
Happy Reading ....
.
.
.
Selena menghentakkan kakinya kesal meratapi kebodohan dirinya. Entah apa yang sebenarnya dia pikirkan sehingga tasnya bisa tertinggal di dalam mobil pria itu, padahal semua barang-barang termasuk ponsel miliknya berada di dalam sana.
Felix berjalan masuk ke dalam lobi hotel dan meninggalkan Selena di tepi jalan. Wanita cantik itu tidak menyerah untuk mencari taxi. Dia menahan taxi, namun supir tersebut menolaknya dan berkata jika Selena harus memesan melalui ponsel.
“Damn! Haruskah aku memesan melalui ponsel? Tidak bisakah kau mengantarku sekarang juga?”
“Maaf Nona, ini sudah peraturan.”
Felix menaikan ujung bibirnya melihat wanita cantik yang sedang berusaha itu. Beberapa menit kemudian wanita itu menyerah dan berjalan masuk ke dalam lobi hotel untuk menghampiri Felix.
Selena mengulurkan telapak tangannya pada Felix lalu berkata, “Pinjamkan ponselmu.”
Felix mengambil passcard pada resepsionis lalu dia berbalik menatap Selena. “Apa katamu?”
“Pinjamkan ponselmu.” Selena menyorotinya tajam dengan kerutan di dahi.
Felix merogoh ponselnya dari saku celana dan dia menekan tombol kunci namun ponsel tersebut tidak bisa menyala, dia mencobanya beberapa kali.
“Sepertinya ponselku habis batrai, aku akan mengisi daya di dalam kamar nanti.” Felix berbalik dan melangkah pergi, namun Selena cepat-cepat menahan tangan pria itu.
“Bagaimana denganku? Pesankan aku taxi.”
“Aku rasa tidak ada taxi di jam seperti ini.”
“Damn!” Dia mempersulitnya. “Kalau begitu pesankan aku kamar hotel.”
“Hotel ini penuh dan hanya tersisa satu kamar. Aku akan berbaik hati mengijinkanmu tinggal.”
“Kau ingin ikut denganku atau tinggal di sini, keputusan ada ditanganmu,” imbuh Felix.
Selena mendekat pada Felix kemudian berkata dengan penuh penekanan, “Apa kau gila? Kau pikir aku mau berada satu kamar dengan pria beristri, hidupku akan sial!”
__ADS_1
Raut wajah Felix langsung berubah ketika mendengar 'pria beristri' yang Selena katakan, keningnya langsung berkerut dalam. Dia menatap wanita cantik itu dengan tajam.
Selena mengalihkan pandangannya dengan malas. Dia pikir dia siapa sehingga bisa dengan mudahnya meminta wanita untuk berada di dalam satu kamar dengannya, dan mungkin berada satu ranjang juga. Menjijikan untuk pria yang suka menyelingkuhi istrinya. Pria tidak setia. Itulah sebabnya Selena tidak mau menikah, pria terlalu rumit dan banyak membuat sakit hati.
Sementara Felix tidak mengerti kenapa wanita itu menganggapnya sudah memiliki istri. Dia bahkan belum pernah menikah sekalipun, dan masih single. Kenapa Selena bisa beranggapan jika dia memiliki istri. Siapa wanita yang dia pikir sebagai istri Felix? Mungkin itulah sebabnya Selena selalu menghindarinya dan malas jika melihatnya. Dia tidak ingin terlibat skandal.
Felix berpikir dan dia mendapatkan sebuah ide.
Dia meraih telapak tangan Selena lalu mengenggamnya erat-erat. Selena menolak dan langsung menarik tangannya, namun Felix tidak melepaskannya begitu saja, dia malah dengan sengaja mengecup punggung pergelangan tangan Selena.
“Lord!” Selena terperangah hebat mendapati perlakuan konyol dari pria itu.
Felix tersenyum simpul, kemudian dengan gerakan cepat dia menaik lengan Selena dan langsung menggendong wanita cantik itu di bahunya. Selena menjerit dan meronta membuat semua orang melihat ke arahnya, namun Felix sama sekali tidak peduli.
“Turunkan aku Felix!”
“Apa kau gila!”
“Damn it!”
Selena berteriak dan memukuli punggung rata Felix, tapi Felix sama sekali tidak peduli dengan tindakannya. Dia membawa masuk Selena ke dalam lift setelah seorang pegawai menyediakan lift ekslusif hanya untuknya.
Mereka berdua di dalam litf, saat itu Felix menurunkan Selena yang terus saja tidak mau diam, jika dia terus menggendongnya maka wanita itu akan jatuh mengetukkan kepalnya ke lantai.
“Kau gila? Apakah kau gila?” Dia menaikan jari telunjuknya ke arah Felix. “Kenapa kau sangat berani, bagaimana jika seseorang melihat?”
“Semua orang telah melihatnya,” ucap Felix dengan santai.
“Shit!”
Selena menekan tombol lift agar berhenti, namun tombol lift itu tidak mau menyala dan terus naik pada lantai yang Felix tuju. Selena menekan dengan kesal, Felix meraih pinggang wanita cantik itu ke belakang dan memeluknya.
“Hey don't touch me!” Dia menyingkirkan pelukan lengan Felix pada pinggangnya dan berbalik menatap pria itu, menunjuknya dengan tatapan marah.
Saat itu lift berdenting dan pintu lift terbuka. Felix langsung menggenggam telapak tangan Selena dan menarik wanita cantik itu keluar dari dalam lift. Namun Selena tidak mau berjalan keluar dari sana untuk mengikuti Felix.
“Gunakan kakimu untuk berjalan atau kau ingin naik ke atas bahuku lagi,” kata Felix dengan tatapan intens.
Selena melirik sudut atas lift yang terdapat CCTV. Dia tidak mau terlibat dengan Felix karena seseorang mungkin akan memanfaatkannya. Tanpa diminta untuk yang kedua kalinya, dia berjalan keluar dari lift dengan tangannya yang masih dipegang oleh Felix.
__ADS_1
“Psikopat,” gumam Selena. Felix tersenyum mendengar celoteh wanita cantik itu.
Pintu kamar terbuka setelah Felix menempelkan passcard pada tangkai pintu. Dia meminta Selena untuk masuk ke dalam kamar. Namun sebelum masuk Selena melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan jika tidak ada paparazi yang mengikutinya.
“Kau sangat takut terlihat bersama denganku,” ucap Felix setelah menutup pintu.
“Itu karena aku adalah mantan aktris, banyak orang yang menyoroti aktivitasku,” balas Selena.
“Lalu kenapa jika orang lain mengetahuinya, bukankah namamu akan naik dan menjadi pencarian teratas di internet,” katanya enteng.
“Damn! Terlibat bersamamu akan membuat harga diriku turun!”
Selena berlalu pergi dari hadapan Felix. Dia masuk ke dalam kamar dan sorot matanya menelisik setiap sudut kamar yang dipesan pria itu. Dia memesan sebuah kamar VVIP dengan satu ranjang besar dan kamar mandi transparan.
Aku ingin buang air kecil, sial!
Felix berada di belakangnya, memperhatikan setiap gerak-gerik Selena. Sementara wanita cantik itu langsung masuk ke dalam toilet, dan di sana dia mencari sesuatu. Felix bisa melihatnya melalui dinding kaca yang transparan.
Di mana remote untuk menutup tirai ini?
Kemudian Selena berjalan keluar dan mencari di atas meja lalu ke dalam lemari. Dia mengumpat kesal ketika tidak menemukan benda yang dia cari. Sementara panggilan alam sudah di ujung dunia, Selena sudah tidak tahan ingin segera mengeluarkannya.
“Apa yang kau cari?” tanya Felix yang kini sudah duduk di atas sofa tunggal.
“Remote untuk menutup tirai. Sial! Hotel macam apa ini, mereka tidak menyediakan barang-barang penting di tempatnya,” gerutu Selena seraya terus mencari.
“Remote ini maksudmu?”
Felix mengangkat lengannya yang memegang sebuah remote kecil, dan Selena langsung mengangguk mengiyakan. Dia segera berjalan menuju Felix untuk mengambil remote itu, namun Felix lebih cepat menariknya kembali.
“Aku lebih suka melihatnya seperti ini.” Felix mengalihkan pandangannya ke arah toilet.
Apa maksud si bastard ini!
.
.
.
__ADS_1
***Bersambung ....
Jangan lupa like koment, dan juga masukan ke dalam favorit yaaa***.