Pelangi Setelah Hujan

Pelangi Setelah Hujan
Raka Kembali


__ADS_3

Aksa mengusap wajahnya yang berantakan dan segera mengumpulkan kesadarannya. Meraih ponselnya, ia menghubungi Reihan dan berencana kembali ke kantor untuk memberitahukan semua karyawan tentang kepergian Raka.


Reihan yang sedang rapat dengan beberapa petinggi perusahaan langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan orang yang sedang bicara saat ini saat mendengar deringan ponselnya. Memutar kursinya, ia menjawab telphon tersebut.


"Hallo.." Terdengar suara parau seorang pria yang seperti habis menangis menyapa indra pendengarnya.


"Kamu dimana?"


"Rapat di kantor. Ada apa?"


"Aku ada kabar buruk." Aksa menghela napas. "Raka... Raka...."


"Apa yang terjadi?" Perasaan Reihan langsung tidak enak.


"Dia.. Dia sudah tiada." Suara Aksa mulai mengecil namun Reihan mendengar semuanya dengan jelas sehingga ponselnya langsung terlepas dari genggaman tangannya.


"Tuan ada apa?" Tanya Adrian yang berada di samping kanannya dan memperhatikan perubahan ekspresi bosnya. Apalagi saat terlepasnya ponsel dari tangan Reihan, sehingga Adrian menebak bosnya mendengar kabar buruk.


Reihan berdiri. "Rapat sampai di sini, besok kita lanjutkan lagi. Saya harus ke Rumah Sakit." Setelah mengatakan itu dia pergi dari ruang rapat diikuti oleh Adrian. Sedangkan sisanya diselesaikan oleh sekretarisnya.


Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, Reihan menghubungi Ayah dan Ibunya yang langsung membuat keduanya terkejut. Bu Sukma hampir pingsan kalau ia tidak cepat menangkan diri. Sedangkan Ayah Rasyid langsung termenung setelah mendengar kabar itu.


Tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa menantu laki-lakinya dan juga anak sahabatnya akan pergi secepat ini. Setelah menenangkan diri, ia langsung bangkit dan meninggalkan kantor menuju ke Rumah Sakit.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Bee.." Terdengar suara berat namun lemah dari sisi tempat tidur membuat Bila yang sedang sibuk dengan kedua bayinya membeku ditempat.


Dia tidak salah dengar kan? Ini benar-benar suara suaminya dan panggilan ini... Tapi apa dia sedang mimpi? Jelas-jelas dokter sudah mengatakan suaminya sudah meninggal. Jadi yang baru saja dia dengar suara siapa?


Untuk memastikan semuanya, Bila mengangkat pandangannya dan tidak berharap bertemu dengan mata terbuka suaminya. Syok, Bila tak bisa berkata-kata selain menatap suaminya tampa berkedip. Seakan ia takut, kalau semua yang ada di hadapannya hanya mimpi dan ia harus menelan pil pahit kalau ternyata suaminya benar-benar meninggal. Namun saat ia melihat gerakan tangan Raka dan kembali mendengar suaranya Bila langsung bereaksi.


"Bee... " Dia mendengar suara Raka kembali dan suaranya semakin jelas.


Jadi dia sedang tidak bermimpi? Suaminya benar-benar hidup kembali dan baru saja memanggil dirinya dengan panggilan keasayangannya. Bila langsung berdiri dan menekan tombol darurat untuk memanggil. dokter untuk memeriksa keadaan Raka. Namun sebelum dokter datang, tatapan mata Raka menggelap saat melihat kedua anaknya masih menempel di dada istrinya sehingga aset istrinya dengan mudah dilihat dengan mata telanjang.


Saat ia akan bicara, pintu kamar di dorong terbuka dan dengan tangannya yang terasa lemah Raka melempar kain ke arah dada Bila. Sehingga Bila langsung sadar dan menarik jaketnya menutupi dadanya serta kedua bayi yang masih menempel di padanya.


Dokter segera memeriksa keadaan Raka dan menghela napas takjub. Semua ini benar-benar keajaiban karena pasien yang ia nyatakan meninggal beberapa menit yang lalu hidup kembali dengan kondisi vital baik-baik saja meskipun kondisinya memang masih lemah.


Aksa yang berencana pergi ke kantor langsung menghentikan niatnya saat melihat dokter bergegas masuk ke dalam ruangan Raka. Dengan kedua matanya, ia melihat bos sekaligus sahabatnya membuka matanya. Reaksinya hampir sama dengan Bila dan ia mengusap kedua matanya serta mencubit pipinya untuk memastikan dia tidak bermimpi.


"Bule...! Dia benar-benar kembali." Aksa menoleh ke arah Jimmy yang berdiri di sampingnya dengan reaksi tidak berbeda jauh dengan kedua orang lainnya.


Seakan tidak percaya, Jimmy mengucek matanya beberapa kali dan mencubit pipinya kalau-kalau iya bermimpi. Namun setelah mengucek mata berkalipun dan merasakan sakit di pipinya. Ia akhirnya yakin kalau Raka benar-benar kembali.


πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Reihan tiba di Rumah Sakit dan langsung bergegas ke ruangan Raka. Namun ia langsung dihadapkan dengan pemandangan yang membuat mulutnya ternganga.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya setelah berdiri di samping kedua pria yang sama terkejutnya dengan kejadian itu.


"Dia kembali." Jawab Aksa singkat.


"Benarkah?" Tanya Reihan yang dijawab gumaman oleh Aksa. "Alhamdulillah" Ucapnya penuh syukur atas keajaiban yang dialami kakak iparnya.


"Bagaimana keadaannya dokter? Apa kakak ipar saya baik-baik saja?" Tanya Reihan saat dokter ke luar dari dalam ruangan Raka.


"Saat ini kondisinya memang masih lemah. Namun tuan Raka akan baik-baik saja." Jawab dokter menjelaskan.


"Baik dokter, terimakasih."


Dokter segera meninggalkan mereka yang masih terkejut dengan kenyataan yang sungguh membuat mereka bahagia. Padahal dalam perjalan Reihan sudah memikirkan cara yang akan ia sampaikan untuk menghibur kakaknya. Banyak spekulasi yang bercokol dikepalanya tentang bagaimana kakaknya akan menghadapi semua ini. Akankah ia bertahan untuk kedua anaknya, atau malah terguncang dan menjadi depresi. Semua dugaan itu membuat Reihan takut. Namun ia sangat bersyukur semua itu tidak terjadi karena kakak iparnya kembali ke pelukan kakaknya.


"Rei, ada apa? Apa kakakmu baik-baik saja?"


Reihan berbalik untuk melihat ke arah ibunya sambil tersenyum. Sehingga membuat Bu Sukma heran. Ada apa sebenarnya? Kenapa putranya terlihat bahagia? Seharusnya dia sedih karena kakak iparnya meninggal. Apalagi ia harus memikirkan bagaimana keadaan kakaknya yang baru saja kehilangan. Seharusnya ia tidak tersenyum.


Dengan semua pertanyaan itu, Bu Sukma mendekati putranya. "Ada apa sebenarnya?"


"Mas Raka kembali Bu. Dia kembali." Jawab Raka seakan paham kebingungan ibunya. "Lihatlah, kakak di dalam sangat bahagia." Reihan menunjuk ke dalam ruangan dimana Bila sedang menatap suaminya yang bersandar di ranjang Rumah Sakit dengan mata berbinar bahagia. Meskipun matanya sembab karena menangis tadi.


"Alhamdulillah ya Allah." Ucap Bu Sukma penuh syukur dengan air mata yang tidak bisa ia tahan. Kemudian wanita itu melangkah masuk dan menghampiri mereka.


Bila menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. "Ibu? Ibu pasti kaget kan dengan kabar sebelumnya?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik Bu. Aku juga seakan masih merasa seperti mimpi bisa kembali lagi."


Bu Sukma menatap kedua bayi yang sedang tertidur dalam dekapan Bila sambil tersenyum. "Bil, biar anak-anak sama Ibu. Kamu pasti ingin berduaan dengan suamimu kan?"


Bila menoleh sambil tersenyum. Ibunya pengertian sekali. "Makasih ya Bu."


Bu Suka mengulurkan tangannya dan mengambil Zayyan terlebih dahulu. Terakhir Bila menyerahkan Zahran.


"Bu biar Ayah gendong salah satunya." Ayah Rasyid yang sudah sampai beberapa menit yang lalu sudah mengetahui keseluruhan cerita. Saat melihat istrinya keluar sambil menggendong kedua cucunya. Ia langsung ingin menggendongnya.


"Tapi hati-hati ya Mas. Jangan sampai dia bangun." Bu Sukma berkata sambil melirik ke dalam ruangan. Ia berkata begitu karena kalau sampai salah satunya bangun dan menangis. Yang ada Ibu dan Ayahnya tidak jadi berduaan.


"Iya sayangku." Ayah Rasyid mengambil salah satunya dan kebetulan ia menggendong Zahran yang sempat terbangun sehingga membuat semua orang menahan napas. Namun tak lama bayi itu langsung tidur kembali dan semua orang menghela napas lega.


πŸ’πŸ’πŸ’


Setelah melakukan pemeriksaan untuk terakhir kalinya. Raka akhirnya diizinkan pulang oleh dokter. Semua orang sangat bahagia mendengar kabar tersebut.


"Bagaimana rasanya kembali dari kematian?" Tanya Aksa sambil melirik pria yang duduk di sebelahnya. Keheningan di dalam mobil langsung pecah saat pertanyaan itu meluncur dari mulut Aksa.

__ADS_1


"Nggak usah dibahas! Aku nggak mau mendengarnya! Sudah cukup aku merasa tak bernyawa saat Mas Raka dinyatakan meninggal." Bila mendengus sambil melototi Aksa dengan galak.


"Baiklah, maafkan aku." Aksa berhenti bicara dan kembali fokus dengan kemudinya.


Setelah mengantar keluarga itu pulang, Aksa kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena Raka masih harus istirahat total selama beberapa hari.


Semua karyawan langsung menghampiri dirinya dan bertanya tentang keadaan Raka. Karena mereka sudah mendengar tentang kondisi atasan mereka sebelumnya. Mereka juga sepakat akan mengunjungi Raka sepulang dari kantor.


Sorenya, Bila baru saja selesai memandikan sikembar. Setelah mengeringkan tubuh kedua anaknya. Ia membalurkan minyak telon, memasang diapers dan terakhir memasangkan jumpsuit kepada keduanya. Setelah baju terpasang, Zayyan langsung merengek sedangkan Zahran masih asik memainkan botol bedak yang sudah kosong.


Bila mengambil Zayyan dan duduk sabil menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang. Kemudian segera menyusui anaknya.


Terkejut, Bila menatap putranya sambil tersenyum saat mulut kecilnya menghisap dengan sangat kuat.


"Pelan-pelan sayang, nggak ada yang minta oke." Bila mengusap kepala Zayyan dengan lembut. "Kakakmu lagi asik main dan daddy juga sedang tidur. Jadi, sebelum Kakak kamu mau juga. Zayyan puas-puasin minum susunya ya." Ucap Bila lembut, kemudian melirik Zahtan yang masih asik dengan mainannya. Bila juga sedikit heran karena tiba-tiba Zahran bertingkah baik.


Tepat setelah Zayyan kenyang dan tertidur. Zahran baru merengek karena sudah dan lapar. "Sebentar ya sayang." Bila segera berdiri untuk menidurkan Zayyan di ranjang miliknya. Kemudian bergegas mengambil Zahran yang hampir merajuk karena kelamaan diambil.


Bayi itu langsung tenang setelah disusui oleh Ibunya dan ia menyesapnya dengan rakus. Seakan tau tidak ada yang akan mengganggunya saat ini. Tampa diduga, Raka yang sedari tadi tidur sudah bangun dan mengganggu ketenangan anaknya.


Zahran langsung menangis karena Raka terus mengganggunya. Alhasil ia langsung mendapat murka dari Bila. "Mas RAKA...!"


Raka yang mendapat amukan dari sang istri langsung menghentikan aksi nakalnya dan menatap Bila dengan tatapan memelas.


Bila langsung mendengus marah dan berusaha menenangkan Zahran. Setelah mendapatkan kembali apa yang ia butuhkan, bayi itu langsung diam.


"Sayang..." Raka mencolek istrinya dan bersikap genit.


"Apa?" Bila menoleh sambil melotot.


"Jangan galak-galak dong istriku sayang. Nanti cantiknya ilang loh." Rayu Raka dengan tatapan genit.


"Makanya, tangannya jangan iseng. Mas tau sendiri anak kamu ini paling nggak suka digangguin saat dia sedang menyusu. Untung aja tadi dia nggak sampai ngamuk." Omel Bila panjang lebar. Jarang-jarang ia melihat istrinya mengomel seperti ini. Biasanya Bila akan mengomeli dirinya saat ia dengan nakalnya mengganggu kedua anaknya.


"Iya iya maafin aku ya sayang." Raka langsung mencium kening Bila dan kembali berbaring di samping sang istri.


Tok... tok.. tok..


"Non Bila, di depan ada tamu. Katanya mereka karayawan Tuan Raka, mau menjenguk Tuan Raka."


Bila menoleh ke arah suaminya sebelum menjawab. "Suruh masuk aja Bik." Setelah mengatakan itu, ia segera menidurkan Zahran dan mengangganti pakaiannya. Kemudian keduanya segera keluar dari dalam kamar.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continue


__ADS_2