
Happy Reading ....
.
.
.
“Seorang pria yang aku temui di club malam, kami tidur bersama beberapa kali dan aku mengandung putraku.”
“Sangat mudah memiliki putra. Apa kau berencana untuk menambah anak lagi?”
“Apa?”
“Bagaimana jika aku memberimu satu?”
“Apa kau gila? Urus saja anak dan istrimu sendiri.”
“Kita bisa melakukannya secara diam-diam, aku melihat keahlianmu dalam membesarkan anak seorang diri. Mari kita memilikinya satu.”
“Sialan kau!”
Selena marah saat pria itu menganggap enteng dirinya, dan lagi penghargaan yang Felix berikan. Apa katanya, keahlian membesarkan anak seorang diri. Cih, itu sangat aneh ketika terdengar di telinga. Tapi pria itu justru merasa senang dan beberapa kali menunjukan senyuman dan tawanya, dia benar-benar suka menggoda Selena.
Wanita cantik itu mematikan sulutan rokoknya dan berbalik pergi duduk ke atas sofa tunggal. Felix tersenyum melihat tingkat Selena dan menggelengkan kepalanya samar. Dia pergi menuju kulkas untuk mengambil satu botol redwine di dalam sana yang telah tersedia khusus untuk tamu hotel.
“Alkhohol?” tanya Felix seraya berjalan mendekat dan duduk di sofa di samping Selena.
Selena menatapnya tidak suka. Pria itu membuka tutup alkhohol dengan tangannya lalu menegak tanpa gelas. Selena menelan salivanya. Ketika pria itu menyodorkan botol alkhohol tersebut Selena mengabaikannya. Dia tahu dia tidak bisa mabuk sedangkan dirinya masih berada di dalam satu kamar bersama Felix, Selena takut tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Sementara Felix hanya tersenyum setelah mendapatkan penolakan dari Selena. Wanita itu sedang kesal dan favoritnya adalah alkhohol, pasti dia sedang menahan diri saat ini. Felix sengaja untuk membuatnya iri dengan terus menegak alkhohol dari gelasnya langsung, dan itu merupakan kebiasaan Selena.
Pria ini sangat menyebalkan!
__ADS_1
“Hotel ini menyediakan alkhohol tahun 1881.” Felix melihat botol alkhohol yang sedang digenggamnya, dan Selena meliriknya dengan kesal terlebih saat dia mendengar tahun yang Felix katakan. Wine dengan tahun itu adalah favoritnya.
Felix melirik Selena dan menyodorkan botol alkhoholnya kembali. “Kau yakin tidak mau?” tanya Felix.
Selena menggertakan giginya dan langsung menjawab dengan tegas. “Tidak.”
Aku tidak akan terjebak.
Selena duduk di kursinya dengan perasaan bosan. Dia tidak membawa ponselnya yang biasa dia gunakan untuk menghilangkan suntuk. Matanya semakin mengantuk, namun Selena enggan untuk memejamkan matanya karena dia sedang berada dalam satu kamar bersama Felix.
Sementara Felix santai melihat pemandangan kota malam di luar jendela. Alkhohol sama sekali tidak mempengaruhinya meskipun dia hampir menghabiskan setelah botol minuman itu. Dia masih sadar sepenuhnya meskipun matanya sudah mulai memerah. Dia menegak minuman itu lagi dan lagi sampai tetes terakhir.
Suara dentingan botol dan meja kaca seketika membuyarkan lamunan Selena saat pria itu menyimpan botol kosong ke atas meja. Tatapan Selena langsung mengarah padanya dan kerutan halus muncul di dahi Selena saat melihat Felix yang telah menghabiskan satu botol alkhohol dalam beberapa menit saja.
Peminum yang baik!
“Apa kau mabuk?” tanya Selena, menegakan posisi duduknya dan memasang ekspresi waspada. Dia khawatir jika Felix mabuk maka pria itu akan kehilangan kesabaran dan mungkin bisa menerkam Selena kapan saja.
Hening, Felix tidak menjawab apapun selain terus memandang ke luar jendela dengan tatapan tajamnya yang kosong. Selena mengerutkan dahinya semakin dalam, dia menatap pria itu dengan tidak suka.
Felix meliriknya. Tatapan tajam pria itu seperti pedang tajam yang menghunus dada Selena sangat dalam. “Kenapa kau berlari? Aku tidak akan mengganggumu.”
Lalu Felix pergi menuju lemari es dan mengambil satu botol alkhohol lagi. Dia membuka itu dan menegak isinya langsung tanpa gelas.
Selena menelan salivanya susah payah. Damn! Apa dia ingin minum lagi?
Felix membawa minumannya dan duduk di tepi ranjang, dia tidak memperdulikan Selena yang berdiri jauh di depannya. Dia tahu Selena begitu waspada. Dia menepuk-nepuk sisi ranjang dan tersenyum kepada Selena.
“Come here, Baby."
Selena berdecih malas dan memutar bola matanya kesal. Sementara Felix mulai berbaring di atas ranjang setelah membuka beberapa kancing kemejanya. Dia meletakan botol minumannya ke atas nakas dan mulai memejamkan mata.
Selena masih teguh pada posisinya berdiri jauh dari ranjang. Beberapa menit kemudian ketika tidak terdengar suara dari Felix lagi dia menolehkan wajahnya pada pria itu dan mendapatinya sudah terlelap. Selena memastikan dengan melihat nafas teratur Felix.
__ADS_1
Kemudian dia melepaskan higheelsnya dan membiarkan itu tergeletak di lantai dengan acak. Dia mulai melangkahkan kakinya menuju Felix. Kini dirinya sudah berada tepat di samping ranjang pria itu.
Tatapan Selena intens menatap wajah pria tampan itu. Rambutnya yang tidak teratur, wajah putih sedikit memerah, jambang dan kumis tipis, hidung mancung serta bibirnya yang sintal dan merah. Selena menelan salivanya susah payah.
Perlahan dia duduk di tepi ranjang dan masih dengan tatapan yang sama. Jemarinya menepikan beberapa helai rambut yang berada pada wajah Felix, lalu dia mengelus pelan dahi dengan sedikit peluh pria tampan itu.
Dia Kenzo versi dewasa.
Ujung bibir Selena terangkat ke atas, lalu terkekeh samar. Dia membayangkan bagaimana jika Felix memiliki amarah yang sama seperti Kenzo, maka itu akan menjadi hal yang sangat rumit bagi Selena jika dia memiliki dua pria rewel dalam hidupnya. Tapi Marie selalu mengatakan jika sikap amarah Kenzo menurun dari Selena.
Selena sadar jika pria itu takkan pernah bisa menjadi miliknya meskipun dia menginginkannya. Dia sudah memiliki keluarga sendiri, dan Selena masih setia kepada phobia yang menjadi hantu di dalam kehidupannya. Takdir mereka sangat rumit.
“Aku telah mengambil sesuatu darimu tanpa ijin, tapi aku akan menjaganya dengan baik. Aku hanya berharap kita tidak pernah bertemu lagi,” gumam Selena rendah.
Dia menarik telapak tangannya dari wajah Felix, Selena tersentak saat tiba-tiba Felix bangun dan membuka mata, mencengkram pergelangan tangan Selena dengan sangat kuat. Dia menatap Selena dengan mata tajamnya.
“Apa yang telah kau ambil dariku?” tanya Felix dengan suara parau.
Selena tertegun, ternyata sejak tadi dia tidak tidur dan mendengarkan semua perkataan Selena padanya. Beruntung Selena tidak mengatakan dengan jelas jika dia telah memiliki anak dari pria itu. Jika tidak mungkin Felix akan marah atau yang lebih parah pria itu akan menuntutnya.
“Apa yang kau ambil?” tanya Felix lagi. “Apa kau mencoba mengambil passcard hotel? Kau tidak bisa mengambilnya.”
Setelah mengatakan itu Felix menarik lengan Selena dan membuat wanita cantik itu jatuh ke atas dadanya. Dia memeluk Selena dengan kedua tangan.
Ternyata dia mabuk ... baguslah. Ketika sadar nanti dia sudah melupakannya.
.
.
.
***Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, dan juga tambahkan ke dalam favorit yaaaaa***.