
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membuat langit yang awalnya hitam berubah menjadi warna jingga. Suara burung yang bersahut-sahutan mulai terdengar diiringi oleh semilir angin yang bertiup pelan. Bila yang sudah selesai sholat subuh bersama Raka memutuskan untuk kembali berbaring. Karena merasakan tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
Hal itu cukup membuat Raka heran, karena biasanya Bila akan langsung turun ke bawah untuk membuat sarapan. Ya meskipun tadi saat bangun tidur istrinya mengalami yang namanya morning sickness. Tapi, setelah ia memuntahkan semuanya. Raut wajah istrinya terlihat baik-baik saja.
Dengan masih memakai sarungnya, Raka mendekat ke arah Bila yang sudah bergelung di bawah selimut. "Kenapa bee? Apa ada yang sakit?" Tanya Raka cemas.
Bila berbalik dan menatap suaminya. "Nggak apa-apa Mas, aku hanya butuh istirahat aja. Tapi___
"Tapi apa bee?" Raka memotong ucapan istrinya.
"Aku mau di peluk," rengeknya manja dan membuat Raka mengambil kesimpulan istrinya sedang demam. Tangannya terulur untuk menyentuh kening Bila. Lumayan panas, gumamnya dalam hati. Kemudian mengambil alat pengukur demam dari dalam laci nakas.
Mata Raka langsung melotot melihat suhu tubuh Bila. "Sayang, Mas bilang juga apa? Kamu demam sekarang karena makan es krim semalam. Iya kan?" Raka langsung mengomeli istrinya.
"Sst... Cerewet banget sih?" Bila menempelkan jari telunjukknya di bibir Raka. "Kalau Mas nggak mau peluk ya udah. Pergi sana!" Bila langsung merengut dan membalikkan tubuhnya membelakangi Raka.
Raka mengusap kasar wajahnya dan menghela napas berat. Raka langsung bimbang, karena hari ini ia ada meeting penting dan tidak bisa digantikan oleh Aksa. Ia menatap punggung Bila sekilas dan mencondongkan tubuhnya untuk mencium pelipis istrinya.
"Mas mau siap-siap dulu ya bee. Terserah kamu mau marah atau gimana nantinya. Karena hari ini Mas ada meeting penting." Ucap Raka sebelum menghilang di balik pintu walk in closet.
Bila menatap punggung Raka dengan mata berkabut. Dia benar-benar ingin di peluk saat ini. Tapi, Raka seakan tak peduli karena semalam dia memang sudah memperingatkan Bila untuk tidak mencari penyakit. Akan tetapi, kalau yang namanya bawaan hamil. Siapa yang bisa menolak coba? Karena apapun yang diinginkan ibu hamil terkadang memang di luar kendalinya.
"Mas pergi dulu!" Seru Raka diujung pintu dan segera pergi dari dalam kamar dengan hati gundah. Setelah Raka pergi, pecahlah tangis Bila.
Bila terkadang bingung dengan dirinya sendiri yang sangat gampang berubah-rubah. Apalagi saat sedang hamil begini, dia benar-benar butuh hiburan saat ini. Ia pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan WA pada Arum.
Arum yang sedang berada di dalam ruangannya mendengar bunyi notifikasi ponselnya. Dengan cepat tangannya mengambil ponselnya dan membuka pesan WA yang ternyata dari Bila.
"Assalamualaikum Arum, bisakah kamu ke rumahku sekarang? Aku sedang tidak enak badan dan Mas Raka ada meeting di kantornya."
Arum mengetik balasan pesan bosnya. "Walaikumsalam, Baiklah mba. Apa mba mau di bawakan sesuatu?"
"Aku mau dibawakan cake red velvet ya."
"Oke mba, ditunggu ya."
__ADS_1
Arum langsung mengambil tasnya dan bergegas pergi dari ruangannya. "Aku pergi dulu ya, kalau ada yang cari bilang kalau aku ads urusan penting. Dan kalau ada yang nyari bu Bila, katakan kalau bu boss hari ini sedang tidak masuk." Pesan Arum pada bawahannya.
"Baik mba."
Arum segera melangkah ke luar dan menghampiri motor kesayangannya. Setelah memakai helm, Arum menstarter motornya dan segera menjalankannya meninggalkan butik. Sebelum ke rumah Bila, ia mampir ke toko kue langganan Bila untuk membelikan cake red velvet. setelah itu, ia segera melanjutkan perjalanannya menuju rumah Bila.
Citttt Bukkk
Arum menabrak mobil yang berhenti mendadak di depannya. "Astaghfirullah, ini orang bisa bawa mobil nggak sih? Hah, sungguh menyebalkan." Gerutu Arum sebelum yang punya mobil menepikan mobilnya dan ke luar untuk memeriksa bagian belakang mobil yang di tabrak Arum.
"Mba kalau bawa motor lihat-lihat dong! Jadi rusak kan mobil saya." Cerca seorang pria tampan kepada Arum.
Sungguh, wanita berhijab hijau toska itu dibuat kesal setengah mati kepada pria yang memiliki ketampanan setara dengan Raka. Arum yang tidak terima langsung menatap tajam pria itu.
"Seharusnya saya yang marah Mas, bukan Mas? Kenapa Mas rem mendadak di depan saya?" Tanya Arum dengan nada sudah naik satu oktaf karena saking kesalnya.
"Lihat ini," pria itu menunjuk bamper belakang mobilnya yang rusak karena di tabrak. "Mobil saya rusak gara-gara kamu!" Pria itu ikut meninggikan suaranya dan menatap Arum dengan tatapan dingin.
"Cih, dasar orang kaya. Seenaknya saja." Gumam Arum pelan.
"Apa kamu bilang?"
"Ganti rugi!" Jawab pria itu datar.
Ujung-ujungnya pasti minta duit! Kenapa hari ini ia harus bertemu dengan pria menyebalkan sih? Arum benar-benar dibuat jengkel dengan pria satu ini.
"Berapa?" Tanya Arum acuh, ia sudah malas berdebat dengan pria arrogant di hadapannya ini.
"50 juta!"
Arum langsung melotot tak percaya saat mendengar nominal uang yang akan ia bayar untuk ganti rugi. "WHAT? Apa kamu sudah gila meminta saya mengganti rugi sebanyak itu? Saya nggak mau!" Tolak Arum mentah-mentah.
Damn, pria itu terhenyak. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani memanggilnya gila. What the.... Arggghhh!! Umpatnya dalam hati.
"Ya sudah, saya tinggal lapor polisi." Ancam pria itu sambil tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
__ADS_1
"Silahkan! Saya tidak takut dengan ancaman anda!" Seru Arum datar. Ia berani mengatakan itu, karena ia memang tidak salah. Kenapa pria itu berhenti mendadak? Sehingga membuat dirinya menabraknya.
"Pokoknya saya nggak mau tau, kamu harus ganti kerusakan mobil saya. Kalau tidak, kamu tau sendiri akibatnya!" Pria itu berbalik dan meninggalkan Arum. Kemudian menoleh kebelakang sambil berkata. "Oh iya, handphone kamu saya sita dan itu kartu nama saya ada di saku motor kamu."
Setelah mengatakan itu, pria arrogant itu pergi meninggalkan Arum yang masih melongo di atas motornya. "Handphone?" Arum langsung mencari keberadaan handphonenya. Tapi nihil, handphonenya benar-benar di sita oleh pria itu.
Rasanya Arum ingin memaki pria itu dan mengambil kartu nama di saku motornya. Di sana tertulis Andre Narendra Baldev from Baldev Company "Dasar pria menyebalkan kamu Andre!" Arum murka dan memasukkan kartu nama tersebut ke dalam tasnya. Lalu kembali menjalankan motornya ke rumah Bila.
Sampai di rumah Bila, Arum memarkirkan motornya di samping mobil Bila dan segera melangkah menuju pintu utama. Tangan wanita itu terangkat untuk menekan bel dan sesekali mengetuk pintu.
Ceklek
"Arumm....!" Bila langsung memeluk asisten tersayangnya dan membawa wanita itu masuk ke dalam rumah. "Makasih ya, kamu sudah mau datang ke sini." Bila langsung tersenyum dan menuntun Arum ke ruang tengah.
"Iya mba, sama-sama. Mba serius nggak apa-apa? Mba agak pucet lo." Arum terlihat mengkhawatirkan Bila yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
"Aku nggak apa-apa, hanya sedikit demam. Kamu mau minum apa? Kopi, teh, orange jus, avocado, strawberry jus?" Bila menyebutkan semua minuman layaknya pelayan restoran.
Arum langsung terkekeh, sejenak ia melupakan kekesalan hatinya setelah mendengar ocehan Bila. "Orange juice please." Jawab Arum diiringi tawa.
"Wait a minute miss." Bila beranjak ke dapur sambil tertawa dan menenteng kue yang di bawakan Arum. Sementara Arum sudah terbahak duluan melihat kelakuan absurd bosnya.
Tak lama Bila kembali bersama nampan yang berisi sepiring kue red velvet dan 2 gelas jus jeruk. "This is miss." Bila meletakkan satu gelas orange jus di hadapan Arum.
"Thank you mrs Nugraha." Ucap Arum formal. Kedua wanita itu langsung tertawa setelahnya.
"Oh iya Arum, tadi kenapa yang menjawab telphon kamu suara pria ya? Sepertinya aku pernah mendengar suara itu. Tapi aku lupa dimana?"
Arum langsung membeku, ia tidak menyangka Bila akan bertanya seperti itu. Ah, wanita itu bingung harus menjawab apa? Apa ia harus menceritakannya? Arum langsung mendadak pusing memikirkan semua itu.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continue