
Pria itu mengetuk pintu dengan tidak sabaran. Sampai pintu tersebut dibuka dari dalam, dan menampilkan seorang wanita cantik di dalamnya. Dia mendorong wanita tersebut ke tepi, lalu dirinya masuk dengan cepat.
Dia melemparkan berkas yang dibawanya ke atas meja dengan kasar. Membuat suara lantang, dan membuat lembaran kertas itu berserakan.
Wanita itu terkejut melihat ekspresi pria mengamuk itu. Dia melihat berkas yang terserak di atas meja, menerka apa yang tertera di sana.
“Felix, ada apa?” tanya Luciane dengan perasaan kalut dan gelisah.
“Menjauhlah dari kehidupanku dan Selena, Luci!” ucap Felix penuh dengan penekanan.
Luciane mendecih pelan. Sebelumnya dia tidak pernah melihat pria itu marah seperti ini. Tapi hanya karena wanita itu, dia memarahinya dengan sangat kasar.
“Apa wanita itu mengadu padamu?” tanya Luci. “Apa yang dia adukan kepadamu Felix sehingga membuatmu marah seperti ini?”
“Apa yang harus dia adukan kepadaku? Dia bahkan tidak pernah memerdulikanmu, Luci.”
“Hanya saja kau terus menganggunya, mengangguku, dan itu membuatku muak!” imbuh Felix dengan penekanan.
Luciane tertegun, menelan salivanya. Dia tidak menyangka jika Felix akan berteriak kepadanya seperti itu.
“Aku tidak pernah berniat menganggumu Felix,” ucap Luci dengan kini nada gelisah. “Aku hanya ingin kau melihat ke arahku sekali saja, melihat perjuanganku. Apa aku salah?”
Felix tersenyum simpul, dan membuang pandangannya sekejap lalu memandang Luciane kembali. “Perjuangan? Perjuangan apa yang telah kau lakukan, Luciane?”
Wajah Luciane memerah, matanya berubah menjadi nanar. “Aku memperjuangkanmu selama bertahun-tahun Felix! Aku bekerja keras untuk berada di atas agar sebanding denganmu! Kini aku telah kembali, kenapa kau menolakku?” pekiknya lantang dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
“Itu urusanmu Luciane! Tidak ada yang memintamu untuk melakukan itu!”
“Ya! Tapi agar merasa diriku lebih baik lagi, aku melakukan semuanya Felix! Semuanya hanya untukmu!” pekik Luciane.
“Untukku? Atau untuk dirimu sendiri?”
Felix mengalihkan pandangannya pada beberapa lembar berkas yang terserak di atas meja. Dia kembali menatap Luciane dengan tatapan tajamnya.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang selama ini kau lakukan selama kau menghilang?”
“Kau lebih memilih menjadi wanita simpanan pria kaya untuk mendapatkan banyak uang, bukan? Kau lebih memilih kehidupan kotor itu Luciane.”
Isakan tangis Luciane seketika terhenti saat Felix mengatakan semua hal itu dengan lugas. Pria itu ternyata mengetahuinya.
“Aku rasa memang benar. Lebih baik kau urus dirimu sendiri, dan jangan pernah mengangguku lagi Luci.”
Felix berlalu pergi meninggalkan Luciane yang masih terdiam memaku di tempatnya. Hatinya tidak karuan saat tahu jika Felix sebenarnya mengetahui semua hal yang dia lakukan semenjak dirinya memutuskan untuk menghilang.
__ADS_1
Tubuh ramping Luci melemas dan ambruk seketika di atas lantai. Kakinya tidak sanggup untuk menopang tubuhnya kembali. Seluruh tubuhnya gemetar menerima kenyataan jika sekarang harapannya untuk bersama Felix hilang.
Dia melihat ke atas meja, dan beberapa lembar berserakan di sana. Lengannya meraih lembaran kertas itu untuk melihat dan membacanya.
Ternyata Felix membawa bukti pernikahan, identitas Luciane di luar negeri, dan juga beberapa foto kedekatannya bersama beberapa pria.
Ternyata kau mengetahui itu semua Felix ....
Tapi aku melakukan itu untukmu ... hanya untukmu ....
“AKU MELAKUKANNYA UNTUKMU
FELIX! KENAPA KAU TIDAK MENGHARGAI ITU!”
Luciane berteriak, menangis, dan menyobek semua lembaran kertas serta foto yang membuatnya berhamburan di atas lantai. Dia frustasi, depresi, dan kehilangan akalnya memikirkan bagaimana Felix menolaknya secara mentah-mentah.
Tidak lama setelah itu ponselnya berdering. Sebuah nama tampir pada layar ponsel itu dan membuat Luciane menyeimbangkan suaranya kembali.
“Ya, ada apa?”
'Kapan kau akan kembali? Apa kau belum puas bermain-main di sana?'
Luciane menggertakan giginya dengan kesal kemudian menjawab, “Aku akan segera kembali.”
...****************...
Peraturan tersebut sudah turun temurun. Lebih tepatnya dibuat oleh Johan. Ayah dari Selena Geovandra itu tidak ingin karyawan perusahaannya mendapatkan fasilitas yang buruk dari perusahaan.
Da menarik nafasnya dalam-dalam. “Selesai.”
Seorang pria yang daritadi duduk berdiskusi dengannya mohon pamit untuk pergi. Kini tinggalah Selena seorang diri di sana.
Seketika ponsel Selena berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Felix.
'Aku sudah membereskannya.'
Kerutan kening pada dahinya muncul saat pria membaca isi pesan dari pria itu. Apa yang sudah dia bereskan?
Wanita cantik itu mengabaikannya, dan tidak membalas pesan Felix satu katapun.
......................
Felix menyimpan ponselnya ke atas meja dengan posisi telungkup. Dia menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi dan mengurut pangkal hidungnya yang pening.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka jika wanita selembut Luciane bisa melakukan hal seperti itu,” gumam Zayn yang sedang duduk di sofa di dalam ruangan Felix.
“Ternyata benar, seseorang bisa melakukan apapun demi uang," imbuhnya.
Terlepas dari apa yang dilakukan Luciane kepadanya. Di masalalu wanita itu adalah wanita yang paling Felix cintai. Dia tidak memandang dari mana Luciane dibesarkan, keluarga, ataupun kekayaan. Namun pemikiran wanita itu sendiri yang menghancurkan semuanya.
“Apa kau masih mencintainya, Kak?” tanya Zayn tiba-tiba.
Felix menegakan kembali tubuhnya, lalu beranjak berdiri meninggalkan kursi kebesarannya.
“Tidak,” jawab Felix singkat.
“Jika dipikirkan, wanita itu melakukan semuanya demi uang dan demi dirimu,” lugas Zayn.
“Tetapi tidak ada yang memintanya melakukan semua itu. Kau memiliki cukup uang dan jika dia mau, dia bisa meminta kepadamu. Kenapa Luciane sebodoh itu?”
Felix memakai stelan jas miliknya, dan mulai merapihkan penampilan. Sementara itu Zayn memperhatikan.
“Kau akan pergi?” tanya Zayn yang seketika beranjak juga dari kursinya.
“Ya.” Lagi-lagi jawaban singkat yang Zayn dengar.
“Ke mana?”
“Melihat gedung.”
“Gedung? Untuk apa?”
Felix meliriknya sekilas. “Pernikahanku.”
Setelah itu, Felix keluar dari ruangannya. Meninggalkan Zayn seorang diri. Dia pergi sebelum Zayn sempat bertanya lebih detail lagi.
Felix telah memesan gedung semenjak Selena bersedia tinggal bersamanya. Dia tahu lambat laun wanita itu akan setuju untuk menikah dengannya.
Setelah permasalahan yang dibuat Luciane, Felix ingin mempercepat acara pernikahannya tersebut. Dia tahu banyak rintangan yang harus dihadapinya bersama Selena. Dan pria itu tidak mau wanitanya pergi lagi meninggalkan dirinya untuk ke sekian kali. Dia sudah cukup dengan perpisahan.
“Cepat turun, aku menunggumu di pintu masuk,” perintah Felix pada Selena dari dalam telepon.
Setelah menunggu lima belas menit. Akhirnya wanita cantik itu berjalan keluar dari pintu gedung. Dia berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam mobil.
“Apa yang kau lakukan di sini? Aku sedang bekerja.”
“Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”
__ADS_1
“Apa itu?”
“Kau akan tahu nanti.”