
Happy Reading ....
.
.
.
Selena beringsut turun dari ranjang, memakai bra, dan memasang gaunnya kembali. Dia merapikan rambutnya, memoleskan make up tipis pada wajahnya yang sebelumnya luntur karena peluh. Dia melakukannya dengan cepat.
Sementara Felix sudah siap dengan kemeja dan jas. Raut wajahnya masih tajam saat menatap Selena yang tiba-tiba menghentikan permainannya. Dia tidak bisa berpikir jika wanita itu bisa menghentikan semuanya di tengah jalan seperti itu, dan malah bersikap biasa saja. Apakah dia tidak merasakan apapun yang mengganjal?
Wanita cantik itu sudah siap dengan semuanya. Dia berbalik dan melangkah menuju Felix, lalu memberikan pria itu senyuman.
“Ayo kita keluar,” ajaknya, lalu lengannya terangkat ke atas untuk sedikit merapikan rambut Felix. “Maaf karena membuat rambutmu berantakan,” ucapnya dengan senyuman, kemudian berlalu pergi dari hadapan Felix.
Felix berdecak samar melihat tingkah wanita itu. Dia bersumpah di dalam hatinya, jika saatnya tiba nanti, Felix tidak akan mengijinkan Selena untuk tertidur sepanjang malam. Dia akan terus mengajaknya bermain hingga tidak bisa turun dari ranjang karena Selena berhasil menyiksanya malam ini.
“Hei, kenapa kau pergi sangat lama?” tanya Jonathan.
“Kepalaku sakit,” dalih Selena dengan raut wajah tenang.
“Kau terlihat baik-baik saja.”
Felix baru saja datang, merangkul bahu Selena dengan erat. “Apakah kepalamu masih sakit?”
Selena menoleh untuk menatapnya. “Ya.”
“Baiklah, jemputan kita akan segera sampai," ucap Felix, membuat Selena menatapnya dengan bingung. Jemputan?
Tidak lama kemudian, suara helikopter terdengar semakin mendekat. Benda terbang dengan baling-baling di atasnya itu mendarat tepat di atas kapal pesiar mewah yang menyediakan tempat khusus untuknya mendarat. Angin malam terasa semakin kencang akibat adanya benda tersebut.
Semua orang menatap dengan kagum, bertanya-tanya siapa yang telah mendaratkan helikopter itu di sana, yang pastinya orang itu bukanlah orang biasa.
Lalu, seorang pria berpakaian jas rapih keluar dari helikopter tersebut. Pria tampan bertubuh tegap itu berjalan diiringi semua sorot mata yang tertuju padanya. Dia berjalan menuju Felix, menundukan setengah badannya dengan hormat.
“Felix Alexander, pria itu membuat kehebohan,” kata seseorang di sana.
“Lord! Pria ini sangat keren, dia bahkan memiliki helikopter sendiri.”
__ADS_1
“Apa yang tidak bisa dimiliki oleh orang kaya? Wanita yang menjadi pasangannya akan sangat beruntung tujuh turunan.”
Alice dan Duke yang masih belum habis dengan pertengkaran mereka mencoba menutupinya dari semua orang dengan berjalan bergandengan, dan melihat kehebohan di depan mata. Keduanya bisa mendengar beberapa orang sedang bergosip.
“Felix Alexander, pria itu begitu hebat,” gumam Alice, dan Duke menyadarinya. Pandangan Duke terlihat semakin muak ketika menatap wanita di sisinya.
“Dia sangat hebat, oleh karena itu dia bisa mendapatkan hati Selena yang tidak kalah hebat darinya. Wanita cantik, independen, dan elegant,” ungkap Duke. “Felix memilih wanita yang tepat, dia tidak akan memilih wanita sembarangan,” imbuhnya sengaja menyindir.
Alice mendengkus kesal mendengar ucapan pria di sampingnya yang terdengar menyindir. Namun dia mencoba menutupi kekesalannya agar orang lain tidak menyadari hubungan buruknya bersama Duke. Di depan orang, Duke adalah kebanggaanya, dan hubungan mereka adalah permata yang berharga.
Sementara itu, pria bertubuh tegap dan rapih tadi menghampiri Felix. “Tuan dan Nona, saya mempersilahkan untuk naik,” kata pria itu dengan sopan.
Felix merangkul bahu Selena lalu membawanya untuk berjalan bersama. Selena tidak bisa melakukan apapun. Sebelum pergi dia sempat menoleh pada Jenni dan Jonathan yang sedang melihatnya sembari ternganga lebar.
“Jo, bagaimana Felix menurutmu? Dia sangat keren, bukan?” tanya Jenni.
“Pria itu benar-benar hebat,” puji Jonathan seraya melihat ke arah Felix yang sedang merangkul Selena tanpa berkedip.
Selena mendekatkan wajahnya pada Felix, lalu berbisik, “Kenapa kau membuat keributan di sini?”
Dibandingkan pesta reuni yang menghebohkan, tingkah Felix lebih mengejutkan. Pikir Selena.
“Ini belum apa-apa, kaributan akan dimulai setelah ini, bersiaplah Selena,” kata Felix dengan senyuman, dan Selena berkerut kening heran.
Dari atas, Selena bisa melihat semua orang yang berada di atas kapal pesiar itu. Dia juga bisa melihat Alice dan Duke yang sedang menatap ke arahnya. Untuk Alice, Selena merasa sangat senang jika wanita itu bisa melihat kesombongannya.
Kau tidak bisa berkutik, Alice!
Meskipun bukan pertama kali Selena menaiki helikopter, namun terbang di atas lautan lepas adalah hal pertama baginya. Terlebih di malam hari, dia bisa melihat hamparan awan yang berhadapan dengan lautan. Benar-benar sangat indah.
Secara tidak sadar, lengan keduanya masih saling mengenggam. Bahkan jemari lentik Selena yang bertaut pada jemari Felix mencengkram begitu erat seolah tidak mau terlepas. Felix tidak akan menegurnya, dia akan membiarkannya terus seperti itu.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka mendarat. Keduanya turun tepat di atas atap menara gedung perusahaan Alexander. Felix menuntun Selena, memastikan jika wanita cantik itu turun dengan sempurna.
“Perusahaanmu?" tanya Selena.
“Ya.”
Felix mengajak Selena menuju lift sembari terus menuntun tangannya. Pada saat itu Selena tersadar jika dia sudah terlalu lama mengenggam tangan Felix, dia langsung melepaskannya, dan seketika membuat langkah pria itu terhenti.
__ADS_1
“Di sini sudah tidak ada orang, kita tidak perlu melakukan sandiwara.”
Felix tersenyum simpul, dia kembali meraih telapak tangan Selena dan mengenggamnya dengan erat, memastikan jika genggaman itu tidak akan terlepas lagi.
“Hubungan kita nyata, kita tidak sedang melakukan sandiwara,” kata Felix, kembali berjalan sembari menuntun wanita cantik itu.
“Tidak, aku belum memastikan sesuatu,” ujar Selena.
Felix seketika menghentikan langkahnya, berbalik dengan cepat lalu mencium bibir Selena secara tiba-tiba, membuat Selena tidak sempat bertindak.
“Aku akan menunjukannya padamu, dan kepada dunia. Kau akan menjadi milikku, Selena.”
Selena tertegun melihat kegigihan pria itu.
Mereka menuruni gedung tinggi itu menggunakan lift, dan sampai tepat di depan gedung. Sebuah mobil mewah lengkap dengan supir tengah menunggu kehadiran mereka. Felix meminta supir itu untuk pergi, dan dia akan mengendarai mobilnya sendiri. Felix masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk Selena.
“Aku ingin pulang," kata Selena tepat saat mobil itu melaju.
“Tentu, Nona. Aku akan mengantarmu pulang.”
Selena memutar bola matanya malas. “Siapa tahu kau akan menculik ku.”
Felix tersenyum simpul. “Apa kau berharap itu terjadi?”
“Tidak sama sekali.”
Mobil mewah itu melesat membelah jalanan malam yang sudah sangat sepi. Setelah sampai tepat di depan kediaman Geovandra, Selena turun dengan ditemani Felix.
“Pergilah, aku akan masuk.”
“Aku akan memberikan kejutan untukmu besok pagi, aku harap kau menyukainya.”
Selena berkerut kening heran. Kejutan apa yang akan dia berikan?
.
.
.
__ADS_1
Bersambung .....
Coba tebak kejutan apaaa guysss yuhuuuuuuu.