
Suasana kota malam hari selalu ramai dengan lalu lintas yang sangat padat. Apalagi malam ini merupakan malam yang biasanya para jomblo berdoa agar hari hujan. Supaya orang-orang tidak ke luar dan melakukan aktivitas yang menyenangkan.
Kelap-kelip lampu lalu lintas menyilaukan mata bagi kalangan yang menikmati suasana kota dengan berjalan kaki atau bagi kalangan yang menikmati kuliner di pinggir jalan.
Di sebuah restoran steak yang terkenal di Jakarta, sepasang pria dan wanita yang terlihat serasi baru saja memasuki restoran. Penampilan pria terlihat santai dengan celana jeans warna putih dipadukan dengan kemeja warna beige membuat penampilannya terlihat fresh dan tampan. Sementara wanita terlihat cantik dan anggun dengan slipp dress selutut warna senada dengan pasangannya.
Keduanya adalah pasangan Aldi dan Qyara yang baru saja sampai di sana. Saat sedang mengikuti pelayan menuju ke meja yang akan mereka tempati, mata Qyara melihat sosok wanita cantik yang sangat ia kenali. Tampa bisa menahan diri, ia langsung berseru memanggil nama wanita itu.
"Bila...!"
Aldi yang mendengar sang istri memanggil mantan calon istrinya itu ikut menoleh ke arah pandangan istrinya. Ia menemukan pasangan Raka dan Bila juga sedang berada di tempat yang sama dengan mereka.
Bila yang sedang menunggu steaknya datang tidak berharap namanya dipanggil oleh seseorang. Tapi ia tidak mau langsung membalas, mana tau bukan dirinya yang dipanggil. Akan tetapi, ia mengenal suara ini. Sehingga mau tidak mau matanya memindai sekeliling dan melacak orang yang memanggil namanya. Saat ia menemukannya, matanya membola tatkala pandangannya menyapu seorang wanita cantik yang tengah melambaikan tangan kepadanya dan seorang pria yang cukup tampan berdiri kaku di samping wanita itu. Tampa memandang sang suami yang sedang menatapnya dengan tatapan protective seakan berkata 'jangan teriak dan jangan berlari!'
Tapi apa mau dikata, wanitanya sudah berteriak memanggil sahabatnya sama kerasnya dengan suara pemanggil pertama.
"Qyaa...!"
Bila berdiri dan bermaksud menghampiri Qyara. Disaat bersamaan pelayan datang membawa nampan berisi seporsi steak panas yang baru diangkat dari pemanggang. Kecelakaan tidak bisa dihindari, sehingga steak panas mengenai tangan mulus Bila.
"Sayang!"
"Bila!"
Semuanya berteriak melihat adegan yang terjadi dihadapan mereka. Raka langsung panik dan membawa istrinya ke westafel untuk menyiram tangannya yang sudah memerah.
"Aku baik-baik saja Mas, nggak usah panik. Ini hanya luka kecil, nanti juga sembuh." Bila mencoba menenangkan suaminya. Bukannya tenang, Raka langsung muram karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
"Udah diam, kamu benar-benar bikin aku sakit kepala."
__ADS_1
Mendengar nada khawatir bercampur takut dari suaminya. Bila tau kalau saat ini Raka menyalahkan dirinya sendiri. Tapi ini kecelakaan, jadi bukan salah siapa-siapa oke.
"Ini bukan salah Mas dan bukan salah pelayan. Semuanya kecelakaan, jadi jangan memasang tampang seperti itu." Bila menatap suaminya yang sedang sibuk membersihkan tangannya dengan air mengalir.
Tak lama terdengar langkah kaki di belakang disertai seruan panik dari seorang wanita. "Bila! Kamu nggak apa-apa kan?" Dia langsung menyerobot untuk melihat keadaan sahabatnya dan mengabaikan tatapan tidak bersahabat Raka yang terdorong ke samping.
"Iya, aku nggak apa-apa Qya." Tersenyum manis dipermukaan, padahal sebenarnya ia ingin menangis karena tangannya terasa panas dan menyangat. Hanya Raka yang sadar ekspresi menderita istrinya.
Setelah mengamati tangannya dengan seksama, ia langsung memarahi wanita di depannya. "Nggak apa-apa gimana? Lihat tangan kamu memerah gini." Merogoh tasnya dan mengeluarkan salep untuk meredakan luka bakar. Kenapa dia memilikinya? Karena ia selalu ceroboh dan melukai dirinya setiap kali memasak atau memegang benda yang panas.
Bila merasakan sejuk dipermukaan kulitnya setelah Qyara menerapkan obat salep di punggung tangannya. Rasa panas dan menyengat yang ia rasakan tadi sudah mereda, sehingga ia tidak merasakan perih lagi.
Setelah menatap tangannya, Bila mengangkat pandangannya untuk menatap orang di depannya. "Terimaksih Qya," ia tersenyum lebar dengan mata ikut menyipit.
Qyara ikut tersenyum "Sama-sama Bil, lain kali kamu harus lebih hati-hati. Maafkan aku, karena itu terjadi setelah aku memanggilmu." Qyara menundukkan kepalanya.
Bila mendengus, kenapa orang-orang menyalahkan diri mereka sendiri? Tidak Raka, tidak Qyara, membuat dirinya kesal saja. "Kamu bicara apa? Semua ini murni kecelakaan, jadi bukan salah siapapun." Tatapannya sedikit menajam sebelumnya dan dengan cepat kembali seperti semula. Sampai-sampai tidak ada yang menyadari perubahan ekspresinya. Tapi ada satu orang yang melihat semua itu dan orang itu adalah suaminya sendiri. "Aku masih lapar, dimana steakku?"
Qyara tersenyum menyaksikan adegan manis itu, sedangkan Aldi terdiam di belakang seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Apa ini masih Bila yang ia kenal dulu?
"Benarkah? Apa boleh?" Tanyanya dengan mata berbinar-binar bahagia.
Raka mengangguk "Tentu," Raka membawa istrinya ke meja mereka tadi diikuti oleh dua orang lainnya.
Setelah duduk dengan nyaman, Bila segera bertanya kepada keduanya. "Apa kalian baru kembali? Kenapa tidak menikmati waktu lebih lama? Bukannya rencananya kalian akan di sana selama tiga hari?"
Sementara Raka memesan steak tiga porsi lagi dan mendengar istrinya mengajukan pertanyaan bertubi-tubi kepada Aldi dan Qyara, membuat ia langsung mendesah dalam hati.
Mendengar pertanyaan yang diajukan kepada mereka secara bertubi-tubi membuat Qyara terkekeh dan Aldi terbatuk pelan. "Iya, kami baru sampai sore tadi dan karena aku ingin makan steak makanya aku mengajak Mas Aldi ke sini. Tapi ternyata di sini bertemu dengan kalian." Qyara menjeda sebelum kembali melanjutkan. "Rencananya memang begitu, tapi aku sudah bosan. Makanya memaksa Mas Aldi untuk pulang." Tentu saja itu bohong, sebenarnya ia cepat pulang karena Bila sudah pulang lebih dulu. Sehingga ia merasa semua itu tidak lagi menyenangkan. Meskipun ia juga senang karena bisa berduaan dengan suaminya. Akan tetapi, ia merasa kalau lebih ramai akan lebih menyenangkan.
__ADS_1
"Ohh begitu rupanya."
Selesai kata-kata itu ke luar, seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Hal itu membuat Bila tersenyum dan hampir meneteskan air liurnya saking laparnya. Ah, padahal tadi dia sudah makan banyak.
Reaksi berbeda ditunjukkan oleh pasangan Aldi dan Qyara. Mereka menatap steak di hadapan mereka dengan pandangan bingung. Perasaan mereka belum memesannya. Kenapa sudah ada di sini? Aldi langsung menatap Raka yang berada di hadapannya.
Raka yang merasa sedang diperhatikan oleh seseorang langsung mengangkat pandangannya. Seolah paham kenapa Aldi menatapnya, ia langsung tersenyum canggung. "Aku yang memesankan untuk kalian. Ada apa? Apa mau diganti?"
Aldi menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, terimakasih Raka." Ia bukannya tidak tau saat Raka memesan steak tadi. Tapi ia pikir itu hanya untuk Bila dan tidak berpikir dia memesankan untuknya dan Qyara. "Tapi kenapa hanya tiga, apa kamu tidak makan juga?"
"Aku sudah kenyang, kamu tau sendiri aku sudah dari tadi ada di sini." Raka tersenyum dan melirik istrinya yang sedang asik dengan makanannya.
Aldi mengikuti arah lirikan Raka dan paham apa maksud dari pria itu. "Ah, kamu pasti tidak sanggup makan lagi. Baiklah, baiklah." Kemudian memakan makanannya.
Namun tampa diduga, seruan manis datang dari samping Raka. Membuat pria itu mau tidak mau menolehlan kepalanya.
"Mas, buka mulutnya!"
Raka menatap horror steak yang disodorkan Bila padanya. Lambungnya sudah memberikan alarm dan dikirimkan ke otaknya untuk menolak, karena ia sudah sangat penuh untuk saat ini. Raka memutar otak agar terhindar dari makanan itu. "Bukannya kamu tadi lapar, buat kamu aja ya sayang. Sekalian buat si kembar."
Bila menyipitkan matanya setelah mendengar jawaban suaminya. Namun setelah itu, ia menyuapkan steak itu ke mulutnya sendiri dan tidak berkomentar apa-apa. Akhirnya, Raka menghela napas lega. Kalau tadi Bila memaksanya, mau tidak mau ia akan menelannya dan menahan diri agar tidak muntah. Tapi, ia bersyukur istrinya tidak memaksanya.
.
.
.
.
__ADS_1
to be continue