Passionate Night

Passionate Night
*VIDEO CALL


__ADS_3

******Happy Reading****** ....


.


.


.


Selena berjalan dengan santai seraya membawa beberapa kaleng Beer di dalam pelukannya. Dia melihat Jenni yang sedang memegang ponsel miliknya disertai raut wajah terkejut.


“Apa yang salah?” tanya Selena.


Jenni membuka mulutnya karena terkejut, dia melirik Selena lalu membalikan posisi ponselnya guna memperlihatkan siapa yang sedang menelponnya melalui video call.


“Damn it!”


Selena tidak kalah terkejutnya dengan Jenni sampai kaleng beer yang sedang dibawanya jatuh berhamburan ke atas lantai saat dia mengambil alih dengan cepat ponselnya dari tangan Jenni.


Pria yang berada di dalam video call itu berwajah datar, dia tidak mengekspresikan sama sekali hal yang sedang dilihatnya kini. Para wanita itu seperti melihat hantu saat melihatnya, dan mereka malah membuat kekacauan. Tidak lama dia hanya mendapati layar yang gelap tanpa gambar sedikitpun.


Selena menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, dan menyimpan kasar ponselnya ke atas meja. Jenni langsung mendekati sahabatnya itu, siap menghujaninya dengan sejuta pertanyaan.


“Sejak kapan kalian dekat?” tanya Jenni penasaran.


“Kami tidak dekat.”


“Dia tidak akan berani menghubungimu lewat video call jika kalian tidak dekat,” cecar Jenni, mencoba membuat Selena jujur.


“Kami benar-benar tidak dekat. Aku juga heran kenapa dia melakukannya,” ucap Selena dengan nada yang merendah pada akhir kalimatnya.


“Ayolah ceritakan kepadaku, cepatlah Selena cepatlah.”


Selena menghela nafasnya dalam-dalam. Sahabatnya itu tidak akan berhenti jika dia belum mendapatkan apa yang dia mau.


“Kami benar-benar tidak dekat, hanya saja ....” Perkataan Selena tercekat.


“Hanya saja apa?”


Selena mendesah samar dan merasa sangat frustasi. Entah harus dari mana dia menceritakan semuanya kepada Jenni. Hal yang memalukan beberapa hari ini terjadi, dan itu sangat menganggu pikirannya.


Dia menceritakan dengan rinci beberapa pertemuannya dengan Felix. Dari mulai pertama mereka bertemu, hingga saat ini. Jenni mendengarkannya dengan sangat antusias seperti seorang bocah yang sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur.


Bagian yang paling mengerikan adalah di mana Selena menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Felix. Tentang bagaimana pria itu meracuni minumannya, dan membuat Selena kehilangan akal.


“Setelah itu, apa yang kalian lakukan?” tanya Jenni di pertengahan cerita Selena. Raut wajahnya menampakan harapan lain, Jenni pasti sedang berpikiran macam-macam.

__ADS_1


“Tidak ada.” Selena menyenderkan tubuhnya ke senderan sofa. Dia membuka penutup kaleng beer lalu menegaknya dengan frustasi.


“What the fucck?” pekik Jenni. “Tidak ada?” Wajahnya menampilkan raut wajah tidak percaya. Jangankan Jenni, Selena saja kesal jika mengingat hari di mana pria itu mempermainkannya. Damn it!


“Lord! Jadi, apakah dia tahu sesuatu tentang ... Kenzo?” Jenni berbisik di akhir kalimat, suaranya ketika menyebutkan nama Kenzo hampir tidak terdengar.


Selena menggeleng. “Dia tidak tahu.”


“Bukankah bagus jika dia tahu?”


“No! Dia adalah pria yang memiliki istri, dan kau tahu istrinya adalah macam tutul betina, wanita itu sangat menyebalkan,” geram Selena.


“Cih, jika aku jadi kau, aku akan menuntut pertanggung jawabannya. Dia adalah pria tampan dan kaya raya. Apalagi, dia sedang mencoba mendekatimu sekarang. Aku rela meskipun hanya menjadi simpanan.”


“Itu kau, aku tidak sudi,” kata Selena memutar bola matanya malas.


“Jadi, gaun yang mana yang akan kau pakai untuk acara reuni nanti?” tanya Selena mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku memilih warna hitam.”


“Baguslah, kita akan memakai warna yang sama.”


“Tentu saja.”


Reuni?


Reuni adalah acara ajang pamer yang dilakukan orang-orang beberapa tahun setelah mereka lulus sekolah. Felix segera mencari tahu tentang acara tersebut, dan tidak lama dia langsung mendapatkannya. Ujung bibirnya tertarik ke atas saat dia tahu jika masing-masing harus membawa pasangan.


********


Selena menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang di dalam kamarnya. Setelah kembali dari apartemen Jenni, dia bahkan harus menemui meeting mendadak yang tidak bisa dia lewatkan. Padahal kondisinya sudah setengah mabuk karena sebelumnya dia telah menghabiskan beberapa kaleng beer di apartment Jenni.


Dia membuka layar ponselnya, dan melihat riwayat panggilan. Seketika Selena terkesiap saat melihat riwayat panggilan Felix telah berlangsung selama sepuluh menit.


Sepuluh menit? Bukankah aku sudah mematikannya tadi?


Selena menggigit bibir bagian bawahnya, menebak jika pria itu telah mendengarkan semua percakapan antara Jenni dan dirinya. O Lord! Apalagi ini, akankah ada masalah lagi?


Tok tok tok.


Pintu kamar Selena diketuk dari luar diiringi dengan suara pelayan yang memanggil namanya, “Nona, ada kiriman untukmu.”


“Kiriman?” gumam Selena. “Aku sedang tidak memesan apapun.”


Dia beringsut turun dari ranjangnya, dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Pelayan itu sedang berdiri di depan pintu seraya membawa sebuah kotak yang lumayan besar.

__ADS_1


“Terimakasih,” ucap Selena seraya mengambil alih kotak yang cukup berat itu. Kemudian, pelayan tersebut pergi, dan Selena menutup pintu kamarnya kembali.


Dia meletakan kotak tersebut ke atas ranjang lalu membuka penutup yang diikat dengan pita. Selena terdiam sejenak saat melihat sebuah gaun cantik, higheels, dan beberapa aksesoris cantik lainya berada di dalam kotak tersebut. Selena mencari catatan di dalamnya, namun dia tidak menemukan sesuatu.


Siapa yang mengirim ini? Apakah Edzar?


Tidak lama kemudian ponsel Selena berdering. Dia langsung mengambil ponselnya yang terletak tidak jauh darinya. Dengan lihat jemarinya menggeser layar ponsel, menekan notifikasi yang tertera di atas layar.


'Sudah menerima hadiahku? Aku tahu kau akan menyukai gaun berwarna hitam itu.'


Selena menyugar rambutnya ke belakang, menggigit bibir bagian bawahnya tidak percaya saat dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Felix. Ternyata, pria itu benar-benar sudah mendengarkan semua percakapannya dengan Jenni. Bukan hanya tentang pesta reuni, Selena khawatir jika pria itu mendengar sesuatu yang lain.


Dia langsung menghubungi nomor Felix, dan setelah beberapa kali berdering akhirnya pria itu menjawab teleponnya.


“Kau menguping pembicaraanku?” tuduh Selena. “Perbuatanmu sangat tidak pantas.”


Terdengar suara kekehan dari dalam telepon. 'Bukankah semua ini terjadi karena kecerobohanmu? Kau lupa mematikan sambungan telepon dan membuatku mendengarkan semuanya.'


Damn it! Menyebalkan!


'Kau akan memakai gaun itu di acara reuni nanti, bukan?'


“Tentu saja tidak, aku memiliki gaun lainya.”


'Kau akan memakainya Selena, dan aku akan membuatmu menjadi pasanganku di pesta itu.'


“Kau gila? Itu adalah pesta umum. Lagipula, aku sudah memiliki pasangan yang akan aku bawa ke pesta nanti.”


'Siapa?'


“Edzar.”


Saat ini Felix sedang berada di ruang bacanya. Jemarinya seketika meremas kertas yang sedang dipegangnya saat Selena menolak ajakannya, dan malah menyebutkan nama pria lain. Felix tidak bisa menerimanya.


'Aku akan datang untuk menjadi pasanganmu, dengan atau tanpa persetujuan darimu, Sele.'


.


.


.


Bersambung ....


Jangan lupa untuk like, koment, dan fav untuk terus menyemangati authorr yaaaaaa.

__ADS_1


__ADS_2