Passionate Night

Passionate Night
*DRUNK


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Felix menuangkan whisky ke dalam gelas yang telah terisi es batu. Mereka sama-sama meminum whisky itu pada mini bar yang menyuguhkan pemandangan matahari terbenam. Villa itu memiliki dinding kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan indah ke arah luar.


Selena menyesap minuman beralkohol itu hingga tandas, dia menuangkannya kembali ke dalam gelas tanpa bantuan Felix.


Sebenarnya perasaan Selena sedang campur aduk karena Felix menyinggung masalah pernikahan padanya. Sepertinya, pria itu begitu yakin dengan hubungan mereka ke depannya. Tapi bagaimana, Selena memiliki sesuatu yang pria itu tidak tahu. Phobia menggerogoti pikirannya.


Pandangannya tertuju pada gelas di genggamannya. Pikirannya kalang kabut memikirkan itu semua.


Ah ****! Bukankah aku memiliki waktu untuk menilai hubungan ini terlebih dahulu. Pernikahan bisa dibatalkan jika kita tidak cocok, bukan? Sekarang, aku hanya perlu menikmatinya saja. Pikir Selena seraya menyesap whiskynya kembali.


Pandangan Felix tak alih dari memperhatikan wanita cantik di sebelahnya. Wanita itu tampan gusar, dan bahkan telah menghabiskan tiga gelas minuman sementara Felix belum menghabiskan satu gelaspun. Apa dia memikirkan Felix yang tiba-tiba ingin menikahinya? Mungkin itu terlalu cepat. Felix tidak akan membahasnya lagi, kali ini dia hanya akan mengikuti alur hubungan mereka seterusnya.


“Kau akan mabuk,” kata Felix ketika Selena hendak menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya kembali.


Selena melirik ke arahnya dan tersenyum simpul. “Sudah lama aku tidak minum. Bolehkah aku mabuk malam ini?”


Felix mengambil botol dari genggaman tangan Selena. Selena pikir jika pria itu melarangnya untuk minum lagi. Tapi tidak disangka jika Felix menuangkan minuman itu ke dalam gelas Selena.


Selena tersenyum senang. Dia berpikir pria itu akan berpikiran kolot dan mulai melarang Selena untuk minum.


Salah satu hal yang paling Selena benci ketika berpacaran. Yaitu, kekasihnya melarang hal yang paling dia sukai. Dia tidak ingin merasa terkekang dan tidak nyaman ketika menjalani suatu hubungan.


......................


Selena berhasil menghabiskan beberapa gelas whisky dan kini pandangannya mulai kabur. Meskipun seperti itu, dia masih terus meminta Felix untuk menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya.


Felix menuangkan hingga tetes terakhir. Dia tahu sebelum tumbang Selena tidak akan berhenti meminum alkohol. Wanita ini terlalu kuat dalam hal minum.


“Habis,” kata Felix seraya menggoyangkan botol kaca yang sedang digenggamnya.


Pandangan Selena terarah pada rak kaca yang menyuguhkan berbagai jenis minuman. Felix tahu isi pikiran wanita cantik itu, dan dia langsung menghalangi pandangan Selena dengan tubuhnya.


“Felix aku menginginkan itu.” Dia menunjuk satu botol, Felix langsung memegang tangan Selena yang sedang terangkat ke atas.


“Kau sudah cukup mabuk.”

__ADS_1


“Tidak!” tolak Selena. Dia merasa jika dirinya masih sadar meskipun tubuhnya sudah limbung.


Felix tidak mau Selena minum terlalu banyak. Wanita itu akan berakhir di rumah sakit lagi seperti sebelumnya.


Pria itu mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Selena. Wanita cantik itu terkesiap dan refleks melingkarkan kedua lengannya pada tengkuk leher Felix.


“Aku masih ingin minum, kau akan membawaku ke mana?”


“Tidur.”


Felix menggendong tubuh Selena menaiki tangga, menuju lantai dua villa dan masuk ke dalam kamar utama villa itu. Dia meletakan tubuh Selena perlahan ke atas ranjang. Tubuh wanita cantik itu sudah berbaring, namun dia tidak melepaskan lingkaran tangannya pada tengkuk leher Felix.


“Tidak, jangan pergi.”


Selena menahan kepergian Felix ketika pria itu menarik tubuhnya menjauh.


“Tetaplah di sini.”


Felix melepaskan lingkaran tangan Selena pada tengkuk lehernya. Kemudian dia naik ke atas ranjang, dan berbaring di samping wanita cantik itu. Posisi mereka saling berhadapan.


Telapak tangan Selena memegang sisi wajah Felix. “Kenapa kau sangat tampan sehingga aku tidak bisa menolak pesonamu,” gumamnya.


“Apa kau menyukaiku?” tanya Felix.


Ekspresi pada wajah Felix berubah ketika mendengar ucapan wanita cantik itu. Ucapan seseorang yang mabuk adalah ucapan yang paling jujur. Dia tidak menyangka jika Selena akan mengatakan dia membencinya.


“Kenapa?” tanya Felix lagi.


“Karena kau menyebalkan, Felix. Kau menganggu hidupku.” Selena menunjuk dada Felix beberapa kali menggunakan jari telunjuknya.


Selena mendorong tubuhnya mendekat. Wajahnya dengan wajah Felix kini hanya berjarak beberapa cm saja. Jemarinya meraba pipi dengan jambang itu, lalu menyentuh hidung mancungnya.


“Aku membencimu. Tapi aku menyukai sentuhanmu,” katanya dengan senyuman yang merekah.


Felix menyimpulkan senyumannya. Dia mendorong wajahnya untuk meraih bibir sintal wanita cantik itu. Bibir mereka saling bertaut dan bertukar saliva. Selena membalas ******* bibir itu dengan penuh gairah dan nafas yang menderu. Felix bisa merasakan wangi alkhohol menguar dari wanita cantik itu.


Felix mengangkat tubuhnya untuk menindih tubuh Selena. Melakukan sentuhan-sentuhan seductive yang membuat wanita cantik itu mengerang dan mengejang hebat.


Dalam beberapa menit tubuh keduanya berhasil polos tanpa sehelai kainpun yang menutupi tubuh mereka berdua. Perlahan Felix mendorong miliknya untuk memasuki intu tubuh Selena.


“Ugh!”


“Felix ....”

__ADS_1


“Ah ....”


Selena semakin liar saat Felix terus mendorong tubuhnya semakin dekat, membuat sentuhan itu semakin dalam dan mempercepat ritme permainan.


Beberapa saat permainan itu tubuh keduanya mengejang hebat. Felix menghamburkan cairan miliknya ke dalam tubuh Selena. Setelah beberapa saat tubuhnya ambruk ke atas tubuh wanita cantik itu.


“Hah ....”


Selena mencoba memasok oksigen ke dalam paru-parunya kembali. Felix masih berada di atasnya, memejamkan mata dan mencoba menetralkan kondisi tubuhnya.


“Felix?” panggil Selena.


“Ya?” jawab Felix dengan suara paraunya.


“Kenapa kau tidak pernah memakai kontrasepsi?”


“Huh?”


*************


Selena menggeliatkan tubuhnya di atas ranjang, menari selimut dan semakin menenggelamkan tubuhnya. Tiba-tiba dia merasakan kehangatan yang melingkar pada perutnya. Dia membuka matanya dengan cepat dan melihat ke arah perut.


Satu lengan sedang memeluknya dari belakang. Lantas Selena menolehkan wajahnya, mendapati Felix yang tertidur di belakangnya. Pria itu membuka mata ketika Selena terus saja bergerak di pelukannya.


“Morning, Baby,” sapanya dengan suara yang parau lalu memejamkan matanya kembali.


Selena membalikan tubuhnya ke arah Felix, balik memeluk tubuh kekar pria itu dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu. Dia dapat mencium wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria itu. Selena menyukainya.


Dia mengingat semua kejadian tadi malam. Meskipun mabuk berat, tapi Selena tidak melupakan satu detik pun adegan ranjang yang dia nikmati bersama Felix. Wanita cantik itu tersadar jika sekarang dia sudah bisa menerima Felix.


Pandangan mata Selena menatap gorden dengan tembusan sinar mentari yang menyeruak masuk ke dalam ruangan. Dia hendak beranjak dari posisinya, namun Felix menahannya dengan terus memeluk tubuh Selena.


“Felix lepaskan, aku harus bersiap untuk pergi bekerja.”


“Aku tidak ingin melepaskanmu.”


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Haiii jangan lupa like, koment, dan juga tambahkan ke dalam favorit yaaaa. byebye.


__ADS_2