
Happy Reading ....
.
.
.
Felix sedang berusaha menghubungi Selena, namun wanita cantik itu tidak kunjung menjawab teleponnya. Pria itu begitu tidak sabaran, dia pergi untuk memerintah pengawalnya mencaritahu keberadaan Selena.
Tidak lama setelah perintahnya, Felix menerima kabar jika Selena sedang makan malam di sebuah restoran bintang lima yang telah di reservasi oleh seorang pria bernada Duke Lutolf.
Orangnya telah memastikan jika pria yang saat ini sedang bersama Selena bukanlah rekan bisnis wanita cantik itu. Melainkan seorang CEO terkenal LT Corp. Selain informasi jika pria itu adalah CEO di perusahaan besar, tidak ada lagi informasi pribadi mengenai pria itu, yang beredar hanyalah sampah dan gosip masyarakat.
“Bawa aku ke sana.”
Felix pergi untuk mendatangi restoran itu. Restoran itu telah direservasi, dan tidak dibuka untuk umum. Felix tidak izinkan untuk masuk. Pria itu tidak peduli, dia memerintah para pengawalnya untuk melakukan apapun agar dia bisa masuk ke dalam restoran tersebut.
...........
Selena sedang berbincang dengan saudara yang sudah lama tidak dia temui. Mereka membicarakan banyak hal termasuk yang telah terjadi di masalalu.
Tiba-tiba saja Duke menunjukan sesuatu ke belakang ketika obrolan mereka sampai kepada gosip yang beredar mengenai Selena. Pria itu dengan senang hati tersenyum, memandang pria yang baru saja tiba itu.
“Felix?” seru Selena dengan terkejut, dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
Felix langsung mengenggam pergelangan tangan Selena, dan menariknya perlahan mendekat. “Hai Baby, kau tidak menjawab teleponku,” bisiknya tepat di depan telinga wanita cantik itu.
Selena menyimpan ponselnya di atas meja, ponsel itu berdering, dan saat dia melihat nama penelpon Selena sengaja mengabaikannya. Tidak menyangka jika pria itu akan nekat untuk tiba-tiba datang menganggunya.
Duke menyukai sikap Felix yang begitu dominan kepada wanitanya. Pria itu tidak ragu-ragu untuk menerobos masuk ke dalam restoran meskipun restoran itu telah tutup demi menemui wanitanya. Dia pasti telah mencaritahu tentang di mana Selena, dan dengan siapa dia. Lalu dengan sigap Felix mengambil tindakan untuk menemuinya.
“Felix Alexander? Senang bertemu denganmu.” Duke mengulurkan sebelah tangannya ke arah Felix, dan pria itu menjabat dengan baik.
“Duke Lutolf?”
“Kalian saling mengenal?” tanya Selena dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
“Kami mengetahui satu sama lain. Di dunia bisnis, siapa yang tidak mengenal siapa?” lugas Duke.
Mereka bertiga duduk kembali pada satu meja yang sama. Selena masih tidak habis pikir dengan tingkah pria itu. Dia duduk tepat di sampingnya, mengenggam jemari Selena dengan erat. O Lord! Selena beberapa kali menarik lengannya, namun Felix dengan kuat mengenggam jemarinya itu.
Damn!
Pria itu tidak mungkin berpikir jika Duke adalah saingan cintanya, bukan? Mengingat tidak ada data pribadi sedikitpun milik Duke yang bisa Felix lacak.
Duke tersenyum simpul melihat pasangan di depannya. Terlebih lagi Selena. Selama ini saudaranya itu tidak pernah terlibat dengan pria manapun, dan saat dia terlibat dengan pria, pria itu bukan pria sembarangan. Ini sangat menggemaskan bagi Duke.
Sesaat dia juga memikirkan Kenzo. Melihat wajah Felix membuatnya terpikirkan dengan keponakannya yang satu itu. Apakah ini sebuah kebetulan saja, atau ....
“Aku senang kau akhirnya memiliki pasangan, Selena,” ucap Duke membuka pembicaraan di antara suasana yang canggung itu.
“Kau tidak pernah berkencan dengan pria manapun sebelumnya,” ungkap Duke yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Selena.
Damn! Kenapa dia harus mengungkit hal itu? Pikir Selena.
Felix mengangkat sebelah halisnya. Ternyata informasi yang selama ini dia dapatkan memang benar, Selena tidak pernah berkencan dengan pria manapun entah apa alasannya.
“Sebelum kau salah paham, aku adalah saudara kandung Selena, lebih tepatnya kita memiliki hubungan darah,” lugas Duke.
Selena memelototinya agar pria itu tetap berada di tempatnya, dan tidak pergi ke manapun. Namun Duke hanya tersenyum simpul untuk menanggapinya.
Sebelum pergi Duke mengatakan, “Sele, kau harus mendarat di beberapa negara untuk mencari benda itu. Aku tidak yakin, tapi cobalah untuk pergi ke prancis.”
Duke berjalan pergi meninggalkan meja. Pandangan Selena tertuju pada punggung bidang pria itu yang semakin lama semakin jauh ditelan oleh jarak, dan akhirnya menghilang.
Selena menghela nafasnya dalam-dalam. Pria itu mengatakan semua yang ingin dia katakan. Kini Felix sudah tahu, pria itu pasti akan bertanya kepadanya.
“Apa yang sedang kau cari?” tanya Felix.
Dan benar saja.
Selena menoleh, menatap pria tampan yang kini sedang menatapnya dengan intens. “Kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Selena dengan nada memprotes.
“Aku mencarimu.”
__ADS_1
“Kau mengikutiku?”
“Tidak. Aku mencarimu, dan aku menemukannya,” kata Felix dengan enteng.
O ****! Dia benar-benar mengikutiku seperti seorang penguntit. Selena benar-benar tidak suka jika orang lain campur tangan denga masalah pribadinya, terlebih lagi sampai memerintah orang untuk terus mengikutinya. Ketika Johan melakukan itu, Selena pergi dari rumah selama beberapa tahun, pergi untuk bersembunyi.
“Jadi, apa yang sedang kau cari?” tanya Felix lagi, dia tidak mau meladeni Selena yang mengklaimnya sebagai seorang penguntit.
Selena terdiam sejenak, mengalihkan pandangannya dari Felix. Dia berpikir untuk menggunakan pria itu mencari mainan yang Kenzo inginkan. Ya, Felix pasti akan melakukan itu jika Selena meminta. Lagipula, dia tidak pernah memberikan apapun kepada putranya selama ini.
Air pada wajah Selena langsung berubah saat dia menolehkan wajahnya ke arah Felix. Dia menghela nafas dalam-dalam, berakting seperti wanita yang tidak berdaya.
“Aku harus mencari sesuatu yang penting, dan itu membutuhkan tenaga dan waktu untuk mencarinya, aku rasa aku tidak sempat,” lugasnya dengan nada rendah dan raut wajah pasrah.
Kening Felix sedikit berkerut saat dia memperhatikan gerak-gerik Selena. Aneh. Sejak kapan wanita itu bisa menjadi lembut seperti itu. Biasanya dia akan bertingkah seperti singa betina yang sedang kelaparan.
“Apa yang ingin kau cari?”
Selena mengambil ponselnya di atas meja. “Kenzo menginginkan mainan.” Lalu dia memperlihatkan gambar mainan itu kepada Felix.
Felix menatap wanita cantik itu dengan intens. Dia memikirkan kemungkinan buruk yang sedang terjadi kepada Selena sehingga membuat wanita cantik itu berekspresi demikian. Tapi ternyata hanya sebuah mainan saja.
“Aku akan mencarikannya untukmu, kau tenang saja,” kata Felix enteng.
“Benarkah?” Selena tersenyum girang. “Tapi ini tidak dijual di internet.”
“Kenzo akan mendapatkannya.”
Selena tersenyum puas, rencananya untuk memperdaya pria itu ternyata berhasil. Selena memiliki keuntungan sekarang, dia berpikir tidak terlalu rugi untuk bersama Felix. Pria itu sedikit meringankan beban pikirannya.
“Terimakasih, Baby,” bisik Selena tepat di depan telinga Felix, lalu mengecup pelan pipi dengan sedikit jambang milik pria itu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....
Maaf telat dikit haha banyak kerjaan akunya. Next semoga selalu suka sama ceritanya yaaaa.