Passionate Night

Passionate Night
*CLUB


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.



(Foto by Pinterest)


Ruang besar dan luas dengan banyak orang di dalamnya. Musik EDM yang dimainkan DJ menggema pada setiap sudut ruangan. Orang-orang berkumpul untuk minum, berbincang, dan meliukan tubuhnya di bawah lantunan musik.


Selena melenggang masuk ke dalam club malam terbesar di kota itu. Dia duduk di kursi tempat favoritnya, depan meja bartender. Memesan cocktail untuk menemaninya.


Pandangannya pergi menelusuri setiap sudut ruangan, mendapati Jenni yang sedang berbincang dengan beberapa pria di sofa pada sisi ruangan. Wanita cantik dan **** itu terlihat sangat sibuk. Selena tidak ingin menganggunya.


Tiba-tiba Zayn datang dan duduk di samping Selena. Memesan whisky pada bartender di hadapannya. Pria itu tampak mencari sesuatu.


“Di mana Felix?” tanya Zayn.


Selena meliriknya sekilas. “Dia tidak memberitahumu jika dia pulang?”


“Huh?” Zayn tercengang. “Dia pulang.”


“Sepertinya dia memang tidak memberitahumu,” gumam Selena saat melihat keterkejutan yang Zayn perlihatkan.


Jennie berjalan mendekati mereka dengan senyuman merekah pada wajahnya. Wanita cantik itu mengenakan baju yang sangat **** yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.


Zayn ternganga melihat kecantikan dan tubuh ideal wanita cantik itu. Aliran darahnya berdesir hangat ketika melihat lekukan tubuh milik Jennie. Dia begitu menggoda. Namun Zayn langsung mengalihkan pandangannya dari Jennie saat wanita itu menyadari tatapan Zayn padanya.


“Felix pergi?” tanya Jennie ketika tidak melihat keberadaan Felix di sana.


Selena menyimpulkan senyumannya dan berkata dengan malas, “Ya.”


“Pergi lagi,” bisik Jennie rendah.


Kemudian, tatapan wanita itu beralih pada pria tampan di samping Selena. “Hai Zayn,” sapanya dengan senyuman. “Kau harus mencoba cocktail terbaru di sini,” saran Jennie.


“Buatkan satu untuknya.” Lalu perintahnya pada seorang bartender.


“Apakah cocktail dari neraka?” tanya Selena.


“Ya.” Jennie tersenyum simpul.


Selena membuat gerakan di depan lehernya. Mengisyaratkan jika Zayn akan mati jika meminum minuman itu.

__ADS_1


“Selena, menari bersamaku.”


Tiba-tiba Jennie menarik lengan Selena tanpa persetujuan darinya. Wanita itu membawa Selena untuk bergabung dengan lautan manusia yang tengah meliukan tubuhnya di bawah lantunan musik yang di mainkan oleh DJ. Selena dan Jennie tidak segan untuk menari bersama mereka.


Sementara Zayn masih berada di tempat duduknya semula, di kursi depan meja bartender. Dia melihat Selena dan Jennie yang sedang bergoyang. Menatap betapa **** dan menggiurkannya dua wanita cantik itu.


Tidak lama kemudian minuman yang tadi dipesankan oleh Jennie telah siap. Zayn mengalihkan pandangannya dari menatap para wanita itu ke arah minuman yang memiliki tiga warna itu. Terlihat menarik. Dia mencicipinya.


“O ****! Apakah ini obat?” umpatnya saat rasa pahit dan panas menjadi satu masuk ke dalam tenggorokannya.


“Ini minuman dari neraka,” ucap bartender itu dengan senyuman.


****************


Renee berada di dalam kamarnya, menyendiri dan hanya melihat-lihat layar ponselnya dengan sangat membosankan.


Pandangannya tiba-tiba melirik walk in closet yang menyatu dengan kamarnya. Dia segera beringsut turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam ruangan khusus baju tersebut.


Dia membuka salah satu pintu kaca yang di dalamnya menyimpan puluhan model bikini. Dia mengambil yang paling **** di antara beberapa model lainnya.


Ponselnya dia letakan di atas sofa kecil. Lalu dia mulai menanggalkan semua pakaian yang dipakainya hingga tubuhnya polos tanpa sehelai kainpun. Renee mulai memasang bikini yang dipilihnya tadi.


Sebuah bikini berwarna merah yang memberi kesan **** dan panas ketika tubuh rampingnya mengenakan itu. Dia menatap setiap inci tubuhnya pada cermin. Berpikir jika dirinya tidak kalah **** dari Selena.


Renee mengambil beberapa gambar dirinya mengenakan bikini. Dia mengagumi dirinya sendiri yang begitu **** dan cantik. Tetapi tidak tahu kenapa pria yang sangat diinginkannya begitu menolaknya terang-terangan.


“Jika aku bukan adiknya, apakah dia akan mencintai dan menerimaku?” gumam Renee rendah.


Setelah mengambil gambar dan meletakan ponselnya kembali. Renee kembali menatap tubuhnya dari balik cermin. Setiap inci tubuhnya yang memiliki kulit mulus, bokong sintal dengan implan miliknya tidak mungkin tidak membuat pria merasa tergoda.


Pikirannya membayangkan Felix. Bagaimana jika pria itu meraba lengannya, meraba setiap inci tubuhnya, dan menciumnya dengan sangat seductive. Dia menelan salivanya.


Telapak tangan Renee mulai terangkat ke atas, meraba setiap tempat sensitif pada tubuhnya. Dia mengigit bibir bagian bawahnya saat memainkan puncak squishy miliknya.


“Hm ....”


Gerakan jemarinya mulai turun menuju pusat, perlahan turun dan berhenti tepat di depan Indi tubuhnya. Dia menyingkap kain tipis berwarna merah itu. Perlahan memasukan satu jemarinya masuk ke dalam sana.


“Huh ....”


Jemarinya naik dan turun seirama dengan deru nafasnya yang semakin lama semakin menggebu. Pikirannya berputar tentang Felix. Membayangkan jika saat ini pria itu sedang menyentuhnya.


“Felix!”


Renee menjerit kemudian tubuhnya lunglai dan lemas di atas sofa. Cairan kental dan hangat mengalir dari pangkal pahanya. Dia kembali mengatur deru nafasnya.


Seandainya saja Felix ....

__ADS_1


***********


Malam semakin larut. Musik yang dimainkan oleh DJ terdengar semakin kencang. Semua orang hanyut di dalam suasana malam di dalam club besar tersebut.


Jennie dan Selena masih meliukan tubuh mereka di dalam lautan manusia. Sesekali menegak anggur untuk menghangatkan tubuh mereka.


Sementara itu Zayn masih mencoba meminum minuman pahit dari neraka yang cukup menyiksanya. Dia tidak bisa meminumnya meskipun hanya setengah gelas.


“Berikan aku whisky,” kata Zayn kepada bartender.


Tatapan mata Zayn masih terus mengarah pada dua wanita cantik itu. Tidak sedetikpun dia alihkan dari mereka. Ini adalah permintaan Felix yang menyuruhnya untuk terus mengawasi Selena. Jangan sampai seseorang membungkus wanita cantik itu.


Seharusnya Felix mengawasi wanitanya sendiri. Tapi pria itu malah pergi. Entah apa yang membuatnya pergi dengan tiba-tiba meskipun dia sudah memiliki janji.


Saat Zayn sedang memikirkan kakak kesayangannya itu, kebetulan Felix menelpon. Pria itu ingin terhubung melalui video call. Zayn segera menerima panggilan video tersebut.


Bunyi musik yang kuat membuat Zayn tidak bisa mendengar apapun yang Felix katakan. Zayn memasang earphone di telinganya, dan kini suara Felix bisa terdengar dengan jelas.


'Di mana Selena?' tanya Felix.


Zayn mengubah kamera menjadi kamera belakang untuk memperlihatkan Selena yang sedang bersenang-senang kepada Felix. Membuat pria itu sakit kepala.


Felix mengurut pangkal hidungnya pening. Sayangnya dia harus cepat kembali ke rumah karena sesuatu yang penting menunggunya. Jika tidak, mungkin Felix tidak akan membiarkan wanitanya di sana.


“Kenapa kau pergi?” Kini giliran Zayn yang bertanya.


'Ada sesuatu yang harus aku urus.'


“Apa itu?”


'Dia menemui papa.'


Zayn terdiam sejenak. “Dia? Dia ....”


'Ya.'


“Dia siapa?” Tiba-tiba suara seorang wanita cantik terdengar tepat di belakang Zayn.


.


.


.


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk terus menyemangati authorr yaaaaa.

__ADS_1


__ADS_2