
Selesai memakai baju luarnya dan kerudung, Bila segera ke luar dari dalam kamar untuk menemui suami dan asisten suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah dan mencari suaminya ke seluruh rumah sampa ke ruang tamu. Akan tetapi dia tidak menemukannya.
"Mas! Kamu dimana?"
Raka dan Aksa yang masih berada di depan mendengar suara Bila yang sedang mencarinya.
"Mas di sini sayang." Raka melangkah masuk dengan Aksa mengekor di belakangnya dengan ekspresi takut-takut.
"Mana ponselnya?" Tanyanya seraya menegadahkan tangan meminta ponsel yang disebutkan Aksa tadi.
Aksa mengambil ponsel dari saku jasnya dan menyerahkan ke tangan Bila tampa mengatakan apapun.
Bila langsung menekan nomor ponsel Kania yang ia lihat di ponselnya sendiri dan segera menghubungi Kania.
Kania yang sedang berada di dalam kamar mendengar ponselnya berdering. "Nomor tidak dikenal." Gumamnya, namun ia segera menggeser tombol hijau di layar ponsel karena teringat kemarin ia meninggalkan nomor ponselnya di asisten Salsabila.
"Hallo selamat siang."
"Selamat siang, apa benar saya bicara dengan mba Kania Evelyn?"
"Iya, dengan saya sendiri. Saya bicara dengan siapa ya?"
"Saya Salsabila Putri Dhananjaya. Kemarin asisten saya mengatakan kalau mba Kania ingin bertemu dengan saya. Apa benar seperti itu?"
"Iya benar Salsabila, saya ingin bertemu dengan kamu."
"Perihal apa ya mba?"
"Apa kamu atau suami kamu pernah menemukan keberadaan bayi laki-laki di depan rumah kamu?"
Degh
Bila kaget karena tebakannya memang benar. Ternyata Kania menghubunginya karena terkait bayi itu. "Iya benar, apa hubungan bayi itu dengan mba Kania?"
"Bayi itu adalah anakku. Nanti saya akan mengirimkan kamu pesan." Bisiknya pelan sebelum memutuskan sambungan telphon.
"Sayang kamu sedang apa?" Ternyata Kania buru-buru memutuskan sambungan telphon karena David tiba-tiba pulang dan menghampirinya ke dalam kamar.
"Aku sedang tidak enak badan aja mas. Rencananya aku mau ke Rumah sakit untuk check up rutin." Jawabnya seraya pura-pura memijat keningnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu minta antar supir ke Rumah sakit ya. Mas hanya mau ambil dokumen yang ketinggalan." Ucapnya sambil tersenyum.
Sebenarnya pria ini dulunya baik, tapi entah kenapa kekuasaan dan materi merubahnya menjadi pribadi yang kejam. Sampai-sampai melakukan cara licik untuk mendapatkan perusahaan adiknya yang seharusnya menjadi milik keponakannya. Dia juga rela mengorbankan darah dagingnya sendiri untuk mencapai ambisinya. Memang betul, uang dan kekuasaan bisa merubah malaikat menjadi iblis.
πππ
Bila menatap suaminya yang duduk di sebelahnya. Ekspresi wajahnya berubah-rubah dari terkejut menjadi bingung lalu datar.
"Ada apa? Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya Raka saat melihat ekspresi istrinya yang tidak biasa.
"Bayi itu... Bayi itu anak Om kamu mas. Barusan mba Kania bilang kalau bayi itu adalah anaknya." Jawaban Bila membuat Raka melotot tak percaya. Tidak hanya Raka, Aksa pun terkejut dengan mata melebar setelah mendengar jawaban Bila.
"Kamu serius? Apa kamu yakin dia mengatakan yang sebenarnya?"
Bila terdiam dan mengingat bagaimana suara Kania saat bertanya tentang bayi itu dan mengakui kalau bayi itu adalah anaknya. Sebagai seorang ibu muda yang baru beberapa hari ini memiliki anak. Ia dapat merasakan ada kegetiran dalam nada suaranya. Seakan menyembunyikan kesedihan yang teramat dalam.
"Aku yakin mas. Karena aku perempuan dan aku seorang ibu."
Mendengar jawaban mellow istrinya, Raka tau kalau Kania mengatakan yang sebenarnya. "Lalu, kenapa tiba-tiba dia memutuskan sambungan telphon?"
"Aku juga tidak tau. Sepertinya ada yang datang dan dia bicara pelan sekali sebelum memutuskan sambungan telphon." Jawab Bila seadanya.
Ponsel Bila berbunyi tanda adanya pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Kania yang berbunyi. "Salsabila ini saya Kania. Saya akan ke Rumah Sakit Bakti Husada. Bagaimana kalau kita bertemu di sana saja? Tapi sebaiknya kamu pakai penyamaran karena suami saya pasti akan menyuruh anak buahnya memantau saya."
Selesai membaca pesan Kania, Bila segera mengetik balasan pesan kepada Kania. "Oke mba, saya akan segera ke sana." Bila langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambil topi serta kacamatanya.
"Kamu serius mau menemuinya?" Tanya Raka saat melihat istrinya ke luar dari dalam kamar.
"Iya mas, aku akan menemuinya. Aku pergi dulu, titip anak-anak ya. Assalamualaikum." Bila langsung melangkah ke luar menuju ke mobilnya.
Sementara Raka segera melirik Aksa. "Kamu ikuti dia." Perintahnya mutlak.
"Baiklah, aku pergi dulu." Dengan langkah cepat Aksa segera ke luar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Memasang seatbelt, Aksa menghidupkan mesin mobil dan segera melajukan mobilnya mengikuti mobil Bila yang sudah melaju dengan kecepatan tinggi. "Gilaaaa, Bila cepat banget bawa mobilnya." Gumamnya seraya meningkatkan kecepatan mobilnya.
πππ
Setibanya di Rumah Sakit, Bila menliti keadaan sekitar dan melangkah masuk dengan penyamarannya. Ia juga memakai masker agar tidak ada yang mengenal dirinya.
__ADS_1
Sampai di dalam, ia menelphon Kania dan wanita itu mengatakan dia ada di depan ruangan tunggu serta menyebutkan pakaian yang ia pakai. Bilapun langsung menghampirinya dan duduk di samping wanita itu.
"Permisi, dengan mba Kania Evelyn?" Tanyanya basa basi karena takut salah orang.
"Iya saya, kamu Salsabila?" Kania bertanya balik. Bila mengangguk, namun tidak membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. "Bagaimana keadaan anak saya?"
"Anak mba baik-baik saja. Dia saat ini di titipkan oleh pihak kepolisian di Rumah Sosial Perlindungan Anak." Jawab Bila apa adanya.
Kania menghela napas lega dan menatap Bila serius. "Apa kamu mau membantu saya?"
"Bantuan seperti apa mba?" Tanya Bila dan Kania langsung lihat kiri-kana sebelum mengatakan sesuatu kepada Bila.
"Tolong bantu saya untuk membongkar kebusukan David. Karena saya sudah tidak sanggup dan muak dengan pria itu. Apalagi semenjak dia menjadikan anaknya sendiri yang sudah lama saya nanti-nanti setelah sekian lama menikah sebagai alat untuk mencapai ambisinya." Sungguh hatinya sudah terasa sesak dan penuh sehingga meluapkan semua yang selama ini ia tahan.
Bila cukup terkejut mendengar kenyataan itu. Tangannya secara perlahan mengusap pundak Kania. Karena kalau ia berada di posisi Kania, entah apa yang akan ia lakukan. Ia cukup kagum Kania mampu bertahan dan tetap kuat di tengah rasa sakit yang ia rasakan karena harus berpisah dengan buah hatinya sendiri.
"Baiklah, saya dan mas Raka akan membantu mba Kania. Karena selama ini om David memang selalu mencari masalah dan berusaha menghancurkan suami saya."
"Kalau kamu butuh informasi, saya akan mengatakan apapun itu yang saya ketahui." Kania mendekat ke arah Bila dan membisikkan sesuatu. "Sebenarnya David melakukan bisnis ilegal dan dia juga pemasok obat-obatan terlarang sejenis sabu dan ganja."
Detik kata-kata itu masuk ke dalam indra pendengaran Bila. Detik itu juga wanita itu melotot secara berteriak. "Apa?"
"Sssst." Kania langsung menempelkan telunjuk ke bibirnya dan Bila refleks mengatupkan mulutnya yang tertutup masker.
"Mba serius? Mba sedang tidak bercanda kan?" Tanya Bila dengan suara pelan.
Kania menggeleng. "Nanti saya akan memberikan informasi detailnya kepadamu. Sekarang saya harus segera kembali, sebelum anak buah David melaporkan yang aneh-aneh karena saya terlalu lama berada di sini." Kania berdiri dan meninggalkan Bila yang masih shock setelah mendengar semua informasi itu.
Setelah Kania pergi, Bila pun segera berdiri dan melangkah ke luar dari Rumah Sakit. Dengan langkah cepat, ia segera menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Ia buru-buru menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan parkiran Rumah Sakit untuk pulang ke rumah.
.
.
.
.
to be continue
__ADS_1