
Happy Reading ....
.
.
.
Hello, Baby girl!
Selena membuka matanya dengan terkejut, sinar mentari yang menyeruak masuk dari selah jendela membuat Kilauan tepat pada wajahnya dengan refleks Selena menutupi itu dengan tangannya. Tapi seketika lengan seseorang menyentuh lengannya, membantu Selena untuk menutupi sinar mentari yang menyilaukan.
“Good morning, Selena.”
Selena mengangkat wajahnya, melihat Felix yang sedang tersenyum simpul ke arahnya. Lalu pandangan Selena turun ke bawah, dan pada saat itu dia baru menyadari jika dirinya berada di atas dada Felix. Secepat kilat dia beranjak dari menindih tubuh pria itu.
Felix ikut beranjak duduk dan menyender pada senderan ranjang. “Bagaimana tidurmu, aku rasa sangat nyenyak.”
Selena sama sekali tidak menjawab pertanyaan Felix, yang saat ini ada di kepalanya adalah seputar pertanyaan kenapa dia bisa tertidur dengan posisi di atas pria itu. Dia sungguh melupakannya.
Tadi malam dia duduk di samping Felix hingga pria itu bangun dan menariknya lalu memeluk tubuh Selena. Selena mencoba melepaskan pelukan Felix padanya namun sia-sia, Felix terus memeluknya erat hingga rasa kantuk Selena datang dan secara tidak sadar dia tertidur di dalam pelukan pria itu.
Daamnn aku tidak sadar!
Tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dan seseorang diluar memanggil nama Felix. Selena dan Felix langsung menoleh ke arah sumber suara. Tidak lama setelah itu seorang pelayan hotel datang seraya membawa beberapa papperbag di tangannya. Felix memintanya untuk menyimpan semua itu di atas meja, kemudian pelayan hotel tersebut pamit untuk pergi.
“Aku membelikan pakaian untukmu, pastinya kau tidak mau keluar dengan pakaian ini, bukan?”
Selena melirik beberapa papperbag itu, dan mengingat jika terakhir kali Felix membelikannya baju adalah tipe untuk remaja, Selena tidak menyukainya. Tetapi di sisi lain pakaian yang dia kenakan sangat minim dan tidak pantas dipakai di siang hari, dia harus menggantinya.
Tanpa mengatakan apapun Selena mengambil papperbag itu dan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Felix hanya menatapnya hingga wanita cantik itu benar-benar masuk dan menutup tirai toilet.
__ADS_1
Selena mengambil pakaian dari dalam papperbag untuk memastikan baju yang dipilih Felix cocok untuknya, jika mengecewakan seperti pertama kali maka Selena tidak akan terkejut.
(Foto by Pinteres)
Selena melihat pakaian yang Felix berikan untuknya. Kali ini dia terkejut ketika melihat baju itu. Kali ini Felix memilihkannya dengan sangat tepat, dan sesuai dengan selera Selena. Tidak mengecewakan. Setelah memastikan pakaiannya, Selena segera menyibukan diri dengan air shower.
Membutuhkan waktu hampir setengah jam untuk Selena membersihkan diri. Itu bahkan tidak termasuk dalam perawatan rutinnya di dalam kamar mandi, mengingat mereka berada di dalam hotel dan tidak tersedia perlengkapan khusus yang biasa di pakai olehnya.
Setelah mengeringkan tubuh dia memoleskan lotion pada lengan dan kakinya dan mulai memakai pakaian. Dia bercermin dan tersenyum melihat pakaian itu sangat cocok dipakai olehnya. Tubuh seorang wanita adalah aset berharga. Tidak sia-sia jika Selena menjaga pola makan dan olahraganya.
Dia telah siap dengan rambutnya yang terurai setelah hairdryer. Selena keluar dari kamar mandi dan terdiam ketika mendapati kamar itu kosong. Dia mencari Felix namun pria itu tidak bisa ditemukan. Kemudian Selena melihat secarik kertas kecil dengan passcard di atasnya, tepat di sampingnya juga terdapat tas dan ponsel milik Selena. Kertas itu bertuliskan;
'Aku telah menyiapkan supir untuk mengantarmu.'
Selena membolak-balikan kertas tersebut dan hanya itu tulisan yang terdapat di sana. Dia berdecih malas melihat tingkah pria itu yang sangat seenaknya. Datang dan pergi tidak di undang.
*********
Selena berada di dalam ruang kerjanya di perusahaan. Dia melirik arloji di pergelangan tangan dan waktu sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang. Sekretarisnya bertanya apakah dia harus memesan makanan untuknya atau tidak, dan Selena menjawab tidak perlu.
Dia memiliki pertemuan penting di jam makan siang ini. Sejak tadi pagi ketika Selena menyalakan ponselnya, dia sudah dihujami dengan pesan teks dan panggilan dari Marie. Wanita itu meminta agar putrinya tidak datang terlambat pada pertemuan orangtua di sekolah Kenzo. Marie tidak bisa datang untuk menggantikannya dan beralasan jika dia memiliki janji temu dengan seorang dokter siang ini.
Sebenarnya Selena tidak ingin pergi, tapi hal itu menyangkut putra kecilnya, dia akan merasa pergi. Maka dari itu Selena membatalkan pertemuan dengan seorang klien dan meminta sekretarisnya mengosongkan jadwalnya sampai sore hari. Dia akan pergi ke sekolah Kenzo untuk pertemuan para wali murid.
Sementara itu di waktu yang sama di tempat berbeda. Felix berada di ruang baca mansion. Dia juga mengosongkan jadwalnya sore ini, dia akan pergi ke pertemuan wali murid. Felix akan turut hadir sebagai wali dari keponakannya, Leon.
Renee berada di ruangan itu dan duduk bersama Felix di sofa yang berbeda. Felix meminta adiknya untuk menjaga sikap nanti, dan dia juga meminta Renee untuk meminta maaf kepada Selena. Meskipun Renee menentangnya secara terang-terangan, tapi tidak ada orang yang mampu melawan Felix terutama dirinya. Dia harus menurut.
“Leon,” panggil Felix pada bocah kecil yang sedang sibuk melihat ikan di dalam aquarium.
__ADS_1
Kemudian bocah kecil itu berlari ke arahnya. “Ya, Paman?” Dia menatap Felix dengan polos dan mata bulatnya.
“Aku akan memberimu hadiah sebelum ulangtahunmu.”
“Hadiah?”
Renee menatap mereka, ekspresi wajah kesalnya seketika hilang ketika melihat sikap manis Felix pada Leon. Renee bersyukur jika Felix masih menyayangi putranya, dan peduli kepadanya. Mereka terlihat sangat manis, seperti seorang ayah dan anak. Renee tersenyum, membayangkan jika itu benar-benar terjadi di dalam kehidupannya.
“Kau bisa memanggilku papa mulai hari ini.”
“Papa?”
“Ya.”
Senyuman Renee semakin terukir setelah mendengar ucapan Felix. Harapan demi harapan di dalam kepalanya seketika mendapatkan lampu hijau. Dia merasa sangat senang sampai ingin menjerit sangat kencang. Mungkinkah Felix akan menerima dirinya dan Leon ke dalm hidupnya, dan apakah Renee akan menjadi nyonya di mansion besar itu.
“Papa!” seru Leon kemudian memeluk Felix dengan erat, dan Felix balas memeluk tubuh kecilnya ringan.
Renee tidak bisa membayangkan jika keinginannya selama ini akan terwujud. Sejak dulu dia begitu menyukai Felix, dan berharap bisa menikah dengannya. Meskipun di masalalu Renee pernah melakukan kesalahan, tapi dia berjanji akan lebih baik lagi jika dia bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian Felix kembali. Renee begitu mendambakan kakaknya itu, dan akhirnya semua keinginannya terwujub.
Aku akan menunggu hari di mana kau melamarku, Kak!
.
.
.
***Bersambung ....
Jangan lupa like, koment, dan juga masukan ke dalam daftar favorit kalian yaaa***.
__ADS_1