Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Tanganku Salah Mendarat


__ADS_3

Emosi Bila yang sudah berkumpul dan bertumpuk menjadi satu sudah siap meledak kapanpun. Dengan sekali tarikan tangan ia berhasil menyingkirkan wanita genit itu dari tubuh suaminya. Dan Raka langsung menyadari kalau wanita itu adalah, wanita gila yang mengganggunya kemarin.


"Kau____


PLAKK


Tamparan keras mendarat cantik di pipi mulus wanita itu. "Uppss sorry." Bila membekap mulutnya sendiri dengan ekspresi terkejut. "Tanganku salah mendarat." Sambungnya lagi. "Perasaan tadi aku menampar seekor ulat bulu yang sedang mengganggu milik orang lain. Ternyata aku menampar manusia, berjenis kelamin wanita." Ucap Bila santai namun penuh sindiran pedas yang membuat wajah wanita itu merah padam karena malu.


"Kau?" Telunjuknya mengarah ke arah Bila.


"Yes I'm." Jawab Bila masih dengan nada tenang. Padahal di dalam hatinya sudah meledak-ledak.


Raka takjub dengan ketenangan istrinya dalam menghadapi wanita gila di hadapannya. Kalau wanita lain, mungkin akan langsung marah-marah dan memaki-maki wanita itu. Eits, tunggu dulu. Yang pasti nanti yang akan kena imbasnya adalah dirinya. Raka langsung menghela napas gusar. Ia sudah bisa membayangkan, bagaimana nanti Bila melampiaskan kemarahannya seperti waktu itu.


"Berani sekali kau menamparku?" Tantang wanita itu dengan tatapan tajam.


"Kenapa memangnya? Apakah kamu artis? Model? atau yang lainnya?" Tanya Bila tampa ekspresi.


"Aku anak adik Menteri Dalam Negeri." Jawab wanita itu angkuh, dengan harapan jawabannya bisa membuat wanita di hadapannya takut dan mengemis permintaan maafnya. Tapi, harapannya tinggal harapan belaka. Dia salah menganggap wanita di hadapannya akan mudah untuk di taklukkan. Dia tidak tau saja, kalau wanita di hadapannya adalah macan yang sedang tertidur.


Bila memasang ekspresi terkejut, berpura-pura takut dengan pernyataan wanita itu. "Jadi kamu anak adik Mendagri? Woww, ternyata dari keluarga elite ya." Puji Bila dengan nada dibuat-buat seakan ia memang akan kalah dalam permainan wanita itu.


Merasa di atas angin, wanita itu langsung tersenyum sinis dan memandang rendah wanita di hadapannya. "Sebaiknya kamu minta maaf, sebelum aku mempermasalahkan masalah ini." Ucapnya dengan nada seangkuh mungkin.


Bila rasanya ingin meremas mulut wanita gila ini. Tapi, masih berusaha ia tahan dan langsung tersenyum tipis. "Oh ya? Ya ampun aku takut sekali. Tapi sayang, kamu tidak akan bisa mengancamku!" Ekspresi Bila langsung berubah datar dan kata-katanya penuh penekanan.


Wanita itu maju satu langkah dan berdiri di hadapan Bila. "Siapa kau? Berani sekali kau meremehkanku?" Tanya Wanita itu penuh emosi.


Bila mundur dua langkah, karena ia tidak mau membahayakan dirinya sendiri. "Aku?" Bila menunjuk dirinya sendiri, kemudian tersenyum sinis. "Aku hanya wanita biasa yang sedang mempertahankan apa yang menjadi milikku." Jawab Bila datar.


"Kau benar-benar membuatku naik darah!" Bentak wanita itu tajam.

__ADS_1


Bila langsung terkekeh geli. "Bagus dong, tapi tingkahmu membuat aku gemas dan rasanya aku ingin muntah saking gemasnya." Bila benar-benar tenang dalam menghadapi wanita tersebut.


Aksa langsung dibuat melongo dengan tingkah ajaib istri Raka. Sampai-sampai ia memuji wanita itu dalam hati.


Wanita itu mendengus kesal dan mengangkat tangannya untuk membalas tamparan Bila. Namun, tangannya langsung di cengkram dengan kuat oleh Raka. "Jangan berani-berani kau menyentuh istriku dengan tangan kotor itu. Karena aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika sampai hal itu terjadi." Bisik Raka dengan suara dingin dan menusuk. Membuat tubuh wanita itu bergetar ketakutan.


Sementara Bila langsung mencengkram rahang wanita itu dengan kuat dan menatapnya dengan tatapan dingin. Entah dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu, sampai membuat wanita itu kesakitan. "Sekali lagi kau menggoda suamiku atau berada di sekitar suamiku. Akan aku pastikan kau tidak akan bisa melihat dunia luar lagi. Karena kau akan malu untuk hanya sekedar pergi ke minimarket!" Ucapnya dengan suara datar dan dingin, tapi sukses membuat orang-orang merinding mendengarnya. Itu bukan hanya sekedar ancaman, karena Bila benar-benar akan melakukannya. Jika sampai wanita itu masih nekat.


Setelah mengatakan itu, Bila melepaskan cengkramannya dengan kasar. Membuat wanita itu terjerembab jatuh. Orang-orang yang berada di sana, mulai berbisik-bisik sumbang.


"HUH....! DASAR PELAKOR MURAHAN!" Teriak salah satu petugas resepsionis dengan suara tinggi. Dia benar-benar geram dengan yang namanya pelakor. Ia juga merasa bersalah, karena tadi tidak mempercayai wanita yang mengatakan dirinya istri bosnya dan sekarang membuat dirinya kagum akan keberanian wanita itu.


"Pergi kau dari hadapanku sekarang! Sebelum aku menyuruh security untuk menyeretmu ke luar." Bentak Raka dengan suara yang sudah naik satu oktaf. Semua karyawan langsung gemetar karena takut saat melihat bos mereka semurka itu.


Dengan tubuh gemetar karena takut, malu, dan sakit hati. Wanita itu bangkit dan berjalan ke luar dari kantor Raka. Setelah wanita itu pergi, Bila langsung merosot ke lantai. Karena kakinya sudah tidak mampu lagi menahan berat tubuhnya.


"Bee...!" Raka langsung menangkap tubuh istrinya sebelum benar-benar menyentuh lantai. "Kamu nggak apa-apa?" Bila menggeleng pelan, namun tangannya mencengkram kuat lengan suaminya.


"Aku lapar." Bisiknya di telinga Raka, "aku juga mau istirahat! Tenagaku habis gara-gara wanita gila itu." Sambungnya lagi.


"Diam!" Ketus Bila tampa mengangkat kepalanya yang ia sembunyikan di dada Raka.


Raka langsung bungkam dan tidak mengatakan apapun lagi. Sementara suasana di lobby kantor masih panas sisa perdebatan sang istri CEO dan pelakor. Para karyawan yang menyaksikan perdebatan tadi benar-benar di buat kagum oleh keberanian nyonya Nugraha.


"Istri tuan Raka benar-benar hebat, kalau gue yang ada di posisi dia. Udah gue jambak-jambakin tuh pelakor. Tapi, caranya sungguh tenang. Tapi sukses bikin tu pelakor malu setengah mati." Ucap salah satu karyawan wanita yang ada di sana.


"Hah, lo bener. Gue aja tadi dibikin melongo oleh ketenangan istri pak bos menghadapi wanita genit kayak gitu. Lo liat aja, tadi ekspresinya datar banget. Tapi, siapa tau dalam hatinya gimana melihat suaminya di tempelin wanita lain. Iya kan?" Saut temannya.


"Kita balik kerja aja yuk, nanti kita di marahin lagi." Keduanya langsung pergi meninggalkan lobby dan karyawan lain pun ikut pergi meninggalkan lobby kantor untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing.


πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Raka sudah berada di ruangannya dan membawa Bila ke dalam kamar pribadinya. Kemudian membaringkan istrinya di sana.


"Kamu mau makan apa bee?" Tanya Raka lembut seraya membelai pipi istrinya.


"Tukar baju kamu Mas, sekarang!" Perintah Bila dengan tatapan tajam. Raka langsung membuka jas dan kemejanya, lalu mengambil jas dan kemeja baru dari dalam lemari yang ada di sana. "Buang baju dan jas itu, right now!" Itu sebuah perintah lagi dan Raka langsung ke luar dari dalam kamar pribadinya untuk membuang kemeja dan jasnya.


"Tuan, kenapa di buang?"


Raka menoleh saat mendengar suara Aksa yang sedang masuk ke dalam ruangannya. "Perintah my queen, kamu tolong pesankan makanan ya untuk kita berdua."


Aksa langsung tertawa saat mendengar Bila meminta Raka membuang jas dan kemeja yang di sentuh wanita tadi. Lebih tepatnya, wanita itu sudah menunjukkan sifat possessive-nya.


"Kenapa kamu tertawa?" Alis Raka terangkat satu melihat asistennya tertawa.


"Bukan apa-apa, aku pergi dulu." Aksa langsung beranjak dari ruangan Raka untuk melaksanakan perintah Raka.


Raka berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya dan menghampiri Bila yang sedang berbaring dengan posisi membelakanginya. "Bee, kamu marah sama Mas?" Bila berbalik dan kepalanya menggeleng pelan.


"Saingan aku banyak ya?" Tanyanya dengan ekspresi tak terbaca. Kemudian ia bangkit dan mendudukkan dirinya menghadap Raka. Kemudian langsung memeluk suaminya dengan possessive.


"Sudah, semua hal nggak penting itu. Nggak usah kamu pikirkan ya. Nanti kamu sakit bee kalau terlalu banyak pikiran. Apalagi sekarang ada baby dalam perut kamu." Raka mengusap lembut punggung istrinya dan mengecup puncak kepala istrinya yang tertutup kerudung.


Bila melepaskan pelukannya dan menangkup pipi Raka dengan kedua tangannya. "Aku kangen sama Mas." Ucapnya dengan tatapan menggoda. Kemudian mencium suaminya dengan rakus untuk menyalurkan emosinya yang masih tertahan. Raka tersenyum, karena ciuman istrinya masih terasa kaku. Meskipun Bila saat ini menciumnya seperti orang yang sudah ahli. Tapi tetap saja, karena istrinya belum terbiasa melakukannya.


Keduanya larut dalam ciuman yang memabukkan dan penuh gairah. Serta saling menuntut untuk di tuntaskan se tuntas-tuntasnya.


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2