
Suasana ruangan yang awalnya dipenuhi canda tawa langsung hening saat seseorang melangkah masuk. Orang yang paling gelisah adalah lelaki yang terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan. Bagaimana tidak? Dia mengenal lelaki yang baru masuk ke dalam ruangannya ini. Dia adalah pemimpin dari perusahaan yang ingin ia hancurkan tadi atas perintah rubah tua yang pada akhirnya juga berusaha melenyapkannya.
"Mas Raka," Bila menghampiri suaminya dan membawanya ke arah sofa untuk duduk.
"Tuan Raka, maaf harus merepotkan tuan untuk datang ke sini." Ucap Arum sungkan.
Raka melirik Arum sekilas dan menatap istrinya. "Kenapa asisten kamu ada di sini sayang?" Raka bertanya karena tidak mengetahui kalau lelaki yang di tolong Bila adalah kakak lelaki Arum.
Seno tidak bisa tidak terkejut mendengar panggilan 'sayang' dari lelaki itu kepada Salsabila. Seketika ia sadar kalau lelaki itu adalah pasangan wanita itu. Wanita yang menolongnya adalah istri dari lelaki yang perusahaannya ia retas. Terlebih wanita itu sempat singgah di hatinya dan merupakan bos dari adik perempuannya. Takdir memang mempermainkan dirinya. Ia tidak tau lagi harus berbuat apa kalau adiknya tau apa yang sudah ia lakukan hanya untuk mendapatkan uang yang bisa ia dapatkan dengan cara yang lain. Apa Arum akan memaafkannya? Apa Salsabila akan membencinya? Hah! Untuk apa ia bertanya karena jawabannya sudah pasti kedua wanita itu akan membenci dirinya dan tidak memaafkannya. Seno mendesah dalam hati akibat kebodohannya itu.
"Jadi pria yang aku tolong tadi adalah kakak lelaki Arum." Bila menjawab setelah menghabiskan jeruk yang baru saja ia makan.
Seno kembali kedunia nyata setelah mendengar suara lembut Salsabila. Matanya berkabut saat memandang wanita itu. Hampir saja ia menangis kalau suara adiknya tidak masuk ke dalam telinganya.
"Mas Seno...." Arum memanggil karena melihat kakak lelakinya melamun dengan tatapan lurus ke arah Salsabila. Arum menyipitkan matanya dan menatap Seno dengan teliti. apa kakak lelakinya menangis? kenapa? Apa dia sakit hati melihat pasangan itu?
Arum tau kalau Seno ada rasa dengan atasannya itu. Tapi karena waktu itu Bila sudah ada Aldi, kakaknya perlahan mundur dengan teratur. Saat ia mendengar perbuatan Aldi kepada pujaan hatinya ia sangat sakit hati dan ingin memberi lelaki itu pelajaran. Namun semuanya ia urungkan karena tidak mau membuat masalah. Di saat ia akan mengejar kembali, ia harus kembali menelan pil pahit karena Bila akan menikah dengan lelaki lain.
Meskipun Arum merasa miris dengan nasip tragis kisah cinta sang kakak, tapi sampai saat ini ia tidak mengatakan apapun kepada Bila. Tapi sayangnya tebakan Arum salah besar, karena saat ini kakaknya sedang tertekan karena merasa bersalah. Ya meskipun semua yang ia lakukan gagal dan tidak jadi merusak perusahaan suami Bila. Tapi, tetap saja ia pernah mencoba membuat perusahaan itu hancur.
"Apa Arumi?" Seno malah menjawab panggilan adiknya dengan bertanya balik.
"Hmm nothing, hanya ingin manggil Mas Seno aja."
Seno mendengus dan melototkan matanya ke arah Arum. Membuat wajahnya yang babak belur tampak konyol sehingga meledaklah tawa Arum dan Bila melihat tampang konyol Seno.
__ADS_1
Orang yang menjadi objek yang ditertawakan dua wanita cantik itu langsung melongo karena ia merasa tidak melakukan hal lucu apapun. Sehingga ia pun bertanya dengan gigi rapat. "Apa yang kalian tertawakan? Apa ada yang lucu?"
Bila dan Arum sejenak saling pandang sebelum tawa mereka kembali pecah. Ingin rasanya Seno membekap mulut keduanya agar berhenti tertawa. Sayangnya ia tidak bisa, karena tubuhnya belum bisa digerakkan. Dan lagi di dalam ruangan juga ada lelaki lain yang merupakan suami Salsabila. Apa yang akan lelaki itu katakan kalau sampai ia menyentuh istrinya. Bisa-bisa ia akan masuk liang lahat dan bertemu sang pencipta. Membayangkannya saja sudah membuat Seno ngeri.
"Sayang, udah ketawanya." Raka menegur istrinya yang dari tadi tertawa lepas.
Bila langsung menghentikan tawanya dan menatap suaminya yang sedang menatapnya galak. "Maaf," cicitnya dengan ekspresi polos sembari menatap Raka dengan mata bulatnya yang sedikit berair karena tertawa. Hal itu membuat Raka gemas dan ingin mencium istrinya itu.
Raka mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Bila. "Sayang jangan memasang ekspresi seperti itu kalau sedang di hadapan orang lain. Kamu tau, ekspresimu itu membuat adikku bangun." Suara rendah Raka yang terdengar serak langsung membuat telinga dan wajah Bila panas. Astaga, kenapa suamiku sangatlah mesum? Teriak Bila dalam hati.
Bila melirik ke arah bawah dan benar saja kepunyaan suaminya itu sudah bangun. Bila langsung meringis dalam hati dan bergumam dengan suara rendah. "Suamiku tersayang, bisa nggak sesekali tidak mesum. Kita sedang di luar jika Mas lupa."
Raka tertawa ringan dan kembali berbicara dengan suara rendah. "Kalau itu kamu, aku tidak bisa untuk tidak mesum. Karena aku hanya mesum kepada istriku saja." Kali ini, Bila tidak bisa lagi untuk tidak salah tingkah. Apalagi wajahnya sudah memerah layaknya tomat matang.
Arum dan Seno menatap dua sejoli yang sedang berbisik-bisik ria itu dengan ekspresi cengo.
Apa-apaan mereka berdua? Bikin sakit mata saja. Woii ingat ada orang lain di dalam ruangan ini, bukan hanya kalian berdua. Hargain kita yang jomblo ini napa. Menyebalkan!
"Ahmmm."
Raka dan Bila langsung menoleh saat mendengar suara deheman seseorang. Hal itu membuat rona wajah Bila yang awalnya hampir hilang kembali muncul. Ia malu karena melupakan ada dua manusia lain dalam ruangan itu dan asik berbisik dengan suaminya. Ruangan itu juga bukan ruangannya kalau ia lupa. Untung saja tadi Raka tidak macam-macam, kalau tidak wajahnya mau di taruh dimana.
Bila langsung terasenyum canggung seraya berkata. "Ammm, karena sudah sore. Kita mau pamit pulang."
"Oh iya mba Bil. Makasih ya, mba udah nolongin Mas Seno." Arum berjalan menghampiri Bila dan memeluk wanita itu.
__ADS_1
"Iya sama-sama, sebagai sesama makhluk ciptaan Allah kita harus saling tolong menolong bukan?"
Saat ucapan Bila terlempar ke udara dan masuk ke indra pendengaran masing-masing orang. Disitulah Seno langsung tertohok dan semakin merasa bersalah atas perbuatannya. Maafkan aku, maafkan aku... Lirihnya dalam hati. Ia seperti pengecut yang tidak berani mengakui kesalahannya. Apa ia layak untuk dimaafkan? Hati dan jantungnya benar-benar terkoyak saat ini melihat senyuman tulus wanita itu saat memeluk adik perempuannya.
"Iya, mba benar. Aku beruntung bisa mengenal orang sebaik mba Bila. Terimakasih ya mba, aku sayang sama mba. Mba udah aku anggap seperti kakak perempuanku sendiri." Arum mengungkapkan isi hatinya setelah mengurai pelukan dari Bila.
Bila terasenyum lembut. "Sama, aku juga sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri. Jadi adikku sekarang ada tiga."
Arum terkekeh, atasannya ini terkadang bisa konyol, serius, anggun, dan berwibawa. Membuat orang-orang nyaman berada di dekatnya. Tidak heran banyak pria yang jauh cinta padanya, termasuk kakak bodohnya. Hanya Aldi satu-satunya pria bodoh yang meninggalkan Bila karena wanita lain. Meskipun hubungan mereka saat ini sudah lebih baik. Karena Bila memaafkan pria itu dan berteman baik dengan istri pria itu.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya."
Bila mengangguk dan melarikan pandangannya ke arah Seno, lalu membuka mulut untuk berbicara. "Mas Seno, kita permisi pulang. Semoga cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi."
Seno mengangguk dan menatap punggung Bila yang perlahan menghilang di balik pintu setelah Bila dan Raka meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1