
Bila menatap suaminya yang sedang bersiap dengan setelan formalnya.
"Mas yakin udah mau masuk kantor?"
Bila berdiri dan membantu suaminya merapikan dasi serta memakaikan jasnya.
"Iya sayang, sebab proyek kali ini tidak bisa hanya Aksa yang menghendlenya." Jawab Raka sambil mencium kening istrinya.
"Ya udah, jangan sampai lupa makan dan jangan terlalu di forsir ya."
"Siap Bosque."
Raka langsung pamit dan bergegas pergi menuju kantornya. Bila yang ditinggal pergi langsung menuju dapur untuk membuatkan makanan untuk sikembar. Sementara butik sementara ia serahkan ke Arum.
"Bagaimana keadaan tuan muda Zahran dan Zayyan non?" Tanya bik Nah setelah pulang dari pasar. Karena saat kedua bayi kembar itu dibawa ke Rumah Sakit, bik Nah harus belanja ke pasar sebab ada beberapa bahan makanan yang habis.
"Alhamdulillah sudah mendingan bik. Sekarang mereka lagi tidur."
"Syukur alhamdulillah non, saya benar-benar cemas tadi pagi."
"Apalagi aku bik." Saut Bila sambil berjalan menuju ke lemari pendingin. Membuka lemari pendingin, ia mengambil salmon dan beberapa sayuran untuk membuat makanan untuk kedua buah hatinya.
Lebih kurang setengah jam Bila berkutat di dapur, sayup-sayup terdengar tangisan anaknya yang bertepatan dengan selesainya masakan yang ia masak.
πππ
Aksa yang sedang berada di ruangannya langsung berdiri saat seseorang memasuki ruangannya.
"Kamu yakin udah nggak apa-apa?" Tanyanya sambil menyeduhkan teh yang ada di ruangannya dan memberikannya kepada orang tersebut.
"I'm okay. Kamu sendiri gimana? Udah ada titik terang tentang masalah Calista?" Raka bertanya sebelum menyesap teh yang diberikan Aksa barusan.
Aksa menatap Raka serius setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut pria itu. "Kamu tau?"
Raka tersenyum tipis. "Semalam aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki apa yang terjadi pada Calista 8 tahun yang lalu."
"Apa?" Aksa semakin dibuat terkejut dengan apa yang Raka katakan.
Memang benar, semalam saat ia mendiamkan Bila. Raka mengirim pesan kepada salah satu anak buahnya untuk melakukan penyelidikan tentang masalah tersebut. Karena ia juga tau Calista pernah menghilang sebelumnya. Ia juga penasaran alasan yang membuat Calista melupakan Aksa. Apakah karena kecelakaan, trauma atau alasan lainnya.
"Lalu apa hasilnya?"
"Belum ada kabar, kita tunggu saja." Pungkas Raka mengakhiri pembahasan masalah tersebut.
Hening sejenak dan tak lama terdengar seseorang mengetuk ruangannya.
Tok... Tok... Tokk..
"Masuk."
Pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang merupakan sekretaris Raka.
"Maaf tuan, barusan resepsionis menelpon dan mengatakan tuan Eric sudah berada di lobi kantor."
"Oke, saya akan segera ke bawah. Kamu siapkan berkas yang diperlukan untuk meeting kali ini." Raka berdiri sambil merapikan jasnya, kemudian melangkah meninggalkan ruangan tersebut diikuti oleh Aksa.
"Baik tuan." Ucapnya seraya menyingkir dari depan pintu dan membiarkan kedua pria tersebut lewat.
πππ
Arum bagaikan disiram air es saat mendapat kabar kalau Bila dituduh melakukan plagiarism. Padahal selama ini ia tau bagaimana seseorang Salsabila Putri Dananjaya mendesign pakaian yang ia keluarkan dengan mata kepalanya sendiri. Apalagi orang yang menuduh mereka adalah designer baru yang namanya terkenal karena pernah dipakai oleh artis ternama saat pernikahan artis tersebut.
"Dasar iblis! Hal ini tidak bisa dibiarkan!" Geramnya tidak terima. Ia segera menghubungi Bila untuk memberitahu semua itu.
Sementara Bila yang sudah tau kalau dirinya dituduh melakukan palgiat hanya tersenyum masam. Tak lama ponselnya berdering dan ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Mba Bilaa..." Teriak Arum dengan suara menggebu-gebu. Membuat Bila sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Arum." Ucapnya sambil tersenyum tipis, ia tau bagaimana perasaan Arum saat ini. Sehingga ia tidak mempermasalahkan wanita itu berteriak padanya.
"Eh iya, walaikumsalam mba." Balasnya dengan nada malu-malu sebelum ia kembali meledak karena amarah.
"Ada apa Arum? Nggak ada masalah kan?"
"Mba Bilaa.. Ya Allah mba, aku benar-benar erosi mba. Masa iya pendatang baru itu menuduh mba menjiplak desainnya. Aku benar-benar nggak terima mba. Huhuhuuuu..."
"Aku sudah tau semuanya. Kamu tunggu di butik, aku akan segera ke sana."
Arum merinding mendengar nada suara Bila. Ia yakin, wanita ini sedang menahan emosinya.
"Baik mba."
"Ya sudah, kamu tetaplah bekerja seperti tidak terjadi apa-apa. Karena untuk menangkap tikus, kita butuh perangkap bukan?"
Bila sudah bisa menebak, kalau salah satu karyawannya ada yang membocorkan desainnya. Sehingga designer baru itu bisa menjiplak designnya dan mengklaim kalau design itu miliknya.
"Siap mba."
"Let's start this game."
Arum terkekeh mendengar apa yang diucapkan Bila. Hilang sudah rasa khawatir yang ia rasakan sedari tadi.
"Oke mba, assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Bila terdiam sejenak sebelum menatap kedua anaknya yang tengah asik bermain dengan mainan mereka masing-masing. Rencananya ia akan membawa kedua anaknya. Namun, sepertinya ia akan mengurungkan niatnya saat mendengar kehadiran seseorang di rumahnya.
"Kak...! Kakak dimana?"
"Ada apa Rei? Kakak di sini." Saut Bila sambil berjalan membuka pintu kamarnya.
"Hai kakakku tersayang, tercantik sedunia."
"Memang kenyataan."
"Well ada apa hmmm?" Bila menatap adik bungsunya dengan tatapan serius.
"Apa kakak sudah tau kalau kakak dituduh plagiat oleh salah satu cecunguk menyebalkan?"
Yah! Reihan menyebut designer muda itu cecunguk menyebalkan karena sudah berani-beraninya menuduh kakak tercintanya.
"Hmmm." Bila mengangguk. "Kebetulan kamu datang, kakak mau titip mereka. Karena kakak mau ke butik mengurus masalah ini." Bila melirik kedua anaknya dan mengarahkan kembali pandangannya ke arah adiknya. "
"Oke."
"Dan, kakak juga mau minta bantuan kamu untuk meretas ponsel seseorang. Kamu masih bisa kan?"
"Ohh tentu saja. Meskipun aku tidak sejago mas Raka." Akunya sambil cengegesan.
Bila menatap adiknya sebentar sebelum teraenyum. "Baguslah, nanti kakak akan menghubungi kamu."
"Sip kak, serahkan semuanya padaku."
"Ya sudah, kakak siap-siap dulu." Bila langsung menuju walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Setelahnya ia berpamitan dengan adik dan kedua anaknya.
πππ
Bila yang sudah sampai di butiknya langsung masuk ke dalam dan menghampiri salah satu staffnya.
"Rin, tolong kamu panggilkan Arum untuk menghadap ke ruangan saya." Perintahnya kepada staff yang bernama Rini tersebut.
"Baik Buk." Rini mengangguk dan segera menuju ke ruangan Arum. Sementara Bila langsung menuju ke ruangannya. Sebenarnya bisa saja ia menggunakan ponselnya untuk menghubungi Arum. Tapi ia hanya ingin melakukannya saja.
Arum segera keluar dari ruangannya setelah salah satu staff mengatakan kalau Bila memanggilnya. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ruangan bosnya tersebut.
__ADS_1
Brak
Bila yang baru mendudukkan tubuhnya dikursi dibuat terkejut saat seseorang membuka pintu ruangannya dengan tidak sopan.
"Mba Bila....!" Seru Arum heboh dan langsung masuk setelah menutup pintu tampa memperhatikan ekspresi Bila.
Bila yang hendak marah harus menelan lagi amarahnya dan menatap Arum tajam. Arum yang merasakan tatapan tidak menyenangkan yang ditujukan padanya langsung terkekeh seraya tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maaf mba." Cicitnya hampir tak terdengar.
Bila menghela napas melihat kelakuan aiastennya. "Duduklah."
Arum langsung duduk di hadapan Bila dan mulai membahas masalah tersebut. Mereka berdua mulai menyusun rencana untuk menjebak dalang dibalik bocornya desain yang ia buat. Tampa menunggu lama ia mulai menjalankan rencananya dengan membuat design terbaru dan membawanya turun untuk diperlihatkan pada semua pegawainya. Karena biasanya selesai menggambar ia akan memberikan hasilnya untuk dikerjakan mereka. Setelah semuanya melihat, Bila membawa designnya ke rungan lain dan tidak lupa meletakkan kamera tersembunyi di sana. Kemudian pergi dari sana menuju ruangannya.
"Permainan dimulai." Gumamnya dengan mata berkilat tajam.
"Rei, lakukan tugasmu!" Perintahnya kepada seseorang ditempat lain yang tak lain adalah Reihan. Sebelumnya Bila sudah mengirimkan semua data yang diperlukan Reihan.
"Laksanakan." Balas Reihan dengan senyum manisnya dan tangannya mulai menari-nari di atas keyboard laptopnya.
πππ
"Dugaan anda benar tuan, peristiwa 8 tahun yang lalu memang ada kaitannya dengan tuan Aksa."
Raka yang mendengar hal itu dari orang suruhannya langsung terdiam.
"Baiklah, kamu laporkan semuanya nanti setelah sampai di kantorku." Perintahnya tegas.
"Baiklah."
Panggilan berakhir dan Raka menatap orang yang sedari tadi berdiri di hadapannya.
"Bagaimana?" Tanya orang tersebut.
"Tunggu saja, sebentar lagi orang suruhanku datang." Jawab Raka santai.
Memang benar, tak lama seseorang mengetuk pintu ruangannya dan muncul seorang wanita yang tak lain adalah sekretaris Raka. Ia mengatakan bahwa seseorang ingin bertemu Raka.
"Suruh dia masuk."
"Baik tuan." Ucap wanita tersebut dan membiarkan orang yang sedang menunggu di luar ruangan masuk ke dalam.
Orang tersebut langsung masuk dan menghampiri Raka. "Ini semua yang anda minta tuan. Semuanya ada di dalam amplop ini." Ucapnya sambil mengeluarkan sebuag amplop berwarna coklat dan menyerahkannya ke tangan Raka.
"Kerja bagus, dan bayaranmu sudah aku transfer sesuai kesepakatan kita."
"Baik tuan, terimakasih. Saya permisi dulu, senang bekerja sama dengan anda."
"Hmm." Raka hanya berdehem dan membiarkan orang tersebut pergi.
Raka mulai membuka amplop coklat ditangannya dan memeriksa semuanya. Ekspresinya yang awalnya biasa saja mulai berubah serius dengan rahang mulai mengeras.
BRAK
"SIALAN!" Desisnya marah.
Aksa yang berada di dalam ruangan tersebut langsung terkejut dan menatap Raka yang sedang diliputi oleh amarah.
.
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Hallo everyone, mianhae author lama nongolnya. Biasalah ya masih menyesuaikan diri dengan perumahtanggaan. Hari ini akhirnya aku bisa up lagi yeayyy walau sudah lama sekali yaaa.