Felix, dan bagaimana wanita itu hidup selama beberapa tahun untuk memperjuangkan kariernya. Tapi setelah semuanya telah tercapai, Felix sudah memiliki wanita lain di hatinya. Renee juga menyampaikan penyesalan Luciane yang begitu dalam.
Selain itu, Renee juga berdalih mengenai dirinya sendiri. Tentang alasan kenapa dia selalu ingin mendekati Felix, dan bersikap seolah menginginkan pria itu. Dia beralasan jika semua itu dia lakukan semata-mata untuk menjaga Felix dari wanita lain. Tidak lebih. Karena dia mendukung hubungan Felix dengan Luciane.
Renee sengaja membuat kebohongan itu agar Felix bisa mempercayainya lagi, dan mengembalikan tempat Renee di dalam hati pria itu.
Kau akan merasa bimbang sekarang, Kak.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, koment dan juga subscribe yaaaa.. See you.