
Happy Reading ....
.
.
.
Suasana hiruk pikuk club malam seolah tidak terdengar saat itu. Selena memandang pria tampan di hadapannya yang juga sedang menatap ke arahnya dengan bibir yang sedikit melengkung, tidak lama kemudian pria itu mendekat kemudian berbisik;
“Apa kau masih mengingatku?”
Selena langsung dikejutkan dengan perkataan pria itu kepadanya. Dia mengedipkan mata dan menarik sedikit tubuhnya ke belakang dan menatap wajah tampan yang sudah tersenyum di hadapannya.
Tiba-tiba saja Felix bertanya seperti itu yang mendadak membuat perasaan Selena tidak enak seolah-olah pertanyaan itu adalah sebuah sengatan listrik. Apa maksud dari pertanyaannya. Seketika pikiran Selena berhenti berjalan.
Felix terkekeh samar melihat ekspresi Selena yang seperti melihat hantu. Dia kembali duduk di kursinya dengan tegak. Sementara Selena masih bergeming, dia juga terus memandangi wajah Felix dengan bingung ditambah senyuman Felix yang baru pertama kali dia lihat. Di sisi lain, pria itu begitu manis.
“Apa maksudmu?” tanya Selena. “Mengingatmu?”
Felix tidak menghiraukannya, dia bahkan tidak menolehkan wajahnya pada Selena sedetikpun. Pria itu sibuk dengan minuman alkhohol yang baru saja siap di atas meja. Dia mulai menyesapnya.
Dua matanya refleks terpejam merasakan getir yang dihasilkan oleh minuman itu, namun dia berusaha menahannya, lalu matanya melirik minuman Selena yang masih utuh dan mungkin hanya berkurang satu inci saja.
“Kau tidak menghabiskan minumanmu?” tanya Felix.
Selena mengalihkan pandangannya. Felix tidak menjawab pertanyaannya dan malah balik bertanya. Selain ambigu pria itu sangat menyebalkan.
“Tidak.” Selena menjawabnya singkat dengan nada malas.
Felix tersenyum tipis melihat sikapnya yang kembali angkuh. Entah kenapa semakin lama dia mengenal Selena dia semakin tertarik padanya. Seolah Selena memiliki magnet yang kuat untuk menarik para lelaki mendekat.
Suasana hati Selena sudah tidak karuan. Berada di dekat pria itu membuatnya sesak dan membuatnya terus mengingat dosanya di masalalu. Sialnya, Selena seolah merasa bersalah kepada pria itu. Lucu sekali, seharusnya pria itu sudah banyak meniduri wanita, dan Selena bukan satu-satunya wanita yang tidur dengannya, bukan?
“Kenapa kau berada di sini? Apa kau mengikutiku juga kali ini?” tanya Selena ketus.
Sembari mengaduk minumannya Felix menjawab, “Ya, aku mengkhawatirkanmu mabuk.”
Selena terkekeh dan mencemooh Felix. “Haha tidak perlu mengkhawatirkanku, khawatirkan saja dirimu sendiri.”
“Aku sudah cukup mengkhawatirkan diriku sendiri di masalalu, sekarang aku tidak memerlukannya lagi.”
“Ternyata kau seorang pria yang malang di masalalu.” Selena menyesap minumannya.
__ADS_1
“Ya, seorang wanita mabuk tiba-tiba naik ke atas ranjang ku,” lugas Felix dan seketika membuat Selena tersedak oleh cocktail miliknya.
O ****!
“Kau tersedak.” Felix mengambilkan beberapa tissue lalu memberikannya kepada Selena.
Selena berusaha dengan kuat untuk mengontrol dirinya, dia mencoba agar tidak tersinggung dengan perkataan Felix. Pria itu seorang CEO dan sangat tampan, ribuan wanita mungkin saja ingin naik ke atas ranjangnya. Ya, itu mungkin terjadi. Selena mencoba menstabilkan pikirannya.
“Dia benar-benar berani.”
“Dia sangat berani, dan mungkin dia melahirkan anakku juga.”
Kekehan kecil Selena memudar saat mendengar ucapan Felix yang seperti Sambaran petir baginya. Pria itu seolah-olah sedang menyindirnya, dan sepertinya dia mengetahui sesuatu. Selena menjadi risau.
Selena menyibukkan diri dengan layar ponselnya, dia melihat jam dan waktu sudah menunjukan pukul dua belas setengah malam. Mungkin malam ini dia akan kembali lebih cepat dari biasanya.
“Akun pulang, nikmati minumanmu.”
Selena turun dari kursinya, dan mendadak kepalanya terasa sangat pening dan matanya berkunang-kunang. Rasanya seperti dia telah meminum beberapa gelas whisky. Dia memegang ujung kursi dengan kuat.
Seketika Felix juga turun dari kursinya kemudian merangkul bahu Selena. “Kau mabuk dan tidak bisa menyetir, aku akan mengantarmu pulang.”
“Tidak perlu.” Selena menepis lengan Felix namun pria itu tidak mau kalah dan kembali merangkul bahu Selena. Dia menuntun paksa wanita cantik itu keluar dari club malam.
Mobil mewah langsung terparkir di depan mereka, dan Felix langsung memasukan Selena ke dalam mobil meskipun wanita itu terus menolaknya.
“Sial!” umpat Selena kesal.
Tidak lama Felix menyusul masuk ke dalam mobil, dan dia duduk di kursi kemudi. Felix langsung mengendarai mobilnya yang berjalan keluar dari area club malam.
“Bukankah kau juga meminum alkhohil tadi, bahkan menambahkan beberapa gelas whisky, kau lebih mabuk dariku,” celoteh Selena seraya membuang pandangannya ke arah jendela.
“Aku tidak mabuk,” jawab Felix. “Katakan, kemana arah rumahmu.”
Selena menunjuk jalannya dengan malas, dan Felix langsung membelokan stir sesuai dengan petunjuk Selena. Tapi Felix berpikir jika dia mengantar wanita itu untuk pulang, maka tidak ada kesempatan lain lagi untuk bersamanya, pertemuan mereka akan menjadi singkat dan tidak menyenangkan. Ide gila terbesit di dalam pikirannya.
Waktu sudah menunjukan tengah malam, dan jalanan sudah hampir sepi, hanya beberapa mobil saja yang lewat. Felix menepikan mobilnya di sisi jalan tiba-tiba.
Selena langsung menolehkan wajahnya dan menatap pria yang duduk di sampingnya. “Ada apa?”
“Kepalaku pusing, sepertinya aku mabuk.”
Selena langsung mengerutkan halisnya, dia merasa jika tadi Felix tidak apa-apa, tapi kenapa kini pria itu malah mendadak mengatakan jika dia mabuk.
__ADS_1
“Tadi dengan jelas kau mengatakan kau tidak mabuk.”
“Ya, tapi sekarang aku mabuk.”
Felix mengambil ponselnya dan memesan taxi, dia turun dari mobil dan meminta Selena untuk turun juga. Mau tidak mau wanita cantik itu mengikutinya.
“Kita akan pergi naik taxi.”
Selena mendengus kesal. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik dia membawa mobilnya sendiri untuk kembali ke rumah. Setidaknya dia tidak akan berdiri di sisi jalan di tengah malam yang gelap gulita dan sepi itu bersapa seorang pria tidak jelas.
Tidak lama kemudian taxi yang Felix pesan sampai, keduanya masuk ke dalam taxi.
“Aku bisa pulang sendiri, kau tidak perlu mengantarku lagi,” kata Selena. “Keluarlah dan pesan taxi lagi.”
Felix meminta supir itu untuk segera jalan, dan sang supir langsung mengiyakan.
“Aku akan mengantarmu.”
Selena berdecih malas. Dia melihat arah jalan dan menyadari ternyata taxi tersebut bukan melaju ke arah kediamannya, melainkan ke arah lain.
“Kau salah jalan, ini bukan arah menuju rumahku,” cecar Selena.
“Siapa yang akan pergi ke rumahmu?” ucap Felix dengan nada santai.
“Huh?”
Tidak lama kemudian taxi itu berhenti di depan sebuah lobi hotel berbintang lima. Selena menggigit bibirnya dengan kesal, lalu dia segera turun dari taxi itu. Felix menyusulnya.
“Kau mabuk, tidak baik bagi wanita mabuk untuk berkeliaran.”
“Cih, aku akan memesan taxi.”
Tiba-tiba Selena menyadari jika dia tidak membawa tasnya. Dia ingat jika tasnya masih tersimpan di dalam mobil Felix.
DAAAAMNNN!
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1