Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Pacaran Yuk


__ADS_3

Aksa baru saja masuk ke dalam ruangan Raka setelah membelikan makan siang sesuai perintah Raka tadi. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu kamar pribadi bosnya dan membuat aktivitas romantis yang tengah di nikmati Raka berhenti seketika.


"Tuan, makanannya aku letakkan di atas meja." Ujar Aksa karena tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. Setelah mengatakan hal itu, Aksa melangkah menjauhi pintu dan meletakkan makanan yang ia beli di tas meja kaca di depan sofa minimalis bewarna coklat tua. Kemudian berjalan ke luar dari dalam ruangan Raka.


Raka dan Bila langsung ke luar setelah membersihkan diri karena mereka sempat melakukan quicky sex untuk menyalurkan emosi Bila. Pasangan itu juga sudah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Raka menuntun istrinya duduk di sofa dan membuka bungkus makanan yang terletak di atas meja.


Mata Bila langsung berbinar melihat banyak makanan di depan matanya. Di depannya ada lasagna, salad buah dan sandwich isi tuna. "Aku makan ya Mas." Bila langsung mengambil satu sandwich dan memasukkan ke dalam mulutnya setelah membaca doa.


Raka tersenyum melihat istrinya makan dengan lahap, apalagi Bila benar-benar membuat dirinya kagum dengan cara wanita itu menghadapi wanita gila tadi. Meskipun ia harus menghadapi kemarahan istrinya tadi, tapi dengan cara yang membuat dirinya senang bukan main. Bagaimana tidak, alih-alih marah dengan mengeluarkan kata-kata mutiaranya yang akan berakhir dengan deraian air mata. Bila malah memberikannya kepuasan lahir dan batin. Oh, sungguh kamu memang terbaik sayang.


"Mas nggak makan?" Suara Bila yang bertanya membuat Raka kembali kepada kesadarannya. Namun, tidak membuka suara sama sekali dan tetap menatap lekat istrinya. Yang entah kenapa semakin terlihat lebih cantik saat ini.


"Jangan melihatku seperti itu? Buka mulutnya?" Perintahnya mutlak, seraya menyodorkan makanan ke mulut Raka.


Refleks Raka membuka mulut dan menerima makanan yang di masukkan ke dalam mulutnya oleh sang istri. "Buka lagi!"


"Sebentar bee, ini masih ada." Jawab Raka dengan suara teredam karena masih mengunyah makanan.


Bila langsung terkekeh. "Iya sayangku." Ucapnya gemas dan kembali menyodorkan makanan ke mulut suaminya yang sudah terbuka lebar. "Apaan sih? Biasa aja buka mulutnya." Raka langsung tersenyum tipis dan mengunyah makanannya.


"Setelah ini mau kemana bee?" Tanya Raka lembut. Bila mengalihkan pandangannya dari makanan ke arah suaminya.


"Rencana mau langsung pulang sih. Kenapa?" Bila bertanya balik sambil menatap suaminya serius.


"Pacaran yuk." Bisik Raka dengan suara rendah, membuat tubuh Bila meremang saat hembusan napas Raka menerpa kulit lehernya. Sehingga semburat merah berhasil tercetak di pipi putihnya.


Bila menganggukkan kepalanya malu-malu. Sungguh, tiada hal yang paling indah selain menghabiskan waktu berdua dengan kekasih halal bukan? Hal itulah yang tengah di rasakan keduanya.


Raka langsung bersorak kegirangan dan mencium istrinya berkali-kali. This is their first date after marriage. "Tunggu Mas sebentar ya bee, Mas mau menyelesaikan sedikit pekerjaan." Ujar Raka seraya bangkit dari duduknya.


"Tentu hubby." Sebuah senyum tulus langsung melengkung di bibir indahnya.


Dengan semangat, Raka langsung menyambangi meja kerjanya dan berputar untuk duduk di kursi kebesarannya. Menghidupkan laptop dengan tergesa, kemudian fokus dengan setumpuk berkas yang ada di atas mejanya.


Sementara Bila, memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya. Ia lirik Raka masih berkutat dengan segudang pekerjaannya. Sehingga ia kembali fokus ke layar ponselnya.


"Fokus banget! Liatin apaan sih bee?"


Bila mengangkat kepalanya dan menatap Raka yang berdiri di hadapannya dengan senyum merekah. "Udah selesai kerjanya?" Bila tidak menjawab dan malah bertanya. Karena ia hanya melihat-lihat media sosialnya saja.

__ADS_1


"Udah dong, ayo berangkat." Raka mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Bila dengan senang hati. Kemudian membawa istrinya ke luar dari ruangannya.


"Adara, nanti katakan pada Aksa, kalau saya pulang duluan." Ucap Raka saat melewati meja sekretarisnya.


"Baik tuan, akan saya sampaikan."


Raka langsung berlalu sambil memeluk pundak sang istri untuk turun ke bawah.


πŸ’πŸ’πŸ’


Qyara baru saja selesai mandi saat suaminya masuk ke dalam kamar. "Mas Aldi? Tumben udah pulang?" Tanya Qyara heran dan langsung menghampiri suaminya.


"Iya, aku mau mengajak kamu ke suatu tempat. Bersiaplah!" Serunya kepada sang istri.


"Baiklah, aku akan siap-siap." Qyara langsung berlari ke walk in closet.


"Sayang...! Jangan berlari, nanti jatuh!" Teriak Aldi memperingatkan istrinya.


Qyara terkekeh dan menongolkan kepalanya dari pintu walk in closet. "Aku terlalu senang, sampai lupa kalau sedang tidak sendiri." Kemudian kembali memasukkan kepalanya yang membuat Aldi tertawa ringan.


"Sudah siap?" Tanya Aldi saat Qyara ke luar dari walk in closet dengan rok levis sebetis dan blouse warna kuning dengan lengan panjang berbentuk balon. Serta rambut yang ia biarkan tergerai indah. Penampilannya dilengkapi dengan sepatu flatt warna nude. Sehingga membuat dirinya terlihat sempurna meskipun tengah berbadan dua.


Pasangan suami istri itu segera meninggalkan rumah setelah masuk ke dalam mobil. Membelah jalanan ibu kota menuju ke tempat menonton film layar lebar terbesar du ibu kota.


"Bee, tunggu di sini ya. Mas mau beli tiket dulu."


Bila mengangguk patuh dan duduk tenang di bangku tunggu yang ada di sana. Kenapa tiket? Yap, karena mereka sedang berada di bioskop. Raka sengaja mengajak Bila menonton di biskop untuk menikmati kencan mereka layaknya anak abg yang sedang kasmaran.


Wanita cantik berhijab itu terjengkit kaget saat pundaknya di tepuk seseorang. Astagfirullah, siapa sih? Geramnya marah, kemudian berbalik untuk bersiap mengomeli orang yang mengagetkannya. Semua omelan yang sudah siap ia semburkan, harus ia telan lagi saat melihat seorang wanita cantik tengah tersenyum kepadanya.


"Nona Qyara?" Sapanya dengan ekspresi kaget.


"Hai, maaf ya bikin kamu kaget." Ucapnya dengan nada sendu. "Bisa tidak, kamu jangan memanggilku nona? Aku merasa tidak nyaman!" Qyara mengambil napas. "Panggil namaku saja ya, please." Qyara meraih tangan Bila dan menggenggamnya lembut.


Bila tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. "Baiklah Qyara," matanya kini beralih ke perut Qyara yang sudah terlihat menonjol. "Kamu sedang hamil?" Bila sudah tidak bicara terlalu kaku dengan Qyara. Membuat wanita cantik itu tersenyum hangat mendengarnya.


"Iya, sudah masuk 2 bulan." Jawab Qyara sambil mengelus perutnya.


"MasyaAllah, selamat ya Qyara." Bila terlihat bahagia mendengar kehamilan Qyara, entah kenapa dia jadi merasa ada teman yang sedang sama-sama hamil.


"Makasih Salsabila. Oh iya, kamu sendiri ke sini?" Qyara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang.

__ADS_1


"Panggil aku Bila aja. Aku ke sini dengan suamiku, dia sedang membeli tiket di sana." Bila mengarahkan telunjukknya ke arah suaminya berada.


"Wahhh, bakalan seru nih. Aku juga ke sini dengan suamiku. Bagaimana kalau kita double date?" Usul Qya dengan nada antusias.


Bila terlihat berpikir sejenak. "Hmmm, not bad," gumamnya pelan. "Sure, I'm agree with you proposal. Aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi." Bila langsung tersenyum dan Qyara terdiam mencerna kata-kata wanita di hadapannya.


"Bee, maaf ya lama. Antriannya panjang banget sayang. Ini buat kamu." Raka menyodorkan popcorn dalam ukuran jumbo ke tangan Bila. Karena setelah mendapatkan tiket, ia membelikan popcorn dan minuman untuk istrinya.


"Thank you so much hubby." Bila memberikan senyuman terbaiknya. "Sayang, ini ada Qyara." Bisik Bila saat Raka memeluknya dengan hangat dan belum menyadari keberadaan Qyara.


"Nona Qyara?" Raka langsung memasang wajah datarnya. "Kamu sen-


"Sayang," ucapan Raka terhenti saat seorang pria memanggil Qyara. Aldi langsung terbelalak kaget saat melihat siapa yang sedang bicara dengan istrinya. "Bila? Tuan Raka?" Mulutnya refleks menyebutkan nama itu.


"Hai Mas Aldi, lama tidak berjumpa ya? Apa kabar?" Saut Bila cepat. Ia merasa biasa saja, karena saat ini di hatinya sudah ada Raka.


Aldi langsung tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meskipun ia sudah mencintai Qyara dan menerima pernikahannya dengan ikhlas. Tapi, tetap saja nama wanita yang tengah bertanya padanya saat ini masih tersimpan rapi di salah satu ruang di hatinya.


"Aku baik Bil, Qyara menjagaku dengan baik selama ini." Jawab Aldi sambil merangkul pundak istrinya.


"Baguslah kalau gitu Mas," Bila langsung tersenyum manis. "Oh iya, tadi Qyara ngajak double date loh. Gimana menurut kamu Mas?" Bila melirik suaminya yang dari tadi hanya diam mendengarkan percakapan Bila dan mantan kekasihnya. Termasuk Qyara yang terkejut dengan interaksi keduanya.


"Ide yang bagus." Jawab Raka datar, "bee, ayo masuk. Sebentar lagi filmnya mulai loh." Raka langsung memeluk pinggang Bila possessive dan melirik Aldi dan Qyara. "Kita pergi dulu ya, atau kita di theater yang sama?" Tanya Raka sebelum beranjak pergi dari posisinya berdiri.


"Kita theater 2," jawab Aldi setelah melihat tiket di tangannya. "Kalau kalian?"


"Yap, kita di theater yang sama. Kalau begitu, ayo masuk." Raka langsung berjalan sambil memeluk pinggang Bila diikuti oleh Aldi dan Qyara dari belakang.


Sampai dalam theater, ternyata mereka duduk satu baris. Sehingga Qyara dan Bila duduk di tengah dan para suami di samping pasangan masing-masing.


Film pun di mulai, Bila konsentrasi dengan filmnya seraya tangan dan mulutnya tidak berhenti beraktivitas untuk memakan popcorn miliknya. Begitupula dengan Qyara, ia juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Bila. Sementara Raka dan Aldi hanya menatap lurus ke layar untuk menyaksikan film dengan sesekali melirik istri masing-masing yang sedang fokus dengan kegiatannya.


.


.


.


.


to be continue

__ADS_1


__ADS_2