
Felix menggandeng lengan wanita cantik itu bersamanya. Berjalan masuk pada sebuah butik yang berada di pusat kota.
Sebelum kakinya melangkah untuk masuk, Selena terlebih dahulu melirik pria itu dan menanyakan maksudnya membawa Selena ke sana.
“Kenapa kita pergi ke sini?” tanya Selena bingung.
“Tentu saja untuk memilih gaun untuk pernikahan,” jawab Felix enteng dengan raut wajah yang tenang.
“Menikah? Tapi kita belum membicarakannya.”
“Kita akan menikah besok, dan undangan telah disebar.”
“What the ****!” pekik Selena kencang.
Lengannya merogoh isi tas miliknya. Mengambil benda pipih yang terus bergetar di dalam sana. Beberapa pesan dan panggilan suara masuk dari teman dan juga saudaranya. Mereka menanyakan perihal undangan yang baru saja mereka terima.
Pria itu benar-benar melakukannya.
“Tapi ini tidak adil, kau belum mendiskusikannya denganku,” cecar Selena.
Seketika Felix menarik tengkuk leher Selena dan meraih bibir sintal itu untuk menciumnya. Beberapa detik ciuman itu kembali terlepas.
“Kita akan menikah, terimalah itu,” ucap Pria itu kemudian lanjut menggandeng lengan Selena untuk masuk ke dalam butik.
Keduanya masuk ke dalam butik. Beberapa pelayan di sana sekaligus pemilik butik langsung menyambut kedatangan mereka dengan senang hati. Suasana butik tampak sepi karena Felix sebelumnya telah mereservasi tempat tersebut. Dia ingin Selena mencoba gaun pernikahannya tanpa gangguan sedikitpun.
“Nona, kami sudah menyiapkan beberapa gaun pilihan untuk Anda,” ucap Liona sang pemilik butik tersebut.
Wanita paruh baya namun tetap modis itu mempersilahkan Selena dan Felix duduk di sebuah sofa. Kemudian dia dan beberapa pegawai butik sibuk membawa beberapa gaun pengantin untuk diperlihatkan kepada Selena.
Selena akui jika butik ini memiliki banyak pilihan gaun pengantin yang sangat indah dan cantik. Dia yang tadinya tidak memiliki hasrat untuk memilih mendadak ingin mencobanya.
Setelah beberapa gaun terjejer di hadapannya. Para pegawai itu membawa satu gaun lagi yang dipasangkan pada sebuah manekin. Gaun pengantin berwarna putih dengan renda yang sangat indah dan telaten dibuat oleh tangan itu membuat Selena semakin jatuh cinta ketika melihatnya.
“Kau ingin mencoba yang mana?” tanya Felix, membuat Selena langsung menoleh ke arahnya.
“Tidak. Aku tidak akan mencoba satupun,” ucap Selena pelan.
Felix menunjukan ekspresi datarnya. Wanita ini memang tidak bisa dipaksa. Dia hampir kehabisan akal sehat untuk meladeninya.
__ADS_1
“Kenapa aku harus menikah denganmu sedangkan kau belum pernah melamarku.” Selena berdecih samar, lalu beranjak dari kursinya. “Aku belum menyetujuinya, Felix,” imbuhnya dengan senyum simpul.
Felix mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jas miliknya. Sebuah benta kotak kecil berwarna hitam. Kemudian, dia membuka kotak tersebut. Sebuah cincin bermata berlian duduk dengan rapih di sana.
Dia mengambil cincin tersebut dan menyematkannya pada jari manis Selena. “Aku tidak akan membiarkanmu beralasan lagi,” ucapnya seraya menatap Selena dengan lekat.
Selena tertegun melihat pria di hadapannya. Beberapa pegawai yang ikut menyaksikan hal tersebut juga ikut terdiam.
Felix tersenyum. “Kau menyetujuinya.”
Dia mengalihkan pandangannya pada pegawai toko. “Dia akan mencoba gaun ini.” Tunjuk Felix pada sebuah gaun yang dipasang pada tubuh manekin.
“Pergilah, Selena.”
“Felix, apakah boleh seperti ini? Kau melakukan semuanya dengan kehendakmu sendiri,” kata Selena dengan nada suara rendah seraya beranjak dari kursinya.
Felix tersenyum. “Kau hanya perlu mengikutinya saja, Baby.”
Wanita cantik itu memutar bola matanya malas seraya berbalik dan berjalan menuju ruang ganti. Seperkian detik kemudian raut wajahnya berubah menjadi ramah kembali di hadapan para pegawai yang membantunya mengganti baju.
“Anda memiliki tubuh yang indah Nona, gaun ini terlihat sangat cocok untukmu,” ucap seorang pegawai memuji.
“Selesai, Anda bisa memperlihatkannya pada calon suami Anda.”
Kemudian Selena keluar dari ruang ganti. Dia berjalan perlahan karena waspada menginjak gaun yang menjuntai ke lantai. Sampai langkah kakinya terhenti tepat di hadapan pria yang sedang duduk di sofa itu.
Pemilik butik tersenyum senang melihatnya. Kliennya terlihat sangat cantik.
“Bagaimana? Apa kau menyukainya?” tanya Selena pada Felix.
Felix beranjak dari kursinya lalu berjalan mendekati Selena dengan tatapan kagum. Saat itu pemilik butik serta beberapa pegawai pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kau sangat cantik Selena,” ucap Felix memuji.
“Aku tahu itu,” jawab Selena percaya diri.
Felix meraih telapak tangan Selena lalu menciumnya dengan lembut.
“Kau sangat beruntung mendapatkanku bukan?” tanya Selena dengan senyum simpulnya.
__ADS_1
“Ya, aku sangat beruntung,” jawab Felix menatap lekat wajah cantik wanitanya.
Satu jam berlalu. Felix dan Selena sudah selesai memilih gaun pengantin, dan juga tatanan rambut yang akan digunakan untuk acara sakral besok.
Di sisi lain, Selena tidak pernah menyangka jika pernikahannya akan diadakan secepat ini, dan dengan persiapan yang mendadak.
Mereka berdua sedang berada di dalam mobil. Felix berada di belakang kemudi, dan sedang focus melihat ke jalanan.
“Kenapa kau tidak mendiskusikan semuanya dulu denganku? Kau malah bertindak sesuka hati,” celoteh Selena yang masih sedikit kesal karena Felix mendadak mengadakan acara pernikahan.
“Kau akan menolaknya dengan berbagai alasan,” jawab Felix masih tetap focus pada jalanan.
“Karena kau berkata akan menungguku, maka tunggulah sampai aku benar-benar siap.”
“Dan sekarang, kau sudah siap.”
Selena terdiam dan menghela nafasnya. Dia benar-benar tidak bisa membalas ucapan pria itu lagi. Lagipula Felix sudah menyebarkan undangannya. Acara itu akan tetap berlangsung.
Felix membelokan setir mobilnya dan berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah gedung besar dan tinggi. Kemudian dia meminta Selena untuk turun.
Keduanya berjalan menuju pintu masuk yang telah dibuka lebar. Sesampainya di dalam gedung. Selena bisa melihat jika gedung itu telah dihias dengan begitu indah. Bunga mawar putih menjadi pelengkap keindahan serta kemewahan dekorasi gedung tersebut.
“Mami?”
Selena heran saat melihat Marie ada di sana, duduk bersama Johan dan juga Kenzo. Lantas dia menghampiri kedua orangtuanya tersebut.
“Hai Mami," sapa bocah kecil dengan mulut berlumuran ice cream.
Selena tersenyum mengusak puncuk kepala putranya dengan lembut. Pandangannya kembali pada Marie dan juga Johan.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanya Selena.
“Aku yang mengundang mereka,” timpal Felix yang baru saja mendekat.
“Hello Papi!” seru Kenzo lagi, kini pada Felix.
“Aku juga mengundang mereka,” imbuh Felix seraya menunjuk ke arah satu meja yang mana Jonathan dan juga Jennie berada di sana. Dua sahabatnya itu melambaikan tangan ke arah Selena.
Selena menatap Felix dengan bingung. “Apa ini? Kenapa tiba-tiba kau mengundang mereka semua?”
__ADS_1
“Pesta makan malam sebelum hari pernikahan. Nikmatilah waktumu, Selena,” ucap Felix dengan senyuman.