
“Apa? Apa yang kakak maksud?”
Renee dan Luciane menghampiri Felix dan juga Selena. Diiringi raut wajah terkejut dan juga bingung. Rasa bimbang menyelimuti hati dan pikiran mereka. Putus asa. Jalan yang tadinya masih terbentang luas menjadi buntu seketika.
“Kau putraku,” lugas Felix seraya mengusak puncuk kepala bocah kecil di hadapannya.
Bocah kecil itu menatap ke arah Felix, lalu kemudian tatapannya beralih pada Selena dengan bingung. Otak kecilnya masih belum bisa mencerna semua perkataan orang-orang dewasa itu.
Selena tertegun dan tidak bisa berkata-kata lagi. Sejak kapan pria itu mencari tahu tentang putranya. Di awal, Felix hanya memperlihatkan jika dia tahu Selena pernah tidur satu malam dengannya. Sama sekali tidak ada tanda-tanda jika pria itu mencari tahu masalah Kenzo.
“Mami?” Kenzo mengguncang lengan Selena, membuat maminya seketika tersadar.
Felix menatapnya tajam. Selena mengenggam erat lengan Kenzo. Apakah mulai hari ini dia tidak bisa lari lagi dari pria itu.
“Tidak!” Selena menggeleng dengan cepat kemudian menyembunyikan Kenzo di belakang tubuhnya. “Kau jangan mengada-ada, Felix!”
“Selena, sampai kapan kau akan menyembunyikan kenyataan jika Kenzo adalah putraku. Dia adalah putraku Selena,” ucap Felix penuh dengan penekanan.
“Putramu? Apa buktinya jika dia putramu?” Selena mengangkat dagunya ke arah Felix.
“Tes DNA menunjukan sembilan puluh sembilan persen jika aku adalah ayah biologisnya.”
Selena tersenyum kecut. “Sejak kapan kau melakukan hal itu tanpa sepengetahuan dariku? Kau merusak privasi putraku.”
“Dia juga putraku Selena!”
Selena menelan salivanya susah payah. Kenzo ketakutan dengan perdebatan antara paman Felix dan maminya. Seorang pengasuh membawa bocah kecil itu masuk ke dalam mobil.
Sementara Renee dan Luciane masih berada di sana. Tertegun, kaget, dan tidak menyangka saat mendengarkan obrolan dua orang di hadapannya.
Harapan yang dibangun kembali oleh Luciane semenjak Renee meyakinkannya untuk mendapatkan Felix kembali telah pupus. Hancur lebur begitu saja, hilang tidak tersisa. Dia tidak memiliki harapan apapun saat ini.
Aliran darahnya seolah terhenti seketika. Mual dan pusing. Dadanya terasa begitu sesak rasanya seperti udara menolak masuk ke dalam paru-parunya. Luciane tidak sanggup melihat itu semua, kemudian dia berlari pergi menjauh dari mereka.
Renee masih berada di sana bersama Leon yang mulai ketakutan. Amarah dan kegelisahan membuat Renee tidak sadar jika dia sedang mengenggam pergelangan tangan Leon sehingga membuat bocah kecil itu kesakitan. Leon mulai merengek kecil.
F*CK ****!
Perdebatan antara tiga orang dewasa itu membuat beberapa orang melayangkan tatapan aneh kepada mereka.
__ADS_1
Selena tidak mau tahu lagi tentang apapun itu. Dia tidak memperdulikan Felix lagi dan semua omong kosong pria itu. Kakinya melangkah dengan cepat untuk menjauhinya. Selena masuk ke dalam mobilnya dan duduk bersama Kenzo.
Tidak lama setelah kepergian Selena, Felix juga pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan Renee dan Leon berdua yang masih memaku di tempat mereka.
“Mami ...,” rengek Leon menangis.
Renee langsung tersadar akan bocah kecil itu. Dia langsung melonggarkan genggamannya, dan menyadari jika pergelangan tangan bocah kecil itu sudah memerah.
“I'm so sorry Leon,” ucapnya penuh penyesalan.
.........
Selena berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Tingkahnya itu diperhatikan oleh Marie dan Johan. Tidak lama setelah itu, Kenzo masuk ke dalam rumah dan berlari memeluk Marie.
“Hai little boy, apa yang terjadi kepada mamimu?” tanya Johan penasaran.
“Papi bertengkar dengan paman Felix,” jawab Kenzo dengan polos tanpa tahu arti kalimat yang baru saja dia katakan.
Marie dan Johan saling menatap satu sama lain setelah mendengar ucapan dari cucunya. Mereka berpikir, apakah Selena bertengkar di hadapan bocah kecil itu.
Sementara itu, Selena berada di dalam kamarnya. Pikiran kacau dan hati yang gelisah. Dia tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba di dalam kehidupannya.
Kalimat Felix masih menghantuinya. Selena tidak menyangka jika pria itu akan mencari tahu tentangnya dengan sangat detail sampai-sampai dia juga mencari tahu tentang Kenzo.
Aku akan menenangkan pikiranku agar aku bisa berpikir dengan jernih. Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Batin Selena.
Hatinya bertanya-tanya. Dia mungkin akan membawa Kenzo pergi ke negara yang jauh. Namun Selena tahu jika Felix bukanlah tipe pria yang bisa dikelabui. Pria itu memiliki banyak koneksi, dan bisa melakukan apa saja yang dia inginkan.
Damn! Jadi apa yang harus aku lakukan?
*********
“Hadapi dia, kau harus menghadapinya.”
“Dia sudah tahu semuanya, apa yang ingin kau hindari lagi Selena?”
“Apakah pria itu begitu buruk di matamu hanya karena kau membaca artikel skandalnya bersama mantan kekasihnya?”
“Ayolah Selena, semua orang punya masalalu,” ungkap Jennie.
__ADS_1
“Kau harus meyakinkan dirimu Selena.”
“Dia sangat susah,” gerutu Jonathan.
Meskipun Jonathan dan Jennie tidak mendukung pernikahan, tapi saat mereka dihadapkan dengan berbagai permasalahan hidup Selena, maka mereka berpikir jika Selena mungkin perlu membuka hatinya mulai dari sekarang.
Selena mengurut pangkal hidungnya pening. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Dia ingin berlari tetapi tidak bisa, menghadapi Felix juga bukan hal yang mudah.
“Hei Selena, apa kau sama sekali tidak pernah tertarik kepada pria itu saat kalian masih bersama?” tanya Jonathan penasaran.
“Tidak,” jawab Selena singkat. Lebih tepatnya Selena selalu mengontrol hati dan perasaannya untuk tidak jatuh cinta kepada pria itu. Karena dia tahu hal itu hanya akan merepotkan hidupnya.
Jonathan menghela nafasnya dalam-dalam. “Benarkah? Mungkinkah hatimu sudah mati?”
“Maybe,” sambar Jennie.
“Kepalaku sangat sakit,” keluh Selena ketika memikirkan semua hal yang sedang terjadi.
*******
Sudah dua Minggu berlalu semenjak Felix mengungkapkan bahwa Kenzo adalah putranya. Panggilan suara dari Renee tidak pernah berhenti menghiasi layar ponselnya. Felix mengabaikan obrolan tidak penting itu.
Dirinya sengaja untuk tidak pulang ke mansion terlebih dahulu, dan lebih memilih tinggal di apartment pribadi miliknya bersama seorang wanita yang saat ini sedang memandang pemandangan kota dari balik jendela kaca.
“Kau yakin dengan semua ini?” tanya Felix seraya berjalan mendekati wanita cantik itu. Dia menyentuh bahu wanitanya, mengendus pelan aroma wangi yang menguar dari tubuh wanita cantik tersebut.
“Aku ingin menjalaninya bersamamu. Kita akan mencoba, tanpa pernikahan,” ucap wanita cantik tersebut.
“Selena, sebenarnya apa yang salah dengan pernikahan? Apa kau masih tidak yakin padaku?” tanya Felix meminta penjelasan.
“Aku hanya perlu meyakinkan diri untuk saat ini Felix. Maka setujui saja permintaanku, atau kau bisa menolaknya lalu pergi menjauh dari hidupku dan hidup putraku.”
“Aku tidak akan menolaknya Selena, tidak akan pernah.”
Felix menyentuh dagu Selena, membawanya mendekat agar dirinya bisa meraih bibir sintaal itu. Mereka saling bertukar saliva.
********
Apa yang terjadi? Wkwkwk penjelasan ada di bab berikutnya yaaa. Baca terus kisah kusut dari pasangan abstrud ini yaaa.
__ADS_1