Passionate Night

Passionate Night
*TEMPT?


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Renee sedang duduk di kursi sebuah restoran. Dia mereservasi restoran tersebut untuk satu malam penuh. Dekorasi romantis, serta wine kesukaannya sudah tersedia di atas meja. Dia tinggal menunggu seseorang yang ditunggunya untuk datang.


Dia mengeluarkan sebuah pil kecil berwarna putih, pil itu akan larut dan tidak berbau jika dicampurkan ke dalam minuman. Malam ini, dia akan memberikannya kepada seseorang.


“Ketika kakak datang, dia pasti akan bertanya Leon, aku hanya perlu menjawab jika bocah kecil itu mendadak demam.” Renee tersenyum memikirkan kebohongannya.


Dia sudah sangat tidak sabar menunggu kehadiran Felix. Membayangkan jika mereka akan makan malam bersama dengan romantis, lalu menghabiskan malam pertama di atas ranjang.


“Huh ... malam ini aku akan mendapatkannya. Tidak ada satupun orang yang akan mengangguku.”


Renee melihat waktu pada layar ponselnya, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan dia telah menunggu Felix selama empat puluh lima menit. Felix tidak kunjung datang, Renee berpikir bisa jadi pria itu terjebak kemacetan mengingat jika malam ini adalah malam minggu, maka semua orang akan berpergian.


Satu jam berlalu, satu setengah jam berlalu dan Felix tidak kunjung tiba. Dia menghubungi kediaman untuk menanyakan keberadaan pria itu, namun pelayan rumah mengatakan jika Felix sudah pergi dua jam yang lalu.


Perasaan Renee semakin tidak karuan, perasaan gelisah sekaligus kesal bercampur menjadi satu. Di satu sisi dia takut jika Felix mengalami kesulitan, di sisi lain dia berpikir jika Felix pergi ke tempat lain dan tidak datang padanya malam ini.


Bagaimana mungkin dia mengabaikanku dan tidak datang malam ini. Dia tidak mungkin mengabaikan Leon. Damn! Batin Renee.


Setelah itu, seorang pria berpakaian jas rapih datang. Renee pikir itu adalah Felix, namun bukan, melainkan pelayan restoran. Dia memberikan sebuah amplop putih kepada Renee.


“Nona, Tuan Felix memberikan ini untuk anda.”


Renee segera membuka itu dengan perasaan gelisah. Dua tiket taman bermain VVIP yang Felix berikan untuk Renee dan Leon malam ini.


“Tuan Felix mengatakan jika dia tidak bisa hadir karena memiliki urusan penting malam ini.”


Renee semakin merasa kesal, dia melemparkan dua tiket itu ke atas meja dengan kasar. Sementara di depannya sudah ada wine kesukaanya, Renee juga susah payah mencari obat terlarang itu untuk diberikan pada Felix. Kini semuanya sia-sia.


Dia menuangkan winenya ke dalam gelas dengan kesal, lalu menegaknya hingga tandas setelah dia memasukan pil tersebut ke dalam mulutnya. Karena kesal dia meminum pil itu sendiri.


“Seharusnya kau datang! Kenapa kau selalu mengabaikanku?” teriaknya dengan frustasi.


Renee merasakan tubuhnya yang semakin memanas karena efek obat yang tadi dia minum. Dia mulai membuka highheels dan semua perhiasannya.

__ADS_1


“Sangat panas," keluhnya. Matanya mulai sayu.


Pelayan restoran yang sejak tadi berada di samping Renee melihat hal yang tidak beres terjadi pada wanita itu. Lantas dia langsung bertanya, “Nona, apakah kau membutuhkan sesuatu?”


Renee merasa kehausan, tubuhnya meremang hebat. Dia mendengar suara pelayan itu dan langsung menoleh ke arahnya.


“Nona, apa kau baik-baik saja?”


Nafasnya semakin menderu, dia mencob menatih dirinya untuk bangkit, lengannya mencoba meraih tubuh pria di hadapannya.


“Aku baik-baik saja, aku membutuhkanmu. Aku akan membayar lebih,” ucapnya sebelum dia menciium habis bibir pelayan pria tersebut.


********


Felix sedang berada di sisi ruangan, mengobrol dengan beberapa pria dan juga Hardy seraya meminum alkhohol yang sudah tersedia di dalam gelas. Sampai seketika seorang wanita mendatanginya dengan tersenyum.


“Felix Alexander?” sapa wanita itu seraya mengulurkan lengannya ke arah Felix. “Perkenalkan, aku Alice Lym.”


Felix menatapnya, dia tahu jika wanita ini adalah rival Selena. Setelah melihatnya datang dan bersikap seperti itu, Felix langsung mengetahui niat wanita itu sebenarnya.


Dia menerima uluran tangan Alice, menjabatnya. “Hai Alice.”


“Senang bertemu denganmu di sini, aku sering mendengar namamu,” ungkap Alice.


“Jenni, aku mencarimu kemana-mana,” katanya sedikit disertai nada memprotes.


“Sorry, aku pergi ke toilet.”


“Hardy menghela, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Selena. “Selena, temanmu sedang berbincang bersama Felix di sana,” tunjuk Hardy ke arah Felix dan Alice berada.


“Ah~ Kau lihat, sekarang dia sedang menggoda priamu. CK!” kata Jenni, menunjukan tatapan jijik pada Alice yang sedang berbincang dengan Felix.


Selena menatap kedua orangitu dengan intens. Meskipun Felix bukan benar-benar miliknya, tapi Alice tidak bisa selalu memiliki niat merebut apapun yang dia miliki. Wanita ini harus diberi pelajaran.


“Aku akan melihatnya, sampai mana dia akan bermain-main denganku.”


Alice menatap Felix dengan tatapan menggoda, dia melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pria itu terlihat sangat sempurna baik fisik maupun finansial, jika saja Alice mampu mendapatkannya, mungkin hidupnya tidak akan menderita seperti bersama Duke.


“Bisakah aku mengajakmu minum nanti?” Dia menyodorkan sebuah kertas kecil pada Felix. “Inu kartu namaku. Hubungi aku.”


Felix belum sempat menerima kartu nama itu, tapi seketika Selena datang dan merebutnya. Alice langsung menatapnya tajam dan kesal, kenapa Selena datang dengan tiba-tiba.

__ADS_1


“Ah~ Alice Lym, desainer. Aku tidak tahu jika kau pandai menggambar, Alice.”


Alice berdecih samar. “Aku seorang desainer terkenal, Selena, tentu saja aku mahir menggambar.”


“Hmm? Di perusahaan mana kau bekerja?”


“Wolf Jhon, perusahaan besar dan terkenal.”


Selena mengangkat kedua halisnya dengan terkejut. Tidak menyangka jika rivalnya itu adalah pekerja di perusahaan Wolf Jhon.


Dia mengangguk mengerti. “Kau sangat sukses sekarang.”


“Tentu saja. ” Alice menyombongkan dirinya.


“Aku akan menyimpannya, siapa tahu aku akan membutuhkan jasamu di kemudian hari,” kata Selena kemudian menyimpan kartu nama milik Alice ke dalam tasnya.


Alice tidak menyukai tindakan Selena itu. Dia sengaja memberikan kartu nama tersebut kepada Felix, bukan padanya. Dia benar-benar mengacaukan semuanya.


“Baby, aku ingin memperkenalkan mu kepada seseorang.” Selena memiringkan wajahnya dan menatap Felix dengan senyuman sangat manis.


Felix tersenyum simpul melihatnya. Seandainya setiap hari Selena bersikap manis seperti sekarang ini, mungkin akan lebih bagus lagi. Sayangnya, dia memiliki gen macan betina yang membuatnya tidak bisa jinak.


“Baiklah, senang bertemu denganmu, Alice.”


Selena menatap Alice dengan senyuman mengejek, sebelum akhirnya dia menarik lengan Felix dan membawanya pergi dari sana. Setelah cukup jauh dan tidak terlihat oleh Alice, dengan segera Selena melepaskan pegangan tangannya pada tangan Felix.


“Ck, merepotkan,” decaknya samar.


“Jadi siapa yang akan kau perkenalkan padaku, Baby?” tanya Felix memegang lengan Selena, dan wanita itu refleks menoleh padanya.


“Ah~ Dia belum sampai,” dalihnya, sebenarnya itu adalah alasan membawa Felix pergi dari sana.


Felix mengulurkan tangannya, dan melingkar pada pinggul sintal Selena, lalu dia berbisik. “Apakah itu hanya alasanmu untuk membawaku pergi dari sana? Apakah kau cemburu, Nona Selena Geovandra?”


.


.


.


Bersambung ......

__ADS_1


Jangan lupa untuk terus menyemangati Author yaaa. see you.


__ADS_2