Passionate Night

Passionate Night
*LUCIANE


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


“Mami, apakah paman Felix memiliki rumah yang lebih besar dari rumah grandpa?”


“Maybe.”


“Lalu, apakah paman Felix bisa menjadi papiku? Apa aku bisa memanggilnya papi?”


“Hm ... Mami akan memikirkannya, Sayang.”


“Apa yang akan Mami pikirkan?”


“Harta kekayaan paman Felix. Jika dia lebih kaya dari grandpa, maka kau bisa memanggilnya papi.”


“Benarkah, Mami?”


“Yes, Honey.”


***********


“HAHAHHAHAA!”


Suara gelak tawa pecah memenuhi seisi ruangan restoran yang lumayan ramai. Semua mata memandang ke arah dua wanita cantik yang sedang duduk di meja di samping ruangan. Mereka menyoroti dua wanita cantik itu karena membuat keributan.


“Damn! Hentikan tawamu.” Selena mengguncang lengan Jennie agar menghentikan tawanya.


“Sorry, tapi ceritamu membuatku merasa geli,” kata Jennie masih dengan tawa yang sama.


Selena mendesah kesal. Dia sudah menebak bagaimana respon sahabatnya itu jika Selena menceritakan bagaimana percakapan antara ibu dan anak yang terjadi kemarin. Akibat percakapan itu, kini Kenzo selalu menanyakan hal yang membuat Selena bingung untuk menjawabnya.


'Mami, apakah Mami sudah menghitungnya?'


Damn! Jika ini terjadi kepada orang lain dan bukan dirinya, maka hal itu memanglah hal yang sangat menggelikan. Bahkan Marie dan Johan bertanya apa yang sedang Selena hitung karena di meja makan pagi tadi Kenzo masih bertanya hal yang sama.


“God! Bocah kecil itu membuatmu kewalahan,” ungkap Jennie sembari mencoba meredakan gelak tawanya.


Selena menyenderkan bahunya pada kursi dengan lemas. Dia sendiri menyesal telah mengatakan itu semua kepada putranya. Siapa sangka jika ingatan bocah kecil itu begitu tajam, dan mempertanyakan hal yang telah Selena ajarkan pada setiap pria yang ditemuinya.


Aku pikir dia akan melupakannya dalam beberapa bulan. Pikir Selena.

__ADS_1


Ini semua terjadi karena Johan yang selalu membawa seorang pria asing ke rumah untuk menjadi teman kencan buta Selena. Sampai wanita itu harus mengajarkan hal yang sedikit menyebalkan itu kepada putranya. Supaya para pria pilihan Johan kabur dan lari terbirit-birit.


Tapi siapa sangka jika saat ini pria yang datang untuk mendekatinya justru malah Felix Alexander. Pria kaya raya dengan kerajaan bisnis yang tidak tertandingi. Tentu saja pertanyaan konyol seperti itu tidak akan bisa menakutinya.


Lord! Kepalaku sakit.


Jennie berdeham samar untuk menetralkan kembali suaranya setelah tergelak dengan kencang. Dia meminum jus tomat pesanannya, lalu melirik ke arah Selena yang terlihat seperti tidak bernyawa.


“Apakah kau sudah menanyakan masalah artikel itu kepada Felix?” tanya Jennie.


Selena segera mengarahkan pandangannya pada wanita cantik itu. “Aku tidak mau menanyakannya, dia akan besar kepala dan mengira aku cemburu.”


Jennie mendesis samar. “Kau harus meminta kepastian kepada pria itu. Jangan sampai dia masih memiliki ikatan dengan masalalunya.”


“Aku tidak peduli,” balas Selena malas.


Jennie memutar bola matanya mendengar tanggapan dari sahabatnya itu. Selena sangat jarang menjalin hubungan, dan ketika wanita itu memiliki kekasih Jennie hanya tidak mau dia semakin terluka dan mengakibatkan ketakutannya akan pernikahan semakin parah. Meskipun Jennie juga tidak memiliki pemikiran bagus mengenai pernikahan, tapi setidaknya dia masih memiliki niat untuk menikah. Mungkin lima dibanding seratus persen keyakinannya untuk menikah.


“Apa kau tahu siapa wanita yang disebut-sebut sebagai mantan kekasihnya?” tanya Jenni lagi, masih seputar hal yang sama dan membuat Selena malas untuk menjawab pertanyaan darinya.


“Tidak.”


“Aku akan mencari tahunya.”


..................


“Wah kau menjadi seorang hacker sekarang?” tanya Selena nyeleneh. Bukannya focus untuk membaca data yang didapatkan oleh Jennie, dia malah mengolok-oloknya.


Jennie memutar bola matanya malas sebagai jawaban. Dia kembali bermain dengan keyboard MacBook miliknya untuk menelusuri lebih dalam tentang siapa Luciane Dawn.


“Aku mendapatkannya!" seru Jennie.


Dua wanita cantik itu lantas langsung melihat data milik Luciane. Identitas lengkap seperti nama, anggota keluarga, tempat tanggal lahir serta riwayat hidupnya, semua tertera di sana.


Selena cukup membacanya satu kali, dan semua telah tersimpan di dalam kepalanya. Dia menarik tubuhnya dari depan layar MacBook untuk sedikit menjauh.


“Tidak ada yang aneh, dia seorang aktris sejak kecil,” ucap Selena.


“Beberapa artikel mengungkapkan jika wanita itu telah menjadi kekasih Felix selama tiga tahun, lalu mereka tiba-tiba putus tanpa alasan yang jelas,” celoteh Jennie.


“Wanita itu menghilang. Alasan itu cukup jelas,” timpal Selena, membuat Jennie langsung menatap ke arahnya.


“Maksudku, kenapa dia tiba-tiba menghilang seperti itu.”


Selena mengangkat kedua bahunya. “Mungkin karena sifat Felix yang seperti psikopat.”

__ADS_1


“Apakah dia seorang psikopat?” tanya Jennie memastikan, dengan raut wajah yang serius.


Selena terkekeh samar melihat keseriusan pada wajah sahabatnya itu. Jennie langsung mendorong bahu Selena menjauh saat melihat tawa Selena.


“Kau mempermainkanku!”


“Kau percaya jika Felix seorang psikopat?"


“Mungkin aku percaya. Jaman sekarang, psikopat bukan selalu yang menyeramkan. Banyak psikopat tampan di luaran sana.”


“Kau terlalu banyak menonton drama,” ejek Selena.


“Drama lebih baik dari film biru, bukan?” ungkap Jennie secara terang-terangan.


“O Lord! Hentikan ocehanmu itu, aku tidak mau mendengarnya lagi.”


“Kau ingin mencari data Felix?” tanya Jennie.


“Tidak, terimakasih,” tolak Selena secara halus.


************


Seorang wanita cantik tengah menekan beberapa jemarinya secara bergantian pada keyboard piano. Bernyanyi sesuai dengan nada dan irama alat musik tersebut. Suaranya terdengar begitu lembut dan indah. Seperti suara yang dijatuhkan dari surga.


Lagu yang dibawakannya adalah lagu sendu disertai lirik yang begitu lirih yang dia ciptakan sendiri meski belum resmi di rilis. Dia menciptakan lagu itu dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Lagu itu menceritakan tentang besarnya pengorbanan seorang wanita tanpa sang pria mengetahuinya. Hingga kesalahpahaman terjadi di antara mereka, dan membuat jarak pada hubungan mereka yang harmonis.


Wanita itu menangis. Meratapi takdirnya yang menyedihkan.


Luciane menghela nafasnya dalam-dalam. Pikirannya kalut memikirkan masalah perasaannya yang masih terpaku pada Felix. Namun kini apa yang harus dia lakukan, sementara pria itu sudah melangkah jauh ke depan.


Dia memandang foto yang dibingkai oleh kayu dengan hiasan bunga dan daun kering yang ditempelkan. Foto itu menunjukan kemesraan satu pasangan. Seorang pria memeluk wanitanya dengan senyuman kecil.


Seandainya kau tahu bahwa aku sangat merindukanmu.


Luciane tidak bisa menahan perasaannya lagi. Dia mengingat saat pertama kali dirinya bertemu dengan Felix di konser pertama yang dia adakan di luar negeri setelah dirinya menghilang. Rasanya, dia sangat ingin memeluk tubuh pria itu namun Luciane takut jika Felix akan menghindar untuk menolaknya.


Felix, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku terus memperjuangkanmu. Dulu kau pernah mengatakan jika kau akan terus menjadi milikku, selamanya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa like dan koment ya. Awas lupaaaaaaaa haha. byebye.


__ADS_2