
Happy Reading ....
.
.
.
“Dia, siapa?”
Suara seorang wanita mengagetkan Zayn. Pria itu berbalik untuk melihat siapa yang berbicara kepadanya. Jennie. Lord! Bukankah beberapa detik yang lalu wanita itu masih bergoyang di depannya. Sejak kapan dia ada di sini.
“Oh hai Felix,” sapa Jennie pada Felix.
“Kau selalu pergi dengan tiba-tiba,” ungkap wanita cantik itu.
Sementara Zayn mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Mencari keberadaan Selena yang entah ada di mana. Wanita cantik itu juga sudah tidak bergoyang di lautan manusia lagi.
“Di mana Selena?” tanya Zayn.
“Toilet,” ucapnya seraya menunjukan satu lorong.
.............
Selena bersimpuh di depan closet untuk memuntahkan semua cairan yang telah masuk ke dalam perutnya. Dia merasa pusing dan mual yang luar biasa. Ini akibat berjoget terlalu lama dalam keadaan mabuk.
God! Apakah aku akan mati. Pikirnya.
Dia mencoba menyetabilkan kembali tubuhnya yang limbung. Berdiri di atas highheels agar tidak goyah ke kanan dan ke kiri. Menyeimbangkan tubuhnya agar tidak tersungkur ke atas lantai.
Beberapa langkahnya penuh dengan perjuangan yang sangat berat. Sampai pada akhirnya Selena sampai di tempat Jennie dan Zayn yang sedang berbincang. Dia langsung duduk di samping Jenni, dan meminta bartender untuk mengambil air mineral.
“Kau baik-baik saja, Selena?” tanya Zayn. Kondisi wanita itu terlihat begitu parah.
“Ya aku baik-baik saja,” jawab Selena kemudian menegak air mineral miliknya.
“Selena, kau harus berbicara dengan Felix,” kata Jennie menyarankan karena sejak tadi sambungan video call pria itu belum terputus. Itu karen Felix ingin melihat Selena terlebih dahulu.
“Felix? Pria itu, aku tidak mau menghubunginya,” kata Selena yang tidak tahu jika Felix sudah terhubung di dalam ponsel Zayn.
__ADS_1
“Aku tidak mau menghubunginya lagi. Pergi dan datang sesuka hati. Pria sialan!” umpat Selena kesal. Efek alkhohol mulai meracuninya, dan saat umpatan itu keluar dari dalam mulutnya, Jennie segera membungkan Selena menggunakan telapak tangan.
“Bitch! Berhentilah berbicara. Pria itu akan mendengarnya,” bisik Jennie pada Selena.
“Pria sialan itu tidak akan mendengarnya.” Selena ikut berbisik.
Zayn menggelengkan kepalanya samar, mengangkat ponselnya untuk melihat raut wajah Felix setelah mendengar umpatan wanita cantiknya itu. Felix hanya terdiam dengan tatapannya yang setajam pisau seolah sedang mengiris-ngiris Zayn.
“Apakah kau ingin mematikan sambungan teleponnya?” tanya Zayn pada Felix. Sebelum pria itu mendengar umpatan lain yang keluar dari bibir manis Selena, lebih baik dia menutup teleponnya.
Kemudian, tanpa mengatakan apapun sambungan video call itu terputus dari pihak Felix. Zayn langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku, dan memusatkan perhatiannya kepada Selena.
“Aku akan membawanya kembali ke resort,” kata Zayn.
“Bawa aku juga. Aku mabuk!” ungkap Jennie seraya menyenderkan tubuhnya pada bahu Zayn.
....................
Felix sedang berada di dalam ruang bacanya bersama dengan seorang wanita cantik yang sedang duduk di sofa di dalam ruangannya.
Sebelumnya Felix tidak percaya jika wanita itu berani untuk datang kembali ke kediamannya setelah beberapa tahun. Bahkan tanpa mengabarinya.
“Siapa yang kau hubungi, Felix?” tanyanya.
“Tapi aku mendengar seorang wanita berbicara denganmu,” katanya lagi dengan nada lirih.
Felix menatapnya dengan dingin. “Ada apa?” tanya Felix mengalihkan perhatian.
Wanita cantik bernama Luciane itu menghela nafasnya panjang. Dia tahu Felix tidak ingin membahas banyak hal dengannya. Mungkin pria itu masih merasa kecewa.
Kemudian, Luci mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya. Satu benda kecil bulat dengan permata di atasnya. Dia menyimpannya di atas meja lalu menggeser itu ke depan Felix.
“Aku hanya ingin mengembalikan ini,” ucapnya.
Felix menatap benda bulat itu, lalu menatap Luci. Cincin itu diberikan ketika mereka masih menjalin hubungan. Keduanya berjanji untuk terus bersama-sama dulu. Namun pada tahun ke lima hubungan mereka, Luci tiba-tiba menghilang tidak ada kabar. Beberapa tahun kemudian dia membuat konser kembali dirinya yang Felix sendiri terkejut saat mengetahui itu.
Wanita itu tidak menjelaskan ke mana dirinya pergi, dan apa alasannya. Dia hanya tiba-tiba datang dan memberikan benda berharga yang dulu Felix berikan kepadanya.
“Aku tahu, aku membuatmu kecewa, Felix. Maafkan aku,” lirihnya. “Kini, aku tidak akan menganggumu lagi.”
__ADS_1
Wanita itu beranjak berdiri, melangkah keluar dari ruang baca Felix. Sementara Felix hanya terdiam, dan membiarkannya pergi begitu saja.
Luciane hadir disaat Felix telah memilih pendamping hidupnya. Wanita itu datang pada waktu yang sangat tidak tepat. Jika saja dia datang beberapa bulan sebelum ini, mungkin Felix akan menahan kepergiannya dan bertanya dengan detail alasan kenapa wanita itu tiba-tiba menghilang.
************
Susah payah Zayn mengiring dua tubuh wanita cantik mabuk itu ke dalam kamar resort mereka. Pertama dia membaringkan tubuh Selena ke atas ranjang, kemudian Jennie.
Saat Zayn ingin membaringkan tubuh Jennie, wanita cantik itu tiba-tiba tidak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Zayn. Dia malah semakin mendekap Zayn ketika dia berusaha menarik tubuhnya menjauh dari Jennie.
“Hai Zayn, kenapa kau sangat tampan dan ototmu juga kekar?” bisik Jennie tepat di depan telinga Zayn.
Zayn berdeham samar lalu menarik tubuhnya sedikit menjauh untuk melihat wajah Jennie yang kini sedang tersenyum padanya. Lalu pandangannya beralih pada Selena yang sudah tertidur lelap tepat di samping mereka.
“Jennie lepaskan aku, Selena akan bangun nanti,” pinta Zayn.
Sebenarnya Zayn juga terpesona dengan wajah cantik dan tubuh indah Jennie. Siapa yang akan menolak pesona wanita sexii itu. Dia akan menerimanya dengan sepenuh hati. Zayn begitu tergoda dengan Jennie. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.
“Dia mabuk, dia tidak akan sadar. Aku begitu mengenalnya,” bisik Jennie lagi. Dia meniup cuping telinga Zayn dan membuat pria itu merinding.
Zayn menatap Jennie dengan intens. Dia sangat ingin memakan habis bibirnya yang sintal dan merah seperti buah ceri. Namun memikirkan kembali Selena yang berada di sampingnya, membuat Zayn berpikir dua kali sebelum melakukannya.
Sementara Jennie terus menggoda Zayn. Dia tahu jika Zayn juga menginginkan dirinya. Jemari lentik Jennie perlahan meraba punggung, dan tengkuk leher pria itu. Bibir Jennie meraih tengkuk leher Zayn dan mengecupnya dengan lembut.
Zayn menelan salivanya. Sementara wanita cantik itu terus saja menggoda dan tidak melihat waktu dan tempat. Zayn juga bukan pria yang bisa bersabar dengan hal seperti itu. Dia sendiri sudah tidak bisa menundanya lagi.
Seketika Zayn menarik lengan Jennie agar terbangun dari posisinya berbaring. ******* habis bibir sintal wanita cantik itu sembari menggiringnya ke dalam kamar mandi.
Sesampainya di dalam kamar mandi, Zayn mengunci pintunya dengan rapat. Mulai membuka seluruh kain yang melekat pada tubuh wanita cantik itu.
Permainan panas mereka dimulai.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Haiii jangan lupa like, koment, dan juga fav yaaaa. Koment kalian selalu author nantikan lho.
.......