
Happy Reading ....
.
.
.
“Sepertinya dia sudah menemui kakakku.”
Renee memperlihatkan layar ponsel yang berupa artikel mengenai Felix kepada Selena. Wanita cantik itu cukup tertegun melihatnya. Namun sebisa mungkin dia mengendalikan dirinya di hadapan Renee.
“Sepertinya mereka sedang membicarakan masalalu,” ucap Renee sengaja agar Selena merasa cemburu.
Dia melirik ke arah Selena. Wanita cantik itu bahkan sedang meminum coffee miliknya dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda amarah atau kecemburuan dari wanita itu.
Dia tidak cemburu?
“Selena, apakah kau baik-baik saja?” tanya Renee memastika dengan ekspresi bingungnya.
Selena menyimpan gelas coffee miliknya ke atas meja. “Ya, aku baik-baik saja,” jawab Selena. “Ada apa?”
“Tidak ... hanya saja, apa kau tidak merasa cemburu?”
Selena terkekeh samar. “Cemburu? Untuk apa aku cemburu.”
“Selena, apakah setelah mengetahui semuanya kau tetap tidak takut ditinggalkan?” cecar Renee terus bertanya.
“Aku tidak pernah memaksa sesuatu yang ingin pergi,” lugas Selena dengan penuh keyakinan.
**********
Hari ini, Luciane sengaja mengajak Felix untuk bertemu di sebuah caffee tempat favorit mereka dulu. Sebenarnya Luciane tidak terlalu berharap dengan kedatangan Felix. Dia tahu jika pria itu masih marah kepadanya.
Tetapi kenyataannya hari ini Felix datang. Rasa kecewa Luciane mendadak hilang saat melihat pria itu masuk ke dalam Caffee tersebut. Dia langsung menyambut Felix dengan senyuman.
“Aku sudah memesan minuman kesukaanmu,” kata Luciane, tapi Felix menanggapinya dingin.
Alasan Luciane mengajak bertemu dengan pria itu ialah, dia akan jujur kepada Felix dengan alasannya yang tiba-tiba menghilang dari pria itu. Luciane berharap jika Felix akan mengerti dengan situasinya, dan hubungan mereka kembali membaik.
“Felix ... sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu,” ucap Luci.
__ADS_1
Felix menatapnya intens. “Katakan.” Dia berbicara dengan nada dingin dan raut wajah tanpa ekspresinya. Padahal sebelumnya, wajah itu selalu berwarna ketika sedang bersama Luci.
“Aku ingin memberitahumu sesuatu, alasan kenapa aku tiba-tiba pergi dan menghilang.”
Felix menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Dia menegakkan tubuhnya, dan duduk seraya menatap Luci dengan lekat.
“Aku tahu semuanya. Renee memberitahuku,” ungkap Felix.
Luciane sedikit tercengang. Ternyata pria itu sudah tahu alasan kenapa dia pergi meninggalkan Felix. Mungkin itulah sebabnya Felix mau bertemu dengannya hari ini.
Tiba-tiba Felix mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah benda kecil melingkar yang beberapa hari lalu Luciane berikan kepadanya. Lalu pria itu memegang lengan Luciane, dan memberikan cincin tersebut kembali pada wanita cantik itu.
Luciane menatapnya dengan penuh pengharapan. Apakah ini artinya pria itu akan menerimanya kembali, dan memaafkan semua kesalahannya. Karena Felix mengembalikan cincin itu kepadanya, berarti hubungan mereka akan kembali seperti semula.
Jika semua harapan Luci terjadi, maka perjuangannya selama beberapa tahun ini tidak akan sia-sia. Dia dengan susah payah membuat perusahaannya sendiri demi bisa memiliki tempat yang sejajar dengan Felix.
“Apa kau memaafkanku?” tanya Luci untuk memastikan.
“Ya.” Felix mengangguk singkat.
Luciane tersenyum gembira, tatapannya nanar seolah tidak percaya jika pria itu akan kembali kepadanya. Dia benar-benar merasa senang, hubungan mereka akan kembali seperti semula. Sekarang yang sangat ingin Luciane lakukan adalah memeluk pria itu dengan erat.
“Tidak masalah Luciane, kau berhak memilih jalan hidupmu sendiri. Aku harap, kau memiliki kehidupan yang lebih baik lagi ke depanya,” kata Felix.
Felix melepaskan genggamannya pada tangan Luci, menarik kembali lengannya menjauh. Di saat yang bersamaan, senyuman merekah pada bibir Luciane seketika memudar saat Felix mendengar Felix mengatakan semua hal itu sekaligus melepaskan genggaman pada tangannya.
“Kita sudah berakhir, Luciane. Kau bisa menyimpan cincin itu atau membuangnya. Itu sudah menjadi milikmu,” lugas Felix.
Wajah Luci seketika memanas. Air mata mengenak pada pelupuk matanya. Perih, hatinya seperti tersayat dan tertusuk oleh jutaan pisau. Dia seketika terdiam dan memaku.
“Felix ... apa kau benar-benar akan melupakan aku?” lirih Luciane, menatap Felix dengan air mata yang luruh membasahi wajah cantiknya.
“Hubungan kita semenjak kau memutuskan untuk pergi, Luciane.”
“Tapi Felix-”
Kalimat Luciane tersekat ketika Felix mengatakan, “Aku datang ke sini hanya untuk memperjelasnya. Dan, terimakasih, Luciane.”
Setelah mengatakan itu, Felix beranjak dari tempat duduknya. Berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan Luciane seorang diri di meja Caffe tersebut.
Air mata luruh membasahi wajah cantiknya. Dia tidak menyangka jika pria yang selalu mencintainya selama ini akan pergi meninggalkannya begitu saja. Memutuskan segala ikatan cinta mereka dengan tidak berperasaan.
__ADS_1
Apakah kau tidak bisa memberikanku kesempatan kedua?
Bukankah kepergianku juga menyangkut dirimu, Felix?
Aku melakukan semua ini demi dirimu Felix!
Luciane menangis dengan tersedu-sedu setelah kepergian Felix. Meratapi rasa sakit di hatinya karena ditinggalkan begitu saja. Dia tidak sanggup menerima kepergian pria itu, dia tidak bisa menerima keputusan yang telah dilakukan oleh Felix setelah sekian banyak perjuangannya.
Felix, kenapa kau sangat tidak berperasaan? Selama bertahun-tahun, aku hanya mencintaimu dan mengharapkanmu saja. Aku tidak pernah mencintai siapapun selain dirimu. Tapi kau? Apa kau sudah mulai bersenang-senang dengan wanita lain? Aku tidak bisa menerima itu semua!
**********
Selena sedang memakan potongan buah di atas ranjangnya. Malam ini dia sangat malas untuk turun dan makan malam bersama keluarga. Karena kedua orangtuanya itu akan sibuk mempertanyakan artikel yang beredar dan selalu menyangkut dirinya.
Aku sudah muak.
Dia memangku MacBook untuk bermain game online. Tidak bekerja. Pikirannya sedang kacau dan dia tidak ingin dibuat pening oleh pekerjaan. Sementara itu ponsel di sampingnya terus berdering, Felix menghubunginya lewat panggilan suara. Selena mengabaikannya, dia lebih memilih focus untuk terus bermain.
“Damn!” umpat Selena kesal saat permainan telah berakhir dan dia harus menerima kekalahannya.
Dia menyambar ponsel yang terus saja berdering itu. Menekan tombol hijau untuk menerima panggilan lalu mendekatkan benda pipih itu di depan telinga.
'Temui aku pada jam makan siang besok.'
“Baiklah.”
Selena menutup sambungan teleponnya sebelum Felix mengatakan sesuatu yang lain. Dia tidak ingin memperdulikan pria itu, karena akhir-akhir ini hidupnya merasa tidak tenang dengan kehadirannya. Akan lebih baik jika pria itu pergi saja.
Tiba-tiba Selena memikirkan tentang ajakan pria itu. Setelah bertemu dengan mantan kekasihnya, pria itu ingin bertemu dengan Selena. Mungkin karena dia ingin mengakhiri hubungannya bersama Selena. Mungkin saja dia tidak bisa melupakan wanita yang telah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun, dan lebih memilih kembali pada pasangan yang lama daripada memulai hidup dengan pasangan barunya.
Baguslah jika seperti itu. Aku akan terbebas dari ikatan-ikatan menyebalkan itu.
.
.
.
Bersambung ....
Jangan lupaa untuk like, koment untuk terus menyemangati Author ya.
__ADS_1