
Happy Reading ....
.
.
.
Renee mengenggam tangan Luciane dengan erat. Seolah tidak membiarkan wanita itu pergi begitu saja. Bagaimana bisa Luciane dengan tegar hati menerima kenyataan yang pahit akan kekalahannya.
“Luci, kau harus berjuang sekali lagi. Felix milikmu. Jangan menyerah begitu saja.”
Wanita itu meyakinkan Luciane untuk berjuang sekali lagi. Dibalik semua itu, dia memiliki rencana yang hanya menguntungkan bagi dirinya saja. Renee ingin, Felix pergi menjauh dari Selena. Setelah itu, Renee akan merebutnya dari tangan Luciane dengan mudah. Ya, menurutnya merebut sesuatu dari tangan Luciane lebih mudah dibandingkan merebut sesuatu dari Selena.
“Tidak Renee. Felix sudah memutuskan hubungan kami. Aku tidak bisa memperjuangkannya lagi. Aku menyadari jika selama ini aku yang egois, aku mementingkan diriku sendiri,” lirih Luciane menunduk lemah.
“Kau tidak egois Luciane, kau memperjuangkannya. Saat ini Felix hanya sedang dibutakan oleh sesuatu dan tidak menyadari besarnya pengorbananmu. Kau harus memperlihatkan semuanya kepada Felix, dia akan menerimamu kembali.” Renee bersikeras menghasut Luciane.
“Apa maksudmu, Renee?”
“Kau tahu wanita yang saat ini bersama Felix? Selena Geovandra, wanita itu terus menempel padanya. Mungkin Felix tidak enak hati jika meninggalkannya secara tiba-tiba. Dia hanya perlu waktu, kau bisa meyakinkannya.”
“Benarkah?”
“Ya Luci, kau harus mendengarkanku. Bagaimana pun Felix adalah milikmu, kau sudah memperjuangkannya susah payah. Jangan menyerah.”
******
Selena merebahkan dirinya setelah lelah seharian bekerja. Dia memejamkan matanya kurang lebih lima detik sampai sesuatu datang untuk menganggunya.
“Mami!”
Bocah kecil itu mengetuk pintu kamar dengan sangat kencang, memanggil maminya beberapa kali. Selena menghala nafasnya dalam-dalam dan mempersilahkan putranya itu masuk ke dalam kamar.
Kenzo naik ke atas ranjang, lalu memeluk maminya yang tengah berbaring di sana. Dia mencium wajah Selena beberapa kali sampai habis, tidak menyisakan satu inci pun wajah maminya.
Selena terkekeh samar. “Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?” Dia mendorong tubuh Kenzo pelan, membuka matanya dan menatap wajah bulat kecil milik bocah kecil itu.
“Apa yang kau inginkan sekarang? Mainan?” tanya Selena lagi. Sikap bocah kecil itu sangat manis, dan Selema tahu jika dia bersikap demikian maka dia menginginkan sesuatu dari Selena.
Kenzo menggeleng samar. “Mami, apakah mami sudah menghitungnya?” tanya Kenzo polos, menatap Selena dengan mata bulatnya.
__ADS_1
Lord! Selena pikir bocah kecil itu sudah melupakannya. Tapi ternyata dia salah. Kenzo terus menanyakan hal yang sama terus-menerus.
Selena menurunkan tubuh Kenzo, duduk di atas ranjang. Lalu dia beranjak bangun dari posisinya berbaring, duduk tepat di depan bocah kecil itu.
“Mami sudah menghitungnya.”
Pandangan Kenzo berbinar, dia sudah tidak sabar untuk mendengarkan hasil yang dia tunggu selama ini.
“Apakah paman Felix lebih kaya?” tanyanya dengan sangat antusias.
Selena menggeleng pelan, dan seketika membuat wajah cerita Kenzo memudar. “Tidak ada yang lebih kaya dari mami?”
“Mungkin tidak ada untuk saat ini.”
“Baiklah. Aku akan mencarikan paman kaya untuk mami nanti. Mami jangan khawatir.”
Selena terkekeh geli mendengar ocehan bocah kecil itu. Kenzo bahkan mengatakan jika Selena tidak perlu khawatir dan juga akan mencarikan paman yang kaya raya. Selama ini Selena berpikir jika bocah kecil itu selalu bertanya karena dia ingin segera memiliki papi. Tapi ternyata tidak.Bocah kecil itu justru mengkhawatirkan Selena.
“Mami akan menunggumu membawakan paman yang kaya raya, oke?”
“Oke, Mami!”
Bocah kecil itu sudah keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Selena sendiri yang masih berbaring di atas ranjang.
Dia menatap langit-langit kamar, dan tiba-tiba mengingat sesuatu yang dia simpan di dalam laci nakas di samping tempat tidur. Selena beranjak duduk dan mengambil lembaran kertas tersebut.
Itu adalah sebuah dokumen kepemilikan Villa luxury yang Felix berikan kepadanya. Selena sengaja tidak ingin mengembalikan Villa itu karena dia anggap jika villa mewah itu adalah bayaran dari banyaknya waktu yang terbuang ketika berada bersama Felix.
Aku tidak akan rugi terlalu banyak jika seperti ini. Batinnya.
Kemudian, dia menyimpan lembaran berkas itu ke dalam laci semula. Dia beringsut turun dari ranjang, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
......................
Setelah makan malam selesai, Kenzo kembali ke dalam kamarnya. Dia meminta pengasuhnya untuk memberikan dia tab pribadi miliknya. Dia akan mencari paman kaya di internet.
'Paman kaya raya.'
Bocah kecil itu tercengang saat melihat gambar dengan histori yang dia cari hanya menampilkan beberapa pria tua dengan rambut putih. Kenzo tidak menginginkan mereka menjadi papinya meskipun para pria itu adalah seorang milyuner.
“Aku menginginkan papi seperti paman Felix,” gumam Kenzo rendah sembari jemari kecilnya terus bermain di atas layar tab miliknya.
__ADS_1
Seketika pencariannya terhenti saat satu gambar menyita perhatiannya. Gambar seorang pria tampan yang dikenal bocah kecil itu.
“Paman Felix!” serunya. “Aku ingin pergi ke kamar grandma,” ucapnya pada pengasuh.
Pengasuh mengantar Kenzo menuju kamar nenek dan kakeknya. Seperti biasa, bocah kecil itu akan mengetuk pintu secara tidak sabaran sampai pintu itu terbuka lebar untuknya.
“Grandma, aku ingin tidur bersama Grandma!” serunya sembari berlari kecil menuju ranjang di mana sudah ada Johan di sana. Dia naik ke atas ranjang dengan sangat cepat.
Kemudian, Kenzo memperlihatkan layar tab mengenai pencariannya baru saja. Dia memperlihatkan gambar Felix di sana.
“Grandpa, apakah paman Felix kaya?”
Pria paruh baya itu berkerut kening dengan pertanyaan cucu semata wayangnya. Pertanyaan seperti ini pasti diturunkan dari maminya.
“Ya, paman Felix sangat kaya,” kata Marie seraya duduk di sebelah Kenzo.
“Apakah paman Felix lebih kaya dari mami?”
“Hah? Mamimu?” Marie tergelak. “Haha, mamimu tidak kaya, dia tidak memiliki apapun. Tentu saja paman Felix lebih kaya.”
“Benarkah?” Kenzo bingung.
“Apa yang sebenarnya kau katakan?” tanya Johan pada Marie, tapi bukannya menjawab Marie malah meminta Johan untuk mengikutinya saja.
Sebelum ini Marie pernah mendengar Kenzo menanyakan hal yang sama kepada Selena. Dia penasaran meminta pelayan pribadinya untuk mencari tahu. Jadi saat ini, Marie mengetahui alasan bocah kecil itu terus bertanya hal yang sama.
“Tapi Mami mengatakan jika paman Felix tidak kaya.”
“Mhngkin mamimu keliru, kau harus menanyakannya lagi nanti," lugas Marie, kemudian bocah itu mengangguk dengan cepat.
Marie tidak tahu apa yang dibuat putrinya sehingga untuk seorang pria sekelas Felix masih ditolaknya. Sebenarnya apa yang Selena cari selama ini. Jika kedua orangtuanya tidak bisa membantunya untuk menikah, maka biarkan Kenzo menjadi alasan kuatnya.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupa like dan koment yaaa. Byebye.
__ADS_1