Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Melahirkan


__ADS_3

Raka membuka matanya yang berat setelah mendengar tangisan bayi. Ia baru saja kembali dini hari setelah melakukan pekerjaan di luar kota dan kembali tidur setelah melaksanakan sholat subuh.


Mata Raka langsung melebar seketika saat melihat sebuah keranjang bayi tergeletak di samping tubuhnya dan seorang bayi laki-laki tengah menangis kencang di dalamnya. Dalam keadaan panik ia mengambil bayi itu dan mencoba menenangkannya.


"Bila! Sayang, kamu dimana?"


Raka berjalan ke luar dari kamar untuk mencari istrinya sambil membawa bayi di lengannya. Namun ia tidak menemukan keberadaan Bila dimanapun. "Apa dia belum kembali? Tapi ini bayi siapa?"


Raka kembali ke dalam kamar dan secara tidak sengaja melihat secarik kertas di dalam keranjang dan mebacanya. Setelah membaca isi surat, tubuhnya langsung menegang dan matanya langsung berubah dingin. Pikirannya sudah menduga pasti istrinya saat ini sudah membaca surat itu dan pergi karena kecewa karena berpikir bayi itu adalah anaknya. Memikirkan semua itu, Raka memandang bayi yang tengah berada dalam gendongannya dan kebencian seketika menghinggapi hatinya. Rasanya ia ingin melampiaskan kemarahannya kepada bayi itu. Namun melihat mata jernih bayi itu seketika membuat hati Raka melunak. Bayi ini tidak bersalah, yang bersalah adalah orang yang berusaha menjebaknya dan membuat hubungannya dengan istrinya berantakan.


Raka mencoba menghubungi Bila, namun sialnya ponsel wanita itu berbunyi di atas nakas. Raka langsung menghubungi Aksa dan memerintahkan asistennya itu untuk mencari istrinya.


"Sayang, kamu dimana? Aku mohon jangan bertindak bodoh. Tolong percaya kepadaku, aku tidak mungkin mengkhianatimu."


Raka bergumam dengan sedih dan meletakkan bayi itu ke dalam keranjang lalu membawanya ke luar dari kamar. Ia memutuskan untuk mencari keberadaan istrinya secara pribadi selain menyuruh Aksa mencarinya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bila yang dalam keadaan kalut menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Saat ini ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih dan menganggap Raka sudah berselingkuh dibelakangnya. Tampa ia duga, sebuah mobil berhenti di depannya dan mengetuk kaca mobilnya.


"Bila? Ada apa? Kenapa kamu seperti ini?"


Mendengar suara yang familiar ditelinganya, membuat wanita itu memalingkan wajahnya ke arah luar. Ia langsung melihat keterkejutan dimata pria itu dan ia pun juga tidak menyangka akan ditemukan oleh pria itu.


Andre yang melihat wajah wanita yang ia cintai berantakan karena air mata membuat hatinya sakit. Ada apa sebenarnya? Apa ada masalah? Apa ia bertengkar dengan suaminya? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. Melihat ia bergeming dan tidak mau membuka pintu, membuat hati Andre semakin di remas kuat. Apalagi air matanya semakin bercucuran membasahi wajahnya. Dengan perasaan campur aduk, ia memanggil namanya dan berharap wanita itu membuka pintu. Hatinya benar-benar sakit saat ini melihat wanita itu terluka dan ia ingin memeluknya untuk menenangkannya. Namun sebanyak itu ia memanggilnya dan menggedor kaca jendela mobil, ia tetap tidak membuka pintu. Ditengah putus asanya, ia melihat Bila akhirnya membuka pintu mobil.


Bila sebenarnya tidak mau membuka pintu mobil, namun mendengar pria itu selalu memanggil namanya dengan nada khawatir dan hampir putus asa karena tak kunjung ia buka. Membuat wanita itu akhirnya membuka pintu mobilnya dan menatap pria itu dengan mata basah karena air mata.


Saat pintu terbuka, tubuhnya langsung dipeluk dan membuat Bila tidak bisa tidak terkejut. Apa apaan dia? Berani sekali dia memelukku? Bila berusaha melepaskan diri, namun ia berhenti bergerak setelah mendengar suara rendah ditelinganya.


"Menangislah jika itu bisa membuat kamu lega. Aku siap menjadi pundak tempat kamu melepaskan semua emosimu."


Andre tidak bisa membantu, namun hanya bisa meminjamkan pundaknya untuk menjadi sandaran wanita itu. Dia juga tidak mau bertanya apa masalah yang tengah dihadapinya, kenapa dia menangis sendirian di pinggir jalan dan banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Namun semua itu hanya sampai ditenggorokannya saja dan tidak ada satupun yang ke luar dari mulutnys. Mendengar bisikan ditelinganya membuat emosi Bila berantakan. Ia langsung menangis dalam pelukan pria itu dan melepaskan semua emosi yang tertahan di dalam dadanya.


Akhhhh


Bila mengerang kesakitan dan memegang perutnya. Rasanya perutnya menegang dan itu sangat menyiksa serta menyakitkan. Mendengar erangan wanita dipelukannya membuat Andre menjauhkan tubuh Bila darinya dan memeriksa apa yang terjadi. Sebagai dokter, ia langsung memeriksa denyut nadi Bila dan bertanya kepanya.

__ADS_1


"Apakah kamu kesakitan? Apa sudah waktunya melahirkan?" Andre bertanya dengan tenang memastikan Bila tidak panik karena kontraksi yang ia rasakan.


Bila tidak bisa mengeluarkan suara dan hanya menganggukkan kepalanya mengkonfirmasi bahwa itu sangat menyakitkan. Tangannya secara tidak sadar meremas kuat pundak Andre untuk mengurangi rasa sakitnya. Saat ini, Bila berusaha mengatur napas dan menikmati rasa sakit yang ia rasakan.


Andre menghubungi anak buahnya untuk membawa mobil Bila dan akan membawa Bila ke Rumah Sakit dengan mobilnya.


"Apa kamu bisa bertahan? Tunggu sebentar, anak buahku akan datang untuk membawa mobilmu." Andre berkata setelah menghubungi bawahannya. Bila hanya mengangguk dan semakin menekan pundak Andre dengan tangannya.


Andre hanya meringis merasakan pundaknya di cengkram dengan kuat oleh Bila dan tidak mengatakan apa-apa.


"Maaf tuan, agak lama."


Anak buah Andre bergegas menghampiri tuannya dan meminta maaf karena sedikit lama. Andre ingin marah, namun ia tahan kemudian memerintahkan anak buahnya membawa mobil Bila dan mengangkat tubuh wanita itu ke mobilnya. Ia benar-benar harus cepat, beruntung air ketuban belum pecah dan ia selalu memantau denyut nadi Bila sampai tiba di Rumah Sakit.


πŸ’πŸ’πŸ’


Sampai di Rumah Sakit, Bila langsung di tangani dokter kandungan yang ditelphon Andre selama mereka dalam perjalanan dan mengatakan kalau Bila sudah masuk pembukaan 6 dan sudah berada di dalam ruangan bersalin. Dokter juga memeriksa tekanan darah, air ketuban yang baru saja pecah dan menyimpulkan kalau pasien harus melakukan operasi. Mengingat ia mengandung bayi kembar dan kondisinya juga tidak stabil untuk melahirkan secara normal.


Untuk keputusannya, Andre tidak memiliki wewenang sehingga ia bertanya kepada Bila untuk meminta persetujuan untuk menghubungi Raka. Karena disini Raka yang paling berhak atas Bila dan anak yang dikandungnya. Namun jawaban Bila membuaf Andre kaget.


"Jangan pernah menghubunginya!"


"Pokoknya jangan menghubunginya! Akhhh... sakit..." Bila menjerit karena kontraksi yang ia rasakan semakin intense. Melihat kondisi Bila yang semakin lemah dan dokter kandungan yang menangani Bila terus mendesaknya. Andre akhirnya menandatangani berkas persetujuan operasi cecar.


Waktu pun berlalu, detik demi detik, menit demi menit dan hampir mendekati satu jam. Andre mondar mandir di depan ruang operasi menunggu dengan harap-harap cemas. Pintu ruang operasi terbuka dan pria itu menyaksikan Bila ke luar dengan wajah bahagia dengan dua bayi mungil di sampingnya dan di dorong oleh beberapa perawat menuju ruang rawatnya. Ah! Seandainya dia memang istrinya dan itu anak-anaknya. Betapa bahagianya dia saat ini.


Andre terasa hampa, apa dia harus bersikap egois dengan tidak menghubungi Raka sesuai permintaan Bila. Tapi pria itu berhak tau terlepas dari apapun masalah yang sedang mereka hadapi. Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri akhirnya Andre menghubungi Raka.


Mendengar ponselnya berbunyi, Raka langsung menepikan mobilnya dan menjawab panggilan telphon yang masuk.


"Andre?" Raka mengernyit heran, namun segera menjawab telphon dari pria itu. Setelah mendengar kata-kata Andre, Raka langsung tancap gas ke Rumah Sakit yang disebutkan pria itu. Matanya melirik ke samping tempat duduk bagian penumpang dan langsung frustasi. "Bagaimana dengan bayi ini? Apa yang harus aku lakukan?"


Satu-satunya solusi adalah menitipkan bayi ini ke tangan Aksa.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Bayi siapa ini? Apa kamu bermain api?"

__ADS_1


Aksa meraung saat Raka memberikan bayi itu ketangannya. Matanya menyala-nyala seakan menelan Raka ke dalamnya.


"Apa kamu gila? Selama ini kamu terus mendampingiku bagaimana aku akan berselingkuh bodoh!" Raka tidak terima dengan tuduhan Aksa. "Lagian aku bukan bajingan yang meniduri wanita dan meninggalkannya setelah itu."


Aksa masih memasang tampang garang dan kembali bertanya. "Lalu ini bayi siapa? Nggak mungkin kan ini bayi setan?"


Raka tertegun mendengar pertanyaan Aksa yang terakhir. Pria ini benar-benar...


"Entahlah, aku juga tidak tau. Tiba-tiba itu bayi nongol di atas tempat tidur dengan sepucuk surat yang mengatakan dia adalah anakku."


Raka mendesah frustasi, padahal bayinya baru lahir beberapa waktu yang lalu. Tapi ia benar-benar takut untuk menemui istrinya saat ini.


Aksa menghela napas berat, sekarang ia tau kenapa Bila pergi dari rumah. Penyebabnya pasti bayi yang sedang ia gendong ini. Wanita mana yang tidak akan kecewa saat tau ada bayi lain yang merupakan anak suaminya. Terlepas dari benar atau tidaknya semua itu, mereka kaum hawa yang perasa akan bermain dengan perasaan dulu ketimbang berpikir dengan logikanya.


"Apa yang akan kamu lakukan? Apa Bila sudah ditemukan?"


"Sudah, istriku baru saja melahirkan dan saat ini sedang di Rumah Sakit."


Aksa rasanya ingin memukul kepala Raka saat ini. Kalau tau istrinya sudah melahirkan kenapa dia masih disini? Harusnya dia sudah disana bukan?


"Apa yang kamu tunggu, kenapa tidak pergi melihat anakmu?"


Raka meringis mendengar omelan sahabatnya dan menjawab dengan suara rendah. "Aku takut dia mengusirku, kamu tau sendiri bagaimana kerasnya istriku."


Aksa mengangguk mengiyakan, ia tau bagaimana watak istri Raka. Tapi ia tidak setuju melihat sahabatnya menjadi pengecut seperti itu. "Pergilah temui istri dan anak-anakmu. Aku akan mengurus bayi ini dan akan menyelidiki semuanya."


Mendengar perkataan Aksa yang tenang, membuat hati Raka tenang. "Baiklah, aku serahkan kepadamu. Aku akan berusaha meyakinkan Bila, kalau bayi ini bukan anakku."


"Pergilah, mereka membutuhkanmu."


.


.


.


.

__ADS_1


to be continue


__ADS_2