
Happy Reading ....
.
.
.
Selena membuat Felix menunggu di ruang tunggu selama kurang lebih setengah jam. Wanita cantik itu beralasan jika dia masih memiliki rapat penting bersama klien. Padahal kenyataanya Selena sedang duduk santai di dalam ruangannya.
Wanita cantik itu sengaja membuat Felix menunggu agar pria itu segera pergi. Selena tidak ingin menanggapi permainannya lebih jauh lagi, dia tidak ingin terlibat. Tapi pria itu sangat berani, hari ini dia bahkan datang ke perusahaan Selena, mungkin besok dia akan datang ke rumahnya. Selena akan gila jika itu benar-benar terjadi.
Sekretaris Selena masuk setelah mengetuk pintu, dia memberikan Selena beberapa berkas pekerjaan. Setelah itu dia permisi untuk pergi.
“Apa pria itu sudah pergi?” tanya Selena yang seketika menghentikan langkah kaki sekretarisnya.
Sekretaris Selena berbalik untuk menjawab, “Tuan Felix masih menunggu, dia berkata jika dia tidak akan pergi sebelum menemuimu, Bu.”
Selena mengeryitkan keningnya, lalu melihat waktu pada arloji di pergelangan tangannya. Pria itu sudah menunggunya selama empat puluh lima menit, namun dia masih bersikukuh menunggu Selena. Sebenarnya apa yang dia inginkan?
Selena beranjak dari kursi kebesarannya, dan melangkah dengan cepat menuju ruang tunggu. Dia membuka pintu dan langsung mendapati Felix sedang duduk santai di sana bersama satu bucket bunga mawar yang dia simpan di atas meja.
Felix menoleh ke arahnya dan tersenyum kecil. Dia mematikan layar ponselnya kemudian memasukannya ke dalam saku jas. Dia beranjak dari duduknya, dan melangkah pelan menuju Selena. Berdiri tepat di depan wanita cantik itu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Selena, masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintu ruang tunggu dengan rapat.
“Menunggumu,” kata Felix dengan santai.
“Pergilah, aku tidak mau kau di sini,” usir Selena dengan penuh penekanan.
Tapi Felix justru mendekat, merangkul pinggul sintal Selena untuk mendekat dan menempel pada tubuhnya. Dia menyeringai menatap wanita cantik di dalam dekapannya.
“Kenapa aku harus pergi? Aku merindukanmu.” Dia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajah pada wajah Selena, namun Selena segera menghindarinya.
Selena berdecih malas. “Pergilah atau aku akan membawa security untuk menyeretmu keluar.”
Felix terkekeh samar mendengar ancaman dari wanita cantik itu. “Bagaimana aku bisa pergi sementara kau masih nyaman berada di dalam pelukanku?”
__ADS_1
Selena menatapnya sesaat dan baru menyadari jika tubuhnya masih dalam dekapan Felix. Dia segera mendorong pria itu menjauh agar melepaskan pelukannya. Pelukan mereka terlepas dan Selena langsung mengusap bajunya yang kusut akibat pelukan itu.
Felix mengambil bucket bunga mawar yang dibawanya, kemudian dia memberikannya kepada Selena. “Untukmu.”
Sembari menerima bunga tersebut Selena bergumam rendah, “Bunga mawar, kenapa dia tidak memberiku bunga saham, mungkin aku akan lebih senang menerimanya.”
Felix mengeryitkan keningnya, mencoba mendengar apa yang sedang wanita cantik itu gumamkan dengan nada suara yang rendah. Dia mencoba memahami ketika hanya kata 'saham' yang terdengar.
“Aku akan memberikan apapun yang kau minta,” kata Felix, dan Selena langsung melihat ke arahnya.
“Tentu saja aku ingin kau menjauh dariku,” ucap Selena, membuat Felix terdiam dan hanya menatapnya intens. Mendapati tatapan seperti itu membuat Selena menjadi tidak enak hati.
Pria ini sangat mengerikan!
Ponsel Selena berdering, dia mendapat panggilan suara dari guru sekolah Kenzo. Selena langsung menerima panggilannya setelah menyimpan buket bunga yang dia bawa ke atas sofa.
'Bu Selena, kami ingin mengabarkan jika Kenzo pingsan di sekolah dan di larikan ke rumah sakit.'
“Bagaimana bisa?” ucap Selena dengan perasaan resah. Bahkan Felix yang melihatnya menjadi penasaran kabar apa yang sedang Selena terima.
Rumah sakit? Felix mengeryitkan keningnya.
Selena berjalan cepat keluar dari ruangan. Felix menyusul langkahnya dan segera mencekal pergelangan tangan Selena untuk menahannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Felix.
“Kenzo, dia masuk rumah sakit.”
“Aku akan pergi denganmu,” kata Felix yang kemudian menarik lengan Selena untuk segera pergi menuju mobilnya.
...............
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Felix hanya focus mengendarai mobilnya, sementara perasaan Selena menjadi sangat tidak tenang. Dia mengkhawatirkan Kenzo sampai-sampai kepalanya juga ikut sakit.
“Semuanya akan baik-baik saja,” kata Felix menenangkan Selena. Felix mengenggam telapan tangan Selena dengan hangat, mencoba untuk menenangkan perasaan Selena yang gundah.
Ketika telapak tangan Felix menyentuh lengannya, Selena merasakan kehangatan yang belum pernah dia rasakan selama ini. Genggaman tangan yang hangat, kata-kata yang menenangkan hatinya, seseorang yang bisa dia andalkan untuk berkeluh kesah, Selena tidak pernah mendapatkannya. Sejak dulu, dia selalu menekan semua perasaanya seorang diri.
__ADS_1
Selena membesarkan Kenzo seorang diri di dalam tangis dan tawa bocah lelaki itu. Bagaimana hancur perasaannya ketika putranya jatuh sakit, dia hanya memendamnya sendiri. Tapi saat ini Selena sepertinya merasakan sosok hangat yang hadir untuk mengisi kekosongannya selama ini, sosok itu adalah Felix. Tapi dalam sekejap Selena sadar jika dia tidak bisa mengharapkan pria itu.
“Aku tahu.” Selena menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Felix. “Bukan satu kali aku mengalami situasi seperti ini. Sangat sering,” imbuhnya.
Entah kenapa perkataan Selena membuat jantung Felix terasa sakit seolah tidak dapat menerimanya. Dia sangat ingin mengungkapkan apa yang selama ini dia simpan di dalam pikirannya. Ketidakpastian membuatnya enggan untuk mengungkap itu semua.
Setelah setengah jam akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Selena langsung pergi menuju resepsionis untuk bertanya di mana putranya di rawat. Perawat itu memberitahunya nomor kamar Kenzo dan jalan menuju kamar rawat tersebut. Dia langsung pergi ke sana.
Selena membuka kamar rawat dengan tergesa-gesa. Dia menarik nafas panjang saat melihat Kenzo sedang duduk di atas ranjang sembari bermain robot kesukaanya. Di samping bocah kecil itu sudah ada Marie dan juga Johan.
“Mami!” seru bocah kecil itu.
Mendengar kabar jika Kenzo pingsan di sekolah membuat Selena hampir kehilangan akalnya. Dia takut jika kondisi bocah kecil itu parah dan harus menjalani perawatan yang serius. Tapi siapa sangka jika kini yang dikhawatirkannya terlihat baik-baik saja, bahkan sedang bermain dengan gembira.
Selena melangkah menuju ranjang bocah kecil itu, lalu memeluknya ringan. Dia mengusak puncuk kepala Kenzo dan menciumnya penuh kasih sayang.
“Kau baik-baik saja?” Selena melepaskan pelukan, menatap mata bulat di hadapannya.
“Aku baik-baik saja, Mami.”
“Kau membuat mami khawatir.” Selena memeluk tubuh bocah kecilnya lagi.
“Maaf, Mami.”
Melihat kehangatan ibu dan anak itu membuat hati Felix tersentuh. Dia dapat mengetahui sebesar apa cinta yang Selena miliki untuk putranya Kenzo.
“Paman Felix, paman datang?” Kenzo menunjuk ke arah Felix, dan saat itu juga Selena baru sadar jika pria itu ikut dengannya.
Marie dan Johan memandang satu sama lain, kemudian beralih memandang Felix.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1