
Pranggg
Suara benda jatuh mengalihkan atensi Aksa yang sejak tadi melamun setelah mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi.
"Kenapa firasatku tidak enak?" Gumam Raka setelah tidak sengaja menjatuhkan figura foto dirinya dan keluarga kecilnya yang ada di atas meja.
Belum beberapa menit ia merunduk untuk mengambil foto yang berada di bawah figura yang hancur. Pria itu dikejutkan dengan suara deringan ponselnya yang berbunyi dalam saku jasnya.
"Arum?" Keningnya berkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia memang menyimpan nomor asisten istrinya tersebut. Karena saat Bila tidak bisa di hubungi ia akan menghubungi gadis itu.
Dengan cepat ia menggeser tombol hijau yang ada di layar benda pipih tersebut dan langsung terdengar suara perempuan yang seperti sedang menangis.
"Ha-llo tu-an Raka."
"Ada apa Arum? Apa terjadi sesuatu?" Raka yang mendengar suara Arum yang sedang menagis langsung cemas. Apa terjadi sesuatu dengan istrinya? Apalagi samar-samar dia mendengar suara sirine ambulance yang menandakan sedang membawa pasien gawat darurat.
"Mba Bila hiks..."
"Bila kenapa Arum? Istri saya kenapa?" Tanya Raka menggebu.
"Mba Bila sedang dibawa ke Rumah Sakit hiks. Karena ditikam oleh seseorang saat di butik tadi hiks.. Mbaaa... huaaa." Tangis Arum pecah saat melihat kondisi Bila yang menurun drastis karena kehilangan banyak darah. "Mbaaa, mba harus bertahan... Tolong selamatkan kakak saya, saya mohon hikss.. " Histeris Arum tampa peduli ia masih terhubung dalam panggilan telpon dengan Raka.
"Mba tolong tenang, kami jadi ikutan panik kalau mba kayak gini." Jawab salah satu pria yang ada di sana.
Paramedis yang ada di dalam ambulance segera melakukan penyelamatan darurat mengingat kondisi vital Bila yang semakin menurun. Sedangkan temannya tetap memompa ambu yang ada di mulut pasien untuk membantu pernapasan. Mereka juga menghubungi Rumah Sakit untuk segera menyiapkan ruangan operasi karena mereka akan sampai sebentar lagi.
Deg
Jantung Raka seakan berhenti berdetak saat mendengar keriuhan yang ada di dalam ambulance. Dirinya seperti orang kehilangan jiwa, dengan tatapan kosong dengan tubuh yang meluruh ke lantai.
"Ada apa?" Aksa yang memperhatikan sahabatnya sedang tidak baik-baik saja segera menghampirinya sembari bertanya. Walaupun sebenarnya saat ini hatinya bisa dikatakan sedang luluh lantak akibat fakta tadi.
Raka bergeming, dunianya seakan runtuh dan ia terus menggumamkan kata-kata. "Tidak mungkin."
"Raka sadar! Ada apa?" Aksa kembali bertanya namun Raka tidak menjawabnya dan tetap linglung seperti orang tidak waras.
Plak
Aksa langsung menampar pipi Raka agar sahabat sekaligus atasannya itu kembali kepada kesadarannya. "Apa yang terjadi?"
Raka yang merasakan perih di pipinya langsung menatap pelaku dengan bibir mengerucut kebawah. "Bila dilarikan ke Rumah Sakit." Jawab pria yang terkenal dingin itu dengan mata berkaca-kaca.
Aksa sempat cengo saat melihat ekspresi sahabatnya. Sudah tau istrinya masuk Rumah Sakit? Kenapa dia masih di sini? Bukannya langsung pergi. Seakan-akan istrinya itu akan.... Aksa langsung melotot seakan mendapat jawaban kenapa Raka seketika menjadi orang kehilangan jiwa.
"Jangan sampai." Pria itu langsung menarik Raka yang mendadak menjadi manusia tampa tulang.
Oh ayolah, ini sedang dalam keadaan genting. Kenapa pria ini menjadi seperti ini? Dengan sekuat tenaga Aksa menggeret Raka menuju keparkiran.
"Raka wake up. Kamu jangan kayak gini. Aku yakin Bila akan baik-baik aja." Marah Aksa yang melihat sahabatnya yang hanya diam.
__ADS_1
πππ
Tet... tet... tet
Suara mesin yang menunjukkan bagaimana vital pasien berbunyi menandakan kondisi pasien dalam masa kritis.
Degan cepat, dokter yang sedang menangani operasi langsung menghentikan aktivitas nya dan berteriak. "Defibilator!"
Perawat yang ada di sana langsung membawa defibilator kedekat dokter tadi dan mengatur joule yang akan diberikan pada alat.
"Move." Teriak sang dokter saat menggunakan alat itu. Namun kondisi pasien masih belum kembali dan vital terus menurun. "Tambahkan." Perintahnya dan kembali meletakkan defibilator di dekat dada pasien. Namun belum juga ada tanda-tanda pasien kembali. "Lagi." Perintahnya dengan keringat membasahi pelipisnya.
"ROSC (Return of Spontaneous Circulation)." Teriak dokter anestesi setelah melihat tanda vital kembali normal.
Semua orang menghembuskan napas lega setelah berhasil melewati sesuatu yang menegangkan tadi. Kemudian dokter bedah umum kembali melanjutkan operasinya yang sempat tertunda setelah memastikan kondisi pasien baik-baik saja dan waktu yang masih tersisa sebelum anestesinya habis.
"Awwwh." Ringis seorang wanita paruh baya saat jarinya tidak sengaja teriris oleh pisau saat sedang memotong bawang. "Kenapa perasaanku mendadak tidak enak?" Gumamnya sambil melanjutkan kembali aktivitasnya.
"Assalamualaikum, Bu... Ibu.."
Wanita itu kembali menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara anak bungsunya. "Ada apa Rei? Ibu di dapur." Saut wanita itu yang tak lain adalah bu Sukma.
Bu Sukma berbalik saat mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. "Loh ada apa? Kenapa si kembar bisa sama kamu? Kakak kamu mana?" Tanya Bu Sukma heran saat melihat putranya datang sambil menggendong kedua keponakannya tampa diikuti oleh anak pertamanya. Jangan lupakan mata lelaki itu yang masih merah karena menangis.
Flashback on
"Assalamualaikum kak, ada apa?" Tanya Reihan yang memang belum tau apa yang terjadi.
"Mba Bila masuk Rumah Sakit." Bukannya suara kakaknya yang ia dengar melainkan suara perempuan lain dan lebih parahnya lagi dia mengabarkan berita yang tidak mengenakkan.
"Kok bisa? Apa yang terjadi?"
"Ditusuk pisau."
"Apa? Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Saat ini mba Bila masih dalam ruang operasi."
"Kirim alamat Rumah Sakitnya secepatnya."
"Baik."
Tut
Panggilan berakhir dan Reihan langsung menghubungi ibunya. Namun tidak ada jawaban, sehingga ia segera mengambil gendongan dan menggendong kedua keponakannya. Tampa mengatakan apa-apa, ia langsung pergi menuju ke rumah orang tuanya.
Flashback off
"Ada apa Rei? Kenapa kamu malah nangis gitu?" Bu Sukma semakin heran dibuatnya. Apalagi perasaannya semakin tidak enak.
__ADS_1
Reihan tidak langsung menjawab karena ia takut ibunya pingsan. Akan tetapi ia tetap harus mengatakannya apapun yang terjadi.
"Kak Bila masuk Rumah Sakit bu." Ucapnya pelan hampir tak terdengar.
"Ada apa dengan kakakmu?"
"Kak Bila masuk Rumah Sakit bu. Keadaannya sekarang belum pasti." Ulangnya dengan air mata bercucuran.
Bu Sukma langsung terdiam dengan pandangan kosong. Apalagi ini? Kenapa putrinya lagi? Sudah cukup dia menderita.
"Bilaaa.... Ya Allah nak." Teriak bu Sukma histeris. Teriakannya sontak membuat si kembar kaget dan langsung menangis.
Tampa mengatakan apapun, wanita itu bergegas ke kamarnya dan segera keluar sambil membawa tasnya.
Reihan melihat kompor yang masih menyala segera ia matikan dan berusaha menenangkan si kembar. Walau hatinya sedang dilanda gelisah dengan keadaan kakak tercintanya.
"Reihan ngapain kamu di situ. Ayo ke Rumah Sakit."
Reihan menoleh dan menatap ibunya yang baru saja keluar dari kamarnya. Lalu melangkah keluar rumah diikuti sang ibu yang berusaha tegar.
πππ
Brak
Pintu ruang operasi terbuka dan seorang perawat terlihat berlari dengan wajah panik. Kemudian tak lama ia kembali sambil membawa beberapa kantung darah.
"Apa yang terjadi?" Aksa menghadang perawat tersebut untuk bertanya. Karena kondisi Raka benar-benar memprihatinkan.
"Pasien kritis, permisi." Perawat itu kembali berlari masuk ke dalam ruangan operasi.
Arum kembali menangis setelah mendengar kondisi Bila. Aksa yang melihat hal itu berusaha menenangkan Arum.
Tap.. tap.. tap
Atensi Arum dan Aksa langsung teralih ke arah koridor saat mendengar derap langkah dua orang menuju ke arah mereka. Tak lama muncul seorang wanita paruh baya yang tampak jelas raut khawatir yang tercetak di wajahnya dan dibelakangnya terlihat seoranh pria yang tengah menggendong dua bayi.
"Bagaimana keadaan Bila?" Tanya bu Sukma tampa ekspresi. Ingin rasanya ia menangis, namun sengaja ia tahan.Yah wanita yang baru sampai itu adalah bu Sukma.
"Keadaan Bila... " Aksa menghentikan kata-katanya saat melihat lampu ruangan operasi berhenti menyala yang menandakan operasi telah selesai dilakukan.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1