
Happy Reading ....
.
.
.
“Felix Alexander?”
Semua orang terkesiap melihat kehadiran pria itu di dalam pesta, apalagi pria itu datang bersama Selena, memanggilnya dengan sebutan sayang disertai rangkulan yang hangat. Mereka yang melihatnya hampir mati karena terkejut.
Tidak hanya mereka yang merasa terkejut dengan situasi saat ini, melainkan Selena juga tidak kalah terkejutnya. Terlebih lagi saat dia mendengar pria itu memanggilnya, kemudian tidak lama seseorang menyebutkan nama Felix. Bagaimana bisa mereka mengenal Felix? Matilah Selena!
Saat ini yang ingin Selena lakukan adalah lari dari sana dan pergi untuk bersembunyi. Dia tidak ingin dicap sebagai wanita perusak rumah tangga orang. Namanya akan hancur.
“Tuan Felix, sudah lama kita tidak bertemu, senang melihatmu di sini.” Brave membuka percakapan, mengulurkan lengannya ke arah Felix.
Felix menanggapinya dengan ramah, menjabat uluran tangan itu. Dia ingat jika pria di hadapannya adalah rival bisnisnya yang gagal memenangkan tender karena perusahaan Felix lebih terpilih untuk menjalankan bisnis itu.
“Kau juga berada di sini, Tuan Brave?”
“Ya, ini adalah acara reuni teman-teman sekolahku.”
“Ah, ternyata dulu kau dan kekasihku satu sekolah, benar-benar takdir yang mengejutkan,” ungkap Felix.
Selena menggigit bibir bagian bawahnya saat semua sorot mata tertuju padanya dengan penasaran. Beberapa dari mereka terlihat tidak yakin saat mendengar fakta jika Selena adalah kekasih dari raja bisnis terkenal.
“Jadi kekasihmu adalah Felix Alexander?” Alice bertanya dengan tatapan bingung sekaligus kesal.
Alice berpikir jika Selena tidak mungkin mengalahkannya dalam masalah percintaan, apalagi mendapatkan pria seperti Felix Alexander. Itu semua pasti bohong.
Melihat Alice dan tingkah sombongnya, Felix mengerti sesuatu. Bisa jadi jika wanita itu adalah rival Selena semasa sekolah. Jika benar, Selena harus memberikan penghargaan untuknya.
Felix menarik tubuh Selena untuk semakin mendekat dan menempel pada tubuhnya. Selena menelan salivanya susah payah dan hanya terpaku pada posisinya. Semua orang melihat kedekatan mereka dan menatap iri, beberapa orang berbisik patah hati.
Kedekatan Felix dan Selena membungkam semua mulut, bahkan Alice tidak mampu bertanya lagi. Seperti yang dilihat, jika mereka benar-benar berpacaran.
Alice menggerutu dalam hati, merasa dengki dan iri hati karena Selena telah mendapatkan pria yang lebih baik dari Duke. Damn it! Dia telah dikalahkan.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka jika kau bisa mendapatkan pria seperti Felix Alexander,” puji si penjilat yang beberapa menit lalu masih mengolok-olok Selena.
“Kalian terlihat sangat serasi.”
“Undang kami ketika kalian menikah, oke?”
Lihatlah betapa mereka mengagumi pria bernama Felix Alexander itu. Sebenarnya apa yang bisa membuat pria itu dikenal oleh banyak orang di berbagai kalangan. Apakah hanya Selena yang ketinggalan informasi.
Selena sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi. Hampir semua orang mengenali Felix, namun tidak ada satupun yang mengungkit jika pria itu telah memiliki keluarga. Mereka malah menantikan pernikahan Selena bersama Felix.
Jenni maju beberapa langkah, menghadapi Alice dengan tatapan intensnya. Dia berlagak di hadapan wanita angkuh itu. “Undang kami ketika kalian menikah, jangan lupa itu," kata Jenni dengan senyuman mengejek Alice.
Alice tidak terima jika Selena mampu mengalahkannya dalam segi keberuntungan. Dulu, Selena adalah wanita populer di sekolah, dia juga mendapatkan Duke sebagai ketua tim basket. Namun saat itu dengan mudah Alice mengambil alih Duke dari tangan Selena, bagaimana mungkin sekarang dia tidak bisa?
Tidak mau terlihat kalah di hadapan semua orang, Alice mengesampingkan kekhawatirannya. “Tentu saja, aku akan mengundang kalian semua.”
“Nikmati pesta kalian!”
Semua orang yang tadi berkumpul sekarang sudah berpencar, mencari kesenangan mereka masing-masing. Beberapa orang berbincang, menari, dan menikmati makanan.
Alice dan Duke duduk di sudut ruangan, raut wajah kesal Alice tidak bisa disembunyikan, dia masih tidak menerima kekalahannya. Sementara Duke, rasa menyesal masih menyelimutinya saat dia harus tergoda pada Alice dan meninggalkan Selena. Seharusnya yang berada di sisi Selena saat ini adalah dirinya.
“Tidak.” Alice menghela nafasnya.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Ingin merebut kekasih Selena?”
“Kenapa kau berkata seperti itu?” protes Alice, menajamkan tatapannya pada Duke, tidak terima dengan apa yang pria itu katakan.
“Kau tidak berubah.”
“Apa maksudmu?”
“Wanita ular!”
Setelah mengatakan kalimatnya, Duke pergi meninggalkan Alice yang semakin terlihat kesal akibat perkataan Duke padanya.
Semua itu Duke ungkapkan karena selama ini dia selalu memendamnya, dia membenci Alice saat wanita itu selalu mengancamnya. Duke menyesal terlibat dengan wanita gila itu, dan amarahnya hari ini memuncak.
Alice adalah wanita gila pernah yang Duke kenal. Wanita itu begitu terobsesi dengan kemenangan, dia akan melakukan segala cara untuk mencapai kesenangannya. Seperti halnya bersama Duke, dia mencoba menggoda, mendapatkan, lalu mengancam agar tidak dilepaskan. Duke benar-benar sudah muak dengan semuanya.
__ADS_1
Selena sedang berbincang dengan beberapa teman lama sebelum akhirnya Jenni mendekatinya dengan tergesa-gesa, lalu menarik Selena sedikit menjauh dari sana.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Selena pada sahabatnya, berkerut kening menatap Jenni yang tiba-tiba menariknya pergi begitu saja.
“Kau harus mendengar ini, kau pasti tidak akan percaya.”
“Apa?” Kerutan halus pada dahi Selena perlahan memudar.
“Tadi pada saat aku pergi ke toilet, aku mendengar sesuatu.”
“Apa yang kau dengar?”
Jenni tidak bisa menahan hasrat panggilan alamnya, dia meninggalkan ruang pesta dan pergi ke toilet. Saat setelah selesai, dia melewati ujung lorong di mana Alice dan Duke sedang duduk di sana. Dia tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka, dan semua dia ceritakan kepada Selena.
“Kau yakin dia mengatakannya?”
Jenni mengangguk dengan yakin. “Ya, benar-benar yakin.” Dia menggeleng pelan. “Ternyata selama ini Duke adalah pria yang malang, bertahun-tahun tinggal bersama seorang wanita gila.”
Sebenarnya Selena tidak ingin memperdulikan itu semua. Karena semua itu sudah berlalu untuknya. Meskipun Duke adalah cinta dan kekasih pertamanya, tapi pada masa sekarang dia tidak memiliki perasaan lagi untuk pria itu. Mengenai perilaku Alice, Selena akui jika wanita itu ternyata memang gila.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Hardy yang baru saja tiba.
“Tidak ada,” balas Jenni cepat.
“Oh Selena, temanmu sedang berbincang dengan Felix di sana.” Hardy menunjuk ke tempat di mana Felix sedang berdiri di samping seorang wanita.
Jenni berdecih samar, tatapannya menunjukan kejijian pada hal yang sedang dia lihat. “Dia sedang mendekati priamu.”
Selena menatap kedua orang itu dengan wajah tanpa ekspresi, meskipun rasa kesal sedikit menyertainya.
“Aku akan melihatnya, sampai mana dia akan bermain denganku,” kata Selena, menyesap whisky di dalam gelasnya.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan juga fav yaaaa. See you.