Passionate Night

Passionate Night
*NERVOUS


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


'Terimakasih telah mengantarku pulang.”


Selena melarikan diri saat dia sampai di bandara. Dia tidak ingin terlibat lagi dengan Felix terlebih lagi di negaranya sendiri. Orang-orang akan membuat gosip tentangnya.


Dia menggeret kopernya menuju pintu depan dan menghentikan satu taxi. Tidak lama setelah dia duduk di dalam mobil itu ponselnya berdering. Jenni menghubunginya.


'Babe! Aku melihatmu di bandara, kemana kau sekarang?' seru wanita **** itu.


Selena menghela nafasnya dalam-dalam dan membuka kaca pintu mobil. Dia melambaikan tangannya ke arah wanita yang sedang berdiri di sisi jalan dan terlihat sedang mencari seseorang. Ketika melihat Selena wanita itu langsung berlari ke arahnya kemudian dia masuk ke dalam mobil.


“Bisakah kau cepat mengemudikan mobilnya, aku sedang terburu-buru,” kata Jenni pada supir taxi.


Selena menatap sahabatnya dengan kerutan halus di dahi, bertanya-tanya apa yang sedang sahabatnya itu lakukan, dia terlihat seperti sedang dikejar-kejar oleh hantu.


“Ada apa?” Selena bertanya dengan nada sedikit lantang.


“Nanti aku ceritakan semuanya padamu.” Peluh menetes pada dahinya, dan Jenni mengibaskan tangannya di sisi wajah karena panas. Padahal yang Selena rasakan jika AC mobil itu sudah cukup dingin.


.....


Felix melangkahkan kaki masuk ke dalam mansion megah dan mewah. Seorang bocah kecil langsung berlari ke arahnya dan memeluk kaki Felix diiringi teriakan, “Papa!”


Lengan Felix sigap menangkap punggung mungil bocah kecil itu, dan dia bersimpuh di hadapannya. “Bukankah sudah aku ingatkan untuk tidak memanggilku dengan sebutan papa, panggil aku paman Felix,” katanya dengan nada rendah lembut namun tetap terdengar dingin ketika dia mengucapkannya.


Leon mengangguk pelan. “Baik, paman Felix.”


“Pergi bawa dia bermain di taman, jangan biarkan dia berlarian di dalam rumah,” perintah Felix pada pengasuh Leon, kemudian pengasuh itu langsung membawa Leon pergi.


Renee berjalan mendekatinya, wajahnya menunjukan ketidaksetujuan saat Felix berbicara kepada Leon mengenai panggilannya. Lalu seperkian detik Renee langsung menunjukan wajah tersenyum.


“Kak, kau sudah kembali?” tanya Renee dengan senyuman.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Setelah makan siang datang ke ruanganku,” perintah Felix kemudian berjalan pergi meninggalkan Renee.


Zayn menatap adiknya itu dengan penuh selidik. Dia memikirkan kenapa Renee begitu berani mengajari putranya untuk memanggil Felix papa. Pria itu yang paling berkuasa disini, dan meskipun dia begitu menyayangi Renee, tapi Renee tidak bisa mengusiknya sedikitpun.


“Kau berhati-hatilah,” kata Zayn dengan nada rendah.


“Apa maksudmu?” Renee mengangkat sedikit dagunya dan menatap ke arah Zayn.

__ADS_1


Zayn tersenyum tanpa menjawab dan setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan Renee yang masih bertanya-tanya apa maksud ucapan Zayn yang menyuruhnya untuk berhati-hati.


Renee mengerutkan dahinya kasar mendengar Zayn yang tiba-tiba memperingatinya. Dia juga tidak suka dengan sikap dingin Felix padanya, padahal dulu pria itu begitu perhatian.


*******


Selena belum sempat pulang ke kediaman Geovandra tapi Jenni sudah menculiknya untuk singgah ke mini bar. Selena juga tidak menolak ajakan itu karena jika dia langsung pulang maka kedua orangtuanya akan mendera Selena dengan banyak pertanyaan.


Dia memesan satu porsi burger lengkap dengan kentang goreng dan salad, satu gelas beer untuk menemaninya makan. Sementara Jenni memesan satu botol teaquila yang membuat Selena meneteskan air liurnya. Selena tidak bisa minum alkhohol siang ini karena dia akan kembali ke rumah.


Jenni menuangkan teaquila ke dalam gelas kecil lalu menegaknya hingga tandas, dia bertingkah seolah-olah sedang melihat surga setelah meminum itu. Selena menatapnya jengkel melihat tingak Jenni yang seolah-olah mengolok-oloknya karena dia tidak bisa meminum alkhohol.


“Ceritakan apa yang terjadi padamu? Kenapa kau ada di bandara, bukankah kau sibuk mengurusi club malam barumu?” tanya Selena seraya mengunyah kentang goreng miliknya.


Jenni menghela nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan, tidak lama kemudian dia mengatakan, “Aku berkencan bersama seorang pria muda.” Wajah Jenni memerah sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. “Hahahha. Lord! Dia begitu polos aku tidak menyangka!”


Selena masih penasaran. “Pria muda mana yang kau ajak berkencan?”


“Hardy Strom.”


“Damn it! Model muda itu?”


“Yes!” Jenni melonjak mengiyakan ketika Selena berbicara.


Selena mencondongkan badannya ke depan kemudian berbisik, “Shit! Dia masih sangat muda, apa yang akan kau dapat dengan mengencaninya?”


“Apa?” Selena mengedikan dagunya.


“Dia berenang menggunakan ****** ***** bermotif banana!”


“Lord!” Wajah Selena ikut memerah kemudian terbahak-bahak, dia tidak mampu menahan tawanya sehingga suaranya meledak memenuhi isi ruangan. Beberapa orang menatap dua wanita cantik itu.


“Ini aib! Percayalah, aku memiliki janji pemotretan dengannya dua Minggu lagi. Dia pasti akan terkejut jika mengetahui aku adalah temanmu.”


“Dia akan mati kutu!”


HAHAHHAHAHA.


Para wanita cantik itu terteawa terbahak-bahak. Jenni terus menceritakan hal-hal konyol ketika dia melakukan kencan dengan seorang model muda.


Hardy Strom adalah model berusia dua puluh tahun. Wajahnya yang tampan dan tubuh atletis tidak membuatnya terlihat seperti remaja, dan dia terlihat lebih matang dari remaja pria sebayanya. Dia terkenal karena ketampanannya, semua orang di dunia modeling mengenal dan menyukainya. Remaja pria itu juga tidak pernah terlibat skandal apapun dengan siapapun.


“Aku pikir berita artikel hanya melebih-lebihkan tentangnya, siapa tahu jika dia benar-benar seorang remaja polos.”


********


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore dan Selena baru kembali ke kediaman Geovandra. Dia menggeret kopernya masuk ke dalam mansion sebelum akhirnya seorang pelayan datang untuk mengambil koper tersebut.

__ADS_1


“Di mana Kenzo?” tanya Selena.


“Nyonya besar membawa tuan muda untuk les piano, Nona.”


“Baiklah.”


Selena berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Tetapi baru saja kakinya melangkah untuk menaiki anak tangga, tiba-tiba terdengar suara berat yang mengagetkannya.


“Selena, duduklah bersamaku dulu.”


Selena menoleh dan mendapati ayahnya berdiri di pintu ruang tamu. Lantas dia berbalik untuk mengikuti langkah pria paruh baya itu masuk ke dalam ruang tamu. Keduanya duduk di atas sofa.


“Kau pergi untuk bisnis?” tanya Johan pada putrinya.


“Ya.”


“Bersama siapa kau pergi?”


“Tentu saja bersama sekretarisku, aku pergi menggunakan pesawat umum karena jet pribadi perusahaan kalian pakai untuk berlibur.” Selena menggerutu dengan kesal.


“Sekretarismu tidak ikut, bukan?”


Selena menatap ayahnya dengan penuh selidik. “Apa kau menghubungi kantorku? Bukankah kau tidak mau berurusan lagi dengan perusahaan?”


Apa jangan-jangan ayahnya juga memerintah orang untuk mengikutinya? Sejak kapan Johan Geovandra suka mengurusi kehidupan pribadi putrinya.


“Ya, aku melakukannya, tapi untuk Kenzo karena ponselmu tidak bisa dihubungi.”


Selena menghela nafas dalam-dalam. “Mungkin aku sedang rapat,” jawabnya singkat.


“Tidak biasanya kau pergi untuk bisnis sendiri, terlebih lagi kali ini kau tidak merengek untuk dijemput.” Pikiran Johan penuh dengan kecurigaan kepada putrinya sendiri.


Selena berdecak pelan. “Aku pergi bersama Jenni, aku menghabiskan waktuku untuk bersenang-senang karena pekerjaan membuatku stres.”


“Kau sangat suka bersenang-senang, lebih bagus jika kau bersenang-senang bersama seorang pria dan segera menikah.”


“Arrrgh!”


Selena tidak tahan mendengar ucapan ayahnya dan langsung pergi dari ruang tamu.


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2