Passionate Night

Passionate Night
*FREE


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Waktu sudah menunjukan pukul tengah malam, dan semua orang yang berada di dalam pesta sudah terlalu banyak minum. Mereka semua meliukan tubuhnya di bawah musik EDM yang dimainkan oleh DJ termasuk Selena. Wanita cantik itu bahkan dengan bebas meliukan tubuhnya di antara beberapa pria.


“Damn!” umpat Duke ketika melihatnya. “Dia sangat **** bukan?” tanyanya pada Edzar yang berdiri tepat di sampingnya.


Edzar menegak whisky di dalam gelasnya hingga tandas. Ya sangat ****. Selena bahkan sangat ****. Siapapun pria yang melihatnya pasti sangat ingin membawa lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Tingkah Selena membuat Edzar bertanya-tanya apa yang telah membuatnya seperti itu. Sebelumnya, Selena selalu menjaga dirinya agar tidak lost control. Tapi malam ini entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita cantik itu.


Wanita cantik itu sangat bebas mabuk, berjoget, dan berteriak. Dia ingin merasakan kebebasannya ketika muda dulu, tidak ada yang melarang, ataupun harus menjaga image. Beruntung di dalam pesta Jenni semua tamu yang diundang hampir pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dan lagi, di dalam pesta sahabatnya itu tidak ada reporter yang akan memotretnya.


Sementara itu, Selena tidak tahu jika ponselnya di atas meja di dalam villa terus saja berdering. Siapa yang akan memerdulikanya, semua orang berada di luar untuk bersenang-senang.


Duke mengeluarkan ponselnya, lalu merekam aksi wanita cantik itu. Dia terkekeh samar membayangkan ketika Selena melihat videonya ketika dia terbangun nanti.


...................


Langkah Selena goyah, kedua kakinya tidak bisa menopang tubuhnya dengan benar. Tubuhnya tidak bisa berdiri tegak, dan limbung ke kanan dan ke kiri.


Jika Duke dan Edzar tidak menopang tubuh wanita cantik itu, mungkin dia sudah tersungkur ke atas lantai.


Dua pria itu membawanya masuk ke dalam kamar, yang mana sudah ada Jenni yang tidak sadarkan diri di sana. Wanita itu juga mabuk, tidak lebih parah dari Selena. Dua wanita gila yang suka merepotkan.


Duke berpikir jika dirinya datang untuk menghadiri pesta dan bersenang-senang. Bukan malah menjadi pengawal untuk kedua wanita itu. Cih, jika tahu akan seperti ini, Duke lebih memilih tinggal bersama wanita cantiknya yang dia tinggalkan beberapa jam ini.


“Merepotkan! Aku akan pergi,” kata Duke seraya berbalik dan keluar dari kamar.


Edzar membiarkan saudaranya itu untuk pergi. Sementara dia masih tinggal di dalam kamar. Kemudian, dengan telaten Edzar menaikan kaki Selena ke atas ranjang, membuka highheels wanita cantik itu agar membuatnya tidur dengan nyaman.


“Sialan!” gumam Selena rendah seraya menendang kakinya ke arah Edzar. Beruntung pria itu segera menghindar, jika tidak maka dia akan terkena tendangan maut dari Selena.

__ADS_1


Edzar mendengar bunyi dering ponsel dari dalam tas milik Selena tak kunjung usai. Telepon itu berdering sejak pertama dia mengambilnya dari atas meja. Sampai saat ini ponsel itu terus berbunyi.


Dia mengambil tas Selena dari atas meja, melihat siapa yang sedang menghubungi wanita cantik itu. 'Felix' Nama pria itu terpampang di sana, dan sudah melakukan panggilan sebanyak tiga belas kali. Dia tidak pantang menyerah.


Seketika dering telepon itu senyap, Felix tidak lagi menghubungi Selena. Sebelum menyimpan ponsel itu kembali ke tempatnya, dia melihat sebuah artikel yang sebelumnya sedang Selena baca dan wanita itu tidak sempat menutupnya. Artikel mengenai Felix dan pesta mantan kekasihnya.


Pandangan Edzar langsung tertuju kepada Selena. Jadi, itulah sebabnya dia mabuk dan tidak terkendali seperti sekarang ini.


*******


Sementara itu, Felix berada di kamar hotelnya. Berdiri di depan cermin besar yang menghadap langsung pemandangan kota yang indah.


Dia memegang ponselnya di depan telinga, mendengar beberapa dering telepon yang tidak kunjung terjawab. Ke mana wanita itu? Dia tidak bisa dihubungi, dan tidak menghubungi sama sekali. Apakah karena perbedaan waktu mereka yang terpaut cukup jauh?


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Felix segera menekan tombol merah pada ponselnya untuk memutus sambungan telepon. Dia berbalik dan melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


Seorang pelayan mengantarkan sebuah note kepada Felix. Note yang membuat kening pria itu berkerut setelah membacanya.


********


Selena membuka matanya dengan terkejut saat lengan Jenni mendarat tepat di pipinya. Dia menoleh ke arah sahabatnya yang masih tertidur pulas di atas ranjang.


Dia langsung menyingkirkan lengan Jenni pada pipinya dengan kasar, juga menggeser tubuh Jenni menjauh bahkan sampai sahabatnya itu terguling jatuh ke atas lantai.


“Aw!” seru Jenni saat tubuhnya mendarat dengan keras ke lantai. Dia yang sedang tertidur pulas itu langsung tersadar.


“Rasakan itu! Ini balasan karena sudah menamparku pagi-pagi buta.” gumam Selena lalu menenggelamkan dirinya kembali ke bawah selimut tebal.


Jenni kembali naik ke atas ranjang, ikut menenggelamkan dirinya di bawah selimut tebal. Dia sengaja menggeser tubuhnya menempel pada tubuh Selena, membuat Selena ikut tergeser dan hampir jatuh dari ranjang.


Tidak mau kalah, Selena kembali menggeser posisi Jenni dengan cepat, dan membuat Jennie hampir jatuh untuk yang kedua kalinya.


“Damn Jenni!”


“Kau membuatku terjatuh tadi Selena.”


“Kau jatuh sendiri.”

__ADS_1


“Kau mendorongku.”


“Tidak!”


Mereka terus melakukan aksi mereka berulang kali. Keduanya saling mendorong dan hampir jatuh. Kekonyolan terjadi ketika kedua wanita itu di satukan dalam satu tempat, dan dalam kondisi yang mabuk.


......................


Waktu telah menunjukan pukul dua belas siang hari. Selena mengusakan wajahnya pada bantal empuk itu sementara pikirannya mulai tersadar. Indera penciumannya seketika mencium aroma wangi yang sangat enak.


Dia membuka matanya dan melihat sisi ranjang yang kosong. Selena berpikir jika Jennie sudah bangun dan aroma yang tercium tadi adalah makanan yang dipesannya.


Kedua kakinya turun dari ranjang, dia segera melangkah keluar kamar untuk menuju dapur villa. Benar saja, Jenni sedang menghangatkan dua mangkuk sup di dalam microwave.


“Kepalaku sangat pengar,” gerutu Jennie seraya membawa dua mangkuk sup lalu menyimpannya ke atas meja. Dia memberikan satu mangkuk itu kepada Selena, lalu duduk di samping sahabatnya.


Selena menyendokan sup hangat itu ke dalam mulutnya, rasa mual pada perutnya perlahan mereda.


“Kau minum banyak tadi malam,” ucap Selena, kembali membayangkan bagaimana Jennie menggila di pesta ulang tahunnya.


“Hm ya, aku menghargai para tamu.”


Jenni mengangguk untuk mengiyakan. Padahal kenyataanya Jenni memang selalu seperti itu jika dia mabuk. Tidak pernah terkendali.


Selena menghabiskan sup di dalam mangkuknya. Dia teringat ponsel dan tasnya yang sudah dia tinggalkan sejak tadi malam. Lalu, dia segera kembali ke dalam kamar untuk mengambil ponsel miliknya tersebut.


Belasan panggilan tidak terjawab dari Felix, dan sebuah pesan masuk dari pria itu.


'Hubungi aku jika kau membaca pesan ini.'


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Siapa yang pikir Selena bakal galau? Tentu enggak yaaa. Anti galau2 lah dia mah. Oke next guysss. byebye. Lama riviewnya.


__ADS_2