Passionate Night

Passionate Night
*JEALOUS


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Felix sedang berada di ruang kerjanya, membaca dan menandatangani beberapa dokument penting yang harus dia selesaikan hari ini juga. Dia begitu focus, dan tidak teralihkan sedikitpun.


Ponselnya di atas meja tiba-tiba berdering, untuk sesaat Felix mengabaikannya, namun ponsel itu tidak berhenti mengeluarkan suara yang sangat menganggu. Kemudian dia mengambil benda pipih itu dan menggeser layar kunci, menekan notifikasi pesan online yang seseorang kirim untuknya.


Felix menerima beberapa foto dan video Selena bersama pria lain, dan itu cukup membuat kepalanya panas seperti terbakar. Dia langsung menghubungi nomor yang baru saja mengirimkan informasi kepadanya.


“Terus awasi dia, dan cari tahu siapa pria yang sedang bersamanya.”


'Baik, Tuan.'


Entah apa yang sedang Selena lakukan bersama pria asing itu, yang jelas Felix tidak bisa menerima saat wanita itu tersenyum dan tertawa bahagia bersama pria lain. Hatinya merasa panas, seolah sedang terbakar oleh api yang menyala dan menggebu-gebu.


Felix memerintah pada bawahannya untuk terus mengikuti Selena. Mengirimkan gambar dan juga video, memberikan semua informasi yang dia dengar, memberitahu kepadanya kemana saja wanita itu pergi. Jika Selena pergi ke tempat-tempat yang tidak diinginkan, maka Felix akan langsung meluncur untuk menemui wanita cantik itu.


Dia begitu cekatan dalam menjaga wanitanya, Felix tidak mau siapapun menyentuh barang berharga miliknya.


...............


Selena sedang memakan diserts favoritnya di dalam sebuah restaurant keluarga bersama Edzar. Seketika ponselnya berdering dan dia mendapatkan notifikasi dari Jenni. Sahabatnya itu memintanya untuk datang ke apartment, memilih beberapa gaun yang akan dia pakai untuk acara reuni nanti.


“Merepotkan,” keluh Selena seraya meletakan ponselnya dengan posisi telungkup.


“Ya Sele?” Seketika Edzar menatapnya dengan bingung.


“Ah~ Tidak, Jenni memintaku datang hanya untuk memilihkan gaun.” Selena tersenyum canggung.


Edzar mengangguk mengerti. “Baiklah.”

__ADS_1


“Kau sudah siap? Kita harus pergi,” kata Selena.


Setelah menyelesaikan acara makan siang, Selena dan Edzar pergi menuju apartemen Jenni. Edzar sengaja mengantar Selena karena wanita cantik itu tidak membawa mobil. Kemudian mereka berpisah di apartement.


Sementara itu Felix sedang berada di dalam ruang rapat, di depannya banyak orang-orang penting yang sedang menjelaskan masalah pekerjaan. Mereka begitu cepat berpendapat, hanya Felix saja yang sejak tadi terdiam dan selalu focus pada layar tab miliknya.


“Bagaimana menurut Anda, Pak?” tanya seseorang setelah beberapa kali, namun Felix tidak kunjung mendengarnya. “Pak?” tanya orang tersebut lagi.


“Ya?” Felix baru mengangkat wajahnya dan dia menyadari kini semua mata sedang tertuju kepadanya. Seseorang memberikan pertanyaan masalah pekerjaan yang sedang dirundingkan, sementara Felix sama sekali tidak focus.


“Kita lanjutkan nanti,” ucap Felix sebelum dirinya beranjak pergi dan keluar dari ruangan, membuat semua orang mendesah kecewa.


Beberapa orang itu mengeluh, dan memprotes. Bigbos mereka yang seenaknya menyudahi rapat begitu saja. Beberapa dari mereka juga bergosip membicarakan Felix di belakang pria itu.


Sementara hal yang membuat Felix tidak focus sejak tadi adalah video yang diberikan oleh orang yang dia pinta untuk mengawasi Selena. Di dalam video tersebut, Selena dan pria asing itu pergi menuju sebuah apartemen dan mereka berhenti di sana.


Kepala dan hati Felix sudah terbakar oleh bara api yang membawa, namun seketika reda saat dia melihat hanya Selena yang turun dari mobil. Sementara pria itu pergi begitu saja. Felix juga meminta informasi mengenai apartment yang akan dituju oleh Selena.


“Kirimkan aku informasinya dengan cepat,‘ pentintah Felix.


'Baik, Pak!'


“Kau bisa masuk sendiri, kenapa kau malah menekan bel dan sangat berisik?” protes Jenni.


Selena menyingkirkan wanita itu dari pintu, dan dia masuk ke dalam apartment. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa menghilangkan lelah.


“Terakhir kali aku membuka pintu apartemenmu aku disuguhkan dengan pemandangan tidak senonoh,” ucapnya. “Damn! Aku masih bisa membayangkan bagaimana pria itu menghamtammu dari belakang.”


“Jadi kau trauma?” tanya Jenni seraya melangkah ke arahnya setelah menutup pintu dengan rapat.


“Menjijikan!”


Selena mengingat malam terakhir saat dia membuka pintu apartement Jenni. Saat itu dia sedang mabuk berat dan tidak mau kembali ke kediamannya. Dia memutuskan untuk menginap di apartmet sahabatnya itu tapi lupa memberikan kabar terlebih dahulu kepada Jenni. Alhasil, dia melihat sahabatnya sedang melakukan penyatuan tubuh dengan seorang pria. Hal itu masih membayangi pikirannya sampai sekarang.


Jenni membawa beberapa gaun yang dia pilih untuk pergi ke pesta reuni nanti, dia meminta Selena untuk memilihkannya satu gaun yang paling cantik di antara lima gaun lainya.

__ADS_1


Selena melihat gaun-gaun itu dan dia langsung memilihkan gaun berwarna hitam. Warna gelap cocok untuk menghadiri acara menyedihkan seperti reuni sekolah itu.


Sebelum Jenni menyetujui pilihan Selena, wanita cantik itu malah bertanya hal aneh-aneh. “Bukankah sudah lama sekali kau tidak berhubungan?”


Dan Selena menatapnya dengan malas. “Berhubungan badan? Aku tidak sembarangan melakukan hal itu dengan pria asing,” sindir Selena pada Jenni, dia tahu perilaku sahabatnya itu. Jenni akan langsung terpikat oleh pria tampan yang dia temui, lalu mengajaknya ke kamar hotel detik itu juga.


“Itu adalah hal yang menyenangkan, aku tidak ingin menahannya.” Jenni membela diri. “Kau tidak pernah bergairah, atau bagaimana kau melampiaskannya?”


“Jangan bertanya hal yang aneh-aneh, gila.” Selena menegak beer dari dalam kaleng yang tersedia di atas meja.


“Kau tidak pernah tergoda pada otot pria?” tanya Jenni lagi seolah tidak ingin berhenti.


Selena meneguk minuman beralkohol itu, dan seketika dia mengingat Felix. Dia mengingat bagaimana kekar otot-otot pria itu, bagaimana menggairahkannya dia ketika berkeringat, dan hasrat Selena yang penuh ketika melihat keseksiannya.


Jenni menyiku lengan Selena yang tiba-tiba terdiam. “Apa yang kau pikirkan?”


“Tidak ada,” balas Selena dengan cepat.


Selena beranjak dari kursinya dan berjalan menuju dapur, membuka lemari es untuk mengambil beberapa kaleng beer. Dia selalu merampok isi kulkas Jenni jika datang ke apartemen sahabatnya itu. Dia kembali menegak beer miliknya.


Persetan dengan Jenni, Selena jadi membayangkan bagaimana pria itu memperlakukannya dengan seductive. Ciiuman mereka berdua yang menggairahkan, pelukan hangat, sentuhan-sentuhan kecil yang membuat semua bulu meremang. Lord! Jangan sampai Selena menginginkan hal itu, terlebih lagi sampai membayangkan dia melakukannya dengan pria itu. Tidak bisa.


Jenni sedang sibuk melihat antara gaun berwarna hitam atau merah, dia bingung gaun yang mana yang akan dia pakai nanti. Lalu tiba-tiba ponsel Selena yang berada di atas meja berdering, dia menoleh ke dapur dan melihat Selena yang sedang sibuk meminum beer di sana.


“Selena, ponselmu berdering,” teriak Jenni, namun sahabatnya itu tidak mendengarnya.


Karena ponselnya terus berdering, Jenni dengan inisiatif melihat siapa yang sedang menelpon itu. Ternyata video call, Jenni pikir itu adalah Kenzo. Dia menekan tombol ponsel tersebut untuk menerima panggilan tanpa melihat nama kontak di sana. Wanita itu sontak terkejut saat seorang pria berwajah suram yang terpampang pada layar ponsel sahabatnya.


“Lord!” pekik Jenni lantang.


.


.


.

__ADS_1


***Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan koment kalian dan like yaaaaaa. Dukung terus authorrr. Bye bye***.


__ADS_2