
Happy Reading ....
.
.
.
Selena menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, menggeliat meregangkan otot-ototnya yang tegang. Dia menatap langit-langit kamarnya yang polos dan pikirannya berputar memikirkan beberapa hal.
Dia khawatir jika papanya itu memerintah seseorang untuk mengikutinya, tapi di sisi lain tidak mungkin karena taruhannya adalah, Selena tidak akan menjalankan bisnis keluarga lagi, dia akan berhenti. Tapi Johan adalah pria yang nekat, dia bisa melakukan apa saja.
Damn! Persetan dengan itu semua, aku akan sangat malu jika aku memiliki perjalanan bersama seorang pria beristri. Harga diriku akan turun di mata keluarga.
Selena tidak mau jadi bahan olok-olokan keluarga. Itu akan sangat menyebalkan untuknya apalagi dia belum menikah sampai usianya yang sudah menginjak kepala tiga.
Brak brak brak!
“Mami!”
Jantung Selena hampir terlepas dan jatuh dari tempatnya saat tiba-tiba saja pintu kamar dia dipukul dengan sangat kencang. Suara lantang dan nyaring mengiringi pukulan pada pintu kamarnya.
“Yes honey, masuklah.”
Seorang pengasuh Kenzo membukakan pintu kamar Selena dan bocah kecil itu langsung berlari ke arahnya. Dia naik ke atas ranjang dan langsung memeluk tubuh Selena yang tengah berbaring.
“Mami, I miss you.” Dia mencium Selena, mengusakan wajahnya pada wajah maminya.
Selena balas memeluknya ringan. “Mami juga merindukanmu.”
Kemudian dia bangun dari posisinya berbaring, duduk bersama Kenzo di atas ranjang. Jemari lentik Selena mengusak puncuk kepala bocah kecil yang menatapnya dengan mata bulat dan polos. Selena sedikit menggigit bibir bagian bawahnya saat melihat Kenzo yang begitu mirip dengan pria itu.
Kenapa tidak ada sedikitpun bentuk wajahku yang diturunkan kepadanya? Semuanya milik pria itu.
“Bagaimana dengan les piano?”
Kenzo mengangguk cepat. “Aku menyukainya, grandma berjanji akan mengantarku setiap hari.”
“Benarkah?”
“Yes, Mami.”
“Bagaimana dengan sekolah baru, apakah grandma sudah memilihkan sekolah untukmu?”
Kenzo menggelengkan kepalanya cepat. “Aku tidak ingin pindah sekolah, aku menyukai sekolahku dan teman-temanku.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan teman yang menganggumu, apa kamu juga menyukainya?”
“Aku dan Leon sudah berbaikan, kami juga berteman.”
“Mami, besok aku akan makan siang bersama dengan Leon, apakah Mami ingin ikut?”
“Hah?” Selena terperangah.
“Mami ikut?”
“Mami akan ikut jika tidak sibuk.”
Selena tidak menyangka jika pertengkaran antara anak kecil itu akan berakhir secepat kilat, dan kini mereka bahkan berteman dekat. Sialnya, kini yang mendapatkan musuh adalah Selena sendiri.
Haha, aku sangat ingin menertawai diriku sendiri.
Karena masalah Kenzo, dia bahkan harus dihadapkan dengan pria dari masalalunya.
...............
Setelah makan malam berakhir dan Kenzo sudah masuk ke dalam kamarnya, Selena bergegas bersiap untuk pergi. Wanita cantik itu memakai dress slimfit berwarna hitam lengkap dengan gliter yang membuat dress-nya bercahaya di dal gelap, ramput diikat kuda dan higheels yang lumayan tinggi.
Dia membawa handbagnya saat berjalan keluar, tapi seketika langkahnya terhenti saat namanya dipanggil dengan tiba-tiba.
Selena memutar bola matanya malas kemudian berbalik badan. Marie berdiri di tepi tangga kemudian berjalan mendekatinya.
“Kau tahu besok pertemuan untuk orangtua, kau diwajibkan untuk datang,” kata Marie.
“Gantikan aku pergi, aku memiliki banyak urusan.”
Marie menurunkan pandangannya, putrinya itu selalu seenaknya saja. Terlebih saat ini dia memiliki masalah dengan orangtua murid, dia akan semakin malas untuk pergi ke sekolah Kenzo. Sementara Marie mengkhawatirkan cucu semata wayangmya itu.
Maminya sangat suka bersenang-senang. Dia hanya memikirkan club malam dan minuman beralkohol.
Marie memandangi penampilan Selena, dia bisa menebak kemana putrinya itu akan pergi. Ini sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari, Selena tidak bisa meninggalkan kehidupan bebasnya seperti dulu meskipun dia sudah memiliki seorang putra dan menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar.
Selena berbalik badan dan melenggang pergi keluar mansion setelah seorang pelayan membukakan pintu. Mobil sport mewahnya sudah menyala tepat di depan pintu lalu dia masuk ke dalamnya. Wanita cantik itu mengendarai mobilnya keluar dari gerbang mansion dan melesat membelah jalanan.
Mobil sport mewahnya terhenti di depan sebuah gedung mewah bertuliskan night club. Seorang penjaga bertubuh tegap dengan cepat menghampirinya dan mengambil alih kemudi setelah wanita cantik itu keluar dari mobil. Penjaga itu pergi untuk memarkirkan mobil Selena, sementara dia masuk ke dalam club malam.
“Kau sangat suka pergi ke club malam.”
Suara bariton menghentikan langkah Selena, dia refleks menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria yang sedang menyender pada dinding gedung seraya menghisap batang nikotin miliknya.
Selena terkesiap melihat pria yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Felix membuang sulutan rokoknya setelah berdiri tepat di hadapan Selena. Pria itu tetap tidak memiliki ekspresi apapun ketika menatapnya.
__ADS_1
“Aku memiliki janji temu dengan seseorang, dan kebetulan club malam ini milik sahabatku. Aku tidak suka pergi, hanya saja aku ingin bertemu dengannya.”
Alasan klasik, apakah bertemu dengan seseorang tidak bisa di luar ruangan dan pada siang hari. Haruskah mereka bertemu di tempat seperti itu setiap mereka bertemu.
Felix mengangkat sebelah ujung bibirnya, dan Selena memperhatikan itu. Apakah pria itu sedang mengolok-oloknya.
“Baiklah, aku tidak akan menganggumu.” Felix berkata lalu melangkahkan kaki dan masuk ke dalam.
Selena berdecih malas melihat tingkah dingin pria itu. Dia tidak ingin bertemu dengannya, tapi takdir selalu membawanya untuk bertemu dengan pria itu.
Benar-benar sial!
Wanita cantik itu duduk di depan meja bartender seorang diri. Dia memesan satu gelas cocktail setelah bartender tampan memberitahu Selena mengenai racikan baru miliknya. Dia tentu saja tidak akan melewatkan moment untuk mencobanya.
Dia mengirim pesan pada Jonathan namun pria cantik itu meminta Selena untuk menunggu, karena dia masih memiliki urusan dengan beberapa orang padahal beberapa jam yang lalu dia beberapa kali mengingatkan Selena untuk tidak terlambat.
Urusan apa yang dia miliki? Bermain kuda-kudaan?
Selena meneguk cocktail miliknya dan berkerut kening, tatapanya langsung tertuju pada bartender tanpam yang tersenyum seolah tahu apa yang sedang dirasakan oleh wanita cantik itu.
“Alkhoholnya sangat pekat.”
“Cocok untukmu yang sangat kuat meminum alkhohol, ini tidak akan membuat perutmu kembung karena harus banyak meminum cairan,” lugasnya.
Selena mengigit lidahnya merasakan rasa pait dari minumannya. “Apa nama minuman ini?”
“Minuman dari neraka.”
“Cih.”
Bartender itu terkekeh lalu focus pada pekerjaannya kembali. Sementara Selena mulai bosan menunggu Jonathan yang tidak kunjung tiba. Malam ini juga Jenni tidak berada di sana, wanita cantik itu sibuk mengurusi club malam baru miliknya.
Tatapannya mengedar pada setia sudut club malam yang sangat ramai. Dia ingin tahu kemana perginya Felix tadi, mereka berpisah saat masuk ke dalam club malam tadi, dan dia tidak bisa menemukannya.
Pria itu duduk di atas sofa bersama seorang wanita cantik dan ****.
.
.
.
***Bersambung ....
Semoga selalu suka sama ceritanya yaaa guys*** ....
__ADS_1