Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Permintaan Maaf


__ADS_3

Bila menatap suaminya dari samping, wajah pria yang sangat ia rindukan sekarang sedang terlihat fokus dengan kemudinya. Jika dipikir ulang, tadi dia bersikap keterlaluan kepadanya. Padahal suaminya baru tiba dari perjalanan jauh. Alih-alih menyambutnya dengan penuh senyuman dan memberikan minuman. Dirinya malah bersikap ketus dan langsung mengajak suaminya pergi. Bukankah itu artinya ia sangat egois?


Helaan napas kabur hinggap di telinganya yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Mas!" Panggilnya lembut, ia benar-benar ingin menyelesaikan kesalah pahaman antara dirinya dan Raka.


"Hmmm." Raka hanya bergumam seperti tidak berniat bicara dengan sang istri.


Bila menarik napas dalam-dalam. Tidak ada salahnya untuk minta maaf duluan, tangan kanan Bila terulur menyentuh lengan suaminya dan membuat Raka kaget dan menoleh untuk sepersekian detik. Bila menarik tangan kiri Raka seraya berkata. "A-ku minta maaf, 'ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha'." (HR. Ath Thabarani dalam Al-Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380). Bila menghela napas. "Aku---"


Setelah pernyataan itu meluncur dari mulut Bila, detik itu juga Raka tau betapa susahnya Bila melawan egonya sendiri dan mengesampingkannya untuk mendapat ridha dari dirinya. Karena jika ia tidak ridha dengan istrinya, Allah pun tidak memberikan keridhaan-Nya.


Raka menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Ia langsung menatap dalam ke arah manik hitam kecoklatan milik sang istri seraya tersenyum lembut. "Aku memaafkanmu dan aku juga minta maaf karena pergi begitu saja." Memberikan ciuman di punggung tangan istrinya dan membuat air mata tak bisa lagi ia bendung untuk mengalir dari matanya.


"Aku janji hiks nggak akan seperti itu lagi," Bila langsung terisak. "Ah! Pengaruh hormon kehamilan ini benar-benar membuat diriku jadi mellow." Imbuhnya seraya mengusap matanya yang berair dan menenangkan jantungnya yang berdebar-debar.


Raka melepaskan seatbelt yang melilit tubuhnya dan memeluk istrinya. Entah kenapa setelah Raka memeluk Bila, tangis wanita itu kembali pecah dan membuat Raka sedikit panik. Dengan meletakkan dagunya di pundak sang istri, ia berkata. "Istriku benar-benar cengeng, apa nanti anak kita akan cengeng juga?" Raka menarik kepalanya dan menatap lekat wajah sembab istrinya. "Senyum sayang," jari-jarinya menarik sudut bibir Bila untuk membentuk senyuman.


Raka sungguh semakin jatuh cinta dengan istrinya itu. Dia sangat bersyukur Allah menakdirkan dirinya menjadi suami wanita di sampingnya itu. Betapa beruntungnya ia memiliki istri seperti Bila. Meskipun ia akui kalau dirinya sempat meragukan istrinya kemarin karena hasutan setan yang membuat dirinya marah besar. Beruntung ia masih bisa berpikir jernih, walaupun sudah terlanjur pergi ke luat negeri. Tapi, ia sangat bersyukur tidak sempat melampiaskan amarahnya kepada Bila. Kalau sempat terjadi, entah apa yang akan ia hadapi sekarang. Bisa jadi istrinya pergi atau sebaliknya.


Bila kembali tersenyum, meskipun senyumnya terkesan dipaksakan. Akan tetapi hatinya sudah lega setelah melepaskan emosinya. "Aku mau kasih kabar bahagia buat Mas." Bila membawa tangan Raka ke perut buncitnya. "Mereka sangat merindukan daddy-nya." Ujar Bila seraya menggerakkan tangan Raka di perutnya. Rasa hangat yang dihantarkan tangan Raka langsung menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya.


Raka sempat tercenung dan mencerna kata-kata yang meluncur dari mulut istrinya. "Mereka?" Ulangnya. "Apa maksud---?" Matanya langsung melebar dan menatap istrinya tak percaya. "Kamu sedang tidak bercanda kan? Kita akan punya 2 sekaligus?"


Bila menggeleng pertanda ia sedang tidak bercanda. "Aku serius sayang. Mas perhatiin aja perutku, apa wajar diusia kandunganku yang baru menginjak 13 minggu sudah sebesar ini?"

__ADS_1


"Ah! Kamu benar," Raka langsung mendekatkan kepalanya ke arah perut Bila dan mencium perut istrinya seraya mengucap syukur. Kemudian Raka menegakkan tubuhnya dan memasang seatbelt nya kembali, lalu segera melajukan mobilnya yang sempat berhenti.


Sementara Bila kembali teringat dengan Alicia. Ingatannya melayang ketika dia membawa gadis kecil itu ke dalam kamar dan membersihkan tubuh mungil tersebut.


"Sayang, apa kamu keberatan untuk menceritakan apa yang baru saja kamu alami?" Tanya Bila lembut, karena ia juga tidak mau memaksa kalau gadis itu tidak mau menceritakannya.


Alicia mulai menceritakan semuanya. Berawal dari sekolahnya yang pulang 1 jam lebih awal karena tenaga pengajar akan ada kegiatan. Sehingga semua siswa dipulangkan. Bagi yang sudah ada jemputan sudah pulang ke rumah masing-masing. Begitupula dalam benak gadis kecil itu berharap sang supir datang menjemput lebih awal. Namun sekian lama menunggu dan lingkungan sekolah sudah sepi karena semuanya sudah pulang. Alicia masih menunggu jemputannya di gerbang sekolah ditemani security sekolahnya. Tak lama pria yang bersamanya ingin pergi ke toilet karena ia mau buang air kecil. Meskipun awalnya tidak mau ditinggal sendirian, tapi karena sang security sudah tak tahan ia langsung pergi dan meninggalkan Alicia seorang diri.


Telinganya mendengar suara derap langkah mendekat, tidak hanya satu tapi dua. Ia berpikir mungkin security yang lain ikut dengan temannya tadi. Ternyata dugaannya salah karena bukan security sekolah yang datang melainkan 2 orang dengan wajah menyeramkan sedang menatapnya dengan tatapan lapar. Dengan keberanian yang masih tersisa dan karena teringat pesan ibunya, Alicia melawan kedua penjahat itu dengan membentaknya. Namun keduanya malah tertawa sampai security tadi kembali dan berkelahi dengan kedua penjahat itu. Karena lawan yang tidak seimbang, pria itu tumbang dan menyuruh Alicia lari.


Alicia tidak membuang kesempatan itu dan berlari sekuat tenaga meninggalkan sekolahnya. Bahkan ia berkali-kali jatuh, menyebabkan seragamnya kotor dan berantakan. Dirasa sudah berlari jauh dan kakinya juga sudah, ia berhenti berlari di pinggir jalan yang sepi. Ia melihat sekeliling dan langsung takut karena tidak mengenal daerah tersebut. Alhasil ia mendudukkan tubuhnya di pinggir jalan dan memeluk kedua lututnya. Tangisnya langsung pecah karena rasa takut yang menyergap seluruh tubuhnya.


Ditengah tangisannya yang terdengar pilu, ia mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depannya. Karena takut, ia tidak berani mengangkat kepalanya. Sampai telinganya menangkap suara lembut seorang pria dewasa yang bertanya padanya. Barulah Alicia berani mengangkat kepala dan menatap pria tersebut dengan mata bengkak. Pria itu yang tak lain adalah Reihan langsung menggendong Alicia ke dalam mobil dan membawanya meninggalkan tempat itu.


"Sayang, kamu mikirin apa sih?"


"Kalau nggak mikirin apapun, kenapa kamu melamun? Padahal Mas udah manggil kamu berkali-kali loh tadi." Bohongnya untuk mengerjai sang istri dan matanya tak berani menatap mata Bila serta hidungnya memerah. Padahal dia memang baru sekali memanggil istrinya itu.


Bila menyipitkan matanya dan menatap Raka dengan seksama. "Kamu jangan bohong sayang. Mas pikir aku nggak tau gerak-gerak suamiku tersayang ini kalau lagi bohong atau menyembunyikan sesutu!" Serunya galak dan membuat Raka menelan kasar salivanya.


Raka menghela napas ringan hampir tak terdengar dan melirik istrinya sekilas. "Oh ya? Atas dasar apa kamu bilang Mas bohong?" Tantang Raka yang langsung di balas senyuman mematikan oleh Bila yang diartikan oleh Raka sebagai 'awas kamu ya.'


"Pertama, Mas tidak melihat ke arahku melainkan ke sembarang arah untuk menghindari kontak mata denganku. Bukan begitu?" Raka terkejut, namun berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. "Kedua, hidung Mas memerah. Awalnya aku kira itu suatu hal yang wajar kalau Mas sedang demam atau hal lainnya. Tapi... Setelah aku amati selama ini, hidung Mas hanya memerah karena sedang berbohong. Bahkan setelah bersin berkali-kali pun, hidung Mas sama sekali tidak memerah. Sehingga aku menarik kesimpulan, hidung Mas akan memerah saat sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu dan Mas tidak berani... menatap mata lawan bicara Mas."

__ADS_1


Raka tidak bisa tidak ternganga mendengar penuturan istrinya. Sungguh penjabaran yang terpeinci dan Raka sadar satu hal, selamanya ia tidak akan bisa berbohong kepada sang istri dan tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu darinya.


Keheningan di antara mereka terpecah saat dering ponsel Bila berbunyi dengan nyaring. Dengan cepat tangan Bila terulur mengambil ponselnya di dalam tas.


"Reihan?" Gumam Bila sebelum menjawab telphon adiknya.


"Assalamualaikum Rei, ada apa?"


"Walaikumsalam kak, kak Salwa masuk Rumah Sakit."


"Apa? Rumah Sakit mana?"


"Rumah Sakit Brawijaya."


"Oke, kakak dan Mas Raka langsung ke sana ya. Assalamualaikum." Bila langsung mematikan sambungan telphon dan menatap suaminya.


"Mas, kita harus ke Rumah Sakit sekarang. Karena Salwa masuk Rumah Sakit." Ucap Bila dan Raka langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat tujuan.


.


.


.

__ADS_1


.


to be continue


__ADS_2