
Semua orang masih fokus dengan film yang mereka tonton. Sementara perhatian Raka teralih ke istrinya yang tiba-tiba tidak nyaman karena mencium sesuatu yang menyengat.
"Bee, are you okay?" Bisik Raka di telinga Bila.
"I'm okay, tapi aku mau ke toilet." Bila langsung berdiri dan melangkah pergi sambil menahan gejolak yang tengah dirasakan perutnya.
"Bila kemana?" Tanya Qyara heran.
"Katanya mau ke toilet, aku mau menghampirinya dulu." Raka langsung berdiri dan beranjak mengikuti istrinya ke luar.
Sementara Bila sudah berada di dalam toilet yang terlihat cukup ramai. Ia langsung masuk ke salah satu toilet yang kosong dan memuntahkan isi perutnya di sana. Setelah dirasa mualnya tidak terasa lagi. Ia memutuskan untuk ke luar dan menuju westafel untuk mencuci mulutnya dan mengeringkan dengan tisu.
Semua orang yang ada di sana, menatapnya dengan tatapan tidak bisa di artikan dan mulai berbisik-bisik.
"Bukannya dia itu yang mempermalukan pelakor yang menggoda suaminya itu bukan?" Ucap salah seorang wanita yang ada di sana.
"Iya, memang dia. Ternyata dia memang cantik ya." Timpal temannya.
Namun Bila tidak terlalu menghiraukannya dan segera melangkah ke luar dari dalam toilet. Sampai di luar, ia langsung di cecar oleh Raka dengan pertanyaan.
"Kamu nggak apa-apa kan bee? Apa kamu muntah lagi? Apa mau pulang saja? Atau__
Bila langsung mencapit bibir Raka agar berhenti berbicara. "Aku nggak apa-apa Mas, tadi hanya mual karena mencium parfum salah satu penonton." Bila menarik napas sejenak. "Aku belum mau pulang, kita kan udah janji mau double date sama Qyara dan Mas Aldi." Setelah mengatakan itu, Bila melepaskan capitan tangannya dari bibir Raka.
"Bee, kenapa di capit sih? Kalau di cium sih nggak apa-apa." Ujar Raka sambil tersenyum menggoda.
Bila langsung memutar bola matanya melihat tingkah suaminya. "Dasar mesum!" Kemudian langsung berlalu meninggalkan Raka yang tersenyum senang karena berhasil menggoda istrinya. Lalu segera mengikuti arah langkah Bila yang menuju ke kursi tunggu.
Orang-orang yang ada di toilet tadi langsung melongo melihat keduanya yang terlihat menggemaskan. "Oh my God, mereka serasi banget. Kamu lihat kan tadi gimana wanita itu membuat suaminya berhenti bicara?"
"Iya, aku lihat. Aaa,, jadi pengen punya pasangan seperti itu deh. Yang perhatian, tampan dan sweet kayak gitu."
"Berdoa aja, supaya kamu dapat pasangan yang seperti itu." Timpal temannya dan beranjak pergi dari dalam toilet.
πππ
Bila terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Sementara menunggu Qyara dan Aldi ke luar dari dalam theater, ia mengeluarkan cemilan yang ia bawa tadi.
"Ahmm, sendirian aja mba. Boleh duduk nggak?"
__ADS_1
Bila yang hampir menyantap cemilannya langsung menoleh ke sampingnya. "Duduk aja, ngapain minta izin segala? Bangkunya bukan punya saya!" Jawab Bila datar dan kembali melanjutkan niatnya untuk makan.
"Maksud saya, ada yang marah nggak kalau saya duduk dekat mba?"
Bila langsung jenkel dengan pria bau kencur di sampingnya. Apa dia buta tidak melihat cincin yang melingkar cantik di jari manis Bila? Pakai sok basa-basi segala menanyakan ada yang marah atau nggak? Huh, pria itu salah besar sudah mencoba merayu Bila.
"Ada, suami saya." Bila langsung meraih tangan Raka yang berdiri di sampingnya. Membuat pria itu langsung menelan kasar salivanya saat mendapatkan tatapan tidak bersahabat dari pria tampan yang berdiri di samping wanita yang barusan ia ajak bicara.
pria muda itu langsung tertawa seperti orang bodoh. "Maaf Mas, saya kira mbanya tadi sendirian. Makanya saya temani, sekalian ajak ngobrol." Ucap pria itu gugup dan terdengarlah logat Jawa setiap pemuda itu bicara.
Bila dan Raka saling tatap, "kamu bukan asli Jakarta ya?" Terka Bila seraya menatap tajam pria itu.
"Iya mba, saya dari Klaten."
Bila langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O dan tersenyum hangat. "Tapi, kamu tidak terlihat seperti orang Indonesia deh. Tapi, lain kali jangan sembarangan mendekati orang ya. Iya kalau suami atau pasangan orang itu kayak suami kakak yang tidak asal tonjok. Kamu akan aman dan tidak akan babak belur." Bila menjeda ucapannya dan menarik napas dalam.
"Kalau pasangan yang kamu dekati orangnya tempramental. Habis kamu di gebukin, atau malahan jadi rempeyek karena di kroyok masa. Karena di tuduh melecehkan, maka dari itu. Kedepannya lebih hati-hati lagi ya."
Raka semakin dibuat takjub oleh istrinya. Bukannya marah, Bila malah memberikan wejangan kepada pria muda sepantaran Reihan itu. Mungkin, karena dia punya adik laki-laki. Makanya, dia memposisikan diri sebagai kakak dari pria itu.
"Nah, dengerin tu omongan istri saya. Jakarta itu kejam dek. Lebih kejam dari ibu tiri, jadi kamu jangan sampai salah langkah." Raka ikut menambahkan wejangan istrinya. "Siapa namamu? Apa sudah ada pekerjaan atau belum?"
"Nama saya Rudi Fernandez Mas, saya ke Jakarta sebenarnya mau mengadu nasip. Mana tau bisa dapat pekerjaan dan bisa membantu keluarga di kampung." Jawab pria yang bernama Rudi itu jujur.
Rudi langsung terbelalak kaget, sungguh Allah memang punya cara untuk memberikan kejutan kepada hambanya. Niat awalnya hanya ingin berkenalan dengan seorang wanita cantik yang terlihat duduk sendirian. Ternyata membawanya pada sebuah peluang mendapatkan pekerjaan di tempat yang tidak pernah ia duga.
"Tapi, saya hanya lulusan SMA Mas. Apa pantas saya bekerja di kantor Mas Raka?" Tanya Rudi dengan kepala tertunduk dalam. Ah, rasanya ia malu sekaligus terharu sekali karena mendapat tawaran dari orang yang tak pernah ia sangka-sangka.
"Tidak masalah Rudi. Oh iya, apa kamu bisa menggambar?" Tanya Raka penasaran, karena kalau bisa. Ia akan meletakkan Rudi di divisi tekhnik and design.
"Bisa Mas, saya bisa menggambar." Jawab Rudi antusias, ternyata bakat menggambarnya bisa berguna untuk pekerjaannya.
"Good Rudi, kamu akan saya tempatkan di divisi tekhnik and design. Kamu juga bisa melanjutkan kuliah jurusan tekhnik sipil kalau mau. Kamu bisa kuliah sambil kerja dan biayanya akan di tanggung perusahaan."
Pernyataan Raka membuat Rudi terperanjat kaget, tampa persetujuannya bulir bening langsung melucur begitu saja dari pelupuk matanya. Hatinya terasa penuh dengan rasa syukur dan langsung menyambar tangan Raka seraya mengucapkan terimakasih dan langsung sujud syukur di sana.
"Alhamdulillah ya Allah," ucapnya dengan deraian air mata.
Raka langsung membantu Rudi berdiri karena orang-orang memperhatikan mereka semua. "Makasih banyak Mas, makasih banyak mba. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian." Rudi memeluk Raka dengan erat, sementara Bila langsung terharu melihat adegan manis di depannya. Terlihat seperti kakak-adik, pikirnya saat memperhatikan kedua pria dihadapannya.
__ADS_1
"Kalian terlihat seperti kakak-adik." Akhirnya kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Bila.
"Benarkah?" Raka menatap istrinya meminta pembenaran dan kembali menatap Rudi yang berdiri di sampingnya. "Hmm, kamu benar bee. Karena kamu tampan, mulai sekarang kamu akan menjadi adikku Rudi." Ujar Raka diiringi tawa renyah, sebuah tawa yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain selain Bila. Kali ini, Bila melihat Raka tertawa di depan Rudi.
Rudi langsung bahagia tiada tara, bisa mendapat pekerjaan, bisa melanjutkan pendidikan dan dijadikan adik oleh orang yang membantunya. Allah sungguh baik kepadanya, sehingga pecahlah tangis Rudi dan kembali memeluk Raka dengan erat.
"Ya Allah Mas, kenapa Mas Raka sangat baik kepada saya? Padahal saya bukan siapa-siapa Mas Raka. Saya hanya orang asing yang kebetulan ingin berkenalan dengan istri Mas. Tapi Mas malah menawari saya sesuatu yang tidak pernah saya duga sebelumnya." Ujar Rudi di sela tangisannya, padahal selama ini Rudi bukanlah anak yang cengeng. Entah mengapa hari ini dia sangat mellow sekali, sampai nangis berkali-kali seperti ini.
"Ahmm, jangan kelamaan meluknya." Suara Bila membuat Rudi melepaskan pelukan dari Raka.
"Ada yang cemburu." Ucap Raka pelan, namun masih terdengar di telinga Bila.
"Siapa yang cemburu? Aku nggak cemburu." Bila langsung membuang muka karena wajahnya sudah sedikit memerah.
"Yang benar? Lihat sini bee." Raka menangkup pipi sang istri dan menghadapkan ke arahnya. "Pipi kamu kenapa? Kok merah?" Raka mencoba menggoda istrinya.
"Nggak kok, ini karena blush on yang aku poleskan tadi." Jawab Bila memberi alasan dan menghindari tatapan suaminya.
"Ah, masa sih bee? Perasaan kamu nggak pakai riasan deh tadi." Raka terlihat seperti sedang berpikir.
Bila rasanya ingin membekap mulut suaminya agar tidak bicara lagi. "Qya...!" Bila melambaikan tangan ke arah Qyara membuat Bila tersenyum dalam hati. Karena Qyara muncul tepat waktu, sehingga ia tidak lagi harus menjawab pertanyaan gaje suaminya.
Rudi langsung senyam senyum melihat tingkah Raka dan Bila yang terlihat sangat menggemaskan dan sangat manis.
"Kenapa kamu senyam-senyum kek orang gila?" Tanya Bila ketus saat melihat Rudi senyam-senyum tidak jelas.
Pour Rudi, karena kena semprot bumil yang sedang dalam mode galak. Sedangkan Raka merasakan bibirnya berkedut menahan tawa yang hampir meledak melihat Bila mengomeli Rudi.
"Kita sholat dulu yuk, sebelum lanjut makan malam." Ucap Qyara setelah sampai di dekat Bila dan Raka serta seorang pria yang tidak mereka kenal.
"Ayok." Bila langsung semangat dan meraih tangan Qyara untuk ia gandeng. Kemudian meninggalkan ketiga pria tampan yang terdiam di tempat masing-masing.
"Ayo ikuti mereka." Raka langsung menyeret kedua pria itu mengikuti Bila dan Qyara yang hampir hilang dari jangakauan matanya.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue