
Selama perjalanan menuju kampus, tidak ada percakapan yang terjadi di antara Aksa dan Calista. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terurama Aksa yang memikirkan alasan Calista tidak mengingatnya.
"Terimakasih kamu sudah mau menolong saya. Kalau begitu saya turun dulu." Ucap Calista saat hendak turun dari mobil Aksa.
"Tunggu!" Seru Aksa spontan saat pintu mobil sudah terbuka dan Calista sudah mengeluarkan salah satu kakinya.
"Ya, ada apa?" Calista menoleh dan menatap pria di sampingnya serius.
"Hmmm itu... aaa.. " Lidah Aksa tiba-tiba kelu saat akan menjawab pertanyaan Calista. Padahal dia hanya ingin meminta nomor ponsel gadis itu.
"Itu apa? Buruan, saya harus segera pergi."
Aksa yang di desak langsung bicara sambil memejamkan mata. "Boleh minta nomor ponsel kamu?"
Calista tertegun sejenak sebelum menjawab pertanyaan Aksa. "Untuk apa?"
"Untuk... " Aksa memutar otak agar tidak terlihat sangat ingin mendapatkan nomor gadis itu. Walaupun pada kenyataannya seperti itu. "Motor kamu kan ada sama bawahan saya. Kalau saya tidak memiliki kontak kamu. Bagaimana saya bisa menghubungi kamu nantinya."
Calista menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya, aku lupa. Mana ponselmu." Dia menengadahkan tangannya meminta ponsel Aksa. Kemudian mengetik nomor ponselnya di sana.
Yes, berhasil. Sorak Aksa dalam hati saat menerima kembali ponselnya yang barusan berada di tangan Calista. Tapi di satu sisi ia sedih karena akan sangat sulit mendekati Calista lagi.
"Kalau begitu saya pergi dulu. Sekali lagi terimakasih."
"Iya sama-sama."
Calista segera ke luar dari dalam mobil dan secepat kilat langsung bergegas menuju ke ruangan dosennya. Sedangkan Aksa langsung melajukan mobilnya menuju kantor karena sudah ditelphon oleh Raka.
πππ
Raka yang sedang berdiskusi dengan Aksa dan Jimmy perihal penyergapan nanti malam langsung heran saat melihat Aksa melamun dan sesekali keningnya berkerut seperti memikirkan sesuatu. Hal itu juga tak lepas dari pandangan Jimmy.
"Dia kenapa?" Tanya Jimmy tampa suara dan langsung dibalas dengan kedikan bahu oleh Raka.
"Woii, melamun aja. Ada apa sih?" Jimmy menepuk pundak Aksa dan membuat pria itu terperanjat kaget.
"Woii bule, kamu ngagetin aja. Untung aku nggak ada riwayat sakit jantung. Kalau nggak udah meninggal aku." Teriak Aksa karena ulah Jimmy.
"Salah sendiri melamun aja dari tadi. Memangnya kamu mikirin apa?"
"Tadi aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama pergi entah kemana." Ujar Aksa memulai ceritanya.
__ADS_1
"Siapa?"
"Iya, siapa?"
Tanya keduanya secara bersamaan karena sangat penasaran dengan orang yang ditemui Aksa.
"Calista Zalva Olina."
Mendengar nama Calista meluncur dari mulut Aksa membuat mata Raka langsung melebar dan menatap Aksa serius. "Calista? Kamu ketemu dia dimana?" Tanya Raka penasaran. Karena Raka juga mengetahui tentang menghilangnya Calista beberapa tahun yang lalu yang pada akhirnya sempat membuat Aksa down.
Jimmy yang melihat reaksi Raka langsung heran dan hanya diam tampa komentar. Karrna dia memang tidak mengenal siapa Calista.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di halte yang tidak jauh dari kantor. Motornya mogok dan aku menghampirinya. Tapi... " Aksa menghela napas berat dan nada Aksa mulai berubah sendu. Hal itu juga dirasakan oleh Raka dan Jimmy. Karena aura Aksa berubah jadi gelap.
"Tapi apa? Apa dia sudah menikah?" Tanya Raka karena melihat ekspresi sedih Aksa seperti orang yang patah hati.
"Atau sudah punya tunangan?" Tambah Jimmy yang baru mengeluarkan suaranya.
Aksa menggeleng cepat. "Dia masih kuliah saat ini dan belum menikah maybe."
"Lalu, kenapa kamu sedih?"
"Dia tidak ingat denganku dan mengaku dirinya masih berusia 20 Tahun."
"Iya bisa jadi." Timpal Jimmy.
"Aku nggak mungkin salah. Kalian lihat aja, ini fotonya."
Aksa mengambil ponselnya dan menekan profil WA Calista. Kemudian menunjukkan kepada Raka dan Jimmy.
"Jadi dia beneran Calista? Tapi apa yang terjadi padanya? Kenapa dia melupakan kamu?"
"Aku nggak tau. Sepertinya ini berhubungan dengan menghilangnya Calista sebelumnya."
"Sepertinya memang benar. Nanti coba kamu cari tau aja semuanya lebih lanjut. Sekarang kita fokus untuk nanti malam dulu." Ujar Raka dan melanjutkan diskusi mereka yang sempat tertunda.
πππ
Di dalam sebuah ruangan terlihat seorang pria tampan sedang berkutat dengan berkas-berkas yang akan ia sampaikan saat meeting beberapa menit lagi. Dia adalah Reihan yang saat ini berkerja membantu ayahnya di kantor.
Tak lama ponselnya berdering dan membuat konsentrasi Reihan buyar. Ia pun segera melihat siapa yang menghubunginya. Melihat tidak ada nama yang tertera, ia tidak menjawabnya dan membiarkan begitu saja. Namun orang yang menghubunginya tidak menyerah dan terus mengubungi Reihan sampai-sampai membuat pria itu kesal.
__ADS_1
"Hallo, dengan siapa saya bicara?" Jawabnya dengan nada dingin.
"Ha.. llo mas, ini saya."
"Saya siapa?"
"Maureen."
Reihan terdiam dan sepertinya ia pernah mendengar nama itu. Setelah mengingatnya matanya langsung melebar.
"Dari mana kamu mendapatkan nomor ponsel saya?"
"Kamu tidak perlu tau mas."
Reihan mendadak merasakan perasaan tidak nyaman karena ia merasa tidak pernah memberikan nomor ponselnya kepada Maureen atau orang yang tidak dikenal. Jadi bagaimana mungkin perempuan itu bisa mendapatkan nomor ponselnya. Hal yang paling membuat Reihan tidak nyaman karena suara perempuan ini sangat berbeda auranya dengan perempuan yang ia temui saat itu.
"Ada perlu apa kamu menghubungi saya?" Tanya Reihan basa basi namun masih dengan nada datar.
"Saya hanya ingin mendengar suara kamu mas. Apa tidak boleh?"
Kening Reihan langsung berkerut dalam. Ada apa dengan perempuan ini? Pikirnya.
"Maaf saya sedang sibuk. Kalau tidak ada hal penting lainnya yang ingin dibicarakan. Telphonnya saya tutup, assalamualaikum." Reihan langsung memutuskan sambungan telphon dan memblokir nomor tersebut.
Maureen menatap layar ponselnya dan mencoba menghubungi Reihan kembali. Namun sama sekali tidak bisa karena memang nomornya sudah di block oleh Reihan.
"Kurang ajar!" Dia melempar ponselnya sampai berserakkan di lantai. "Kenapa kamu memblokir nomor ponselku mas?" Gumamnya dengan ekspresi terluka dan air mata bercucuran. Namun tak lama ia tertawa dengan wajah sembab, sehingga membuat ia terlihat menyeramkan.
"Aku tidak akan menyerah Mas Reihan sayang. Karena kamu sudah membuat aku jatuh cinta sejak saat itu. Kamu harus menjadi milikku, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku." Usai berkata seperti itu. Ia langsung tertawa seperti orang gila. Hal itu sungguh membuat hati Helena sakit bagaikan tertusuk sembilu. Ia tak sengaja mendengar ocehan Maureen saat lewat di depan kamar putrinya itu.
Hmmm.... antara cinta dan obsesi memang beda tipis. Cinta itu perasaan suci yang hadir dan membuat seseorang bahagia. Cinta akan memuliakan dan tidak akan menyakiti. Seseorang yang jatuh cinta tidak akan membiarkan orang yang ia cintai terluka atau tidak nyaman. Berbeda dengan cinta, obsesi lebih kepada keinginan untuk memiliki yang sangat besar dan akan membuat siapa saja akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Bahkan sampai melakukan tindakan di luar nalar dan dia tidak akan segan untuk menyakiti seandainya apa yang dia mau tidak bisa ia dapatkan.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1
Maaf banget baru up semuanya, karena baru kelar acara pesta.