Passionate Night

Passionate Night
*SOLVE THE PROBLEM!


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul enam sore hari. Para karyawan perusahaan berhamburan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Di perusahaan hanya tersisa beberapa orang yng sedang melakukan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.


Pintu ruang kerja Selena baru saja tertutup saat Zoya keluar setelah pamit untuk pulang. Wanita cantik pemilik ruangan itu juga sedang membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam tas.


Dia teringat album foto yang sebelumnya dibawa oleh Luciane. Lantas Selena juga membawa itu bersamanya.


Kaki jenjangnya melangkah keluar dari perusahaan. Menghampiri mobil yang sudah menunggunya tepat di depan pintu masuk. Dia membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di dalam. Melemparkan album foto itu pada sang pengemudi.


“Kita berakhir saja," ucapnya secara tiba-tiba.


Felix menatapnya dengan tajam dan tidak suka. Apa maksud dari perkataan Selena yang tiba-tiba itu.


“Wanitamu mengemis padaku agar aku mengembalikanmu," katanya kemudian menatap Felix. “Buka itu.” Dia menunjuk album foto pada pangkuan Felix.


Melihatnya sekilas sudah membuat Felix tahu apa isi benda yang kini berada di pangkuannya. Dia tidak mau membukanya dan lebih memilih untuk melemparkan benda tersebut ke kursi belakang lalu menancap gas.


“Dia mengemis padaku sambil menangis, mengeluarkan banyak sekali air mata,” celoteh Selena.


Wanita cantik itu sedang memainkan ponselnya. Namun mulutnya tidak berhenti untuk membicarakan kejadian pagi tadi.


“Apa kau tidak kasihan padanya?”


“Kembalilah lagi bersama dia.”


“O Lord! Aku merasa seperti penjahat yang sudah mencuri sesuatu darinya.”


“Kembali saja padanya Felix!” kata Selena meninggikan suara.


Dia menoleh ke arah Felix yang sejak tadi diam tanpa menjawab perkataanya sedikitpun. Selena merasa kesal akan hal itu.


“Felix, apa kau mendengarku?”


Felix membanting setirnya ke arah kiri dan menghentikan mobilnya. Dia menatap Selena dengan tajam sementara wanita cantik itu tetap dengan ekspresi santai.


“Jangan terus mengatakan hal bodoh seperti itu Selena. Biar aku membereskannya nanti,” ucap Felix dengan penuh penekanan.


Selena malah memutar bola matanya malas. “Bagaimana caramu menyelesaikannya. Apakah kalian akan berakhir di ranjang bersama?”


O ****! Felix menatapnya dengan sangat tajam. Tapi Selena malah tersenyum simpul menanggapi senyuman maut dari priannya.


“Hentikan itu, Selena.”

__ADS_1


Selena berdecih samar, “Apakah kau takut ingatan masalalumu muncul kembali? Bagaimana dengan satu buah apel yang kau petik langsung dari pohonya? Aku sempat melihat foto-foto bahagiamu itu.”


Selena sudah tidak bisa dicegah lagi. Dia terus menyindir Felix akan masalalunya bersama Luciane. Wanita itu sepertinya sedang cemburu.


Felix mengulurkan sebelah tangannya ke belakang kursi Selena dan menarik sesuatu di sana sampai menyebabkan senderan kursi yang di duduki Selena menjadi posisi berbaring.


Wanita cantik itu tercengang. “O Lord!”


Felix dengan cepat mendorong bahu Selena saat dia mencoba untuk beranjak bangun. Dia segera ambil posisi dan menindih tubuh wanita cantik itu.


“Felix apa yang kau lakukan!” pekik Selena.


Damn! Ini adalah jalan raya. Meskipun kendaraan tidak ramai berlalu lalang di jalanan itu, tapi tetap saja mereka melanggar aturan lalu lintas dengan memarkirkan mobil disembarang tempat.


“Ini hukuman untukmu karena kau terus mengejekku.”


“Siapa yang mengejekmu? Aku hanya berbicara kenyataan.”


“Kau masih mengelak?” Felix membawa dua lengan Selena ke atas kepalanya sehingga wanita cantik itu tidak bisa berkutik.


“Felix hentikan! Atau seseorang akan melihat kita!”


“Ya tentu saja mereka akan melihat kita jika kau berteriak seperti itu. Maka diamlah," kata Felix seraya mencondongkan tubuhnya mendekat pada tubuh Selena.


Selena memejamkan matanya dengan erat saat pria itu menjilat perlahan bagian tengkuk lehernya. Seluruh tubuhnya bergelimang hebat, meremang tidak karuan.


Satu lengan Felix masih mengukung dua lengan Selena di atas kepala wanita cantik itu. Sementara satu lengannya lagi sibuk membuat sentuhan-sentuhan seductive pada tubuh sintal itu.


“Uh Felix ....”


“Ah!”


Nafasnya mulai terengah. Selena membuka kedua matanya yang sayu dan menatap ke arah Felix.


“Lepaskan tanganku, aku tidak akan menolak,” ucapnya dengan nada rendah.


Kemudian, perlahan Felix melepaskan kedua lengan Selena. Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan. Felix mendekatkan bibirnya untuk meraih bibir sintal di hadapannya. Mereka saling bertukar saliva.


Hari sudah mulai gelap dan kini waktu menunjukan pukul tujuh malam. Namun keduanya masih berada di dalam mobil dengan permainan panas mereka. Hasrat yang menggebu membuat mereka tidak bisa menundanya sampai rumah.


“Ugh!” rintih Selena saat pria itu mendorong masuk ke dalam inti tubuhnya. Pinggulnya mulai bermain mengikuti irama permainan.

__ADS_1


Kedua lengannya mencengkram rambut legam pria itu, sesekali mencakar bahu dengan kuku panjang, dan suara ******* serta racauan tidak karuan dari keduanya.


Setengah jam kemudian keduanya mencapai puncak kenikmatan. Tubuh Felix ambruk di atas tubuh Selena.


Aku tidak percaya akan melakukannya di dalam mobil. Pikir Selena.


Pria itu beranjak bangun kemudian melepaskan tautan tubuh mereka. Dia kembali duduk di kursinya. Mengambil beberapa tissue untuk membersihkan diri. Begitupula Selena.


“Kau gila!" kata Selena seraya membersihkan kursi yang tidak sengaja terkena cairan pria itu.


“Itu hukuman untukmu jika kau terus mengatakan hal yang tidak jelas.”


“Cih!” Wanita cantik itu berdecih dengan malas.


Keduanya melanjutkan perjalanan menuju apartemen. Sesampainya di apartement Selena langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selena membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya. Dia mendesah pelan melihat beberapa kissmark pada dadanya. Felix sangat suka melukis sesuatu di sana. Sangat menyebalkan.


Setelah memakai bathrobe dia membasuh wajah dan lehernya. Selena tidak menemukan pasta giginya dan mencoba mengambil yang baru di laci wastafel. Seketika dia teringat sesuatu.


Bahunya menurun seketika. “Obat kontrasepsi.”


Obat kecil berderet itu dia simpan di sana beberapa minggu yang lalu saat mereka baru menempati apartement itu. Itu masih utuh. Dia lupa untuk meminumnya. Dia menelan salivanya susah payah. Tertegun.


Tidak tahu kenapa Selena bisa melupakan hal penting seperti ini. Dia tidak meminum obat, dan pria itu juga tidak pernah memakai alat kontrasepsi.


Seketika pintu kamar mandi terbuka. Felix masuk ke dalam dengan dirinya yang sudah bertelanjang dada. Dia memeluk tubuh Selena dari belakang lalu mengecup leher wanita cantik itu.


“Ada apa? Kenapa kau merenung?” tanya Felix melihat wanitanya dari balik cermin.


Dia melihat sesuatu yang sedang Selena pegang. Felix bisa menebak benda itu. Lalu dia mengecup kembali pipi Selena seraya mengambil obat tersebut dan membuangnya ke dalam tong sampah.


“Kau tidak memerlukan itu.”


“Kita akan menikah, Selena.”


Dia membalikan tubuh Selena ke arahnya. “Kau akan menjadi milikku, kita akan hidup bersama anak-anak kita ke depannya. Aku berjanji akan selalu menjaga dan tidak pernah membuatmu kecewa. I love you, Baby.”


Lalu, Felix memeluk tubuh itu erat, hangat, dan penuh dengan kasih sayang.


...****************...

__ADS_1


Maaaaf telat wkwkkw happy reading yaaaaaaa.


__ADS_2