
Happy Reading ....
.
.
.
Selena menyelesaikan acara mandinya. Di dalam kamar, sudah tersedia pakaian, aksesoris, make up, dan higheels. Semua benda untuk wanita, dan itu baru. Semuanya sesuai dengan ukuran tubuh Selena.
Pria itu membelikannya sesuai model pakaian yang biasa Selena kenakan. Melihat hal itu Selena jadi teringat pakaian pertama yang dulu pernah Felix berikan. CK! Selera pria itu sudah berubah sekarang.
Wanita cantik itu memakai pakaian formalnya. Tetap anggun, dan cantik dipadukan dengan make up tipis, dan beberapa aksesoris.
Mereka check out setelah selesai bersiap, dan Felix memintanya untuk masuk ke dalam mobil sementara pria itu yang menyetir. Selena tidak tahu ke mana pria itu akan membawanya, Felix hanya mengatakan ingin mengajak Selena untuk sarapan pagi.
Dan ternyata ....
Damn! Mansion Alexander.
Wanita cantik itu terpaku di sisi mobil. Tidak pernah menyangka jika dia akan datang kembali ke kediaman itu. Selena tidak berpikir jika Felix akan dengan cepat membawanya ke rumah sementara mereka baru saja memulai hubungan.
Apa sarapan keluarga? Pikir Selena.
Felix berada di depannya, menunggu wanita cantik itu untuk melangkah mendekat. Tapi Selena terus bergeming di tempatnya, dan tidak menghiraukan Felix sama sekali.
Pria tampan itu menghampirinya. “Ada apa? Ayo kita masuk.”
Selena tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang di kediaman itu ketika melihatnya. Bukannya takut, tapi Selena belum siap karena ini adalah pertama kali dia menginjakan kaki di rumah pasangannya. Sebelumnya, Selena tidak memiliki kekasih. Haha.
Tidak masalah jika mereka mempersulitku, aku tidak peduli. Pikir Selena.
Dia melirik Felix sekilat dengan mata kucingnya yang tajam, sebelum akhirnya dia melenggang masuk ke dalam kediaman itu seraya menggandeng Felix di sisinya.
Beberapa pelayan memberikan hormat dengan membungkukan setengah badan, mempersilahkan tuan muda kediaman itu untuk masuk.
Felix menuntun langkah Selena pergi ke ruang makan. Ketika sampai di sana, semua orang telah menunggu, Zayn, Leon, dan Renee. Hanya tiga orang itu yang Selena tahu, selebihnya asing bagi Selena.
Beberapa pelayan di ruang makan menyambut mereka, menarik dua kursi untuk diduduki Selena dan Felix.
__ADS_1
Semua pasang mata tertuju padanya. Tatapan heran dan mengejutkan. Zayn memasang raut wajah konyol dengan menganga seolah sangat terkejut, sementara Renee memutar bola matanya malas ketika melihat Selena masuk ke dalam ruang makan.
“Hai Selena," sapa Zayn dengan senyuman.
Selena membalas senyumannya. “Hai, Zayn.”
John mendengkus, menatap putrinya dengan raut wajah masam. Dia ingin sekali memprotes putrinya karena tidak mengambil tindakan lebih cepat untuk memperdaya Felix. Kini, pria itu sudah memiliki wanita yang bahkan dibawa pulang langsung ke mansion.
..........
“SIAAAAAAAL!”
Renee mengamuk, mengacak-acak seisi kamarnya. Pikirannya terus membayangkan bagaimana suasana di meja makan tadi. Seorang Felix Alexander yang biasanya dingin dan tidak berperasaan, kini malah menunjukan perhatiannya untuk seorang wanita.
Air mata jatuh membasahi pipi Renee. Rasa sedih dan marah bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, pria yang selama ini dia dambakan kini memiliki wanita lain.
“Menghancurkan kamar tidak akan membuatmu mendapatkannya.”
Suara berat itu menghentikan aksi Renee. John masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu rapat-rapat. Dia duduk di atas sofa, meminta Renee untuk mendekat.
“Apa yang harus aku lakukan, Papa? Dia sudah membawa jalaang itu masuk ke dalam mansion!”
Selama ini, Felix hanya focus untuk menjalankan perusahaan keluarga. Dia tidak pernah tertarik kepada wanita ataupun menikah semenjak kejadian kelam yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Pria itu pergi menyendiri, mengasingkan dirinya ke tempat yang jauh.
Setelah kembali ke negara asal beberapa waktu ini, keluarganya berpikir jika pria itu telah baik-baik saja. Namun tidak, Felix masih tetap menjadi Felix yang dingin dan tidak memiliki rasa peduli. Mereka pikir jika pria itu tidak akan memiliki warna di dalam hidupnya lagi.
Keluarga juga ayahnya meminta Felix untuk menikah, dan tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Mereka menyediakan banyak calon istri dari golongan keluarga ternama, namun pria itu terus menolak. Ya, tidak akan ada yang terjadi tanpa kehendaknya.
Pada masa-masa suramnya, saat itu Renee hadir kembali sebagai sosok adik yang baik, dan penurut. Meskipun di masalalu dia telah membuat kesalahan hingga Felix tidak memperdulikannya, namun wanita itu terus meminta maaf kepada Felix dan berjanji akan berubah.
Pada saat permintaan maaf Renee diterima, Felix hanya menganggap wanita itu sebagai adiknya, tidak lebih. Tapi justru Renee sendiri yang memiliki niat lain, dan membuat hubungan mereka kembali merenggang.
Semakin hari, Minggu, bulan, dan tahun, dia semakin mendambakan sosok Felix. Perhatian yang dulu pria itu berikan, kini Renee begitu menginginkannya sampai-sampai dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian dari Felix. Namun pria itu seperti batu, tidak pernah meliriknya sama sekali.
John sedang berpikir bagaimana cara agar perhatian Felix hanya tertuju pada putrinya. Selain putrinya mendapatkan apa yang dia inginkan, John juga akan berkuasa di Mension besar itu, dan juga raja perusahaan milik keluarga Alexander. Semua itu akan terjadi jika Felix bersama putrinya.
“Aku memiliki sebuah cara.”
John menjelaskan ide yang dia miliki kepada putrinya. Renee sedikit tidak menyetujuinya, namun pria paruh baya itu membawa nama Felix dan Leon.
__ADS_1
“Jika kau ingin mendapatkan Felix, dan menjamin masa depan Leon, kau harus mengikuti caraku,” ucapnya.
Renee terdiam untuk berpikir sejenak. “Baiklah.”
..............
Selena duduk di tepian ranjang. Wanita cantik itu sedang berada di dalam kamar dengan nuansa hitam milik pria itu. Dia menelisik setiap sudut kamar besar dan mewah tersebut, aura kegelapan Felix memenuhi ruangan. Dia menggosok kedua tangannya merinding.
Tidak lama kemudian Felix datang setelah dia sibuk menjawab telepon. Dia duduk di samping Selena, dan saat itu juga Selena langsung beranjak berdiri, melangkah menuju sisi kamar.
Felix tersenyum mendapati tingkah wanitanya, lantas dia menyusul Selena yang sedang memperhatikan lemari kaca di mana banyak mainan robot tersusun di sana.
Lord! Ini surga putraku! Pikir Selena seraya menggelengkan kepalanya.
Ayah dan anak itu ternyata memiliki kesukaan yang sama.
Felix menatap Selena yang focus pada beberapa robot mainanya. Dia merangkul pinggul sintal Selena, dan membuat perhatian Selena langsung tertuju padanya.
“Kau mengoleksi semua ini, sejak kapan?”
“Sejak anak-anak, maybe.”
Pria itu memiliki mainan robot versi lengkap. Dari tahun ke tahun setiap pengeluaran brand itu dia memilikinya. Bahkan Kenzo saja tidak memiliki itu semua.
“Kenzo pasti senang ketika melihatnya,” gumam Selena pelan secara tidak sadar.
“Aku akan memberikan semua itu untuknya jika dia menyukainya,” kata Felix enteng.
Selena langsung menatapnya heran. “Apa?”
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupaaaaa like, koment, dan juga tambahkan favorit biar ceritanya gak ilang oke. Byebyeeee guysss di next chapter.
__ADS_1