
Suasana Rumah Sakit siang itu terlihat sangat ramai. Banyak orang berlalu lalang di koridor Rumah Sakit dengan berbagai macam kegiatan. Ada yang menjenguk keluarganya, perawat yang sedang bertugas, dokter yang sedang mengunjungi pasiennya. Akan tetapi di depan ruangan operasi terlihat beberapa orang dengan wajah harap-harap cemas menantikan hasil dibalik pintu ruangan operasi tersebut.
"Ibu, bagaimana Salwa?"
Bu Sukma menoleh saat mendengar suara putri sulungnya yang baru sampai di Rumah Sakit. "Belum tau Bil, Salwa sedang berada di dalam ruangan operasi untuk melakukan Cesar karena ia tidak bisa melahirkan normal." Jawab bu Sukma dengan ekspresi khawatir. Bila mendekati ibunya dan memeluk wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini.
"Kita doakan semoga persalinan Salwa berjalan lancar, aamiin." Bila mencoba memberikan ketenangan kepada ibunya, meskipun dirinya sendiri juga tidaklah tenang. Apalagi ia juga dalam keadaan hamil, hal yang membuat dirinya takut.
Sementara Afnan yang berada di dekat istrinya tak henti-hentinya memberikan semangat kepada wanita itu. Meskipun pernikahan mereka karena perjodohan, akan tetapi Afnan sangat mencintai Salwa istrinya.
Tangisan nyaring seorang bayi langsung menyeruak ke dalam gendang telinga semua orang. Kalimat syukur tak henti-hentinya di ucapkan Afnan kepada Allah dan mencium kening istrinya berkali-kali.
"Terimakasih humairahku, aku mencintaimu." Bisik Afnan di telinga Salwa, membuat wanita itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga mencintaimu suamiku." Balas Salwa dengan derai air mata kebahagiaan.
Afnan segera menggendong bayi mungil mereka yang berjenis kelamin laki-laki dan membawanya ke arah sang istri. Salwa tak bisa lagi membendung air matanya dan mencium kening putranya cukup lama.
Sementara mereka yang berada di luar masih harap-harap cemas akan apa yang terjadi di dalam sana. Namun semuanya bernapas lega saat melihat Salwa di dorong dengan ranjangnya bersama bayi mungil dalam dekapannya. Sedangkan Afnan langsung menghampiri Raka dan memeluk kakak laki-laki angkatnya itu seraya berkata.
"Aku sudah menjadi ayah Mas, aku menjadi seorang ayah."
Raka membalas pelukan adiknya dengan erat. "Selamat Afnan, semoga anak kalian menjadi anak yang taat pada Tuhannya, Rasulnya dan berbakti kepada kedua orang tuanya." Ucap Raka setelah meregangkan pelukan dari adiknya dengan sebuah senyum yang menghiasi wajahnya. "Ayo kita susul istrimu, aku sudah tidak sabar melihat keponakanku. Apa jenis kelaminnya?" Tanya Raka seraya berjalan bersisian dengan adiknya itu. Sementara Bila berjalan bersama ibunya dan Pak Suryo bersama istrinya.
"Aku mendapatkan anak laki-laki yang tampan Mas." Jawab Afnan dengan mata berbinar, karena ia memang menginginkan anak laki-laki sebagai anak pertamanya.
"Benarkah? Keinginanmu terkabul ya adik kecil." Raka mengacak-acak rambut Afnan dan membuat pria itu protes tidak terima dengan perlakuan Raka yang menganggapnya anak kecil. Padahal ia sudah menjadi seorang ayah.
"Mas Raka! Aku bukan anak kecil." Afnan langsung mendengus sebal dan hal itu membuat wajah pria itu terlihat lucu.
Semua orang yang ada di belakang mereka yang terdiri dari Bila, bu Sukma, Pak Suryo dan istrinya langsung tertawa. Ternyata Afnan sangat menggemaskan ketika merajuk seperti itu.
"Mas Afnan, jangan meniru sifat Mas Raka yang suka merajuk. Nanti Salwa jadi kalah, sebab Salwa kan queen of merajuk."
Kedua pria itu menoleh dan melototkan mata kepada wanita yang berbicara barusan. "Kenapa kalian melotot kepadaku? Mau aku congkel mata kalian hah?" Teriak Bila galak dan langsung membuat keduanya menciut karena singa betina Raka sudah dalam mode ON.
Afnan langsung menelan kasar salivanya. Ternyata istri Raka lebih galak dari istrinya Salwa. Afnan melirik saudaranya sekilas, Ah! Ternyata mereka memang ditakdirkan bersama, karena sama-sama galak dan dingin. Afnan kembali menatap kakak iparnya seraya berkata. "Kakak ipar, jangan marah-marah. Nanti keponakanku jadi takut." Telunjuknya mengarah ke perut Bila.
"Oh! Kamu perhatian sekali adik ipar lebih tua."
Semua orang saling pandang dan tersenyum penuh arti setelah mendengar panggilan khusus dari Bila untuk Afnan 'adik ipar lebih tua.' Cukup aneh dan membuat orang bertanya-tanya kenapa dia melakukan hal itu. Otak mereka berputar mengingat penggilan Bila pertama kali untuk Afnan. Istri Raka memanggil Afnan dengan awalan 'Mas' yang artinya wanita itu lebih muda dari Afnan.
πππ
Raut bahagia tak bisa lagi mereka sembunyikan saat memasuki ruangan tersebut. Ucapan selamat dan syukur selalu terucap di bibir semua orang. Terutama para orang tua yang bahagia mendapatkan cucu pertama mereka. Kedua pasangan kakek dan nenek baru berebut ingin menggendong cucu mereka. Alhasil karena tidak ada yang mau mengalah, bayi tampan itu di ambil alih oleh Bila.
__ADS_1
"MasyaAllah,, keponakan tante Bila tampan sekali." Bila mencium kening bayi mungil tersebut gemas. Raka mendekat dan memeluk istrinya dari samping.
"Kalau yang dalam perut kapan berojolnya ya? Udah nggak sabar pengen gendong" Bisik Raka di telinga istrinya dan membuat Bila menoleh pada suaminya seraya menggumamkan sesuatu.
"Apaan sih."
"Bukan apa-apa," Raka melepaskan pelukannya dari Bila dan menjauh dari istrinya itu.
Bila melirik suaminya yang pergi menjauh dengan ekor matanya dan langsung tersenyum tipis melihat ekspresi Raka. My husband is very cute. Gumamnya dalam hati.
Setelah puas menimang bayi Salwa dan Afnan, Bila mengembalikan bayi mereka ke tangan Salwa. "Siapa namanya dek?" Tanya Bila sambil menatap Salwa serius.
"Farhan Rafiq Mannaf kak." Jawab Salwa sambil tersenyum manis. "Artinya anak yang akan menjadi teman baik dan selalu bergembira dengan penuh keberuntungan."
Bila langsung speechless, "wahhhh namanya sangat bagus dan artinya juga."
"Iya dong kakak ipar, namanya aku yang kasih." Timpal Afnan yang sudah berdiri di dekat istrinya.
Bila tersenyum dan memberikan jempolnya ke arah Afnan. "Mas Afnan terbaik."
"Ahmmm, jadi suami kamu bukan yang terbaik."
"Apa Mas Afnan dengar orang bicara?" Tanya Bila kepada Afnan.
Pak Suryo menatap istrinya yang juga menatap bu Sukma. Benak mereka bertanya-tanya dengan apa yang terjadi di depan mereka. "Bukannya yang bicara itu Raka, tapi kenapa Bila seperti tidak melihat suaminya sendiri?" Tanya Pak Suryo dengan suara pelan agar yang bersangkutan tidak mendengarkan ucapannya.
Sementara Raka langsung cemberut dan memeluk istrinya dari belakang seraya meletakkan dagunya di pundak Bila. "Bee, kamu nanti akan aku hukum." Bisik Raka di telinga Bila dan membuat Bila meremang karenanya.
"Oh yaa? Aku tidak takut." Balas Bila dengan senyum mengejek.
"Baiklah sayang, sampai di rumah nanti kamu akan mendapatkan hukuman dariku." Raka sengaja meniup telinga Bila dan membuat wanita itu menegang.
Pelukan mereka terlepas karena mendengar deheman seseorang. Keduanya langsung melotot tatkala semua mata tertuju kepada mereka berdua.
"Dunia berasa milik berdua ya, kita-kita hanya numpang." Sarkas Afnan diiringi tawa ringan.
"Kita berenam seperti hantu yang tidak terlihat oleh mereka." Timpal Pak Suryo dengan nada sarkas.
Pipi Bila langsung panas dan memerah seperti tomat karena kata-kata mereka. Sementara Raka langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Namanya pasangan yang baru bertemu setelah beberapa hari berpisah. Perasaan rindu itu pasti menggebu-gebu. Bukan begitu sayang?" Goda bu Sukma seraya menatap putrinya.
Detik itu juga, Bila langsung membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Sebab wajahnya sudah sangat merah karena malu. Hal itu disadari oleh Raka dan membayangkan bagaimana merahnya wajah sang istri saat ini. Ah! Sunggung menggemaskan. Soraknya dalam hati.
"Ibu lihatlah, putrimu sangat malu saat ini. Sampai wajahnya sudah seperti awww."
__ADS_1
Semua orang heran kenapa Raka berhenti berbicara, dan langsung meringis kesakitan. Ternyata tangan Bila sudah mendarat dengan cantik di perut kotak-kotak Raka yang hanya memakai baju kaos.
"Ada apa nak? Kenapa kamu berteriak?" Tanya pak Suryo heran.
"Aku tidak apa-apa Bah, hanya di gigit semut nakal Bah." Jawab Raka dengan senyuman tak berdaya. Karena sang istri sudah membisikkan sesuatu.
"Jadi Mas ngatain aku semut nakal? Kalau aku semut nakal, kamu apa hah?" Suaranya terdengar datar dan dingin seakan membuat Raka membeku setelah mendengarnya.
πππ
Reihan baru sampai saat Bila dan Raka beranjak akan pulang. Karena Bila mendadak pusing dan mual-mual.
"Kak Bila kenapa Mas?"
"Mungkin kakak kamu kelelahan Rei, biasanya ibu hamil itu cepat lelah." Bukan Raka yang menjawab, melainkan Bu Sukma yang melihat wajah putrinya yang mulai pucat dan terlihat kelelahan.
"Ohhh iya sih, ya udah kakak pulang aja. Istirahat ya kak, makan yang banyak. Jangan layanin Mas Raka dulu, su.. aduhh sakit." Reihan tak melanjutkan kata-katanya karena tangan ibunya sudah mendarat di telinga kanannya. Iya, bu Sukma menjewer telinga anaknya.
Bila hanya menatap adiknya datar dan menghembuskan napas pelan. Kemudian menatap suaminya yang sudah selesai pamit kepada semua orang. "Ayo pulang." Ajak Raka seraya merangkuk pundak istrinya.
Bila menghentikan langkahnya seraya menoleh pada suaminya yang sedang menatapnya seolah bertanya 'ada apa?' "Gendong." Rengek Bila manja, seolah paham apa yang di tanyakan suaminya lewat tatapan mata.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tertawa melihat tingkah manja Salsabila yang tidak biasa. Raka sedikit terkejut dengan permintaan istrinya. Pasalnya mereka sedang berada di Rumah Sakit, ia sendiri sih tidak masalah. Malahan ia senang kalau bisa melakukan hal itu, sehingga ia mempunyai kesempatan berdekatan dengan istrinya selama perjalanan ke parkiran. Tapi yang jadi beban pikiran Raka saat ini adalah pandangan orang-orang terhadap mereka nantinya. Maklum saja, sebagai orang timur pastinya kita masih tabu melakukan hal-hal bersifat intim di khalayak ramai. Ingin rasanya Raka menolak permintaan istrinya. Namun, saat melihat tatapan memelas dan penuh harap dari Bila membuat Raka tidak tega untuk menolaknya.
Bismillah Raka membawa istrinya kedalam gendongannya dan refleks Bila melingakarkan tangannya di leher Raka dengan kepala di sembunyikan di dada bidang suaminya itu. Kemudian berjalan ke luar dari ruangan Salwa menelusuri koridor Rumah Sakit menuju parkiran. Semua mata tertuju kepada mereka berdua dengan tatapan berbeda-beda. Ada yang menatap dengan kagum, tidak suka, iri, dan tatapan lainnya. Sementara Bila tidak memperdulikannya. Karena dirinya sangat-sangat nyaman dalam gendongan Raka yang membuat matanya mengantuk. Alhasil Bila tertidur dalam gendongan Raka.
Raka yang tidak merasakan pergerakan istrinya dan mendengar suara napas yang teratur seperti orang tidur langsung menundukkan kepalanya. "Sudah tidur ternyata." Senyumnya dan berjalan ke mobilnya yang sudah terlihat seraya menekan smart key yang ada di tangannya.
Raka Membuka pintu dengan susah payah dan setelah terbuka ia meletakkan tubuh istrinya perlahan agar tidak bangun. Saat Raka akan beranjak dan menutup pintu, namun tidak jadi karena tangannya di genggam seseorang yang menggumamkan sesuatu.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Serunya sambil terisak dan dalam sekejap tangisnya berhenti berganti menjadi ekspresi marah dengan rahang yang mengeras. "Aku benci sama kamu, karena kamu tidak percaya padaku dan pergi meninggalkanku!" Serunya dengan suara datar dan dingin serta mata yang masih tertutup.
Hati Raka seperti tertusuk ribuan jarum dan diremas secara bersamaan. Sakit memang meskipun istrinya mengatakan secara tidak sadar. Hal itu berarti apa yang ia ucapkan adalah kebenaran dan hal itu yang sedang di rasakan hatinya di alam bawah sadarnya. "Aku sudah melukai hatinya." Gumamnya dengan suara rendah dan sedikit serak.
Meskipun begitu, ia melepaskan tangan Bila secara perlahan dan berputar untuk masuk ke kursi kemudi. Setelah menghidupkan mesin mobil, Raka pergi meninggalkan Rumah Sakit tersebut.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1