Passionate Night

Passionate Night
*KISS


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Felix menyeringai melihat wanita cantik yang tidak berdaya di hadapannya. Wanita itu bahkan tidak bisa menggerakan badannya sedikitpun karena Felix menghimpitnya dengan sangat kuat. Tidak ada perlawanan lagi darinya selain tatapan mata kucingnya yang tajam.


Dia mencium aroma tubuh wanita cantik itu, wangi dan segar begitu menggairahkan. Bibirnya yang sintal dan merah seperti buah Cherry, membuat siapapun sangat ingin memakannya hingga habis. Felix tergoda melihat penampilannya.


Felix pikir Selena begitu cantik dan ****, juga merupakan anak orang kaya dan bahkan sekarang dia mewarisi semua itu dan menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan besar keluarga. Tapi Felix masih mempertanyakan kenapa wanita itu malah merusak reputasinya dan lebih memilih memiliki anak tanpa seorang ayah, itu pasti tidak mudah baginya untuk menangani itu semua, terlebih lagi dia adalah mantan seorang model, pasti sangat banyak media yang menyoroti kehidupannya.


Seketika suara beberapa orang wanita terdengar masuk ke dalam toilet. Selena yakin jika itu adalah suara dari beberapa guru, mereka terdengar mengobrol dan sedikit tertawa.


“Apa yang ingin kau lakukan, berteriak?” bisik Felix tepat di samping telinga Selena.


“Ya!” jawab Selena dengan yakin. Felix pasti berpikir jika Selena tidak berani melakukannya karena dia tahu jika Selena tidak ingin terlibat dengan seorang pria yang sudah beristri. Tapi pria itu salah, Selena mampu melakukan apapun yang dia inginkan. Dia sangat nekat.


“TOL- HMMPPHH!”


Ketika dia ingin berteriak, Felix langsung membungkam mulut Selena dengan bibirnya, membuat wanita cantik itu tersentak kaget dan terdiam untuk beberapa saat.


Sementara beberapa guru yang sedang bercermin dan mencuci tangan sempat mendengar teriakan Selena meskipun sekejap. Mereka saling menatap dan mempertanyakan darimana suara itu berasal.


“Apa kau mendengarnya tadi?”


“Ya.”


“Darimana datangnya suara itu?”


Mereka bertanya-tanya dan menelisik sekeliling. Toilet itu kosong, hanya satu pintu yang terkunci. Mereka penasaran dan mencoba mendengarkan suara dari balik pintu tersebut.


“Permisi.” Salah satu dari mereka mengetuk pintu toilet.


Sementara Felix tidak melepaskan kecupan bibirnya pada Selena, dia malah memainkan bibir sintaal wanita itu dengan seductive dan berhati-hati, sebisa mungkin tidak membuat suara sedikitpun.

__ADS_1


Selena hanya diam dan merasakan benda kenyal itu menjelajah bibirnya. Hatinya berdebar dan pikirannya seketika kosong. Dia hanya ingin melakukan sesuai isi hatinya, yaitu membalas ciiuman dari pria itu. Namun Selena masih sadar diri agar tidak dikendalikan oleh hasratnya.


Tidak lama setelah beberapa hisapan Felix melepaskan bibirnya dari bibir Selena. Matanya yang sayu dan wajah memerah sendu. Dari deru nafas pria itu Selena bisa merasakan jika pria itu masih haus akan hasratnya yang belum terlampiaskan. Namun tempat ini sangat tidak mungkin untuk dia melanjutkannya, ditambah beberapa orang kini sedang berada tepat di depan pintu mereka.


Felix mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga Selena kemudian berbisik parau, “Katakan sesuatu agar mereka pergi.”


Selena menelan salivanya, terkesima dengan suara parau **** pria itu. Lantas dia memikirkan alasan untuk membuat para guru itu pergi.


“Nona?” Seorang di luar sana mengetuk pintunya kembali. “Apakah anda baik-baik saja?”


Selena segera menanggapi. “Ya, aku baik-baik saja. Maaf tadi adalah suara ponsel milikku, aku sedang menonton film.”


Film?


Felix terkekeh kecil mendengar alasan Selena, dan Selena siap untuk memprotes dirinya sendiri. Lagipula siapa yang akan menonton film di dalam toilet terutama wanita. Para guru itu akan beranggapan lain.


Damn it!


“Baiklah.”


Kemudian suara beberapa langkah kaki itu terdengar menjauh, dan kini hanya sepi yang ada di antara mereka. Tidak ada suara apapun kecuali suara dari deru nafas keduanya.


Felix melepaskan kungkungannya pada tubuh Selena, dan wanita cantik itu segera mendorongnya untuk menjauh. Dia berbalik dan membuka pintu, dengan cepat keluar dari dalam toilet itu.


“Siialan! Aku tidak akan pernah memaafkannya!”. umpatnya kesal seraya merapihkan baju yang dia pakai.


Felix tersenyum simpul mendengar ocehan wanita itu. Dia sengaja mengikuti langkah Selena, dan berjalan satu langkah di belakangnya. Felix bahkan biasa saja ketika dia keluar dari dalam toilet wanita. Seolah tempat itu adalah miliknya secara pribadi.


Langkah kaki Selena terhenti dan dia membalikan badannya, dia melihat Felix yang berada di belakangnya dengan senyum simpul pada bibirnya. Selena mendesah.


“Kau masih mengikutiku?”


“Ini jalanan umum,” kata Felix enteng tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Selena berdecak. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya pria itu pikirkan sehingga dia tidak segan untuk mengikuti Selena bahkan ketika mereka berada di satu tempat yang sama dengan istri dan anaknya. Pria itu mungkin memiliki sebuah catatan rumah sakit jiwa.


“Kau sudah memiliki istri dan istrimu ada di sini. Jaga jaraklah denganku.” Selena memberinya peringatan, namun hal itu sama sekali tidak membuat Felix merasa takut.

__ADS_1


“Bagaimana jika aku tidak setuju denganmu? Aku ingin mendekatimu lebih dekat, dan dekat lagi.” Felix melangkah maju, dan pada saat yang bersamaan Selena memundurkan langkahnya guna menjauh. Pandangannya melihat ke segala arah, memastikan tidak ada orang yang melihat kebersamaan mereka.


“AAHHH!


Selena tidak memperhatikan kemana kakinya melangkah. Dia tidak menyadari jika satu anak tangga menunggunya di belakang sampai membuatnya hampir tergelincir. Beruntung Felix segera memegang tangannya, membawa tubuh wanita cantik itu ke dalam pelukan.


Dia terkesiap dan tidak sadar kedua lengannya memeluk tubuh Felix agar tidak terjatuh. Felix sengaja mengeratkan pelukannya pada Selena, dan seketika membuat wanita cantik itu tersadar. Selena sedikit mendongakan wajahnya dan menatap wajah Felix.


“Bahkan takdir ingin menyatukan kita.” Felix tersenyum.


“Cih!” Selena mendorong tubuh Felix menjauh. “Kau sangat ingin memiliki skandal denganku?” tanya Selena dengan nada kesal.


“Yes honey.” Felix mendekatinya.


“Baiklah.” Selena mengangguk, kemudian dia menarik lengan Felix dan menjitjitkan sedikit kakinya lalu mencium kerah baju Felix, membuat lipstiknya tercetak jelas di sana dengan bentuk bibirnya yang sexii.


“Istrimu akan menyukainya.”


Kemudian Selena berbalik dan pergi meninggalkan pria itu. Selena berharap setelahnya pria itu tidak akan mendekatinya lagi karena mungkin istrinya akan menyadari bekas lipstik di baju Felix, dan mereka akan bertengkar lalu Felix akan menyerah. Pria itu tidak mungkin tega meninggalkan anak dan istrinya demi wanita yang baru dikenalnya bukan. Selena tidak berpikir jika Felix mampu melakukannya. Mungkin saat ini dia sedang kalang kabut untuk menghapus jejak lipstik itu.


Jika tidak bisa mendorong dia menjauh, maka beri dia pelajaran. Pria gila!


Selena tidak suka dipermainkan, terlebih lagi jika seseorang berpikir sangat mudah untuk mendapatkannya. Meskipun Felix tampan dan kaya raya, tapi Selena sama sekali tidak tertarik untuk menjadi simpanan pria itu. Damn! Jangankan simpanan, menjadi istri sah saja dia menolak.


Dia kembali masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Kenzo yang sedang menggambar, di sisi bocah kecil itu juga ada Leon. Mereka terlihat akrab dan saling berbagi pensil warna.


Renee melihat Selena dengan menelisik, dia menatapnya tidak suka. Selena hanya melihatnya sekilas, tidak peduli dengan apa yang wanita itu sedang pikirkan. Jika dia ingin membuat keributan, maka Selena akan menanggapinya.


Kemudian Felix masuk ke dalam kelas. Selena berpikir jika ini terlalu cepat karena pria itu harus membutuhkan waktu lebih lama untuk menghapus jejak lipstiknya. Selena melihatnya saat dia duduk di samping Renee. Seketika pandangannya membulat saat melihat bekas lipstik masih tergambar jelas pada kerah bajung.


Damn it! Dia tidak menghapusnya.


.


.


.

__ADS_1


***Bersambung ....


Jangan lupa like, koment, dan tambahkan favorit yaaaaa. See you***.


__ADS_2