Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Cepat Bangun, Sebelum Posisi Kamu Digantikan


__ADS_3

Berlari menuju mobilnya, Bila segera merogoh tas untuk mengambil kunci mobil setelah berdiri di samping mobilnya. Namun karena terburu-buru, ia tidak sengaja menjatuhkannya ke tanah. Bertepatan dengan itu, mobil Bugatti putih masuk di sebelah ia berdiri. Memperhatikan sebentar, Bila segera merunduk untuk mengambil kunci mobilnya.


"Hai... Kamu mau kemana?"


Bila yang akan masuk ke dalam mobil melirik ke samping saat mendengar seseorang bicara. "Kamu bicara dengan saya?" Tanya Bila menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan heran, karena memang tidak ada orang lain selain mereka berdua di sana.


"Iya, kamu pikir saya bicara dengan hantu? Kan nggak lucu?"


Bila terdiam dan menatap pria yang berdiri di depannya. Bukannya dia dokter yang tadi malam? Gumamnya dalam hati.


"Hmmm, apa kita bisa bicara sebentar?" Pria itu membuka suara setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Maaf, saya harus segera pulang. Permisi." Bila berbalik dan membuka pintu mobilnya. Kemudian segera masuk ke dalam.


Pria itu hanya berdiri diam melihat mobil Bila pergi menjauh dari parkiran Rumah Sakit. Seseorang yang ternyata dari tadi berada di dalam mobil dan mendengarkan pembicaraan mereka langsung ke luar untuk menghampiri teman menyedihkannya.


"Udahlah Chaiden, nggak usah ngejar dia lagi. Kayak nggak ada wanita lain aja di dunia ini. Come on dude, kamu tampan, tinggi, dokter lagi. Pasti banyak perempuan yang mau sama kamu." Daniel menguliahi Chaiden dengan kata-katanya.


Mendengar ocehan Daniel yang memekakkan telinga. Chaiden hanya meliriknya sebentar dan pergi begitu saja dengan ekspresi datar.


Sementara di dalam Rumah Sakit, ayah Rasyid, ibu Sukma dan Reihan hanya bisa melihat Raka dari balik kaca karena memang belum ada yang diizinkan masuk selain dokter dan perawat yang bertugas.


Bu Sukma merasakan hatinya sakit saat melihat menantunya berada di dalam dengan beberapa peralatan yang terpasang di tubuhnya.


"Mas, ayo kita pulang. Aku nggak sanggup melihat dia seperti ini." Bu Sukma bersandar pada suaminya dengan air mata mengalir deras.


"Ya sudah, ayo kita pulang." Ayah Rasyid membawa istrinya menjauh dari sana dan menoleh pada anak bungsunya. "Kamu gimana Rei?"


Reihan berbalik. "Aku langsung ke kantor aja ayah."


"Ya sudah, kita pulang dulu." Ayah Rasyid membimbing istrinya ke luar dari Rumah Sakit.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bila sudah sampai di rumahnya dan bergegas masuk ke dalam untuk menemui kedua anaknya.


"Akhirnya non kembali." Bik Nah menghela napas lega setelah melihat Bila masuk ke dalam rumah.


"Iya bik." Bila mengambil Zahran dari tangan bik Nah dan menggendongnya. "Zayyan mana bik?"

__ADS_1


"Tuan kecil Zayyan tidur non karena lelah menangis dari tadi."


Hati Bila terasa di cubit setelah mendengar semua itu. Ia bergegas ke dalam untuk melihat anaknya. Setelah meletakkan Zahran di tempat tidur, ia mengambil Zayyan dan membawanya ke tempat tidur.


"Maafkan mommy ya sayang. Mommy janji nggak akan ninggalin kalian lagi." Bila memposisikan bantal untuk menyusui Zahran yang sedang menatapnya dan menepuk pipi Zayyan dengan lembut untuk membangunkan putranya tersebut.


Setelah mata si kecil terbuka ia langsung menangis dan terdiam saat menatap wajah yang dikenalnya. Bibir mungilnya bergerak-gerak seakakan ingin mengatakan sesuatu.


"Apa sayang? Zayyan lapar ya?"


Mata Zayyan berkedip dan bibirnya bergerak-gerak lagi. Merasa gemas dengan tingkah anaknya, Bila tidak bisa membantu selain menunduk untuk mencium anaknya. Kemudian ia segera menyusui si kecil yang memang sudah sangat kelaparan.


Hari itu, Bila tidak kembali ke Rumah Sakit dan baru kembali ke sana keesokan harinya setelah anaknya tidur. Kondisi Raka juga masih sama dan belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Hari berikutnya Bila juga pergi sendiri dan menatap suaminya dengan air mata berlinangan. Kondisi Raka tetap tidak berubah dan hal itu membuat Bila benar-benar tertekan.


"Apa masih belum ada tanda-tanda dia akan bangun?" Suara berat dan serak berdering di samping Bila. Membuat wanita itu menoleh ke samping. Di sampingnya, seorang pria duduk di kursi roda bersama seorang pria di belakangnya.


"Seperti yang kamu lihat Jim. Kamu sendiri gimana?"


Pria yang duduk di kursi roda adalah Jimmy yang dibantu oleh Aksa untuk melihat keadaab Raka.


"Aku masih harus di rawat beberapa hari lagi, sebelum benar-benar diizinkan pulang." Jawab Jimmy dengan senyum getir. Apalagi setelah melihat kondisi Raka dengan mata kepalanya sendiri.


"Seandainya saja aku bisa melindunginya. Mungkin dia tidak akan berada di dalam sana." Suaranya penuh penyesalan karena tidak berhasil melindungi sahabat tercintanya.


"Semua ini bukan salah kamu." Ucap Bila dengan nada lembut. "Juga bukan salah kamu Aksa." Bila mengarahkan tatapannya ke arah Aksa yang berwajah muram.


"Semuanya sudah terjadi dan kalian juga berhasil menangkap om David. Jadi tidak perlu menyalahkan diri kalian sendiri." Bila menghela napas. "Kalau mas Raka bangun dan melihat kalian kayak gini. Dia akan kecewa dan marah, apa kalian mau?"


Keduanya menggelengkan kepala cepat dengan ekspresi lucu. Sehingga membuat bibir Bila berkedut menahan tawa. "Ya sudah, aku pulang ya. Nanti kedua bocil ngambek lagi kalau kelamaan aku tinggal."


Kemaren Bila pulang agak terlambat karena ia harus mampir ke butik karena ada sedikit masalah. Sehingga sampai di rumah sudah sore hampir maghrib. Saat masuk ke dalam kamar, bik Nah berkata kalau keduanya sama sekali tidak mau minum susu dari botol. Kemudian ia mengambil Zayyan untuk ia susui secara langsung. Namun putranya sama sekali tidak mau menyusu. Sampai akhirnya ia paham kalau mereka sedang merajuk karena sekali lagi ditinggalkan terlalu lama. Setelah dibujuk dan diberikan kata-kata lembut, akhirnya keduanya mau menyusu lagi.


"Pfftt.... " Aksa terbahak. "Keduanya sudah bisa merajuk?" Aksa hampir tidak percaya dengan pendengarannya. Saat Bila mengatakan bahwa Zayyan dan Zahran sudah bisa protes dengan merajuk seperti itu.


"Iyaa... " Bila mendesah lelah. "Kalau ada perkembangan kabari aku segera, bye." Dia langsung berbalik dan meninggalkan kedua pria itu yang masih terdiam setelah mendengarkan kata-katanya.


"Brother, cepat bangun. Nanti posisi kamu direbut oleh kedua bocil." Ujar Aksa setelah Bila pergi.


"Iya, nanti mereka meminta Bila mencarikan papa baru untuk mereka kalau kamu tidak segera bangun."

__ADS_1


Mereka berdua memanas-manasi Raka di depan kaca. Berharap Raka akan mendengarnya, akan tetapi semua itu mustahil karena Raka memang tidak bisa mendengarnya. Setelah puas bicara, Aksa membawa Jimmy kembali ke kamarnya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Reihan baru saja selesai meeting dengan clients di sebuah restoran. Setelah bercakap-cakap sebentar, clients nya segera pergi karena masih ada urusan.


"Ayo kembali ke kantor." Reihan berdiri dan ke luar dari ruangan VIP bersama asistennya.


Saat berjalan ke luar, seorang wanita tidak sengaja menumpahkan minuman di tangannya ke baju dan jas Reihan.


"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja." Ucap wanita itu dengan kepala tertunduk menyembunyikan emosi yang terlintas dimatanya.


Reihan mengambil tisu yang ada di dekat meja dan membersihkan minuman yang menempel di baju serta jasnya.


"Biar saya bantu cucikan jas tuan sebagai bentuk permintaan maaf saya." Ucap wanita itu dengan suara gemetar.


"Tidak perlu. Ayo pergi." Dia pergi begitu saja bersmama asistennya tampa menoleh ke belakang.


Wanita itu menggigit bibirnya dengan keras dan berbalik dengan kaki menjejakkan tanah karena rencananya gagal. Padahal ia berharap pria itu akan dengan senang hati melepaskan jasnya dan ia bisa punya alasan untuk bertemu dengannya lagi.


Reihan terlihat sedang memikirkan sesuatu ketika dia masuk ke dalam mobil. Melihat hal itu membuat asistennya mau bertanya. "Apa tuan baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?"


Reihan mengangkat kepalanya dan menatap ke depan. "Bukan apa-apa." Aku merasa pernah melihat wanita tadi. Tapi dimana... Benar dia wanita itu yang pernah aku bantu.


Reihan berpikir ada yang aneh dengan wanita itu, karena ia tau nomor ponselnya dan pernah menelphonnya sekali. Kemudian hari ini dia muncul tiba-tiba. Kenapa dia merasa sperti diawasi? Ada apa sebenarnya? Reihan mengusap dagunya sebelum membuka mulut untuk bicara.


"Adrian, kamu selidiki tentang wanita bernama Maureen. Sepertinya ada sesuatu tentang dia dan saya merasa dia selalu mengawasi saya."


"Baik tuan."


Bima kembali fokus menyetir setelah mendengar perintah dari Reihan dengan benak penuh pertanyaan. Siapa wanita bernama Maureen ini?


.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2